NovelToon NovelToon
Dia Masih Tetap Anaku

Dia Masih Tetap Anaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: ayaelsa

Tiga hari ia bergulat dengan maut. Bayinya lahir tanpa tangis. Lalu diam selama 25 tahun.

Aryo hanya penarik becak. Istrinya buruh cuci. Mereka tak punya uang untuk rumah sakit, apalagi untuk terapi. Tapi ketika dokter bilang anaknya tak akan pernah normal, Aryo cuma berkata: "Dia tetap anakku."

Warga bilang anaknya kena guna-guna. Tetangga bergunjing di setiap pos kamling. Batu dilempar ke rumahnya tengah malam. Tapi Aryo bertahan. Sampai suatu hari, istrinya batuk darah. Dan Aryo harus memilih: selamatkan istri, atau rawat anak yang tak pernah bisa memanggilnya Bapak?

Kisah nyata seorang ayah yang mengajarkan arti cinta tanpa syarat.

Siap-siap sediakan tisu. Karena setiap bab akan membuatmu terisak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayaelsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4: ANTARA HIDUP DAN MATI

Mobil tua Pak Karjo melaju kencang. Aryo duduk di kursi belakang, menggendong Risma. Tubuh anaknya lemas. Sangat lemas. Seperti boneka kain yang isinya habis.

"Nak... Nak... jangan... jangan pergi..."

Aryo goyang-goyang tubuh mungil itu. Nggak ada respons. Matanya terpejam. Dadanya naik turun? Aryo nggak yakin. Ia tempelkan pipinya ke dada Risma. Jantungnya berdetak? Ia nggak dengar apa-apa.

"RI! RI! BANGUN! JANGAN TIDUR!"

Jeritannya memecah malam. Pak Karjo nginjak gas lebih dalam. Mobil tua itu meraung. Lampu penerangan jalan berlarian di kaca.

Dewi di rumah? Aryo nggak tahu. Ia tinggalkan Dewi. Istri itu pasti panik sendiri. Tapi ia nggak bisa mikir yang lain. Pikirannya cuma satu: Risma harus selamat.

 

Mobil berhenti di depan UGD. Aryo turun, lari masuk sambil teriak.

"TOLONG! TOLONG! ANAK SAYA!"

Perawat-perawat panik. Brankar didorong. Aryo letakkan Risma di atas brankar. Tubuh anaknya kecil sekali. Di brankar besar itu, ia seperti boneka.

"Ada apa, Pak?" seorang dokter bertanya sambil berlari.

"Anak saya... dia... dia nggak mau nyusu... terus lemes... napasnya..."

Dokter itu memeriksa Risma. Tempelin stetoskop. Cek denyut nadi. Buka kelopak mata. "Bawa ke ruang tindakan! CEPET!"

Brankar didorong masuk. Pintu tertutup. Lagi-lagi Aryo di lorong. Lagi-lagi menunggu.

Ia duduk di lantai. Basah kuyup. Keringat dan air mata bercampur. Tangannya gemetar. Kakinya juga. Seorang suster lewat. Aryo pegang tangannya. "Mbak... anak saya selamat kan?"

Suster itu menatapnya iba. "Doakan, Pak. Dokter akan berusaha."

Aryo lepas tangannya. Ia duduk lagi. Menatap pintu itu. Jam dinding berdetak. Tek... tek... tek... Aryo benci suara itu. Mengingatkan pada tiga hari Dewi melahirkan. Mengingatkan pada detik-detik menakutkan.

Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam.

Pintu terbuka. Dokter keluar. Wajahnya lelah. Maskernya diturunkan.

"Pak, anak Bapak mengalami kejang. Demamnya tinggi. 40 derajat."

Aryo pucat. "Gimana, Dok? Selamat?"

Dokter itu menghela napas. "Untuk saat ini, selamat. Tapi kami harus rawat inap. Kondisinya masih kritis."

Aryo jatuh berlutut. "Syukur... syukur, Dok..."

 

Pagi harinya, Aryo telepon Bu Satinah. Minta tolong kabari Dewi kalau Risma selamat.

Bu Satinah di seberang nangis. "Syukur, Pak. Syukur. Dewi semalem nggak tidur. Nangis terus."

"Bilang Dewi, aku akan jagain Risma. Dia nggak usah khawatir."

"Pak, Dewi mau ke rumah sakit. Saya anter."

"Nggak usah, Bu. Biar saya yang urus. Dewi masih lemah."

Tapi Bu Satinah ngotot. Sore harinya, Dewi sudah sampai di rumah sakit. Jalannya masih sempoyongan. Tapi ia paksakan. Begitu lihat Aryo, Dewi langsung nangis. "Mas... Mas... gimana Risma?"

Aryo peluk istrinya. "Selamat, Ri. Selamat. Tapi masih dirawat."

Dewi minta lihat Risma. Aryo antar ke NICU. Lagi-lagi di depan kaca. Lagi-lagi inkubator. Lagi-lagi kabel dan selang.

Risma terbaring. Lebih kecil dari sebelumnya. Wajahnya pucat. Ada bekas luka di kepala bekas infus.

"Risma... Nak... Ibu di sini..." bisik Dewi.

Dari dalam, Risma tak bergerak. Tapi Dewi terus menatap. Nggak berkedip. Aryo pegang pundak Dewi. Keduanya diam. Hanya bisa memandang.

 

Seminggu berlalu. Risma boleh pulang. Kali ini Aryo lebih siap. Ia beli termometer. Beli obat penurun panas dari puskesmas. Belajar cara kompres kalau demam.

Sebelum pulang, dokter memanggil mereka.

"Pak, Bu, saya harus bicara serius. Anak Bapak ini akan sering sakit. Infeksi paru, infeksi saluran kencing, demam, kejang. Itu risiko CP. Bapak harus siap."

Aryo dan Dewi diam. Saling pandang.

"Kami kasih resep obat-obatan yang harus rutin diminum. Dan yang paling penting, jaga kebersihan. Karena daya tahan tubuh anak CP lemah."

Aryo mengangguk. "Siap, Dok."

Dokter itu menatap mereka. "Saya salut, Pak, Bu. Banyak orang tua yang menyerah. Tapi Bapak Ibu terus berjuang."

Aryo tersenyum getir. "Dia anak kami, Dok. Mau gimana lagi."

Dewi tambah, "Dia darah daging kami. Sakit atau sehat, dia tetap anak kami."

 

Pulang ke rumah, Aryo dan Dewi mulai belajar jadi orang tua spesial. Tiap pagi, mereka bangun lebih awal. Mandiin Risma dengan hati-hati. Kepala harus disangga. Badan harus ditopang. Jangan sampai terlipat.

"Mandiin dia kayak mandiin gelas kaca," kata Dewi. "Pecah sedikit, langsung hancur."

Aryo tertawa. Tapi itu benar. Risma rapuh.

Menyuapi juga susah. Risma susah menelan. Sering tersedak. Kalau tersedak, mukanya merah, napasnya sesak. Aryo harus tepok-tepok punggungnya.

"Pelan-pelan, Ri. Nggak usah buru-buru," bisik Aryo tiap kali menyuapi.

Tapi Risma tetap susah. Makan satu sendok bisa 10 menit. Kadang dimuntahin lagi.

Dewi sering nangis lihat itu. "Mas, dia kurus banget. Makan susah. Gimana mau gemuk?"

Aryo elus punggung Dewi. "Nggak apa-apa, Ri. Yang penting dia sehat. Gemuk nggak gemuk nggak masalah."

Malam harinya, mereka bergantian jaga. Kalau Risma nangis, harus segera dilihat. Bisa kebelet pipis, bisa kedinginan, bisa kesakitan.

Tapi Risma jarang nangis. Ia lebih sering diam. Terkadang matanya terbuka lebar, menatap langit-langit. Berjam-jam. Nggak berkedip.

"Mas, dia ngapain sih?" tanya Dewi.

"Entahlah. Mungkin lagi mikir."

"Bayi kok mikir?"

Aryo tertawa. "Ya mikir lah. Mikir kenapa hidupnya susah."

Dewi ikut tertawa. Tapi matanya berkaca. Ia tahu, hidup mereka memang susah. Tapi mereka harus kuat.

 

Suatu malam, Aryo bangun. Dengar suara aneh dari kamar Risma. Ia lari ke kamar.

Risma kejang.

Matanya memutih. Mulutnya berbusa. Tubuhnya kaku, lalu gemetar hebat.

"RI! RI! RI!"

Aryo gendong Risma. Tubuhnya panas. Sangat panas.

"Dewi! DEWI!"

Dewi bangun. Lihat Risma kejang. Ia menjerit. "Tolong! Tolong! TETANGGA! TOLONG!"

Bu Satinah datang. Pak Karjo datang. Mereka bawa Risma ke rumah sakit lagi.

Di mobil, Aryo pegang Risma. Kejangnya sudah reda. Tapi Risma lemas. Sangat lemas. Matanya terpejam.

"Nak... Nak... jangan... jangan tinggal Bapak..."

Dewi di sampingnya, nangis. Nangis sejadi-jadinya. "Mas... Mas... kenapa harus anak kita terus yang ngalamin?"

Aryo nggak bisa jawab. Ia cuma bisa genggam tangan Risma. Tangan kecil itu dingin. Sangat dingin.

 

Di rumah sakit, dokter memeriksa. "Kejang demam. Karena suhu badannya naik drastis."

Aryo lega. Bukan yang lebih parah. Tapi belum lega sepenuhnya.

"Tapi, Pak, ini peringatan. Kejang berulang bisa merusak otak. Harus diantisipasi."

Aryo mengangguk. "Caranya, Dok?"

"Obat anti-kejang rutin. Dan jaga suhu badan. Kalau demam sedikit, langsung kompres. Kalau panasnya naik, langsung bawa ke sini."

Aryo catat semua di buku kecil. Buku itu sudah penuh coretan. Catatan medis Risma. Jadwal obat. Nomor telepon dokter. Tanggal kontrol. Semua ada.

Dokter itu menambahkan, "Pak, saya tahu berat. Tapi anak Bapak masih punya kesempatan tumbuh. Asal dirawat dengan baik."

Aryo mengangguk. "Saya usahakan, Dok."

 

Seminggu kemudian, Risma pulang. Tapi Aryo takut. Setiap malam, ia cek suhu Risma. Berkali-kali. Sampai nggak bisa tidur.

"Mas, istirahat. Aku yang jaga," kata Dewi.

Aryo geleng. "Nggak bisa, Ri. Aku takut."

Dewi pegang tangannya. "Kita sama-sama, Mas. Jangan tanggung sendiri."

Aryo menatap Dewi. Istrinya itu juga kurus. Lingkaran hitam di bawah mata. Rambut mulai tipis. Tapi Dewi tetap tersenyum.

"Makasih, Ri... makasih udah kuat..."

"Kita kuat bareng-bareng, Mas."

Malam itu, mereka tidur bertiga. Aryo, Dewi, dan Risma di tengah. Aryo pegang tangan Risma. Risma tidur tenang. Napasnya teratur. Pelan. Tapi pasti.

Aryo memandangi anaknya. Wajah mungil itu. Hidung kecil. Bibir tipis. Bulu mata panjang. Dalam tidur, Risma seperti bayi normal. Tenang. Damai.

"Nak... Bapak janji... Bapak nggak akan biarin kamu sakit lagi. Bapak akan jagain kamu. Seumur hidup."

Air matanya jatuh. Jatuh di pipi Risma.

Risma tak bergerak. Tapi napasnya tetap teratur.

Kuat.

Seperti cinta bapaknya.

 

Tapi esok harinya, Aryo batuk. Batuk terus. Dadanya sakit. Kepalanya pusing.

Dewi pegang keningnya. "Mas, kamu panas."

Aryo geleng. "Nggak papa. Masuk angin aja."

"Mas, istirahat. Aku yang urus Risma."

Aryo nggak mau. Ia paksakan bangun. Mandiin Risma. Suapin Risma. Tapi tubuhnya lemas. Tangannya gemetar.

Saat menyuapi, sendok jatuh. Bubur tumpah.

"Mas!" Dewi lari ke dapur. "Mas, kamu sakit! Istirahat!"

Aryo diam. Ia lihat tangannya. Gemetar. Keringat dingin membasahi punggung. "Iya, Ri... aku... aku istirahat sebentar..."

Ia rebahan di dipan. Matanya terpejam. Tapi pikirannya nggak bisa diam.

Siapa yang narik becak kalau aku sakit? Siapa yang cari uang? Risma butuh obat. Butuh susu. Butuh terapi.

Tuhan... jangan sakiti aku. Anakku butuh aku.

Dari kamar, terdengar Risma nangis. Bukan nangis keras. Tapi suara kecil. Seperti kucing.

Dewi berlari ke kamar. "Mas, Risma panas!"

Aryo bangkit. Kepalanya pusing. Tapi ia paksakan. Ia pegang kening Risma. Panas. Sangat panas.

"Kompres, Ri! Cepet!"

Dewi ambil air. Kompres Risma. Tapi panasnya nggak turun. Sudah setengah jam, tetap 39 derajat.

"Ayo ke rumah sakit."

"Tapi Mas, kamu sakit..."

"Nggak papa. Ayo!"

Aryo gendong Risma. Dewi di belakang. Mereka ke jalan, cari angkutan. Tapi di tengah jalan, Aryo limbung. Lututnya lemas. Ia hampir jatuh.

"Mas!" Dewi pegang Aryo.

Aryo jatuh duduk di pinggir jalan. Risma di gendongannya. Tubuhnya panas. Sangat panas. Seperti membakar dada Aryo.

Dewi nangis. "Mas... Mas... gimana ini..."

Aryo menatap Risma. Anaknya lemas. Matanya terpejam. Napasnya cepat. Cepat sekali.

"Tuhan... tolong..." bisik Aryo.

Di kejauhan, terdengar suara mobil. Aryo berusaha melambai. Tapi tangannya lemah. Ia nggak tahu apakah mobil itu berhenti. Ia nggak tahu apakah mereka akan selamat.

Yang ia tahu, Risma di gendongannya masih bernapas. Masih hidup. Masih berjuang.

Dan ia harus berjuang bersama.

Sampai kapan pun.

 

[BERSAMBUNG]

 

1
Ibu Watik
bukanya di cerita sebelumnya aryo pernah beli tanah pernah bangun rumah, lha kemana rumah itu
Nurgusnawati Nunung
Ya Allah yang Maha Kuasa... semangat thor
Nurgusnawati Nunung
mewek lagi.. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
keluarga yang kuat.. semangat.
Nur Syamsiah
certNy bagus menyentuh
Nurgusnawati Nunung
semangat thor...
Ayaelsa: Terima kasih dukungannya😄
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
cerita di dunia nyata itu sangat mengerikan jika ada orang seperti Joko
Nurgusnawati Nunung
orang jahat banyak akal iblis
Nurgusnawati Nunung
Ada ada saja orang gila harta orang lain.,
Nurgusnawati Nunung
Mbah Kar sudah tiada.. semoga ada lagi orang baik sepertinya. semangat thor
Nurgusnawati Nunung
berjuang lah Risma untuk orang tuamu yang tak henti berjuang untukmu.. sedih baca cerita ini. semangat thor
Ayaelsa: terimakasih sudah Sudi membaca
total 1 replies
Siti Dede
Semangaaaat👍
Nurgusnawati Nunung
kecil amat gaji sebulan
Nurgusnawati Nunung
kasihan sekali hidup mereka.. semoga selalu diberi kemudahan
Nurgusnawati Nunung
Alhamdulillah masih ada orang baik.
Nurgusnawati Nunung
Yaa Allah..
Ayaelsa: terima kasih sudah membaca kisah ini
total 1 replies
Nurgusnawati Nunung
sedih yaaa. alhamdulillah susternya pada baik. semangat
Nurgusnawati Nunung
Thor.. belum apa2 sudah lemas hatiku. sedih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!