Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 — Firasat —
Pagi ini cuaca terlihat mendukung. Tidak banyak awan-awan putih yang terlihat. Mataharinya bersinar terang, seolah mengambil alih panggung di langit.
Seperti biasa, aku berangkat bersama Elena menuju gedung kelas satu. Kami tidak bicara sepatah kata pun di perjalanan.
Hangatnya cahaya matahari akan menjadi saksi bahwa hari ini, kehidupan kami akan ditentukan berdasarkan hasil duel.
Meski aku sudah mengajarinya beberapa hal kemarin, rasa cemasku tak kunjung hilang. Untungnya aku masih bisa menyembunyikan perasaanku, karena kalau tidak, Elena akan lebih tertekan.
Tanpa terasa, kami sudah tiba di kelas. Suasananya terasa begitu negatif. Terlebih lagi Sera Nanashi menghadang kami. Dia tersenyum seolah sudah memenangkan duelnya.
Sementara itu, pasangannya hanya duduk di kursi. Dia menatapku tajam. Tumben sekali, padahal biasanya mereka selalu bersama.
Karena tidak ingin ambil pusing, aku memberi kode pada Elena untuk jangan meladeninya sekarang. Duelnya dimulai saat waktu istirahat pagi, jadi tidak ada gunanya buang-buang waktu dan energi.
Ada begitu banyak tatapan yang mengarah ke sini, tapi Elena tampak tidak tertekan. Malahan yang tertekan di sini adalah aku.
Untungnya, dia mengerti maksudku. Kami pun berjalan melewati Sera Nanashi begitu saja.
"Hei, tunggu dulu!"
Sadar bahwa dirinya sedang diabaikan, gadis itu mengeluarkan suara dengan nada yang lumayan tinggi.
Meski begitu, kami tidak berhenti dan langsung melangkah menuju tempat duduk kami.
Hal itu nembuatnya berdiri dalam keadaan tubuh yang gemetar, mungkin dia sedang menahan malu karena tak digubris.
Namun, ada banyak tatapan mata yang tak kunjung menghilang. Mereka tampaknya penasaran, apalagi beberapa suara bisikan mulai terdengar di telingaku.
"Itu, mereka akan duel?"
"Ya, kalau tidak salah duelnya di ruang klub permainan."
"Mau melihat-lihat? Siapa tahu kita mendapat tontonan yang menarik, meski aku tidak tahu apa-apa tentang catur."
Mereka benar-benar penasaran rupanya.
"Kudengar mereka sudah musuhan sejak dulu!"
"Repot juga, ya? Apalagi kita belum punya ketua kelas."
"Baik, kalian semua. Tolong duduk di tempat kalian bersama pasangan masing-masing!"
Di tengah bisik-bisik mereka, Yagami-sensei datang di waktu yang tepat. Beliau menyuruh para murid untuk tenang lalu memulai jam pelajaran.
Pembelajaran berlangsung seperti biasa. Hanya saja, kami tidak akan lupa tentang pemilihan ketua kelas yang harus ditentukan secepatnya. Sisa waktunya dua hari.
Bagaimanapun, aku harus membantu Umi Shiina untuk menjadi ketua kelas. Dia sudah banyak berubah jika keinginannya begitu. Dan aku akan memikirkan strategi yang bagus setelah duel Elena berlangsung.
Rasa cemasku tak kunjung hilang ketika memikirkan duelnya. Itu karena Elena bilang kalau dia tidak pernah melihat Sera Nanashi main catur.
Jika benar begitu, kenapa mereka bisa setuju untuk melakukannya?
Aku curiga Sera Nanashi ingin menghancurkan Elena dengan mengalahkan sesuatu yang menjadi kelebihannya. Artinya, dia tahu Elena pandai bermain catur.
"Naruse-kun, kenapa malah kau yang tampak cemas?"
Sementara aku terus memikirkan apa yang sebenarnya terjadi, sebuah sentuhan lembut terasa di tengah pembelajaran... disusul oleh suara bisikan pelan.
Elena memegang tanganku. Dan aku tidak mungkin tidak beralih untuk menatapnya. Dia menampilkan seringai tipis dengan tatapan mata yang sedikit melotot.
"Tidak apa-apa, Naruse-kun. Kali ini serahkan padaku!"
Suaranya terdengar lembut dan meyakinkan, membuat mulutku tidak bisa berkata-kata.
Aku pun mengalihkan pandanganku ke Yagami-sensei yang sedang menjelaskan materi tentang sains dasar.
Sampai akhirnya, waktu istirahat telah tiba. Dan sekarang adalah momen penentuan.
Elena sudah pergi duluan untuk mempersiapkan diri, jadi aku berniat menyusulnya.
Dia tampak grogi sebelumnya saat di kelas, apalagi tangannya juga lumayan berkeringat. Kuharap dia baik-baik saja.
Hampir semua teman sekelasku dengan cepat menghilang dari kelas, dan beberapa ada yang berniat pergi ke ruang klub permainan untuk menonton duelnya.
Ini gawat. Rasa khawatirku tak kunjung reda. Sebenarnya kenapa aku jadi begini?
Aku sama sekali tidak meremehkan Elena, tapi entah kenapa aku merasa ada yang tidak beres dengan duelnya.
"Kau tidak apa-apa, Takashi-kun?"
Suara seseorang terdengar di tengah kecemasanku. Posisiku sedang berdiri tak jauh dari tempat dudukku, jadi aku membalikkan badan untuk menghadap sumber suara.
Mataku menangkap dua sosok, satu laki-laki dan satunya lagi seorang gadis.
"Shiina-san? Dan Junta-kun?"
"Aku paham perasaanmu, tapi bisakah kau dengarkan aku sebentar?"
Umi Shiina bicara dengan nada yang entah kenapa terdengar serius. Sementara itu, Ayano Junta hanya diam menatapku.
"Memangnya kau mau bicara apa?"
Aku tidak punya pilihan selain mengiyakan.
"Begini, Takashi-kun. Maaf jika harus mengatakan ini, tapi Miyazaki-san akan kalah."
"Hah?"
Otakku membeku begitu mendengar kata-katanya.
Elena akan kalah? Sepertinya Umi Shiina juga merasakan sesuatu yang sama sepertiku.
"Harusnya kau mendengar dari Miyazaki-san kalau aku meminjamkan papan catur dari klub permainan, kan?"
"Iya, terus kenapa?"
"Aku kurang tahu bagaimana detailnya, tapi semua orang yang ada di klub permainan ingin Miyazaki-san kalah. Mereka seolah disogok untuk berpihak ke Nanashi-san."
"Bukankah itu gawat? Pantas saja firasatku buruk!"
Ah, sial. Nadaku meninggi.
Darahku serasa mendidih dengan cepat begitu mendengar hal itu dari Umi Shiina. Meski belum tentu benar, aku bisa percaya padanya.
Tidak, justru aku harus percaya. Mereka tidak punya alasan untuk menipuku. Tidak setelah mengajakku beraliansi.
"Pergilah, Takashi-kun! Pasanganmu dalam masalah."
Ayano Junta membuka mulutnya setelah cukup lama terdiam. Dia memasang wajah serius dan menyuruhku untuk pergi menemui Elena.
Tanpa peduli dengan mereka berdua, aku lalu melangkah dengan terburu-buru menuju ruang klub permainan. Kalau tidak salah tempatnya ada di gedung sebelah, gedung khusus klub-klub sekolah.
Perasaanku tidak enak. Jantungku terus-terusan berdetak kencang. Tubuhku mulai berkeringat.
Aku memikirkan banyak hal tentang apa yang akan terjadi. Dan begitu tiba di sana, aku langsung tertegun.
Ini banyak sekali. Tidak pernah kusangka bahwa duel mereka akan disaksikan oleh banyak murid.
Aku sudah menduga kalau Sera Nanashi dan Satoshi Akanji adalah dua orang yang pasti akan menarik perhatian sebagai murid baru. Tapi tetap saja, ini terlalu banyak.
Mungkin karena ini juga, gadis itu jadi tampak percaya diri. Dia seperti ingin menunjukkan perbedaan mendasar di antara dirinya dengan Elena.
Namun, bukan itu yang masalah utamanya. Aku harus masuk ke dalam untuk menonton, tapi ada terlalu banyak murid yang menonton dari luar ruangan.
"Kau, jangan dorong-dorong!"
"Aku juga mau lihat Nanashi-san bermain!"
"Dia gadis tercantik di tahun pertama ini, kan? Pasangannya beruntung sekali!"
Mereka semua berdesak-desakan di depan jendela dan pintu.
Apa mereka tidak diperbolehkan masuk? Sepertinya yang ada di dalam hanyalah anggota klub permainan, Elena, dan Sera Nanashi. Mungkin juga ada Satoshi Akanji.
Yang jelas, jalanku terhalang. Bagaimana aku bisa masuk kalau begini?
Jangankan membuka pintu, mengintip dari balik jendela saja sudah sangat sulit.