Mirasih gadis yatim piatu yang di tinggal orang tuanya karena kecelakaan, di adopsi Pamannya.Tapi di balik kebaikan semu pamanya,ternyata semua harta ayah ibu nya di ambil semua ,dia dijadikan pembantu,kerap di siksa dan di pukuli hingga di jadikan tumbal pesugihan nya kepada genderuwo.Hanya secercah harapan kepada Aditya yang membuatnya kuat dan sabar menghadapi semuanya.. Apakah Aditya jujur dan setia janjinya kepada Mirasih?Sampai kapanpah Mirasih menjadi pengantin Ki Ageng sang Genderuwo itu ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Tha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan ghaib
Dua hari terakhir bagi Mirasih terasa seperti hidup di dalam sebuah gelembung yang indah namun sangat rapuh. Ia tidak lagi disuruh menyentuh sapu, tidak lagi diminta mencuci baju Siska, bahkan makannya selalu disediakan yang paling enak. Paman Broto dan Bibi Sumi seolah bertransformasi menjadi orang tua angkat yang paling baik sedunia. Namun, di balik semua kemewahan itu, Mirasih merasa ada sesuatu yang mencekik lehernya. Setiap kali ia melihat mata Paman Broto, ada kegelisahan yang ditutupi oleh ketegasan palsu. Dan setiap kali ia melihat Bibi Sumi, ada rasa bersalah yang disembunyikan di balik senyum lebar.
Hingga akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Selasa Kliwon.
Sejak pagi, suasana rumah sudah sangat aneh. Paman Broto tidak keluar rumah sama sekali. Ia sibuk menyiapkan sebuah bungkusan kain putih di ruang tengah. Sementara itu, Bibi Sumi sejak siang sudah sibuk di dapur, bukan untuk memasak, melainkan merebus air dengan berbagai macam bunga mawar, melati, kantil, dan kenanga. Harum bunga-bunga itu menyeruak ke seluruh penjuru rumah, namun bukannya menenangkan, aromanya justru membuat Mirasih merasa mual.
"Nduk, Mirasih... Sini, masuk ke kamar mandi belakang," panggil Bibi Sumi dengan suara yang sedikit serak.
Mirasih berjalan pelan. Di dalam kamar mandi, sebuah bak kayu besar sudah terisi air hangat yang dipenuhi kelopak bunga warna-warni. Aroma kemenyan yang tadi malam tipis-tipis tercium, kini sudah memenuhi ruangan itu.
"Ini untuk apa, Bi? Kenapa saya harus mandi bunga seperti pengantin?" tanya Mirasih, suaranya bergetar. Firasat buruknya kini sudah di ujung tanduk.
Bibi Sumi terdiam sejenak. Ia membelakangi Mirasih, bahunya tampak sedikit berguncang. Saat ia berbalik, matanya sudah merah dan basah oleh air mata. Ini bukan akting biasa; Bibi Sumi benar-benar ketakutan, namun ketakutannya lebih kepada keselamatan dirinya sendiri daripada nasib Mirasih.
"Nduk... Mirasih sayang," Bibi Sumi memegang kedua tangan Mirasih. Tangannya terasa sangat dingin. "Tolonglah kami. Tolong Pamanmu. Kamu lihat sendiri kan kemarin Pamanmu dipukuli seperti apa? Penagih hutang itu... mereka akan membunuh kita semua kalau besok pagi uangnya tidak ada."
Mirasih menggelengkan kepala, air mata mulai mengalir di pipinya yang masih ada bekas lebam. "Tapi kenapa harus Mirasih, Bi? Apa yang akan kalian lakukan padaku?"
Bibi Sumi jatuh bersimpuh di kaki Mirasih, menangis tersedu-sedu. "Hanya kamu satu-satunya harapan kami. Malam ini, kami akan menjodohkanmu dengan... dengan seorang penguasa besar. Dia sangat kaya, Mir. Dia sanggup menolong kita keluar dari lubang neraka ini. Dia hanya minta kamu menjadi istrinya."
"Istri siapa, Bi? Siapa orangnya? Kenapa harus malam-malam ?" Mirasih mulai histeris. Ia mencoba mundur, namun pintu kamar mandi sudah dikunci dari luar oleh Paman Broto.
"Dia bukan orang sembarangan, Nduk. Dia Ki Ageng Gumboro ," bisik Bibi Sumi sambil terisak.Dalam hati nya " sudah keren kan akting ku "
Mirasih terpaku. Seluruh tubuhnya mendadak lemas. Ia pernah mendengar nama itu dari bisik-bisik warga desa sebagai mahluk ghaib yang paling ditakuti. "Kalian... kalian mau menjualku pada Genderuwo? Bibi tega! Ayah dan Ibu tidak pernah mengajarkan ini!"
Paman Broto berbicara dari balik pintu, suaranya terdengar parau dan putus asa. "Mirasih! Dengar Paman! Paman janji, ini hanya sekali. Kamu cuma perlu melayaninya malam ini saja sebagai syarat. Setelah dia memberikan uangnya, kita semua bebas! Kita bisa pindah dari desa ini, kita bisa hidup enak. Paman mohon... kalau kamu tidak mau, besok pagi Paman dan Bibimu akan ditemukan jadi mayat di sungai."
Mirasih luruh ke lantai, menangis sejadi-jadinya. Di dalam pikirannya, wajah Aditya muncul. Aditya, tolong aku... Namun, ia teringat wajah babak belur Paman Broto kemarin. Ia teringat bagaimana keluarganya akan dibakar hidup-hidup oleh rentenir jika ia menolak. Rasa iba dan rasa bersalah mulai meracuni logikanya. Mirasih adalah gadis yang terlalu baik, dan kebaikannya itulah yang dimanfaatkan oleh iblis berbaju paman sendiri.
"Hanya sekali, Paman?" tanya Mirasih di sela isakannya.
"Hanya sekali, Nduk. Paman sumpah. Setelah itu, kamu bebas. Kamu bisa cari orang yang kamu suka, kamu bisa pergi ke mana saja," bohong Paman Broto dengan lancar.
Mirasih memejamkan mata rapat-rapat. Dunia seolah berhenti berputar. Dengan hati yang hancur berkeping-keping, ia mengangguk pelan, meski paman dan bibinya tidak bisa melihatnya. "Baiklah... kalau memang itu satu-satunya cara supaya Paman dan Bibi tidak dibunuh... Mirasih mau."
Bibi Sumi langsung memeluk Mirasih erat, menciumi keningnya sambil terus berterima kasih. "Terima kasih, Nduk. Kamu anak baik. Kamu penyelamat keluarga ini."
Dengan gerakan yang terasa seperti mimpi buruk, Bibi Sumi mulai menyiramkan air kembang itu ke tubuh Mirasih. Air hangat itu terasa seperti air es yang membekukan darahnya. Setiap siraman disertai dengan rapalan doa-doa aneh yang diajarkan oleh Mbah Garmo.
"Harumkan tubuhmu, Nduk... Biar Sang Tuan senang," bisik Bibi Sumi.
Mirasih hanya diam, membiarkan tubuhnya dibasuh. Ia merasa jiwanya sudah mati lebih dulu sebelum tubuhnya diserahkan. Setelah mandi, ia didandani dengan kebaya hitam usang yang terlihat sangat klasik namun anggun. Rambutnya disisir rapi dan diberi hiasan melati yang aromanya sangat tajam—aroma yang nantinya akan ia benci seumur hidup.
Malam pun jatuh. Langit Selasa Kliwon tampak gelap tanpa bintang, seolah alam pun enggan menyaksikan pengkhianatan manusia terhadap sesamanya.
Pukul sebelas malam, Paman Broto membuka pintu kamar. Ia membawa sebuah obor kecil dan sebuah bungkusan berisi sesaji. "Ayo, sudah waktunya. Mbah Garmo sudah menunggu di perbatasan hutan."
Mirasih berjalan layaknya mayat hidup. Langkah kakinya terasa berat saat melewati teras rumah. Ia sempat melirik ke arah jalan desa, berharap ada sosok Aditya yang tiba-tiba muncul dan menariknya pergi. Namun, jalanan sepi. Hanya ada suara jangkrik yang mengerik nyaring.
Mereka masuk ke dalam kegelapan hutan larangan. Bau tanah basah dan kayu lapuk menyambut mereka. Semakin dalam mereka masuk, udara terasa semakin pekat dan berat. Di sebuah area lapang di bawah pohon randu alas yang sangat besar, Mbah Garmo sudah berdiri di sana dengan asap kemenyan yang mengepul hebat dari sebuah tungku kecil.
"Bagus... kalian tepat waktu," ucap Mbah Garmo. Matanya menatap Mirasih dengan lapar. "Gadis ini benar-benar cantik. Ki Ageng pasti sangat puas."
Mirasih ingin berteriak, tapi lidahnya terasa kaku. Mbah Garmo menyuruh Mirasih duduk bersila di atas kain putih yang sudah digelar di tanah. Paman Broto dan Bibi Sumi berdiri agak jauh di belakang, wajah mereka tegang namun penuh harap.
Ritual dimulai. Mbah Garmo mulai membacakan mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuno yang tidak dimengerti Mirasih. Tiba-tiba, angin kencang bertiup entah dari mana, menggoyang dahan-dahan pohon raksasa di atas mereka. Suara geraman rendah mulai terdengar dari kegelapan hutan, suara yang bukan berasal dari binatang mana pun.
"Dia datang..." bisik Mbah Garmo.
Mirasih merasakan bulu kuduknya berdiri. Suhu di tempat itu mendadak menjadi sangat panas. Di depan matanya, perlahan muncul sebuah bayangan hitam yang tingginya mencapai tiga meter. Bayangan itu memiliki mata merah yang menyala terang di kegelapan. Baunya sangat khas; bau singkong bakar yang bercampur dengan aroma purba yang menyesakkan.
Paman Broto dan Bibi Sumi langsung bersujud di tanah, tidak berani mendongak.
Mbah Garmo memegang pundak Mirasih. "Ini dia pengantinmu, Sang Penguasa. Terimalah dia sebagai maharmu, dan berikanlah kemakmuran bagi mereka yang membawanya."
Bayangan besar itu mendekat. Mirasih merasa sebuah tangan yang sangat besar, panas, dan berbulu kasar menyentuh dagunya. Ia menggigil hebat, air matanya jatuh membasahi kebaya hitamnya. Mahluk itu mengeluarkan suara mendengus yang terdengar seperti kepuasan.
"Mirasih..." suara ghaib itu bergema di dalam kepalanya, membuat telinganya berdenging. "Sekarang, kau milikku."
Mirasih memejamkan mata, memohon agar ini semua hanya mimpi. Namun, rasa panas dari napas mahluk itu di wajahnya terlalu nyata untuk dianggap mimpi.
Di kejauhan, Paman Broto tersenyum lebar dalam sujudnya. Ia tidak peduli jika Mirasih sedang meregang nyawa karena ketakutan. Yang ia pikirkan hanyalah kantong plastik di samping Mbah Garmo yang tiba-tiba tampak menggembung berisi sesuatu yang berat.
Setelah menjalani beberapa ritual,pernikahan ghaib itu telah sah. Mirasih telah resmi menjadi pengantin Genderuwo, ditukar dengan tumpukan uang yang berbau darah dan air mata. Malam itu, di bawah pohon randu alas, Mirasih menyerahkan segalanya demi menyelamatkan orang-orang yang justru menghancurkan hidupnya.
apa pasrah bgtu saja hidupmu
di permainankan paman bibi mu ??
sia sia pengorbanan orangtua mu selama hidup
bangkit donk
balas perbuatan busuk mereka
manusia busukk