NovelToon NovelToon
Asisten Kesayangan Pak Manager

Asisten Kesayangan Pak Manager

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Cinta pada Pandangan Pertama / Office Romance
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Seribu Bulan

Felicia datang ke kantor itu hanya untuk bekerja.
Bukan untuk jatuh cinta pada manajer yang usianya lima belas tahun lebih tua—dan seharusnya terlalu jauh untuk didekati.
James Han tahu batas. Jabatan, usia, etika—semuanya berdiri di antara mereka.
Tapi semakin ia menjaga jarak, semakin ia menyadari satu hal: ada perasaan yang tumbuh justru karena tidak pernah disentuh.
Ketika sistem memisahkan mereka, dan Felicia hampir memilih hidup yang lain, James Han memilih menunggu—tanpa janji, tanpa paksaan.
Karena ada cinta yang tidak datang untuk dimiliki, melainkan untuk dipilih di waktu yang benar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seribu Bulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian Dua

Satu bulan telah berlalu, dan ritme di ruang Sample tidak lagi sekadar lari maraton—bagi Felicia, ini terasa seperti lari lintas alam tanpa henti.

​Pak Han bukan tipe manajer yang berteriak, tapi ia adalah tipe yang "menagih". Kehadirannya yang dominan kini tidak hanya terasa melalui kebijakan baru, tapi juga melalui frekuensi namanya dipanggil.

​"Felicia, file revisi untuk vendor kancing."

"Felicia, kopi hitam tanpa gula, suhu 80 derajat."

"Felicia, tolong jahitkan ini. Lepas saat saya keluar mobil tadi."

​Felicia menatap kancing kemeja perak yang diletakkan Pak Han di atas mejanya. Pria itu berdiri di sana, melipat lengan kemeja mahalnya hingga siku, menampakkan urat-urat tangan yang tegas. Felicia segera mengambil kotak jarum darurat di laci bawah mejanya.

​"Maaf merepotkan, saya ada meeting dengan direksi sepuluh menit lagi," ucap Pak Han datar, suaranya setenang biasanya, namun matanya terus memperhatikan jemari Felicia yang gesit menusukkan benang ke lubang jarum.

​"Tidak apa-apa, Sir," sahut Felicia pelan. Ia berusaha fokus, meski jarak mereka terlalu dekat hingga ia bisa mencium aroma parfum yang maskulin milik atasannya itu.

​Maria, yang sedang memeriksa pola di meja besar, memperhatikan interaksi itu dengan wajah muram. Ini sudah kali kelima dalam pagi ini Felicia dipanggil untuk urusan yang—menurut Maria—sama sekali tidak ada hubungannya dengan teknis produksi sample.

​Suasana ruang Sample terasa lebih tegang dari biasanya. Pak Han berdiri di depan meja, sementara staf lain berbaris didepan meja memperhatikan.

​"Saya minta deadline untuk koleksi musim semi dimajukan dua hari. Saya sudah cek datanya, dan secara matematis, itu memungkinkan jika efisiensi di bagian potong ditingkatkan," kata Pak Han dingin.

​Maria mengangkat tangan, memotong penjelasan Pak Han. "Maaf, Pak Han. Itu mungkin saja dilakukan kalau asisten saya benar-benar ada di samping saya untuk mengawasi alur kain."

​Pak Han menoleh, menatap Maria dengan tenang. "Maksud Kamu?"

​"Satu bulan ini, Felicia lebih sering ada di ruangan Bapak daripada di meja kerja saya," Maria mulai mengeluarkan kekesalannya yang sudah menumpuk di ubun-ubun. Suaranya sedikit naik, membuat staf lain menahan napas. "Dia sibuk urus kopi Bapak, urus jadwal Bapak, bahkan urus kancing baju Bapak. Pak, Felicia ini asisten saya lho, kalau Bapak suruh-suruh terus sekalian saja Pak jadiin dia asisten pribadi Bapak!"

​Keheningan yang mencekam jatuh di ruangan itu. Felicia menunduk dalam, wajahnya terasa panas. Ia merasa seperti ditarik di antara dua kutub magnet yang sama-sama kuat.

​Pak Han tidak terlihat tersinggung. Ia justru terdiam sejenak, menatap Felicia yang masih menunduk, lalu beralih kembali ke Maria. Sebuah kilat tipis muncul di matanya—sesuatu yang sulit dibaca.

​"Ide bagus," sahut Pak Han singkat. "Kenapa saya nggak kepikiran ya sebelumnya."

​Maria tertegun. "Maksudnya?"

​"Saya memang butuh seseorang yang paham detail teknis di lapangan sekaligus bisa mengelola jadwal saya yang berantakan karena harus bolak-balik ke kantor pusat," Pak Han bicara dengan nada yang sangat lugas, seolah ia baru saja menyelesaikan sebuah persamaan logika. "Mulai besok, Felicia resmi jadi asisten pribadi saya. Dia akan pindah ke meja di depan ruangan saya."

​"Lho, Pak! Saya tadi itu cuma... itu kan sarkas, Pak!" seru Maria panik, tidak menyangka gertakannya malah berujung kehilangan asisten terbaiknya.

​Pak Han menatap Maria kembali tanpa ekspresi bersalah sedikit pun. "Kamu cari yang baru saja ya. Saya yang akan tanda tangani persetujuan anggarannya sore ini."

​Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Pak Han menutup buku agendanya. "Briefing selesai. Felicia, ikut ke ruangan saya. Ada jadwal yang harus kita susun."

​Pak Han berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Maria yang masih terpaku memegang penggaris pola, dan Felicia yang merasa dunianya baru saja jungkir balik hanya dalam hitungan detik.

...***...

Pagi itu area depan ruangan Pak Han yang biasanya bersih dan steril mendadak terlihat ramai karena Felicia sibuk mengatur meja barunya. Ia juga berusaha keras memindahkan barang-barangnya dari ruang sampel yang ternyata sudah lumayan banyak.

Pak Han keluar dari ruangannya, berdiri dengan tangan bersedekap di ambang pintu, memperhatikan Felicia yang sedang kesulitan mengatur posisi monitor komputer.

​"Miring lima derajat ke kanan, Felicia," tegur Pak Han tiba-tiba.

​Felicia terlonjak, refleks menggeser monitornya. "Eh, iya, Pak. Segini?"

​"Cukup." Pak Han tidak kembali masuk ke ruangannya. Ia justru berjalan mendekat, lalu dari balik punggungnya, ia meletakkan sebuah pot keramik putih kecil berisi kaktus mini yang bentuknya sangat bulat dan menggemaskan.

​"Ini, buat hiasan meja kamu. Supaya terlihat menarik," ucap Pak Han datar, tapi matanya menatap kaktus itu seolah itu adalah aset perusahaan paling berharga.

​Felicia bengong. Ia menatap kaktus itu, lalu menatap wajah Pak Han yang tetap lempeng tanpa ekspresi. "Ini... buat saya, Pak? Bapak beli di mana? Di sekitar sini kan tidak ada toko bunga."

​"Saya beli saat lari pagi tadi. Kebetulan lewat, dan saya rasa kaktus itu mirip kamu," jawab Pak Han singkat. Padahal, aslinya dia sengaja memutar arah sejauh tiga kilometer hanya untuk mampir ke toko tanaman sukulen yang direkomendasikan di internet.

"Hah, mirip saya?" tanya Felicia bingung. "Maksudnya saya berduri gitu pak?"

"Kecil, bulat, ya seperti kamu." jawab Pak Han enteng. Membuat Felicia langsung menunduk malu.

​"Makasih, Pak," balas Felicia akhirnya, masih dengan sisa-sisa rasa bingung.

​"Sama-sama. Kaktus itu tidak butuh banyak air. Sama seperti saya, tidak butuh banyak bicara, yang penting kerjanya nyata," lanjut Pak Han sambil membetulkan letak pot kaktus itu agar presisi di sudut meja Felicia.

Sejak menjadi asisten pribadi, Felicia merasa Pak Han jadi punya seribu satu alasan untuk berinteraksi dengannya. Masalahnya, alasan-alasan itu sering kali sangat tidak masuk akal untuk pria selevel manajer.

Pertama, aksi meminjam pulpen.

"Felicia, pulpen saya habis tintanya."

Felicia memberikan pulpen baru dari laci. Pak Han mencobanya sebentar, lalu mengembalikannya.

"Warnanya terlalu biru. Saya mau yang biru-hitam seperti yang kamu pakai. Bisa pinjam punya kamu saja?"

Akhirnya, Pak Han dengan bangga memakai pulpen bekas Felicia seharian, seolah itu adalah pulpen edisi terbatas.

Kedua, tutorial mengetik yang seharusnya dia sudah tahu caranya.

"Felicia, kemari sebentar. Saya rasa ada yang salah dengan format tabel ini."

Saat Felicia mendekat dan membungkuk untuk melihat layar laptop, Pak Han sengaja menggeser kursinya sedikit lebih dekat.

"Lihat ini," tunjuk Pak Han. Aroma parfumnya langsung mengepung indra penciuman Felicia.

"Ini cuma tinggal di-bold saja, Pak," jawab Felicia sambil mengeklik ikon B.

"Oh, begitu? Ternyata mudah ya kalau kamu yang kerjakan," puji Pak Han sambil menatap Felicia, bukan menatap layar.

Ketiga, uji makanan (padahal modus)

Siang harinya, Pak Han meletakkan satu kantong plastik berisi croissant cokelat di meja Felicia.

"Ini dari vendor baru. Katanya enak. Tolong kamu coba dulu, kalau menurut kamu enak, baru saya mau makan."

"Tapi Pak, ini kan cuma satu?"

"Iya, bagi dua saja. Kamu makan bagian yang besar."

Maria yang kebetulan lewat mau ke toilet, hanya bisa mengelus dada melihat pemandangan itu. Ia berbisik pada salah satu penjahit, "Lihat itu, si Pak Han. Katanya manajer pemasaran, tapi sekarang lebih mirip manajer pemasaran diri sendiri di depan Felicia!"

1
Seribu Bulan 🌙
siap kak makasih yaa😍
Andina Jahanara
lanjut sampe tamat kak 💪
Faidah Tondongseke
Ceritanya seru,Cinta bersemi di kantor,Asiik deh pokoknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!