NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

Saat ini, Aru sedang berada di dalam ruangan Pak Bara untuk menandatangani berakhirnya kontrak kerjanya bersama Perusahaan Wijaya Company.

Dua tahun lalu, Aru dan Pak Bara membuat sebuah perjanjian kerja. Dalam kontrak tersebut, Aru diminta membantu Pak Bara menangani permasalahan keuangan perusahaan Wijaya Company yang saat itu berada di kondisi genting. Kontrak itu disepakati akan berakhir ketika suatu hari perusahaan tersebut resmi dipegang oleh anak sulung Pak Bara.

Hari ini adalah hari berakhirnya kontrak tersebut. Perusahaan Wijaya Company kini telah beralih ke tangan anak sulung Pak Bara, meski peralihan itu belum diumumkan secara resmi ke publik.

Kemarin, Aru sudah lebih dulu membahas hal ini dan menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Hari ini tinggal menunggu tanda tangan terakhir.

Pak Bara memandangi surat pengunduran diri itu cukup lama. Tatapannya berat, seolah menimbang sesuatu yang tak ingin ia lepaskan. Kehilangan Aru sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadinya jelas bukan hal mudah baginya. Namun perjanjian tetaplah perjanjian.

Pak Bara menarik napas panjang, lalu akhirnya membubuhkan tanda tangannya.

“Sesuai dengan perjanjian kita waktu itu,” ucap Pak Bara dengan suara berat, “dengan berat hati om tandatangani surat ini. Tapi kamu harus janji sama om… sering-sering datang ke sini, ya.”

Aru tersenyum kecil, matanya sedikit berkaca-kaca. “Iya, Om. Aru janji.”

Pak Bara menyerahkan kembali surat kontrak yang telah ditandatangani dan dibubuhi stempel resmi perusahaan.

“Setelah makan siang, kamu jadi ke lokasi proyek, Nak?” tanya Pak Bara.

“Iya, Om,” jawab Aru mantap. “Sekalian mau lihat progresnya. Terakhir Aru ke sana, sudah delapan puluh persen.”

Pak Bara mengangguk puas. “Om percaya sama kerja kamu. Akhir tahun ini pasti rampung.”

“Terima kasih atas kepercayaan Om,” ucap Aru tulus.

“Harusnya Om yang berterima kasih. Sejak kamu ada di sini, perusahaan ini jauh lebih maju.”

Aru tersenyum. “Ini hasil kerja sama kita, Om. Aru nggak mungkin bisa sendirian.”

“Iya, kamu benar.”

Aru pun pamit untuk kembali ke ruangannya dan membereskan barang-barang pribadinya.

...****************...

Sebuah Mercedes-Benz G-Class melaju gagah di jalanan ibu kota yang padat. Mobil itu milik Kenan, dikendarai oleh Malik, bodyguard setia.

Di kursi belakang, Kenan duduk bersama Joe, yang masih sibuk menatap layar laptopnya.

Jari Joe bergerak cepat, membuka beberapa email yang masuk dan memeriksa laporan-laporan penting. Mobil hening, hanya terdengar suara ketikan laptop yang rapi dan teratur.

Tiba-tiba,

Ting!

Notifikasi dari ponsel Joe memecah keheningan. Ia menoleh sekejap dan membaca pesan yang baru masuk.

Pesan dari Pak Bara:

“Aru sudah resmi resign. Sekarang kamu atur saja bagaimana supaya dia mau kerja di perusahaanmu.”

Mata Joe berbinar. Sebuah senyum lebar terbentuk di wajahnya.

“Ngapain lo senyum? Ada yang lucu?” tanya Kenan, menoleh sekilas dengan alis terangkat.

“Bapak lo yang lucu,” jawab Joe sambil cepat-cepat mematikan ponselnya, tidak ingin Kenan melihat.

Kenan mengernyit.“Jangan mulai, Joe.”

“Ck… baru gitu aja udah marah,” gerutu Joe, kembali menekuni laptopnya.

Kenan menghela napas pendek dan menoleh ke depan.

“Lik, mampir beli kopi dulu.”

“Oke, Mas,” jawab Malik sambil mengemudi ke arah coffee shop langganan.

Tak berselang lama, mobil berhenti di depan coffee shop. Malik turun membuka pintu.

“Mas Kenan mau pesan kopi apa?” tanya Malik.

“Cappuccino satu, Americano satu. Lo mau apa, Joe?”

“Latte,” jawab Joe singkat.

Malik mengangguk, lalu bersiap berbalik. Namun Joe menambahkan cepat,

“Cake tiramisu satu, Lik.”

“Oke, Mas Joe.”

“Beli juga sekalian untukmu,” ucap Kenan santai sambil menyerahkan beberapa lembar uang.

Malik tersenyum tipis dan masuk ke dalam coffee shop untuk menyiapkan semua pesanan. Kenan menatap jalanan di depan sambil menyeruput kopi yang sudah tersedia di cup holder, sementara Joe kembali fokus pada laptopnya—tapi senyumnya tak bisa sepenuhnya disembunyikan.

Setelah Malik membeli semua pesanan, mereka kembali ke mobil. Kenan mengambil kopi miliknya, Joe menyeruput latte, dan Malik menaruh tiramisu di antara mereka. Mobil kembali melaju di jalanan ibu kota, melewati gedung-gedung pencakar langit yang berkilau diterpa lampu sore.

Satu jam kemudian, mobil berhenti tepat di pintu masuk lokasi proyek. Di sana sudah berdiri Aru, mengenakan helm dan rompi keselamatan, memeriksa dokumen proyek. Mata Aru menatap jauh ke arah bangunan hotel dan rumah sakit yang sedang dalam tahap penyelesaian.

Kenan dan Joe turun dari mobil. Kenan mendekati Aru dengan langkah tenang, sementara Joe berjalan di belakang mereka.

Kenan dan Joe turun dari mobil. Kenan berjalan menghampiri Aru sambil membawa dua gelas kopi.

“Ekhm… ekhm.”

Aru terkejut dan langsung berbalik.

“Eh… Pak Kenan, Joe.”

Senyum Kenan langsung luntur.

“Mas, Aru,” koreksi Kenan dengan nada rendah.

Aru tersadar dan tersenyum kikuk.“Oh iya, maaf. Mas Kenan.”

“Kamu sudah lama nunggu?” tanya Kenan.

“Baru lima menit.”

Kenan menyerahkan satu gelas kopi. “Cappuccino.”

“Makasih, Mas.”

Joe berdiri di belakang mereka sambil menyuap tiramisu dengan wajah masam.

“Kamu kenapa, Joe? Mukanya kayak orang habis ditipu,” tanya Aru geli.

“Bukan ditipu, tapi disiksa,” sahut Kenan malas.

Joe langsung menyahut,

“Bos laknat ini nggak mau cari sekretaris. Semua kerjaan dilempar ke gue!”

Kenan melirik dingin. “Kurang bacot. Kita ke sini mau kerja, bukan piknik.”

Aru terkekeh melihat mereka.

Di dalam gedung rumah sakit, suara palu dan bor bersahutan. Masih dalam tahap finishing. Pekerja sedang mengecat, memasang interior, dan mengatur peralatan medis.

“Ini ruang IGD,” jelas Aru. “Desainnya dibuat lebih terbuka supaya dokter bisa cepat tanggap saat darurat.”

Joe mengangguk kagum. “Gila, detail banget.”

Kenan memperhatikan sekeliling dengan serius.

“Struktur atas aman?”

“Kemarin dicek ulang,” jawab kepala proyek sambil menunjuk ke arah scaffold.

“Tapi hari ini ada pemasangan rangka tambahan.”

Kenan mengernyit..“Kita jangan terlalu lama di dalam,” ucap Kenan membuat mereka mengangguk.

Joe dan Aru berjalan di depan sambil melihat desain dari setiap ruangan, sementara Kenan berjalan di belakang mereka.

Baru beberapa langkah, tiba-tiba terdengar suara berderak keras dari lantai atas.

“AWAS!” teriak seorang pekerja sambil menunjuk ke atas.

Kenan cepat menoleh. Beberapa rangka besi scaffolding mulai goyah, meluncur ke arah mereka.

“ARU, JOE! MENUNDUK!” teriak Kenan sambil mendorong Aru ke samping.

BRRAAAAKK!!!

Rangka besi jatuh menghantam lantai, menciptakan debu dan serpihan beton beterbangan.

Kenan terlambat menghindar sepenuhnya. Sebagian rangka mengenai bahu dan punggungnya. Ia jatuh menabrak beton dengan keras, mengerang kesakitan. Darah mulai terlihat di pelipisnya.

“KENAN!!”

“MAS KENAN!!”

Aru dan Joe berlari, wajah keduanya pucat dan panik.

“Kita panggil ambulans sekarang juga!” teriak Joe yang melihat Kenan bersimbah darah.

“Cepat, bawa kotak P3K ke sini!” teriak kepala proyek sambil berlari mendekat.

Malik, yang sejak awal berada di luar gedung, langsung mengontak tim medis proyek dan ambulans.

“Tim medis! Cepat ke lantai dua sekarang!” seru Malik sambil memandu mereka.

Kenan terengah, menatap Aru yang memegang tangannya. “Ru… aman… kan?” suaranya parau.

Aru menggenggam erat tangannya..“Iya… aku nggak apa-apa, Mas… tapi Mas berdarah!”

Kenan berusaha tersenyum tipis. “Yang penting… kamu aman.”

Joe memiringkan kepala, menatap Kenan dengan wajah tegang. “Jangan banyak gerak dulu, Ken. Tim medis sudah di sini. Tetap tenang.”

Seorang pekerja lain menambahkan, suaranya gemetar

“Kita harus evakuasi area ini dulu… bahaya kalau

ada yang lain jatuh!”

Kepala proyek memerintah sambil menunjuk ke arah lift:

“Bawa dia ke brankar! Jangan sampai terguncang lagi!”

Ambulans pun datang. Kenan diangkat ke atas brankar, oksigen dipasang di wajahnya, dan darah dari luka bahu serta pelipisnya masih terlihat jelas. Aru menunduk, menahan tangis.

Joe berdiri di samping, wajahnya menegang tapi tetap tegas.

“Kenan, lo harus bangun. Kita nggak bisa kehilangan lo sekarang.”

Malik berdiri di depan brankar, memberikan arahan kepada paramedis

“Cepat stabilkan bahunya dan pastikan kepala tetap lurus! Jangan lepaskan oksigen.”

Sirene ambulans meraung, membawa mereka menuju rumah sakit dengan kecepatan tinggi, meninggalkan proyek dan kekacauan yang baru saja terjadi.

Di belakang, beberapa pekerja menatap bingung dan khawatir.

“Gila… Pak Kenan… sampai separah itu?” gumam salah satu.

“Semoga dia baik-baik saja,” jawab yang lain sambil menunduk.

Bersambung...............

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!