NovelToon NovelToon
Izinkan Aku Mencinta

Izinkan Aku Mencinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Romansa / Perjodohan
Popularitas:384
Nilai: 5
Nama Author: Amerta Nayanika

Kinan tak pernah siap kehilangan, terlebih dalam satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Kecelakaan itu bukan hanya merenggut tunangannya, tetapi juga meninggalkan trauma yang perlahan hinggap dalam dirinya.

Alana hadir sebagai perawat—sekedar menjalankan tugas, tanpa tahu bahwa langkah kecilnya akan membawanya masuk ke dalam kisah yang rumit. Ketulusan yang ia berikan justru membuat keluarga Kinan memintanya bertahan… bahkan menikah.

Hubungan yang seharusnya sederhana itu berubah menjadi pertaruhan perasaan.
Sebab mencintai Kinan berarti bersedia berbagi ruang dengan masa lalu yang belum pergi.

Akankah Alana mampu bertahan, atau justru terluka oleh cinta yang belum selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amerta Nayanika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kesekian 2

Tangannya menggenggam erat botol putih kecil yang baru saja dia tebus. Wajahnya pucat hampir bagai orang yang kekurangan darah. Matanya basah dan memerah akibat tangis yang sangat dia usahakan untuk tidak keluar malam ini juga.

Di lobi rumah sakit yang cukup lengang, Kinan menengadahkan kepalanya. Dia pandangi langit kota yang tampak lebih gelap dari biasanya. Rintik hujan pun turun dengan syahdu membasahi lapisan aspal di hadapannya.

"Mau saya bantu, Mas?" tanya seorang satpam yang sedari tadi memandanginya. "Kalau masih belum enakan, Masnya bisa duduk dulu di sini," lanjutnya.

Mendengar itu, Kinan menggeleng. "Saya baik-baik aja kok, Pak. Terima kasih."

Setelahnya, satpam itu menoleh ke arah datangnya mobil. Tak ada tanda-tanda bahwa Kinan sedang menunggu seseorang di sini. Alhasil, dia kembali menoleh pada Kinan.

"Masnya nunggu jemputan?" tanyanya lagi.

Dengan senyuman kecil yang dipaksakan, Kinan menggeleng. "Nggak, Pak. Saya naik bis dari halte dekat sini."

Tak ingin kembali diganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlontar, Kinan memasukkan botol obatnya ke dalam tas. Tak lupa juga dia keluarkan payung lipat hitam yang selalu ada di dalam sana sejak dia keluar dari rumah sakit dan memulai aktifitasnya seperti biasa.

Dengan senyuman sesaat, Kinan mengisyaratkan pamit pada satpam itu. Lalu, kakinya dengan berani menjejaki jalanan basah. Hitung-hitung agar dia tak terlalu memikirkan hipnoterapi pertama yang dia jalani barusan.

Aroma tanah yang menguar dengan perlahan. Percikan kecil genangan yang membasahi permukaan sepatunya. Serta desir angin pelan yang menyejukkan. Kinan kini harus melewatinya seorang diri.

"Pak Kinan!" panggilan itu terdengar di balik tirai hujan yang semakin rapat.

Mendengar namanya dipanggil seperti itu, Kinan hendak menoleh. Namun, sebuah lampu merah yang berkedip dari kejauhan membuatnya mematung. Matanya hendak beralih, namun dia terpaku.

Lalu, tak ada lagi suara selain sirine yang menguar di antara rintik hujan. Deru kendaraan yang semula menulikan telinga, kini tak lagi terdengar. Apa yang ada di hadapan Kinan kini seolah hanya ada reka ulang kejadian yang sangat tak ingin dia ingat kembali.

Pandangannya jatuh pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis yang ramping. Kilaunya mengingatkan Kinan pada tangan sang kekasih yang tak dapat dia gapai saat itu. Sementara, sirine ambulance semakin nyaring terdengar bersama dengan jarak mereka yang semakin menipis.

Payung hitam itu jatuh di antara genangan air yang tak berdosa. Matanya terpejam erat, berusaha tak melihat bayang-bayang kejadian kelam yang menghantuinya. Kedua tangannya menutup telinga hingga tak lagi terdengar suar apa pun.

Namun, Kinan salah. Bayangan itu malah semakin jelas di antara gelap matanya yang terpejam. Tangannya tak lagi sekedar menutupi telinga, namun juga meremas erat beberapa helai yang tertangkap oleh jemarinya. Berharap sakitnya dapat membuatnya sadar dan kembali ke tempat yang seharusnya.

"Pak Kinan," panggil sebuah suara, begitu lirih terdengar di telinganya.

Lalu, Kinan dapat merasakan air hujan tak lagi membasahinya. Ada sesuatu yang menghalau rintik itu untuk terus menjamah tubuhnya. Serta sebuah tangan terasa memegang lengannya dengan hati-hati.

"Pak Kinan! Sadar!"

Panggilan itu kembali terdengar, namun lebih lantang dan tajam memekakkan telinga. Suaranya meredam ledakan traumatis yang menggema di kepala Kinan, memadamkan kobaran api yang menyala di balik pejam matanya, menarik Kinan ke tempat yang seharusnya.

Pria itu membuka matanya perlahan. Matanya memerah basah, bukan sekedar terkena air hujan. Pandangannya linglung seolah lupa akan segala hal. Bola matanya bergerak gelisah tak menemukan tempat untuk berlabuh.

Alana kembali mengeratkan tangannya pada lengan pria itu. "Pak Kinan?" panggilnya.

Mendengar itu, Kinan menangkap sepasang mata yang ada di hadapannya. Nafasnya memburu tak karuan seperti baru saja melarikan diri dari kejaran binatang buas. Bibirnya sedikit terbuka guna meraup udara yang seolah terbatas untuknya.

Tak mendapat jawaban, Alana mengusap lengan itu guna menyalurkan sedikit hangat yang dia punya. "Tarik nafas.... Buang...," ucapnya membimbing Kinan untuk bernafas lebih teratur.

Kinan menurutinya perlahan. Dadanya naik turun seiring dengan tarikan nafas yang dia ambil dalam-dalam. Matanya tak berani lepas dari sepasang mata legam di hadapannya. Seolah dia menemukan tempat aman untuk bersembunyi dari bayang-bayang kelam yang selalu mengejarnya.

Perlahan sinar lampu jalanan dan lampu kendaraan mulai kembali tampak jelas di matanya. Deru mesin yang terus beradu di sepanjang jalan kembali terdengar memenuhi telinganya. Hangat dari usapan tangan di lengannya mulai terasa menjalar ke seluruh tubuhnya.

Alana menatap dalam kedua mata kecokelatan itu. Memastikan Kinan sudah kembali baik-baik saja dan berdiri dengan kokoh di hadapannya. Lalu, dia lepas tangannya dari lengan Kinan dan sedikit menjauhkan tubuhnya.

Perempuan itu menghela nafasnya. "Kalau begini, gimana cara ngobrolnya?" gumam Alana.

Setelah benar-benar bisa menguasai dirinya, Kinan ikut memundurkan tubuhnya. Hal itu membuat Alana yang memegang payung harus semakin merentangkan tangannya dan membiarkan sedikit bagian punggungnya terkena hujan.

"Suster Alana," panggil Kinan pelan.

Alana yang mendengar itu lantas menaikkan alisnya. "Ya?"

Kinan teringat bagaimana Ella memaksanya untuk menikah dengan perempuan di hadapannya ini. Perihal itu, tentu Alana sudah mengetahuinya. Terbukti dari Ella yang mengatakan bahwa mereka hanya tinggal menunggu persetujuan dari Alana.

"Saya dari cafe itu, Pak. Mau bicara di dalam saja?" tanya Alana sambil menunjuk cafe ang tak jauh dari mereka. Pasalnya, punggungnya mulai terasa dingin karena basah.

Kinan tak menjawab. Pria itu lantas mendorong tangan Alana yang kini memayunginya, membiarkan Alana untuk menggunakan payung hitam itu sendiri.

"Tolak saja permintaan Mama saya," ucap Kinan terus terang.

Mendengar itu, Alana mengerjap bingung. Pria di hadapannya ini cenayang atau apa? Bagaimana bisa dia dapat menebak apa yang hendak Alana bicarakan dengannya hanya dengan tatapan mata sejenak?

Di antara Alana yang kini sedang menerka-nerka, Kinan mulai kembali memacu langkahnya. Halte tujuannya tak terlalu jauh di depan sana. Kinan tak akan basah kuyub hanya karena menerjang hujan menuju tujuannya.

"Pak Kinan! Payungnya!" seru Alana sambil ikut berlari.

Kinan tak menoleh, namun terdengar sahutan samar darinya. "Pakai saja!"

Tepat setelah itu, sebuah bus yang akan Kinan naiki turut datang di waktu yang tepat. Kinan tak perlu menunggu lagi dan langsung masuk ke dalamnya. Namun sebelum itu, dia sempatkan untuk menoleh ke arah Alana sebentar, memastikan bahwa permintaannya akan dituruti oleh perempuan itu.

Namun, Alana bergeming. Perempuan itu masih mencerna tentang apa yang baru saja terjadi secepat kilat. Hingga akhirnya sebuah senyum remeh mengembang di wajahnya.

"Dia barusan nolak aku?" ucap Alana tak percaya.

Matanya masih menatap pada bus yang mulai melaju, membawa Kinan semakin menghilang dari pandangannya. Rahangnya mengatup keras.

"Tanpa kamu minta juga aku bakal nolak!" seru Alana yang teredam oleh suara hujan. Dia tak terima harga dirinya di remas-remas oleh Kinan seperti itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!