Ryn Moa memilih kampusnya demi satu alasan: Kim Taehyung, pria yang telah lama ia sukai. Namun upayanya mendekati Taehyung justru membawanya pada ketertarikan lain-J-Hope, sahabat Taehyung yang ceria.
Di tengah perasaan yang berubah-ubah itu, hadir Kim Namjoon, teman mereka yang tidak setampan dua pria sebelumnya, tetapi memiliki ketenangan, kecerdasan, dan senyum manis yang perlahan merebut hati Ryn Moa.
Tanpa disadari, pencariannya akan cinta membawanya menemukan sosok yang paling tepat, justru dari arah yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rania Venus Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.5
...TANDA YANG TIDAK DISADARI...
Dua bulan sejak pertama Ryn Moa menginjakkan kaki dikampus itu, hidupnya berubah drastis. Perubahan itu datang tanpa aba-aba, seperti hujan yang turun di siang bolong, tidak diminta, tidak diprediksi, dan meninggalkan rasa dingin yang sulit diabaikan. Bukan hanya karena Taehyung satu kelas dengannya, tapi karena… ada satu orang yang selalu muncul di setiap sudut hari-harinya, J-Hope.
Nama itu kini seperti alarm pagi dalam hidup Ryn Moa. Tidak pernah gagal muncul, tidak pernah kehabisan energi, dan selalu datang dengan senyum yang terlalu terang untuk ukuran manusia normal. Sebenarnya, awalnya Ryn Moa hanya ingin memanfaatkan J-Hope sebagai akses menuju Taehyung. Ia tidak pernah menyangkal fakta itu. Dalam benaknya, J-Hope hanyalah “jembatan” orang yang mudah bergaul, populer, dan punya lingkar pertemanan luas. Dekat dengan J-Hope berarti peluang lebih besar untuk mendekat pada Taehyung. Tapi rencana itu runtuh perlahan, nyaris tanpa suara. J-Hope terlalu ceria, terlalu baik, terlalu perhatian dan terlalu sulit untuk abaikan. Ia tidak pernah datang setengah-setengah. Tidak pernah bersikap datar. Setiap kemunculannya selalu penuh, seolah dunia memang sengaja memuat baterai ekstra hanya untuknya. Karena setiap hari, tanpa jeda, J-Hope selalu menyapa.
“Pagi, Ryn! Sarapan belum? Aku ada roti cokelat, mau setengah?”
Kalimat itu biasanya diucapkan sambil menyodorkan roti yang sudah digigit separuh, tanpa rasa canggung, tanpa takut dianggap aneh. Seolah berbagi makanan adalah hal paling wajar di dunia.
“Ryn, kamu pegang bukunya kebalik.”
Diucapkan dengan tawa kecil, sambil membalikkan buku Ryn Moa dengan lembut, tanpa mengejek, tanpa membuatnya malu.
“Ryn, ayo bareng ke kelas!”
Selalu diucapkan dengan nada ceria, seakan berjalan bersama Ryn Moa adalah agenda penting yang tidak boleh terlewat.
“Hey, kamu kelihatan capek. Sini, biar aku bawain tasnya...”
Dan itu diucapkan tanpa menunggu izin, tanpa mengharapkan balasan, seolah perhatian memang bagian dari napasnya. Ryn Moa hanya bisa bingung setiap kali pria itu muncul dengan energi mengalir seperti listrik PLN. Ia bingung karena tidak tahu harus menolak bagaimana. Ia bingung karena sebagian dirinya mulai terbiasa. Dan itu yang paling berbahaya.
Hari ini pun sama. Langit pagi cerah, kelas ramai oleh suara bangku bergeser dan obrolan ringan sebelum pelajaran dimulai. Ryn Moa melangkah masuk dengan tas yang terasa sedikit lebih berat dari biasanya atau mungkin itu hanya perasaannya saja. Begitu Ryn Moa masuk kelas, J-Hope sudah melambai seperti melihat idolanya sendiri.
“RYN! Aku simpanin kursi buat kamu!” serunya sambil menepuk bangku kosong di sebelahnya.
Suara itu cukup keras untuk menarik perhatian beberapa siswa lain. Ada yang tertawa kecil, ada yang melirik penasaran.
Ryn Moa mematung. Ia berhenti melangkah selama dua detik penuh.
“J-Hope… kita semua duduk bebas. Tidak ada sistem simpan kursi.”
Nada suaranya datar, mencoba rasional, mencoba menjaga jarak yang seharusnya ada.
“Tapi tetap saja! Aku… ya… tetap simpan.”
Ia tersenyum lebar sampai matanya membentuk bulan sabit. Senyum itu lagi-lagi membuat Ryn Moa kehabisan alasan. Ryn Moa duduk, menyerah. Ia menurunkan tasnya, menarik kursi, dan duduk di samping J-Hope dengan gerakan pasrah.
“Hobi… kau itu terlalu baik, tahu?”
Kalimat itu meluncur begitu saja, setengah mengeluh, setengah tidak mengerti.
“Ah, tidak juga. Aku hanya… senang kalau kau duduk di dekatku.”
Kalimat itu sederhana. Tidak ada rayuan juha tidak ada intonasi berlebihan. Tapi cukup membuat pipi Ryn Moa memanas. Ada jeda hening sesaat. Ryn Moa merasa suhu di sekitarnya naik, atau mungkin hanya jantungnya yang mulai berdetak terlalu cepat. Ryn Moa mengalihkan pandangan, dan secara tidak sengaja bertemu mata Taehyung yang duduk beberapa baris depan. Tatapan itu tidak singkat, tidak sekilas. Taehyung menatap… agak lama. Begitu lama sampai Ryn Moa gugup sendiri. Ia tidak tersenyum. Tidak juga memasang ekspresi datar. Tatapannya sulit dibaca, seperti seseorang yang sedang menimbang sesuatu di dalam pikirannya. Taehyung kemudian cepat-cepat pura-pura melihat ke arah papan tulis. Ryn Moa menelan ludah. Kenapa dia menatap? Apakah dia… cemburu? Apakah dia merasa aku dan J-Hope terlalu dekat?. Pertanyaan itu muncul beruntun, tidak memberi ruang untuk logika. Apakah… ini yang disebut sinyal. Pikiran itu seperti percikan api. Kecil, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuhnya tegang.
Tentu saja pikiran itu membuat Ryn Moa jadi super tegang selama pelajaran berlangsung. Ia tidak mendengar setengah penjelasan guru. Pena di tangannya bergerak otomatis, menyalin tulisan tanpa benar-benar memahami maknanya. Sesekali ia melirik ke depan, Taehyung fokus menulis. Sesekali ia melirik ke samping, J-Hope menopang dagu sambil menatap buku dengan ekspresi serius yang langka. Bel istirahat berbunyi, Ryn Moa menghela napas panjang, seolah baru diizinkan bernapas kembali. Saat istirahat, geng Ryn Moa berkumpul. Mereka duduk melingkar di pojok kantin, lengkap dengan minuman dan camilan yang belum tersentuh. Dan mereka… langsung menginterogasi.
“Ryn, J-Hope tadi nyimpen kursi buat kamu ya?” tanya Ida sambil menggoyang-goyang alis.
Ryn Moa mendesah pelan.
“Itu bukan apa-apa.”
“Kayaknya dia suka deh,” kata Windi yakin.
“Bukan ‘kayaknya’. Itu sudah,” koreksi Melly tanpa ragu.
Arella memegang dagunya.
“Tapi… Taehyung tadi juga lihat kamu dua kali.”
Ody mengacungkan tiga jari tangannya.
“Aku hitung TIGA kali.”
Celine langsung mendekat ke wajah Ryn Moa dengan ekspresi dramatis.
“Sayang… ini sudah bukan perang dingin lagi. Ini perang dingin-dingin-hangat.”
“Apa itu artinya?” tanya Ryn Moa bingung.
“Seseorang tersaingi,” jawab mereka serempak.
Ryn Moa langsung berdebar. Jantungnya berdegup lebih cepat dari seharusnya, seolah kalimat itu punya kekuatan magis.
“Tunggu… kalian pikir Taehyung… merasa terancam?”
“Bukan terancam,” Ida mengoreksi. “Lebih ke… tidak nyaman melihat kamu dekat dengan J-Hope.”
“Kau pindah sekolah demi dia. Masa dia cuma diam begitu saja?” Windi menambahkan,
Melly menatap Ryn Moa lembut.
“Mungkin… dia mulai sadar kalau kamu punya banyak pilihan.”
Perkataan itu membuat Ryn Moa memeluk buku catatannya erat-erat. Pilihan? Kata itu terasa asing. Mana pernah aku merasa punya pilihan…Selama ini, hidupnya hanya berputar pada satu nama. Satu tujuan. Satu arah. Dan sekarang tiba-tiba ada kemungkinan lain yang muncul tanpa diundang.
“Tapi aku… aku masih suka Taehyung,” gumam Ryn Moa lirih.
“Masih?” Ody memelototkan mata. “Kayaknya sekarang kamu sudah mulai suka J-Hope.”
“Bukan suka,” bantah Ryn Moa cepat. “Aku cuma… nyaman.”
“Nyaman itu awal suka, sayang,” Celine menepuk bahunya.
Teman-temannya tertawa… sementara Ryn Moa menatap meja tanpa tahu harus merasa bagaimana. Tawanya terdengar jauh. Dunia seakan bergerak sedikit lebih cepat dari pikirannya. Meski begitu, hari itu ada hal lain yang mengganggu pikirannya.
...⭐⭐⭐...
Dan gangguan itu datang di akhir hari. Saat bel pulang berbunyi dan siswa mulai berhamburan keluar kelas, Ryn Moa berdiri, mengatur napas, dan bersiap memasukkan buku ke dalam tasnya.
“Ryn.”
Suara itu membuatnya berhenti. Taehyung berdiri tidak jauh darinya.
“Hm?” Ryn Moa menoleh.
Taehyung tampak ragu. Tangannya menggenggam tali tas, matanya tidak langsung menatap Ryn Moa.
“Kamu… sekarang sering bareng J-Hope, ya?”
Kalimat itu pendek, nadanya datar, tapi cukup membuat jantung Ryn Moa hampir meloncat keluar. Ia menelan ludah.
“Dia… teman sekelas,” jawabnya hati-hati.
Taehyung mengangguk pelan, bahkan saat pelan.
“Oh. Iya. Maksudku… bagus.”
Ada jeda canggung. J-Hope muncul dari belakang Ryn Moa, seperti biasa, tanpa suara.
“Eh, Taehyung! Pulang bareng?” tanyanya ceria.
Taehyung menoleh, tersenyum tipis. “Lain kali.”
Ia melirik Ryn Moa sekali lagi sebelum berjalan pergi. Dan di sanalah Ryn Moa berdiri, terjebak di antara dua arah yang tidak pernah ia rencanakan, satu yang ia kejar selama ini, dan satu yang perlahan… mulai mengejarnya balik. Dan untuk pertama kalinya sejak ia kuliah, Ryn Moa sadar, Cinta tidak selalu datang sesuai rencana.
...⭐⭐⭐...
Bersambung....