‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️
Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.
Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.
Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.
Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.
Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut
ANTI DAO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernyergapan pertama
Jalur perdagangan yang membelah pinggiran Hutan Kabut Kematian bukanlah jalan raya yang mulus. Itu adalah luka menganga di wajah bumi, penuh dengan bebatuan tajam, lumpur yang tidak pernah kering, dan sisa-sisa tulang dari mereka yang kurang beruntung.
Lu Daimeng berjongkok di atas sebuah tebing batu kapur, sepuluh meter di atas jalan setapak itu.
Dia tidak bergerak. Lumut hutan tumbuh di bahunya. Tubuhnya yang setengah telanjang kini tertutup lapisan lumpur kering untuk menyamarkan bau dan warna kulitnya. Jika seseorang melihat ke atas, mereka hanya akan melihat sebongkah batu aneh yang menonjol.
Tapi batu itu memiliki mata.
Tiga pupil berputar perlahan di dalam rongga matanya, memindai spektrum cahaya yang tidak terlihat oleh manusia biasa.
Dunia di mata Lu Daimeng adalah jaringan benang yang rumit. Dia melihat aliran angin sebagai pita-pita transparan. Dia melihat panas bumi sebagai uap merah yang naik dari celah bebatuan. Dan yang paling penting, dia melihat "Jejak".
Dug... Dug... Dug...
Getaran halus merambat melalui tanah, naik ke tebing, dan ditangkap oleh telapak kaki Lu Daimeng yang sensitif.
"Satu kuda," analisisnya dalam diam. "Langkah berat. Kuda Spirit. Penunggangnya memiliki ritme napas yang teratur."
Di kejauhan, seorang penunggang kuda muncul dari balik tikungan.
Pria itu mengenakan jubah biru sederhana, namun bahannya terbuat dari Sutra Awan—tanda kekayaan yang disamarkan. Di pinggangnya tergantung sebuah pedang panjang dengan sarung perak. Wajahnya terlihat bosan, penuh dengan arogansi seorang kultivator muda yang menganggap perjalanan ini hanyalah rutinitas membosankan.
Mata Tiga Pupil Lu Daimeng menyipit, fokusnya menajam seperti lensa mikroskop.
Dia menembus kulit dan daging pria itu, melihat langsung ke dalam perut bagian bawahnya.
Dantian.
Di sana, dua pusaran energi berwarna biru muda berputar pelan, saling melilit.
Ranah Pembentukan Qi Tahap 2, simpul Lu Daimeng. Energi elemen angin. Cepat, tapi fondasinya goyah. Dia terlalu mengandalkan pil untuk naik tingkat.
Lu Daimeng tidak merasakan takut. Dia merasakan lapar.
Dia tidak menghunus pedangnya. Suara gesekan logam akan memperingatkan target.
Sebaliknya, tangan kanannya—tangan yang pernah tertembus tanduk dan kini telah sembuh menjadi otot yang lebih padat—meraih sebongkah batu granit sebesar kepala manusia di sampingnya.
Otot-otot punggungnya mengembang. Urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon tua. Dia tidak menggunakan Qi untuk memperkuat lemparan. Dia menggunakan kekuatan murni tubuhnya, memusatkan seluruh torsi putaran pinggang dan bahu ke dalam satu titik ledak.
Wusss!
Batu itu melesat dari tebing.
Tidak ada suara teriakan. Hanya suara udara yang robek karena kecepatan murni.
Di bawah, kultivator muda itu tersentak. Insting kultivatornya—rasa bahaya yang dilatih—berteriak.
"Siapa?!"
Dia menarik kekang kudanya dan memiringkan tubuhnya ke kiri dengan refleks yang cepat.
BLAAAR!
Batu granit itu menghantam tanah tepat di tempat kepalanya berada sedetik yang lalu. Tanah meledak, menciptakan kawah kecil. Serpihan batu menggores pipi kudanya.
"Meleset," bisik Lu Daimeng datar. "Refleks Qi memang menyebalkan."
Tapi serangan itu hanyalah pembuka.
Saat kultivator itu masih kehilangan keseimbangan, Lu Daimeng melompat.
Dia terjun dari ketinggian sepuluh meter. Dia tidak melayang. Dia jatuh seperti meteor daging. Pedang rampasannya kini terhunus di tangan kanan, mengarah lurus ke ubun-ubun musuh.
Kultivator itu mendongak. Matanya membelalak melihat manusia kotor yang jatuh dari langit.
"Manusia fana?! Berani sekali kau!"
Kultivator itu menghentakkan tangannya ke atas. Qi biru meledak dari telapak tangannya.
Bilah Angin!
Sebuah sabit energi angin yang tajam meluncur ke atas, siap membelah Lu Daimeng menjadi dua di udara.
Di mata orang biasa, serangan itu tidak terlihat karena terlalu cepat untuk dilihat mata manusia. Tapi bagi Lu Daimeng, dia melihat pembentukan struktur angin itu bahkan sebelum dilepaskan. Dia melihat otot bahu kultivator itu berkontraksi, dia melihat aliran Qi di meridian tangannya.
Arah jam 12. Kecepatan tinggi. Kepadatan rendah di tengah.
Lu Daimeng tidak bisa terbang untuk menghindar. Jadi dia melakukan hal yang gila.
Dia memutar tubuhnya di udara, menggunakan berat pedangnya sendiri sebagai pemberat untuk mengubah pusat gravitasinya.
Wuss.
Bilah angin itu lewat hanya satu inci dari telinga kirinya, memotong beberapa helai rambutnya yang panjang.
Jarak mereka kini nol.
Lu Daimeng tidak menebas orangnya. Dia tahu kultivator itu memiliki pelindung Qi pasif.
Dia menebas leher kudanya.
SLAASSH!
Darah menyembur seperti air mancur. Kuda itu menjerit memilukan, kaki depannya melipat, dan tubuh besarnya ambruk ke depan.
Kultivator itu kehilangan pijakan. Dia terlempar dari pelana, salto akrobatik di udara lalu jatuh di tanah berlumpur. Jubah mahalnya kotor seketika.
"Binatang sialan!" Kultivator itu bangkit dengan cepat, wajahnya merah padam karena amarah. "Kau membunuh kudaku! Aku akan mengulitimu hidup-hidup!"
Dia mencabut pedangnya sendiri. Bilahnya bersinar biru terang, dialiri Qi Angin yang tajam.
Lu Daimeng mendarat dengan berat. Lututnya menekuk menyerap dampak, tanah di bawah kakinya membentuk lubang retakan.
Dia berdiri perlahan. Tingginya kini hampir dua meter lebih. Otot-ototnya yang telanjang dan penuh luka parut tampak mengerikan di bawah cahaya matahari.
Dia tidak menjawab makian itu. Dia hanya memiringkan kepalanya, mata tiga pupilnya berputar, menganalisis kuda-kuda musuh.
Kaki kanan di depan. Berat badan condong ke kiri. Dia akan menyerang dari sisi kanan bawah.
"Mati!" teriak kultivator itu.
Dia melesat maju. Kecepatannya dibantu oleh Qi Angin, membuatnya terlihat seperti bayangan biru. Pedangnya menebas horizontal, mengincar pinggang Lu Daimeng.
Lu Daimeng tidak mundur.
Dia melangkah masuk ke dalam jangkauan serangan.
Ini adalah kegilaan strategis. Melawan senjata panjang, kau harus menjaga jarak atau masuk sangat dekat hingga senjata itu tidak efektif.
Pedang Lu Daimeng bergerak vertikal. Bukan tebasan halus, tapi hantaman kasar.
TANG!
Baja bertemu baja yang diperkuat Qi.
Kultivator itu menyeringai, yakin pedang karatan Lu Daimeng akan patah.
Tapi senyumnya lenyap saat dia merasakan berat dari serangan itu.
Itu bukan benturan pedang biasa. Rasanya seperti dia baru saja menangkis pilar istana yang runtuh. Kekuatan fisik murni Lu Daimeng—hasil dari memakan daging iblis dan Dantian makhluk hidup—menghantam pergelangan tangan kultivator itu.
"Ugh!" Kultivator itu terdorong mundur dua langkah. Tangannya kesemutan hebat. "Tenaga macam apa ini? Kau bukan kultivator pembentukan tubuh!"
Lu Daimeng tidak memberi jeda.
Isi pikirannya 'Jangan biarkan mangsa bernapas.'
Lu Daimeng mengayunkan pedangnya lagi. Kiri, kanan, atas. Serangannya liar, brutal, tanpa teknik, seperti orang gila yang memegang kapak.
Klang! Klang! Klang!
Kultivator itu terpaksa bertahan dan dipaksa mengikuti pola serangan Lu Daimeng yang tidak terarah.
Gerakan kultivator itu juga menjadi kacau. Dia mulai panik. Setiap kali dia mencoba menggunakan teknik pedang sekte yang elegan, Lu Daimeng sudah memotong jalurnya. Mata iblis itu membaca setiap kedutan otot, setiap aliran Qi.
"Cukup!" Kultivator itu melompat mundur, menciptakan jarak.
Dia memusatkan seluruh Qi-nya ke pedang. Bilah itu bersinar menyilaukan.
"Teknik Pedang Angin Membelah Gunung!"
Dia menebas vertikal. Sebuah gelombang energi pedang setinggi dua meter meluncur ke arah Lu Daimeng, merobek tanah di sepanjang jalurnya.
Ini adalah serangan jarak jauh. Lu Daimeng tidak bisa menangkis energi murni dengan fisik semata.
Lu Daimeng melihat gelombang itu datang. Dia melihat titik-titik di mana energinya paling tipis.
Dia tidak lari ke belakang. Dia lari ke depan, lalu menjatuhkan diri, meluncur di tanah berlumpur seperti ular.
Gelombang energi itu lewat tepat di atas punggungnya, membelah pohon di belakangnya menjadi dua.
Lu Daimeng menggunakan momentum luncurnya untuk menendang kaki kultivator itu.
Buk!
Tulang kering kultivator itu retak. Dia terhuyung.
Saat itulah Lu Daimeng bangkit dari posisi berbaringnya dengan gerakan yang tidak wajar.
Tangan kirinya—tangan kosongnya—mencengkeram leher kultivator itu.
Cengkeraman itu seperti catut besi.
"Lepas—" Kultivator itu mencoba menusuk perut Lu Daimeng.
Pedang kultivator itu menembus sisi perut Lu Daimeng. Masuk dalam. Darah mengucur.
Tapi Lu Daimeng tidak bergeming. Wajahnya datar, seolah tusukan itu hanya gigitan nyamuk. Matanya menatap langsung ke mata kultivator yang panik itu.
"Kalian para kultivator..." bisik Lu Daimeng, suaranya berat dan serak. "Terlalu banyak meremehkan orang lain."
Lu Daimeng menggunakan pedangnya sendiri di tangan kanan. Jarak dekat.
JLEB.
Dia menusuk jantung kultivator itu dari bawah rusuk.
Kultivator itu mematung. Qi di tubuhnya bubar seketika. Pedang di tangannya jatuh.
Lu Daimeng mencabut pedangnya, lalu melepaskan leher mayat itu. Tubuh itu jatuh ke lumpur.
Lu Daimeng berdiri, mencabut pedang musuh yang masih tertancap di perutnya sendiri.
"Argh..." Dia meringis. Darah mengalir deras, tapi otot-otot perutnya segera berkontraksi, menutup luka itu secara alami. Regenerasinya kini semakin cepat karena konsumsi daging iblis yang brutal.
Dia berlutut di samping mayat itu. Waktunya menjarah.
Dia merobek pakaian dada mayat itu. Dia menggunakan tanduk kelincinya untuk membelah, mencari harta karun biologis.
Dia mengambil Dantian-nya dan dua pusaran Qi-nya mulai memudar. Dia memakannya mentah-mentah.
Resonansi.
Abu ketiadaan kembali menyebar di tulangnya, membuatnya semakin padat.
Lalu, dia memeriksa barang bawaan musuh.
Di pergelangan tangan kiri mayat itu, ada sebuah gelang giok hijau yang memancarkan cahaya lembut.
Mata Tiga Pupil Lu Daimeng melihat aliran energi di dalamnya. Sirkulasi Kayu. Regenerasi.
"Artefak penyembuh pasif," gumam Lu Daimeng.
Dia mengambil gelang itu dan memakaikannya di pergelangan tangannya sendiri. Seketika, rasa dingin yang menyejukkan mengalir. Luka tusuk di perutnya berhenti berdarah sepenuhnya, jaringan daging mulai merajut diri dengan kecepatan dua kali lipat dari biasanya.
"Berguna," komentarnya singkat. "Untuk gaya bertarung bunuh diri sepertiku, ini adalah nyawa kedua."
Kemudian, dia merogoh saku jubah bagian dalam.
Sebuah buku tipis bersampul kulit biru.
Teknik Pedang Delapan Mata Angin (Eight Cardinal Directions Sword Art).
Lu Daimeng membuka halamannya. Tulisannya rumit, disertai diagram aliran Qi.
“Pedang adalah perpanjangan dari Qi. Alirkan Qi dari Dantian, melalui meridian Taiyin paru-paru, menuju pergelangan tangan, dan proyeksikan keluar melalui ujung pedang...”
Lu Daimeng menutup buku itu.
Dia tertawa. Tawa yang sinis.
"Alirkan Qi dari Dantian," ulangnya dengan nada mengejek. "Lelucon yang bagus untuk orang yang tidak punya Dantian."
Bagi kultivator normal, buku ini adalah dasar. Bagi Lu Daimeng, instruksi ini adalah sampah. Dia tidak bisa mengikuti manual ini.
Tapi... diagram gerakannya. Sudut tebasannya. Cara memindahkan berat badan. Itu adalah fisik murni.
"Aku tidak bisa mengalirkan Qi dari dalam keluar," pikir Lu Daimeng, otaknya yang jenius mulai membedah masalah itu. "Tapi kenapa harus dari dalam?"
Dia melihat pedangnya. Dia melihat udara di sekitarnya.
Udara di dunia ini mengandung Qi.
"Jika aku tidak bisa meminum air (Qi) lalu menyemburkannya keluar," analoginya, "kenapa tidak aku semburkan saja Qi itu saat dia ada diluar tanpa perlu mamasukannya kedalam tubuh."
Dia menyeret mayat itu ke semak-semak, lalu duduk bersila. Dia tidak bermeditasi. Dia membaca. Dia menghafal setiap sudut serangan dalam buku itu.
Satu jam kemudian, dia berdiri.
Dia memegang pedang rampasan itu—yang kualitasnya jauh lebih baik dari pedang lamanya.
Dia mencoba gerakan pertama: Pedang Utara - Satu Tebasan.
Dia mengayun.
Wus.
Hanya angin biasa.
"Salah," koreksinya. "Bukan hanya mengayun. Tapi memaksa."
Dia mencoba lagi. Dan lagi.
Berhari-hari berlalu di pinggiran tebing itu. Lu Daimeng menjadi obsesi yang bergerak. Dia tidak makan. Dia tidak tidur. Gelang giok di tangannya bekerja keras memperbaiki otot-ototnya yang robek karena latihan berlebihan.
Dia mencoba memahami konsep Gesekan.
Jika dia mengayunkan pedang dengan kecepatan dan sudut tertentu, dia bisa menarik Qi sesaat di bilah pedangnya melalui gesekan ruang. Ruang itu akan menarik Qi alam di sekitarnya secara paksa untuk menstabilkan gesekan.
Itu bukan Pedang Qi murni. Itu adalah Pedang Vakum yang diselimuti Qi dari luar tubuh.
Seminggu kemudian.
Tangan Lu Daimeng berdarah. Kapalan di telapak tangannya pecah dan tumbuh lagi beberapa kali.
Dia berdiri di depan sebuah pohon besar.
Dia memejamkan mata, lalu membukanya tiba-tiba. Tiga pupilnya berputar gila.
"Pedang Utara," bisiknya.
Dia menghentakkan kakinya ke tanah, mengirimkan gelombang kejut fisik yang menjadi fondasi. Pinggangnya berputar, bahunya meledak dengan tenaga.
Pedang itu bergerak.
Begitu cepat hingga mata biasa tidak bisa melihatnya.
Dan di saat pedang itu membelah udara, Lu Daimeng memutar pergelangan tangannya sedikit, menciptakan turbulensi mikro.
SWOOOSH!
Udara di sekitar bilah pedang menjerit. Qi alam di sekitarnya tersedot, menempel pada bilah baja itu bukan karena kehendak, tapi karena terjebak dalam pusaran fisika.
CRASS!
Pohon di depannya terbelah.
Tapi bukan hanya terbelah. Sisi potongannya kasar, hancur, seolah-olah digigit oleh ribuan gigi kecil. Itu bukan potongan Qi yang bersih. Itu adalah potongan brutal dari udara yang dipadatkan secara paksa.
Lu Daimeng melihat pedangnya. Ada retakan halus di bajanya. Senjata ini tidak kuat menahan gayanya.
"Berhasil," katanya, napasnya memburu. "Tipis. Kasar. Merusak senjata. Tapi ini adalah jalanku."
Dia telah menciptakan aliran pedang sesat: Aliran Eksternal. Memperkosa Qi alam dengan kekerasan fisik.
Dua bulan kemudian.
Lu Daimeng bukan lagi manusia. Dia adalah menara otot setinggi 2,3 meter. Akibat latihan ekstream dan makanan ekstream yang dikonsumsinya.
Rambutnya panjang mencapai punggungnya, hitam pekat seperti malam tanpa bintang. Kulitnya sekeras kulit badak. Gelang giok di tangannya sudah retak sedikit karena terlalu sering digunakan, tapi masih berfungsi.
Dia berdiri di sebuah lembah batu di bagian lebih dalam hutan.
Di hadapannya, berdiri monster mimpi buruk.
Singa Iblis Berkepala Tiga (Three-Headed Demon Lion).
Tingginya empat meter. Tiga kepalanya masing-masing memancarkan elemen berbeda: Api, Petir, dan Racun. Ini adalah monster tingkat tinggi, Ranah Pembentukan Qi tahap 8.
Singa itu mengaum. Tiga suara menyatu menjadi gelombang sonik yang menghancurkan bebatuan di sekitar.
Lu Daimeng tidak mundur.
Dia memegang pedang barunya—pedang milik kultivator sebelumnya (Greatsword) yang dia ambil beberapa bulan lalu. Pedang biasa yang sudah terlalu ringan baginya.
"Uji coba lapangan," gumamnya.
Singa itu menerjang. Kepala apinya menyemburkan bola api raksasa.
Lu Daimeng berlari menyongsongnya.
"Dosa Kesombongan tidak mengijinkanku untuk menghindar, hancurkan."
Dia mengayunkan pedangnya.
"Teknik Pedang Delapan Mata Angin."
Pedang Utara: Lima Tebasan dalam Satu Napas.
Lengan raksasanya bergerak kabur.
Satu ayunan. Vakum terbentuk. Api tersedot dan padam.
Dua ayunan. Kepala Petir mencoba menggigit, tapi pedang Lu Daimeng memotong taringnya.
Tiga ayunan. Kaki depan singa itu putus.
Empat ayunan. Kepala Racun terpenggal.
Singa itu jatuh, meraung kesakitan.
Lu Daimeng melompat ke atas punggung monster itu.
"Tebasan Kelima," bisiknya.
Dia menghujamkan pedang besar itu vertikal ke bawah, menembus tulang belakang, menembus jantung, dan menancap ke tanah di bawahnya.
JLEB!
Hening.
Singa raksasa itu mati.
Lu Daimeng berdiri di atas bangkai itu, bermandikan darah tiga warna. Dia tidak terlihat lelah. Dia terlihat... tidak puas.
Dia merobek dada singa itu dengan tangan kosongnya, membongkar tulang rusuk yang sekeras baja itu seperti mematahkan ranting kering.
Dia menemukan Inti Binatang (Core) di dalamnya. Besar, berdenyut dengan tiga warna energi.
Tanpa ragu, Lu Daimeng memasukkannya ke dalam mulutnya.
Rahangnya yang kuat mengunyah kristal keras itu. Krak. Krek.
Energi liar meledak di dalam tubuhnya, mencoba merobek ususnya. Tapi Singularitas di perutnya tertawa. Ketiadaan itu menelan segalanya, mengubah elemen api, petir, dan racun menjadi abu murni yang memperkuat struktur eksistensinya.
"Masih lapar," kata Lu Daimeng, menatap ke arah hutan yang lebih dalam lagi, ke arah di mana monster-monster yang lebih kuat bersembunyi.
Dia menyeka darah dari bibirnya, senyum tipis terukir di wajahnya yang mengerikan namun tampan.
"Dunia ini tidak adil," bisiknya pada angin. "Dan karena ketidakadilan kalian itu diriku yang baru ini terlahir."
Bersambung...