Fang Yuan kehilangan kedua orang tuanya karena ulah kultivator.Lalu Ia hidup bersama kakeknya hingga akhirnya sang kakek pun meninggalkannya seorang diri.
Di tengah kerasnya dunia, Fang Yuan menemukan sebuah buku kultivasi. Tanpa bakat, tanpa dukungan, hanya dengan tekad.
“Aku akan melakukan apa pun 1000 kali… sampai berhasil.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Orang gila
Paviliun Murid Dalam Sekte Awan Mendung biasanya adalah tempat yang tenang untuk berkultivasi.
Namun, kedatangan "Li Qiye" (Fang Yuan) membawa hawa dingin yang tak kasat mata.
Baru beberapa jam ia menempati asramanya, sekelompok murid senior yang dipimpin oleh seorang pemuda sombong bernama Zhao Feng sudah menghadangnya.
"Lihat ini, si bocah 'beruntung' yang langsung jadi murid dalam," ejek Zhao Feng sambil meludahi sepatu Fang Yuan. "Di sini, pangkat tidak ada artinya jika kau tidak tahu cara menghormati seniormu. Bersihkan kamarku sekarang, atau hidupmu di sini akan menjadi neraka."
Rekan-rekan Zhao Feng tertawa terpingkal-pingkal. Mereka mendorong bahu Fang Yuan, mencaci pakaiannya, dan menyebutnya "anjing liar dari desa".
Fang Yuan tetap diam. Ia tidak memukul, tidak membalas makian, bahkan tidak mengerutkan kening.
Ia hanya menatap mereka dengan tatapan kosong yang dalam. Di sudut gelap, Bai Lie gemetar.
Ia tahu bahwa diamnya Fang Yuan adalah lonceng kematian yang jauh lebih mengerikan daripada ledakan kemarahan.
Fang Yuan tidak melaporkan mereka ke tetua. Ia memiliki metode yang lebih personal. Begitu matahari terbenam, permainan dimulai.
Pukul 20.00 - Kehadiran yang Menghantui
Saat Zhao Feng sedang bermeditasi di kamarnya, ia merasa ada seseorang yang menatapnya. Ia membuka mata. Kosong.
Namun, setiap kali ia memejamkan mata, ia mendengar langkah kaki halus yang berhenti tepat di depan pintunya.
Saat ia memeriksa pintu, hanya ada kegelapan. Hal ini terjadi berulang-ulang hingga tengah malam.
Pukul 02.00 - Getaran Frekuensi Rendah
Fang Yuan menggunakan teknik Getaran Internal yang telah ia sempurnakan di dimensi bintang.
Melalui dinding kayu, ia mengirimkan getaran Qi frekuensi rendah yang tidak terdengar telinga, namun membuat jantung berdebar kencang dan rasa cemas yang luar biasa.
Murid-murid yang menghinanya tidak bisa tidur; mereka merasa seolah-olah seluruh ruangan mereka sedang diawasi oleh ribuan mata.
Pukul 04.00 - Pesan Berdarah yang Tidak Berdarah
Salah satu pengikut Zhao Feng terbangun dan menemukan sebuah belati hitam tertancap di bantalnya, hanya satu milimeter dari telinganya.
Di bilahnya terukir nama aslinya—nama yang seharusnya tidak diketahui siapapun di kota ini.
Tidak ada luka fisik, tapi rasa takut akan kematian yang tertunda mulai merusak kewarasannya.
Saat matahari terbit, Zhao Feng dan kelompoknya keluar dengan kantung mata hitam dan wajah pucat.
Mereka berharap teror itu berakhir, namun Fang Yuan justru berdiri di tengah jalan, menatap mereka dengan senyuman kecil yang tidak pernah mencapai matanya.
Sepanjang hari, kemanapun mereka pergi, mereka melihat Fang Yuan. Di perpustakaan, di kantin, di tempat latihan.
Fang Yuan tidak bicara, ia hanya berdiri di kejauhan, memegang Mutiara Petir yang sesekali memercikkan listrik ungu.
Setiap kali mereka mencoba mendekatinya untuk menyerang, Fang Yuan menghilang di balik kerumunan seperti bayangan, hanya untuk muncul kembali di belakang mereka beberapa menit kemudian, membisikkan satu kata di telinga mereka: "Seribu ..."
Itu adalah referensi tersembunyi bagi Fang Yuan tentang "seribu percobaan menuju kegagalan", namun bagi mereka, itu terdengar seperti jumlah siksaan yang akan mereka terima.
Di dalam asrama pribadi Fang Yuan, Bai Lie sedang membersihkan lantai.
Ia menyaksikan dari kejauhan bagaimana sekelompok murid berbakat itu perlahan-lahan hancur secara mental.
Zhao Feng mulai berteriak-teriak histeris pada udara kosong, sementara yang lain meringkuk di pojok ruangan dengan tatapan depresi yang dalam.
"Orang itu benar-benar gila," bisik Bai Lie pada dirinya sendiri.
Dulu, ia membenci statusnya sebagai budak. Namun sekarang, melihat bagaimana Fang Yuan "bermain" dengan mangsanya tanpa menyentuh mereka, Bai Lie merasakan gelombang rasa syukur yang aneh merayap di hatinya.
"Setidaknya aku 'miliknya'," pikir Bai Lie ngeri. "Menjadi budaknya berarti aku berada di bawah perlindungannya dari kegilaannya sendiri. Jika aku adalah mereka ... aku lebih baik bunuh diri sekarang daripada harus menghadapi hari berikutnya."
Ia menyadari bahwa Fang Yuan bukan lagi manusia.
Dia adalah sesuatu yang lain—sebuah entitas yang telah kehilangan rasa empati dan menggantinya dengan perhitungan dingin tentang cara mematahkan semangat hidup orang lain.
Satu hari penuh telah berlalu. Zhao Feng ditemukan pingsan di depan aula sekte, mengompol karena ketakutan, sementara rekan-rekannya meminta untuk dikeluarkan dari sekte karena merasa "dihantui oleh iblis".
Fang Yuan berjalan melewati mereka tanpa menoleh. Ia kini memiliki reputasi baru di asrama murid dalam: Si Bisu Pembawa Sial. Tidak ada lagi yang berani menatap matanya, apalagi menghinanya.
"Waktu yang terbuang untuk sampah seperti mereka," gumam Fang Yuan sambil membuka buku alkimia yang ia rampas dari Bai Lie. "Sekarang, mari kita mulai bagian yang sebenarnya."
ini mengingatkanku pada wang lin.
tapi aku menyukai alur ini, sangat menarik.