NovelToon NovelToon
Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Pelindung Cinta: Kisah Ibu Tiri Yang Tak Tergoyahkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Duda / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

desainer muda yang mandiri, tak pernah menduga bahwa pertemuan tak sengaja dengan Raka—seorang CEO tampan, sukses, dan penuh kasih—akan mengubah hidupnya selamanya. Raka bukan hanya pria idaman, tapi juga ayah tunggal dari Arka, anak kecil yang ditinggalkan oleh mantan istrinya, Lita, seorang wanita ambisius yang selingkuh dan tak peduli pada buah hatinya. Saat Aira memasuki kehidupan mereka sebagai ibu tiri yang penuh dedikasi, dia harus menghadapi badai godaan: para pelakor licik yang mengincar Raka karena ketampanan dan kekayaannya, serta ancaman utama dari Lita yang kembali dengan agenda rahasia untuk merebut semuanya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 7: Pertemuan dengan Ibu Kandung

Kafe di kawasan Menteng itu bernama "Halaman Belakang". Letaknya di sebuah rumah tua bergaya kolonial yang diubah menjadi tempat nongkrong modern. Halamannya luas, dengan pohon beringin besar di tengah. Meja-meja kayu tersebar di bawah rindangnya daun.

Aira datang jam setengah empat. Lebih awal setengah jam. Ia duduk di meja paling pojok, dekat pagar bambu. Memesan air putih. Menatap gerbang masuk dengan perasaan campur aduk.

Ia tak tahu harus bersikap bagaimana. Wanita itu—Lita—adalah ibu kandung Arka. Wanita yang meninggalkan anaknya saat demam. Wanita yang kini tiba-tiba kembali.

"Aira, kamu bodoh," gumamnya sendiri. "Ngapain datang?"

Tapi ia sudah di sini. Dan rasa penasarannya lebih besar dari ketakutannya.

Pukul empat kurang sepuluh menit, seorang wanita memasuki halaman kafe.

Aira langsung tahu itu Lita.

Bukan karena ia pernah melihat fotonya. Tapi karena wanita itu berjalan dengan percaya diri. Terlalu percaya diri. Rambut panjang sebahu, hitam legam, lurus sempurna. Gaun merah marun yang membalut tubuh langsing. Tas Hermès yang harganya mungkin setara dengan satu tahun sewa kost Aira. High heels yang membuatnya melenggak-lenggok di atas paving block halaman kafe.

Wanita itu memandang sekeliling. Matanya menemukan Aira. Tersenyum. Senyum yang manis. Tapi matanya—Aira bisa melihatnya dari jauh—matanya dingin. Seperti air di danau yang dalam, tak pernah tersentuh sinar matahari.

"Selamat sore, Nona Aira?" Lita sudah berdiri di depan meja.

Aira berdiri. "Selamat sore, Bu."

"Panggil Lita saja. Aku belum tua-tua amat."

Lita tertawa. Suaranya halus. Tangan kanannya menjulur untuk berjabat tangan. Aira menerimanya. Jabat tangan Lita lembut. Tapi terlalu lama. Seperti ia sedang menilai lawan bicaranya.

"Ayo duduk," kata Lita.

Mereka duduk berhadapan. Lita memanggil pelayan. Pesan kopi hitam tanpa gula. Aira hanya memesan air putih.

"Kok cuma air putih?" tanya Lita.

"Aku biasa minum air putih."

Lita tersenyum. Tapi senyumnya kali ini sedikit mengejek. "Ah, Nona Aira, orang bilang, air putih itu untuk orang yang tak punya selera."

Aira diam. Tak mau terpancing.

Lita membuka tasnya. Mengeluarkan sebatang rokok. "Boleh?"

Aira menggeleng. "Silakan."

Lita menyalakan rokok. Menghisap dalam-dalam. Menghembuskan asap ke samping, sopan. Tapi tatapannya tetap pada Aira.

"Nona cantik," kata Lita tiba-tiba.

Aira tersipu tak enak. "Terima kasih."

"Tapi cantik saja tak cukup untuk mempertahankan pria seperti Raka. Percaya deh, aku sudah pernah mencoba."

Aira mengerutkan kening. "Bu Lita, saya tidak—"

"Tut, tut, tut." Lita menggeleng-gelengkan jari telunjuknya. "Panggil Lita. Saya benci dipanggil Bu. Membuat saya merasa tua."

Aira menarik nafas. "Lita, saya tidak punya hubungan apa-apa dengan Raka. Saya hanya desainer yang membuat baju untuk Arka."

Lita tertawa. Kali ini tawanya lebih keras. Sedikit sinis.

"Nona Aira, Nona Aira... kau pikir aku tak tahu? Aku ibunya Arka. Setiap malam aku telepon Arka. Setiap malam Arka cerita tentang 'Aira ini', 'Aira itu'. 'Aira baik', 'Aira cantik', 'Aira janji tak pergi'. Bahkan kemarin, Arka kirim gambar kalian bertiga. Aira, Raka, Arka. Kau pikir aku tak lihat?"

Aira terkejut. "Arka telepon dengan Lita?"

"Tentu. Kau pikir Raka bisa melarangku bicara dengan anak kandungku sendiri?" Lita menghembuskan asap rokok. "Hukum di negeri ini tak seperti itu, sayang."

Aira diam. Ia tak tahu harus berkata apa. Selama ini Raka tak pernah bilang bahwa Lita masih berkomunikasi dengan Arka.

Lita menatap Aira. Lama. Lalu berkata pelan, "Kau tahu, Nona Aira, aku datang ke sini bukan untuk ancam-ancaman. Aku hanya ingin lihat, siapa sebenarnya wanita yang membuat anakku begitu terpesona. Dan setelah melihatmu, aku mengerti."

Aira menunggu.

"Kau polos. Tulus. Mungkin itu yang Arka suka." Lita mematikan rokoknya. "Tapi kau juga bodoh."

Aira tersentak. "Maaf?"

"Bodoh karena mau-maunya terlibat dengan keluarga yang hancur. Bodoh karena mau-maunya jadi ibu tiri untuk anak yang bukan siapa-siapa bagimu. Bodoh karena kau pikir cinta akan menyelesaikan segalanya."

Aira menatap Lita. Dadanya mulai panas. Tapi ia tahan.

"Lita, saya tidak—"

"Kau tak perlu jelaskan apa-apa. Aku sudah lihat semuanya. Dan aku di sini untuk bilang: keluar dari kehidupan mereka. Sekarang. Sebelum kau terluka."

Ancaman. Terang-terangan.

Aira diam sejenak. Lalu tersenyum. Senyum yang tenang.

"Lita, saya hanya seorang desainer. Saya datang ke apartemen itu untuk bekerja. Arka suka saya karena saya memperlakukannya seperti teman, bukan seperti anak berkebutuhan khusus. Saya tak punya niat merebut Raka, apalagi merebut posisimu sebagai ibu Arka."

Lita mengangkat alis. "Lalu?"

"Lalu, saya tak akan keluar dari kehidupan mereka hanya karena kau minta. Arka punya hak untuk punya teman. Dan jika kau benar-benar sayang Arka, kau seharusnya senang dia punya teman yang membuatnya tersenyum."

Udara di sekitar meja itu tiba-tiba dingin.

Lita menatap Aira dengan pandangan baru. Bukan lagi meremehkan. Tapi waspada.

"Kau berani juga ya?" Lita tersenyum. Tapi senyumnya tak sampai mata. "Bagus. Aku suka wanita berani. Tapi ingat, Nona Aira. Aku ini ibu kandung Arka. Aku punya hak yang tak bisa kau beli dengan kebaikan palsumu. Aku akan kembali ke keluarga itu. Aku akan merebut kembali Raka dan Arka. Dan kau? Kau akan kembali ke dunia kecilmu. Menjadi desainer kampungan yang tak punya masa depan."

Aira diam. Kata-kata Lita tajam. Tapi ia tak mau terpancing.

"Lita, aku tak ingin bermusuhan denganmu. Tapi jika kau benar-benar sayang Arka, kau harus tahu. Arka butuh ibunya. Tapi bukan ibu yang datang hanya saat dia butuh sesuatu."

Lita menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"

Aira menatap Lita lekat-lekat.

"Malam itu, tiga tahun lalu, Arka demam. Kau pergi. Meninggalkannya sendirian. Kau tahu apa yang terjadi setelah itu? Arka trauma. Dia tak mau dekat dengan siapa pun. Dia tak percaya siapa pun. Dia hanya duduk diam di kamar, memeluk guling, menunggu ibunya yang tak pernah kembali."

Lita diam. Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, topeng percaya diri itu retak sedikit.

"Aku tahu," bisik Lita pelan. "Aku tahu itu."

"Lalu?" tanya Aira. "Mengapa kau baru datang sekarang? Setelah tiga tahun? Apa yang kau cari?"

Lita tak menjawab. Ia merogoh tasnya. Mengeluarkan selembar uang seratus ribu. Meletakkannya di meja untuk membayar kopi yang bahkan belum ia sentuh.

"Pertemuan kita selesai, Nona Aira. Terima kasih sudah datang."

Lita berdiri. Memperbaiki gaunnya. Menatap Aira dari atas.

"Aku sudah bilang. Aku akan kembali. Dan kau tak bisa menghentikanku. Ingat itu."

Lita berbalik. Melenggang pergi. High heelsnya berdetak di paving block. Pelayan kafe menatapnya dengan kagum. Aira hanya diam. Menatap punggung Lita yang menjauh.

Ia baru sadar, tangannya gemetar. Seluruh tubuhnya gemetar.

---

Aira duduk di kafe itu sampai matahari mulai turun. Air putihnya tak ia sentuh. Pikirannya kacau.

Ponselnya bergetar. Maya.

"Mba, gimana janjiannya? Sama cowok kan? Cantik-cantik gitu, masa enggak ada kabar?"

Aira membalas dengan jari gemetar:

"Bukan cowok. Mantan istrinya Raka."

Maya membalas cepat. "APA? Mba serius? Jangan-jangan digebukin? Mba di mana? Aku jemput!"

"Aman, May. Aku di kafe. Bentar lagi pulang."

"Mba, cerita nanti ya! Aku khawatir!"

Aira menyimpan ponsel. Ia menatap langit Menteng yang mulai jingga. Jakarta sore itu indah. Tapi hatinya tak ikut indah.

Ia ingat kata-kata Lita: "Aku akan kembali ke keluarga itu. Aku akan merebut kembali Raka dan Arka."

Apa yang harus ia lakukan? Beritahu Raka? Tapi Lita benar. Ia hanya orang luar. Tak punya hak apa-apa.

Aira memejamkan mata. Membayangkan Arka. Senyum Arka. Tawa Arka. Gambar tiga orang itu.

Dan untuk pertama kalinya, Aira tak tahu harus berbuat apa.

---

Di apartemen The Rosewood, Raka duduk di ruang kerjanya. Ponsel di tangannya. Layar menampilkan percakapan dengan Lita.

Pesan terakhir Lita masuk satu jam lalu:

"Besok aku tunggu di kafe dekat kantormu. Jam 10. Jangan kabur."

Raka belum membalas. Ia masih bergulat dengan dirinya sendiri. Haruskah ia datang? Atau tidak?

Pintu ruang kerja diketuk pelan. Bi Inah masuk.

"Tuan, Arka sudah mandi. Siap tidur. Dia minta Tuan bacakan cerita."

Raka mengangguk. Ia bangkit. Melangkah ke kamar Arka.

Arka sudah berbaring di tempat tidur. Memakai piyama biru bergambar bulan bintang. Guling kesayangannya dipeluk erat. Matanya masih terbuka lebar.

"Bapak, bacain cerita ya?"

Raka tersenyum. Ia duduk di tepi tempat tidur. Mengambil buku dongeng dari rak kecil di samping.

"Mau cerita apa?"

"Cerita tentang ibu."

Raka tertegun. Buku di tangannya hampir terjatuh.

"Ark, kenapa mau cerita tentang ibu?"

Arka diam sejenak. Lalu berkata pelan, "Tadi siang Ibu telepon."

Raka terkejut. "Ibu telepon? Jam berapa?"

"Waktu Bapak di kantor. Bi Inah yang angkat telepon. Terus Ibu minta bicara sama Arka."

Raka mengepalkan tangannya. Lita. Berani sekali ia menelepon tanpa sepengetahuannya.

"Ibu bilang apa?"

"Ibu bilang Ibu kangen Arka. Ibu mau pulang. Ibu mau jadi Mama Arka lagi."

Raka diam. Dadanya sesak.

"Arka mau?" tanyanya lirih.

Arka menatap Bapaknya. Lama. Lalu ia menjawab dengan suara yang sangat kecil, "Arka... Arka enggak tahu."

Raka memeluk Arka. Anak itu memeluknya balik, erat.

"Bapak, Ibu jahat ya?"

"Ark..."

"Tapi Arka kangen Ibu. Arka mau Ibu pulang. Tapi Arka takut. Takut Ibu pergi lagi."

Raka tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya bisa memeluk Arka lebih erat.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, Arka menangis. Bukan menangis karena marah. Tapi menangis karena bingung. Antara rindu dan takut. Antara ingin dan trauma.

Dan Raka hanya bisa diam. Menahan tangisnya sendiri.

---

Di Tanah Abang, Aira duduk di lantai kamar kost. Mesin jahitnya diam. Kain-kain berserak tak tersentuh. Ia memandangi ponselnya.

Beberapa kali ia ingin mengetik pesan untuk Raka. Memberitahu tentang pertemuan dengan Lita. Tapi jarinya berhenti.

Ini bukan urusanku, pikirnya. Aku hanya orang luar.

Tapi di hatinya, ada yang menjerit. Menjerit bahwa ini salah. Bahwa Lita datang dengan niat buruk. Bahwa Arka akan terluka.

Ponselnya bergetar.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Tapi ia tahu siapa pengirimnya.

"Nona Aira, terima kasih untuk pertemuannya tadi. Kau baik. Tapi ingat: jangan ikut campur. Atau kau akan menyesal. - L"

Aira membaca pesan itu berulang kali. Tangannya dingin.

Ia membalas satu kata:

"Mengapa?"

Balasan masuk cepat:

"Karena ini bukan duniamu. Kau hanya desainer miskin dari Tanah Abang. Aku bisa menghancurkanmu kapan saja. Percayalah."

Aira meletakkan ponsel. Ia menatap langit-langit kost yang rendah. Mendengar suara tetangga di kamar sebelah yang menonton televisi. Bau masakan dari ibu kos di lantai bawah.

Lita benar. Ini bukan dunianya.

Tapi mengapa dadanya sesak? Mengapa ia merasa bersalah? Mengapa ia merasa harus melindungi Arka dari wanita itu?

Aira tak tahu jawabannya.

Mungkin karena ia sudah mulai sayang. Sayang pada anak kecil dengan mata sedih itu. Sayang pada pria yang berusaha keras jadi ayah baik meski hancur di dalam.

Dan sayang, kadang membuat orang bodoh. Melakukan hal-hal di luar nalar.

Aira memungut ponselnya lagi. Mengetik pesan untuk Raka.

"Pak Raka, selamat malam. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin bilang... hati-hati. Mungkin ada badai yang akan datang. Saya doakan yang terbaik untuk Bapak dan Arka."

Ia kirim.

Tak lama, balasan masuk.

"Nona Aira, ada apa? Ceritakan."

Aira menatap layar itu lama. Lalu mengetik:

"Tidak apa-apa, Pak. Hanya firasat. Selamat malam."

Raka membalas dengan satu kata:

"Selamat malam."

Aira mematikan ponsel. Mematikan lampu. Berbaring di kasur tipisnya. Mendengar suara Jakarta di luar jendela.

Ia tak tahu, di apartemen mewah di selatan, Raka juga tak bisa tidur. Menatap ponselnya, membaca pesan Aira berulang kali.

Ada yang tak beres. Ia bisa merasakannya.

Tapi apa?

---

1
fanny tedjo pramono
semangat update ditunggu guys
Pena Biru: terimakasih tapi yang ini sudah tamat
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!