NovelToon NovelToon
Cadar Sang Pendosa

Cadar Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Romantis / Cintamanis / Balas Dendam / Konflik etika / Cinta setelah menikah
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Nadiaa Azarine

Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.

“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”

“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”

“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”

“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”

“Namanya juga pelacur!”

Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.

Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan.

Di tengah kekacauan besar itu, Adara mengalami kecelakaan mobil dan membuatnya koma.

Begitu terbangun dari tidur panjangnya, tiba-tiba saja orangtuanya memperkenalkannya dengan pria asing sebagai suaminya.

“Ahlan istriku…"

Bagaimana mungkin dia bisa tiba-tiba memiliki suami. Apa sebenarnya yang terjadi di sini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebohongan

Junia melangkah masuk ke dalam apartemen sambil menghentakkan kakinya. Kesal. Semakin ia melihat kehidupan Adara terlalu jauh, ia semakin kesal. Seluruh keluarga Adara kaya raya dan ia satu-satunya keturunan yang akan mewariskan harta mereka semua.

“Eyangnya kaya, Opanya lebih kaya lagi! Sialan! Hidup dia nggak pernah menderita, ya?” ketus Junia.

Adara mengantar Junia kembali ke apartemen sementara ia pergi ke tokonya untuk memantau perkembangan di sana. Tadinya Adara mengajaknya ikut, tapi Junia menolak dengan alasan kepalanya sakit dan ingin istirahat saja.

“Aku nggak nemuin satupun kesulitan di hidup dia. Sementara hidupku berantakan banget!” Junia membuka kerudung dan cadar miliknya lalu menginjak-injaknya untuk melampiaskan kekesalan.

Beberapa menit Junia berteriak seperti orang gila. Bahkan ia menjambak rambutnya sendiri. Namun tiba-tiba saja perhatiannya teralihkan saat melihat kucing yang lewat di dekatnya. Seketika senyumnya merekah lalu menjadi tawa. Di kepalanya muncul ide gila.

Junia melangkah menuju meja tempat biasanya Adara menulis. Ia bisa melihat laptop merk apple yang ada di atas meja itu. Junia yakin, itu pasti laptop yang tak murah. Junia berdecak kesal saat menyadari sesuatu.

“Apartemen ini bahkan lebih mahal dari harga keperawananku! Dan Adara mendapatkannya cuma-cuma meski dia hanya ingin apartemen yang sederhana.” Junia tertawa.

Junia meraih laptop milik Adara. “Pasti di sini banyak file penting…” lirihnya Junia lalu tersenyum miring. Ia menggeser laptop itu hingga terjatuh.

“Ups!” lirihnya lalu tersenyum puas. Ia menatap cangkir yang berisi sedikit air lalu menyiramkannya ke laptop Adara yang sudah terjatuh.

“Pelakunya si Luna, ya!” Junia melirik kucing kesayangan Adara. Ia mengatur tempat itu agar terlihat seperti kecelakaan oleh kucing saja.

Setelah selesai, Junia bergegas kembali ke kamarnya. “Setidaknya dia sedikit menderita karena semua filenya ada di laptop itu!” monolog Junia.

Malam harinya, Adara pulang pukul delapan malam. Ia merasa cukup lelah dan ingin langsung istirahat. Adara mengetuk pintu kamar Junia. Dia baru saja membelikan Junia obat dan makanan. Ia khawatir saat Junia mengatakan kepalanya sakit tadi.

“Jun… Junia!” panggil Adara.

Tidak ada sahutan sampai akhirnya Junia keluar setelah ketukan ke tiga. “Baru pulang, Dar?” tanya Junia. Ia mengucek matanya. Wajahnya benar-benar kusut, khas seseorang yang baru bangun tidur.

“Aku ketiduran sampe jam segini,” ucap Junia. “Pas pulang tadi aku langsung masuk kamar dan tidur. Bener-bener nggak sadar pas adzan Maghrib,” jelas Junia.

“Sakit banget ya kepalanya?” tanya Adara. “Aku bawain kamu obat sama makan malem. Kita makan dulu, yuk!” ajak Adara.

Junia mengangguk pelan lalu mengikuti langkah Adara.

“Kenapa ini berantakan banget?” Adara tampak shock. “Astagfirullah laptop aku!” serunya panik.

Sementara Junia tersenyum di belakangnya.

“Luna! Kamu yang jatuhin laptop aku ya?” Adara menatap kucing berwajah chubby yang langsung mengeong begitu ia panggil.

Kucing berwarna abu-abu itu mengeong lalu menatap Adara. “Kamu meminta maaf?” tanya Adara gemas.

Luna berputar-putar lalu beralih mendekati Junia, ia mengeong ke arah Junia sebentar lalu kembali kepada Adara.

“Heh? Kucing ini ngadu?” batin Junia shock. “Untung bisanya cuma ngeong!”

“Iya-iya nggak apa-apa. Aku maafin, kok…” Adara memeluk erat kucingnya itu.

“Gimana, Dar? Laptop kamu rusak nggak?” Junia berjongkok di samping Adara.

“Enggak bisa hidup lagi. Besok mau aku bawa ke konter aja,” Adara menghela napas berat.

“File di dalemnya gimana?” tanya Junia berpura-pura khawatir.

“Harusnya sih filenya bisa di amankan. Soal data-data naskah buku aku, gampang kok. Aku hafal email sama sandinya,” jelas Adara.

“Kamu nggak kesel laptopnya hancur?” tanya Junia. “Mahal kan itu?”

“Mau gimana lagi kalau udah hancur. Nggak ada gunanya juga aku nangis atau marah-marah, apalagi kalau marahin Luna. Buang-buang energi aku yang udah habis seharian ini,” Adara tersenyum tipis.

“Ayo makan, yuk! Aku laper!”

Junia mengangguk pelan. “Sialan! Dia masih bisa sesantai itu meskipun yang rusak itu adalah barang mahal! Menyebalkan!” batin Junia.

***

Junia mulai merasa muak berada di dekat Adara. Bahkan setelah laptopnya rusak pun dia tetap tidak marah dan menghadapinya dengan tenang. “Dia kayak gitu karena uangnya banyak dan bisa beli laptop kayak gitu kapanpun dia mau!” gerutu Junia.

“Gue pusing! Duit gue juga tinggal dikit. Gue harus ketemu Mami Geni! Dia pasti bingung karena tiba-tiba gue hilang.” Junia beranjak dari duduknya lalu meraih ransel kecil dan memasukkan beberapa helai pakaian.

“Sebenarnya nggak penting bawa baju kayak ginian, tapi gue harus bawa biar Adara nggak curiga,” lirihnya.

Setelah selesai mengemas pakaian, Junia keluar dari kamarnya dan menemui Adara.

“Dara…” panggilnya.

Adara menoleh. Ia menatap Junia heran. “Kamu mau ke mana?” tanya Adara sambil mendekat.

Junia tersenyum tipis. “Ada temen yang nawarin pekerjaan jadi baby sitter gitu, tapi bosnya pengen ketemu dulu sama aku,” jelas Junia. Tentu saja ia mengarang cerita.

“Ketemu bos tapi bawa ransel?”

“Iya. Karena calon bosnya orang Surabaya jadi nggak mungkin perjalanannya sehari doang,” jelas Junia.

“Oh iya sih…” Adara mengangguk paham. “Tapi temen kamu siapa? Kamu nggak bilang kalau punya temen di sini,” ucap Adara.

Junia meneguk salivanya. “Aku punya beberapa teman di Jakarta, Dar. Kamu kan nggak pernah tanya apa aku punya teman atau nggak,” Junia tersenyum tipis.

“Oh iya juga sih.” Adara mengangguk. “Ya sudah kalau gitu. Semoga lancar, ya!” ucap Adara.

Junia mengangguk pelan. “Makasih karena udah banyak bantu aku!” Junia memeluk erat tubuh Adara.

“Jun… sebenarnya aku takut ngebiarin kamu pergi kerja. Aku khawatir bos kamu—” Adara menghentikan ucapannya lalu menarik napas panjang. “Kamu nggak mau kerja di toko aku aja?” tanya Adara.

Entah sudah berapa kali Adara mempertanyakan hal itu kepada Junia sejak gadis itu datang ke apartemennya.

Junia kembali menggeleng. “Aku nggak mau tambah bikin kamu kerepotan, Dara. Kamu kasih aku tumpangan tempat tinggal aja udah cukup, kok. Soal pekerjaan, biar aku yang cari sendiri.”

Jawaban Junia selalu sama.

Adara mengangguk-angguk. “Aku hargai semua keputusan kamu, Jun. Kamu bawa uang cukup?”

Junia menepuk-nepuk ranselnya. “Cukup kok.”

“Mau aku anter?”

“Nggak usah. Aku naik ojek online aja.”

Adara hanya bisa tersenyum, tanpa rasa curiga sedikit pun. “Okay. Semoga dimudahkan ya, Jun…”

“Aamiin.” Junia melambaikan tangan. “Aku berangkat dulu, Dara.”

Pintu tertutup. Junia menghela napas lega lalu bergegas menuruni lift.

Teman? Rekomendasi pekerjaan? Semua itu hanyalah kebohongan yang baru saja ia buat. Sebenarnya ia ingin menjauh. Menenangkan diri.

Kehidupan sempurna Adara membuatnya benar-benar merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan.

***

Bersambung…

1
Smartphone HMS
Uda lama ngk up nih thor
Suratmi
up lagi dong kak author 💪
Meliandriyani Sumardi
lanjut kak
Suratmi: di tunggu kelanjutannya ya Thorrr 💪💪
total 1 replies
Suratmi
di tunggu up nya ya Thorrr..masih penasaran nasibnya Junia
@Resh@
wah bagus ni jodoh adara si kai buktikan sma semua orang dar
muna aprilia
lanjut
Siti Amyati
emang wanita gila smoga dapat karma yg setimpal bukanya berbuat baik Mlah nambah dosa emang penyakit hati bikin gila
Siti Amyati
ngga tahunya musuh dalam selimut di tolong bukanya jauh lebih baik malah bikin masalah smoga di beri karma yg lebih
Suratmi
ihh gemes aku sama si Jun..iri tanda tak mampu...benar benar pelihara benalu ini Mah..kasian Dara
Suratmi
sepertinya ada musuh dalam selimut,, seperti nya rasa iri si Jun bakal buat Dara kena Fitnah,,semangat ya kak author..di tunggu upnya💪💪
@Resh@: sepertinya dia yg fitnah dara dia nyamar klo pake cadar dan jadi pelakor tapi dara yg dituduh awal mula kehancuran dara ini
total 1 replies
Suratmi
karya Author sangat bagus.. menginspirasi kita perempuan agar lebih berhati-hati dalam kehidupan
Lovita BM
ayok up lagi kakak ✊🏼
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Meliandriyani Sumardi
salam kenal kak
Sweet Girl
Bisa jadi ... mesti diselidiki.
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
Sweet Girl
Ijin baca Tor...
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.
Sweet Girl
Kamu salah... Makai Cadar kok karena Adara...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!