NovelToon NovelToon
BABY-NYA OM GALAK

BABY-NYA OM GALAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Sugar daddy / Cinta Seiring Waktu / Duda / Konflik etika
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Ketika gadis SMA memilih kerja sampingan sebagai seorang sugar baby.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ternyata dia

Bibir Yuna terasa bengkak.

Ia bisa merasakannya bahkan tanpa menyentuh... sensasi berdenyut yang aneh, setengah sakit dan setengah... sesuatu yang lain yang tidak bisa ia beri nama. Bastian melepaskan ciumannya perlahan, bibirnya masih berjarak hanya satu inci dari bibir Yuna, napasnya hangat menerpa wajahnya.

"Kita pergi."

Suaranya masih rendah, tapi ada sesuatu di dalamnya yang berbeda dari sebelumnya. Lebih gelap. Lebih... bernafsu.

Yuna hanya bisa mengangguk kecil.

Bastian berdiri dengan gerakan yang terkontrol, tangannya tidak melepaskan pinggang Yuna bahkan sedetik pun. Ia menariknya berdiri, lalu tanpa kata-kata, melingkarkan lengannya di pinggang Yuna dengan posesif... bukan di bahu, bukan memegang tangan, tapi melingkar di pinggang dengan jemari yang sedikit menekan lekuk tubuhnya di atas kain gaun satin hitam itu.

Yuna merasakan jantungnya berdebar tidak wajar. Bukan karena gugup lagi. Tapi karena cara Bastian menyentuhnya, seperti ia sudah memilikinya, seperti kesepakatan tadi bukan hanya soal uang dan kontrak, tapi tentang kepemilikan yang jauh lebih dalam.

Mereka berjalan melewati kerumunan orang di bar. Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka, Yuna merasakan itu meskipun ia tidak berani mengangkat kepalanya. Hasya dan Joe masih terlihat di sudut lounge, tapi Hasya hanya melambaikan tangan dengan senyum penuh arti.

"Kamu pasti bisa."

Tapi Yuna tidak merasa bisa. Ia merasa seperti sedang berjalan menuju sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi.

---

Mobil Bastian adalah sedan hitam mewah dengan interior kulit berwarna krem dan bau parfum kayu cendana yang samar. Yuna duduk di kursi penumpang dengan tangan terlipat di pangkuan, tubuhnya menegang saat Bastian duduk di kursi pengemudi dan menyalakan mesin.

Mobil meluncur keluar dari parkiran Obsidian dengan halus, suara mesinnya hampir tidak terdengar. Jakarta tengah malam melintas di luar jendela dalam bentuk lampu-lampu kabur dan gedung-gedung tinggi yang mulai mematikan lampunya satu per satu.

Yuna berusaha fokus pada pemandangan di luar. Apa pun. Asal tidak harus memikirkan apa yang akan terjadi setelah mereka sampai...

Tangan Bastian bergerak.

Yuna terkesiap pelan saat merasakan telapak besar itu mendarat di atas pahanya. Tidak keras. Tidak kasar. Tapi tegas. Jemarinya terbuka lebar, ujung-ujungnya menyentuh bagian dalam paha dengan tekanan yang cukup untuk membuat Yuna merasakan panas menjalar ke atas.

"Om"

Tangannya bergerak naik. Perlahan. Menggosok kain gaun tipis itu dengan gerakan melingkar yang membakar kulit Yuna meskipun tidak langsung menyentuh. Ibu jarinya menekan bagian dalam paha dengan santai, lalu naik sedikit lagi...

Yuna menahan napas. Tangannya refleks menangkap pergelangan tangan Bastian. "Om, tunggu... Om lagi nyetir..."

Bastian tidak berhenti. Ia bahkan tidak menatapnya. Matanya tetap fokus di jalan dengan ekspresi tenang seperti tidak ada yang salah dengan apa yang ia lakukan. Tangannya terus bergerak naik, menelusuri lekuk paha Yuna dengan santai, seolah ia punya hak penuh untuk melakukannya...

...dan secara teknis, ia memang punya.

Yuna melepaskan genggamannya. Tangannya jatuh lemas di sampingnya. Ia hanya bisa duduk di sana, merasakan setiap sentuhan yang membuat tubuhnya bergetar halus, merasakan wajahnya memanas, napasnya tercekat...

Tangan Bastian akhirnya berhenti tepat di batas atas paha. Jemarinya menekan sekali, lalu ia menariknya kembali ke stir dengan gerakan santai seolah tidak baru saja membuat Yuna hampir lupa cara bernapas.

Yuna menatap jendela dengan wajah yang terasa seperti terbakar.

"Seratus juta," ia mengingatkan dirinya sendiri. "Ini demi seratus juta."

Tapi sesuatu di dalam dadanya tidak bisa berhenti bergetar.

Mereka sampai di parkiran basement sebuah gedung apartemen megah berwarna putih dengan lampu yang terlalu terang hingga Yuna harus menyipitkan matanya sedikit saat Bastian mematikan mesin.

Hening.

Bastian melepaskan sabuk pengaman. Lalu berbalik menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya sejak mereka meninggalkan bar, Yuna bisa melihat wajah pria itu dengan jelas di bawah lampu parkiran yang terang benderang.

Jantungnya berhenti.

"Tidak."

"Tidak mungkin."

Wajah itu, garis rahang tegas dengan sudut yang tajam. Hidung lurus sempurna. Alis tebal yang sedikit mengerut. Bibir tipis yang tadi menciumnya dengan rakus. Dan mata itu... mata kelam dengan tatapan dingin yang bahkan di bawah cahaya terang ini masih terlihat seperti bisa membakar apa pun yang ia tatap...

Yuna mengenalnya.

Pria ini...

Pria yang tempo hari ia tendang kepalanya tidak sengaja dengan kaleng kosong.

Pria yang ia tabrak punggungnya dan...

Pria yang menatapnya dengan tatapan membunuh dua kali berturut-turut, sambil mengejeknya bodoh dsn tolol.

"Ya Tuhan."

"Tidak..." Yuna membuka sabuk pengamannya dengan tangan gemetar dan langsung membuka pintu mobil. "Tidak, tidak, tidak..."

Tapi sebelum kakinya menyentuh aspal, tangan Bastian sudah menangkap pinggangnya dari belakang dan menariknya kembali ke dalam mobil dengan satu gerakan cepat yang membuat Yuna terjatuh ke samping... tepat ke dada Bastian.

Pintu mobil tertutup dengan bunyi yang keras.

Yuna mencoba bangkit tapi Bastian sudah memeluk pinggangnya erat dengan kedua tangan, mengunci tubuh Yuna di pangkuannya dengan kekuatan yang tidak bisa ia lawan. Dada Yuna naik turun dengan cepat, napasnya terengah-engah, jantungnya berdebar kencang bukan karena terangsang tapi karena panik.

"Mau pergi, hmm?"

Suara Bastian terdengar tepat di telinganya... rendah, berbahaya, dengan seringai tipis yang bisa Yuna rasakan meskipun tidak melihatnya. Ia memutar tubuh Yuna dengan paksa hingga gadis itu menghadapnya, dan kini Yuna terpenjara di antara dada Bastian dan setir mobil, dengan wajah pria itu hanya beberapa inci dari wajahnya.

Dan di bawah cahaya parkiran yang terang ini, Yuna juga bisa melihat sesuatu di mata Bastian.

Pengakuan.

"Ia juga mengenaliku."

"Om" suara Yuna keluar gemetar. "Om... pria yang..."

"Yang kamu tendang kepalanya dengan kaleng?" Bastian menyelesaikan kalimatnya dengan nada datar yang entah kenapa terdengar lebih berbahaya daripada kalau ia marah. "Yang kamu tabrak di pinggir jalan? Iya. Aku."

Yuna menelan ludah dengan susah payah. "A-aku minta maaf Om, sungguh... aku tidak sengaja... aku tidak tahu..."

"Oh, aku tahu kamu tidak sengaja." Bastian mendekatkan wajahnya, hidungnya hampir menyentuh hidung Yuna. Matanya menyipit dengan tatapan yang membuat Yuna merasa seperti tikus di depan kucing. "Tapi kamu tahu apa yang menarik?"

Yuna tidak menjawab. Ia tidak bisa.

"Ternyata gadis ceroboh yang membuatku kesal dua kali itu..." Bastian tersenyum tipis yang sama sekali tidak hangat, "...sekarang jadi milikku."

Jemari Bastian menelusuri garis rahang Yuna dengan lambat, lalu turun ke leher, menekan sedikit di nadi yang berdenyut kencang di sana. "Dan kesepakatan yang sudah kamu setujui tadi, sayang... tidak bisa dibatalkan."

"Tapi... aku..." Yuna mencoba mundur tapi tidak ada tempat untuk mundur. "Aku bisa kembalikan semuanya... kartu, kunci... semua... tolong..."

"Terlambat."

Bastian menarik tengkuk Yuna dan menghantamkan bibirnya ke bibir gadis itu dengan keras.

Tidak lembut seperti di bar tadi. Tidak sabar. Tidak memberi waktu untuk belajar.

Ini ciuman yang lapar. Menuntut. Kasar.

Bibirnya bergerak dengan paksa, lidahnya menerobos masuk tanpa izin, menjelajahi setiap sudut mulut Yuna dengan intensitas yang membuat kepala gadis itu berputar. Yuna meronta, tangannya mendorong dada Bastian... tapi pria itu hanya menggenggam pinggangnya lebih erat sambil terus menciumnya dengan rakus seolah ia ingin menelan Yuna bulat-bulat.

Saat Bastian akhirnya melepaskan ciumannya, bibir Yuna sudah benar-benar bengkak dan napasnya terengah-engah seperti habis berlari maraton.

Bastian menatapnya dengan mata yang gelap dan seringai tipis di bibirnya yang masih basah. "Dengar baik-baik, Yuna."

Pertama kalinya ia menyebut namanya. Dan entah kenapa itu terdengar berbahaya di lidah pria ini.

"Kamu tidak akan bisa pergi dariku," bisik Bastian, suaranya seperti ancaman yang dibungkus sutra. "Malam ini... dan setiap malam setelah ini... kamu akan melayani aku dengan baik. Mengerti?"

Yuna merasakan air matanya mulai mengumpul di pelupuk mata. Bukan karena sakit. Tapi karena takut. Karena malu. Karena ia tahu... ini kesalahannya sendiri. Ia yang setuju. Ia yang mengambil uang itu. Ia yang...

"Aku tanya sekali lagi." Bastian mencengkeram rahang Yuna, memaksanya menatap matanya. "Mengerti?"

Yuna mengangguk kecil dengan bibir yang bergetar.

"Bagus."

Bastian melepaskannya, membuka pintu mobil, dan turun dengan gerakan yang terlalu santai untuk situasi ini. Ia berjalan ke sisi penumpang, membuka pintu, dan mengulurkan tangannya.

Yuna menatap tangan itu. Besar. Kuat. Dengan knuckle yang masih sedikit kemerahan... entah kenapa.

Ia tahu jika ia mengambil tangan itu, tidak ada jalan kembali.

Tapi ia juga tahu ia tidak punya pilihan lain.

Dengan tangan gemetar, Yuna meletakkan tangannya di telapak Bastian.

Dan pria itu langsung menggenggamnya erat, menariknya keluar dari mobil, lalu melingkarkan lengan di pinggangnya lagi dengan posesif, lebih erat dari sebelumnya...sambil membimbingnya menuju lift yang akan membawa mereka ke lantai paling atas gedung apartemen megah ini.

Yuna berjalan dengan kaki yang terasa seperti timah.

Jantungnya berdegup kencang.

Dan di kepalanya, satu kalimat terus berputar seperti mantra:

"Aku harus bertahan. Demi masa depanku!"

Tapi sesuatu di dalam dadanya berbisik pelan untuk ia dengar dengan jelas

"Atau mungkin... ini awal dari kehancuranmu."

Lift berbunyi dengan lembut, pintunya terbuka, dan Bastian menarik Yuna masuk.

Pintu tertutup.

Dan Yuna tahu... mulai malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

1
Aisyah Aisyah
cerita nya menarik
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
geli sih sama si Edo ...gak mau nabokin aja gitu kalo deketin kamu lagi Yuna ...

duh2 gimana ya kalo Bastian mau Nina ninu kan yuna lagi di rumah mama nya
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
seru juga cerita nya 🤣
Ira Janah Zaenal
Yuna kamu terlalu menggoda... jangan salahkan Bastian yg menempel terus padamu😍
Dew666
👍👍👍👍👍
Erita Simanjuntak
ceritanya bagus
Bunda SB: terima kasih
total 1 replies
Erita Simanjuntak
sangat bagus
Dew666
🪸🪸🪸🪸🪸
Dew666
🪻🪻🪻🪻🪻
Dew666
💎💎💎💎
Dew666
❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹❤️‍🩹
Nurhartiningsih
lanjut
Nurhartiningsih
yuk lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!