Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 32
Queen tertidur di tengah film kartun yang bahkan belum mencapai ending. Kepalanya perlahan jatuh bersandar di lengan Sean. Napas bocah terdengar teratur, mulutnya sedikit terbuka seperti anak kecil pada umumnya.
Sean menoleh pelan. Biasanya, ia akan merasa terganggu jika seseorang terlalu dekat. Karena ia tidak suka sentuhan dan tidak suka berbagi ruang.
Anehnya, kali ini, ia hanya diam.
"Bocah ini…" gumamnya lirih.
Dengan hati-hati, Sean menyelipkan satu tangan ke bawah lutut Queen dan satu lagi menopang punggungnya. Tubuh kecil itu terasa ringan. Terlalu ringan untuk memikul beban kehilangan sebesar itu.
Sean berdiri dan mulai melangkah menuju kamar. Hyera yang baru saja keluar dari dapur tertegun melihat pemandangan itu.
"Kau mau kemana, Sean?" tanyanya pelan.
"Tidur," jawab Sean singkat.
Hyera mengernyit ketika menyadari arah langkah kakaknya bukan menuju kamar Queen, melainkan ke kamar utama.
Ya, kamar Sean sendiri.
"Tunggu! Kau tidak berniat membawa Queen tidur bersamamu kan?" pintu kamar sudah tertutup sebelum Hyera mendapatkan sebuah jawaban.
Hyera berdiri terpaku beberapa detik. Ia bertanya-tanya dalam hati. Apakah kakaknya ini benar-benar berubah? Dan kenapa secepat ini?
Rasa penasarannya mendorongnya mengetuk pintu beberapa menit kemudian.
"Sean?" panggilnya.
Sayangnya, tidak ada jawaban sama sekali. Hyera memberanikan diri untuk membuka pintu sedikit dan mendapati pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Astaga, aku tidak salah lihat kan?" gumamnya lirih.
Queen terbaring di atas ranjang king size milik Sean. Tubuhnya dibalut selimut abu-abu kesayangan kakaknya. Sementara Sean, duduk di tepi ranjang sembari menatap kosong ke arah jendela.
"Sean, kau serius?" bisik Hyera.
Sean melirik sekilas. "Apa?"
"Itu ranjangmu."
"Aku tahu."
"Dan kau membiarkannya tidur di sana?"
Sean tak menjawab. Hyera melangkah masuk beberapa langkah.
"Kau baik-baik saja?" tanya gadis itu.
Pertanyaan itu sama seperti sebelumnya, tak mendapat jawaban pasti. Sean berdiri perlahan dan berjalan melewati Hyera begitu saja.
"Sean, aku sedang bicara padamu!" panggil Hyera kesal.
Namun pria itu sudah keluar kamar. Hyera menoleh kembali pada Queen yang tertidur pulas. Ia tersenyum tipis.
"Sihir apa yang kau berikan padanya, Queen? Lihat, kakakku benar-benar aneh sekarang," gumamnya sebelum ikut keluar dan menutup pintu.
*
*
Udara malam terasa dingin di gazebo belakang rumah. Angin tipis berembus pelan, menggoyangkan tirai putih yang menggantung di sisi-sisinya.
Sean berdiri tegak dengan satu tangan di saku celana. Sementara tangan lainnya memegang gelas wine. Di sela jarinya, sebuah rokok menyala dan asapnya melayang ke udara.
Wajah pria itu kembali datar dan dingin. Seolah Sean yang tadi memeluk keponakannya hanyalah ilusi.
"Tuan," sapa salah satu anak buahnya sembari menunduk hormat.
"Katakan!" ucap Sean tanpa menoleh.
"Anak buah Luca yang bernama Bobby ingin berbicara langsung dengan anda."
Sean menyesap wine-nya perlahan, seakan informasi itu tidak penting. Padahal di dalam kepalanya, nama itu langsung memantik sesuatu.
"Untuk apa?" tanyanya singkat.
"Dia tidak menjelaskan, Tuan. Tapi dari nada bicaranya tadi, sangat terdengar mendesak."
Sean terkekeh pelan. "Mendesak?" Ia akhirnya menoleh dengan tatapan yang tajam seperti pisau. "Sejak kapan orang lain merasa bisa mendesak ku?"
Anak buahnya langsung menunduk lebih dalam. "Maaf, Tuan."
Sean mengembuskan asap rokok tipis-tipis. "Katakan padanya aku tidak ingin bertemu dengan siapapun."
"Termasuk keluarga Frederick?"
Sean menatap gelas wine-nya, lalu berkata santai, "Terutama remaja bernama Luca itu!"
"Apakah perlu kami beri peringatan agar mereka tidak mencoba menghubungi anda lagi?"
Sean tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. "Tidak perlu. Selama mereka tidak melewati batas, biarkan saja."
"Baik, Tuan."
Pria itu hendak pergi, namun langkahnya terhenti ketika Sean kembali berbicara.
"Aku akan menghabiskan waktu sementara bersama Queen." Kalimat itu membuat anak buahnya refleks mendongak.
"Dengan Nona kecil itu, Tuan?"
Sean mengangkat alis. "Ada masalah?"
"Ah, tidak, Tuan. Hanya saja jarang sekali anda—"
"Menyukai bocah?" potong Sean datar.
Wajah anak buahnya langsung berubah pucat. "Maaf, Tuan! Saya tidak bermaksud."
Sean tertawa. Bukan tawa hangat. Lebih seperti suara dingin yang membuat bulu kuduk berdiri.
"Aku juga tidak menyukai bocah," ujarnya "Aku hanya menyukai ketenangan." Lalu, Sean pun mematikan rokoknya. "Dan untuk saat ini, ketenanganku ada padanya."
Jawaban itu justru membuat suasana makin tegang. Sang anak buah semakin bertanya-tanya, entah apa yang sebenarnya terjadi pada bosnya.
"Tuan, bagaimana dengan Luca?" tanya anak buahnya hati-hati.
Sean menatap lurus ke arah taman yang gelap. "Anak itu sedang gelisah, bukan? Jadi, biarkan dia merasakan sedikit ketidakberdayaan itu. Tapi, jika dia ingin mencoba mengambil Queen tanpa izin dariku, aku tak akan segan-segan menghabisinya!"
Anak buah Sean menelan ludah. "Saya mengerti, Tuan."
Saat pria itu pergi, Sean kembali menyesap wine-nya.
"Ayo kita lihat, siapa yang lebih sabar, bocah Frederick," gumamnya.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌