NovelToon NovelToon
DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

DIJODOHKAN SAAT SMA!!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Tama Dias

Novel ini lahir dari rasa ingin mengeksplorasi kisah cinta remaja yang unik, tentang dua orang yang dijodohkan sejak SMA dan bagaimana mereka belajar mengenal satu sama lain. Penulis ingin menampilkan bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dengan cara yang mudah atau instan, melainkan tumbuh melalui proses memahami, menerima, dan memilih satu sama lain setiap hari.
Melalui cerita ini, penulis ingin menggambarkan perjalanan emosi remaja yang realistis, mulai dari kebingungan, rasa penasaran, hingga perasaan hangat yang perlahan tumbuh menjadi cinta yang dewasa. Kisah ini juga menekankan bahwa di balik setiap tawa dan momen manis, ada nilai penting tentang keluarga, persahabatan, tanggung jawab, dan kesabaran yang membentuk karakter seseorang.
Cerita ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi remaja untuk menyadari bahwa hubungan yang baik tidak hanya tentang perasaan, tetapi juga tentang saling menghargai, membangun kepercayaan, dan berani membuat pilihan yang tepat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tama Dias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18~Musim baru ,janji yang sama

Musim kemarau datang lebih cepat tahun ini.

Langit Jakarta cerah hampir setiap hari, tapi panasnya terasa sampai ke hati.

Di Taman Langit, bunga flamboyan yang dulu kami tanam kini mekar lebat, kelopak merah-oranyenya berguguran di jalan setapak seperti hujan kecil yang indah.

Aku datang ke taman itu pagi-pagi sekali, membawa semprotan air dan beberapa alat kecil untuk merapikan tanah.

Sekarang aku bukan cuma pengunjung — aku menjadi salah satu pengurus taman ini secara sukarela.

Anak-anak sekolah sering datang untuk belajar tentang tanaman, dan aku senang membantu mereka.

“Bu Alya, boleh saya siram bunga yang ini?” tanya seorang anak kecil yang memegang ember.

Aku tersenyum. “Boleh, tapi pelan-pelan ya, jangan sampai akarnya rusak.”

Anak itu mengangguk patuh.

Setiap kali melihat mereka berlari kecil sambil tertawa, aku selalu teringat diriku sendiri dulu — gadis SMA yang canggung tapi penuh rasa ingin tahu, yang tidak sengaja jatuh cinta di tengah tugas sekolah yang seharusnya sederhana.

Raka datang sekitar satu jam kemudian, dengan kemeja putih dan lengan tergulung.

Ia membawa map besar dan kamera di tangan.

“Pagi, Ibu Guru,” sapanya dari jauh.

Aku menoleh dan tertawa. “Pagi juga, Tuan Arsitek.”

Dia menaruh kameranya di meja batu, lalu menghampiri. “Aku harus dokumentasi taman ini buat portofolio. Tapi kayaknya aku lebih fokus ke orang yang jaga tamannya.”

Aku mengangkat alis. “Raka.”

Dia tertawa kecil. “Oke, oke. Nggak usah melotot gitu.”

Kami duduk di bawah pohon flamboyan, tempat favorit kami.

“Gimana kerjaan kamu?” tanyaku sambil membuka bekal kecil berisi nasi dan sayur tumis.

“Lumayan,” jawabnya. “Aku baru dapat tawaran proyek dari luar negeri — taman kota di Singapura.”

Aku berhenti sejenak, sendokku menggantung di udara. “Luar negeri?”

Dia menatapku hati-hati. “Iya. Enam bulan, mungkin setahun. Masih tahap penawaran, sih. Tapi kalau jadi, aku harus ke sana.”

Aku terdiam, menatap dedaunan yang berguguran di atas tanah.

Seolah alam ikut menurunkan suasana hati.

“Enam bulan…” ulangku pelan. “Kayak waktu kamu ke Surabaya, ya?”

Dia tersenyum kecil. “Iya, cuma bedanya ini lebih jauh.”

Aku berusaha tersenyum. “Dan lebih besar.”

Dia mengangguk. “Aku tahu ini kesempatan langka. Tapi aku juga tahu satu hal — aku nggak mau kehilangan apa yang udah kita tanam.”

Aku menatapnya lama. “Kamu nggak akan. Tapi aku juga nggak mau jadi alasan kamu berhenti tumbuh.”

Dia menatap mataku dalam-dalam. “Kamu selalu ngomong hal yang bikin aku makin cinta.”

Aku tertawa kecil, tapi mataku terasa hangat. “Jangan gombal dulu. Ceritain aja nanti, biar aku bisa ikut bangga dari sini.”

Dia tersenyum lega, lalu menggenggam tanganku. “Kamu luar biasa, Ly.”

Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasanya, tapi di balik rutinitas itu, ada sesuatu yang mulai terasa berubah.

Aku belajar menyiapkan hati untuk kemungkinan jarak yang baru.

Dulu kami pernah jauh, tapi entah kenapa kali ini terasa lebih berat.

Raka sibuk dengan persiapan proyek. Aku juga mulai disibukkan dengan tugas baru — aku dipercaya menjadi guru tetap di sekolah, bukan lagi asisten.

Aku bangga, tapi juga sadar, waktu kami untuk bertemu semakin sedikit.

Kadang, saat malam datang dan aku duduk di balkon menatap bintang, aku teringat saat-saat dulu kami di taman sambil memandangi langit yang sama.

Kini, aku mulai belajar mencintai dalam diam — mencintai tanpa harus selalu bersama, tapi cukup percaya bahwa cinta itu masih hidup di seberang jarak.

Tiga minggu kemudian, kabar resmi datang:

Raka diterima dalam proyek taman internasional di Singapura.

Ia berangkat akhir bulan ini.

Malam itu, kami bertemu di Taman Langit.

Langit sedikit mendung, tapi udara terasa hangat. Lampu taman memantulkan cahaya ke dedaunan flamboyan yang bergoyang pelan.

Raka berdiri di depan kolam kecil, menatap pantulannya sendiri di air.

“Aku takut, Ly,” katanya pelan. “Takut terlalu jauh. Takut terlalu lama.”

Aku mendekat dan berdiri di sebelahnya. “Aku juga takut, Rak. Tapi kita nggak akan pernah tahu seberapa kuat pohon kita kalau nggak pernah kena badai, kan?”

Dia menoleh dan tersenyum. “Kamu tuh, selalu punya jawaban buat semua ketakutanku.”

Aku menatap pantulan kami di air — dua bayangan berdiri berdampingan di bawah cahaya lampu taman.

“Karena aku nggak mau kamu lupa, Raka,” kataku pelan. “Cinta ini bukan tempat yang harus kamu datangi. Ini rumah yang selalu bisa kamu pulangin.”

Dia terdiam beberapa detik, lalu mengangguk pelan. “Aku janji bakal pulang. Ke kamu, ke taman ini, ke langit yang sama.”

Hari keberangkatannya tiba.

Aku menemaninya ke bandara.

Pagi itu langit cerah, tapi di dadaku terasa seperti hujan.

Kami duduk di ruang tunggu, tidak banyak bicara.

Aku memandangi pesawat di luar kaca, berusaha mengingat wajahnya dalam setiap detil — mata, senyum, nada suaranya.

“Ly,” katanya akhirnya, “aku tahu kamu kuat. Tapi kalau kamu rindu, jangan ditahan, ya. Datang aja ke taman kita. Anginnya bakal ngirim rindumu ke aku.”

Aku menahan senyum, meski air mataku mulai menggenang. “Kamu percaya banget sama angin, ya?”

Dia tertawa kecil. “Angin dan kamu, dua hal yang paling sering bikin aku tenang.”

Ketika pengumuman boarding terdengar, dia berdiri, menarik napas panjang, lalu memelukku sebentar.

Bukan pelukan lama, tapi cukup untuk membuat dunia berhenti sejenak.

“Jaga dirimu, Ly.”

“Aku selalu jaga. Kamu juga, Rak.”

Dia tersenyum, lalu berbalik perlahan.

Aku menatap punggungnya berjalan menjauh, dan saat itu, aku sadar — cinta sejati bukan soal seberapa sering kamu menggenggam, tapi seberapa kuat kamu melepaskan dengan keyakinan.

Hari-hari tanpa Raka terasa sunyi di awal.

Aku kembali ke rutinitas: mengajar, merawat taman, menulis di buku catatanku setiap malam.

Kami masih saling mengirim pesan, tapi jarak waktu kadang membuatnya tak selalu secepat dulu.

Namun setiap kali aku merasa hampa, aku datang ke Taman Langit.

Tempat itu selalu hidup, bahkan tanpa kami.

Bunga-bunganya mekar, pohon flamboyan makin tinggi, dan kursi kayu itu tetap berdiri tegak.

Di situ aku duduk, membaca pesan-pesan lama dari Raka:

“Kalau cinta itu taman, aku pengen kamu jadi hujannya.”

“Nanti kalau aku sibuk banget, tolong ingetin aku kalau hidup bukan cuma kerja.”

“Aku sayang kamu, bahkan di hari yang terlalu cepat.”

Aku menutup ponsel dan menatap langit.

Dan di sana — di antara awan dan bintang — aku tahu dia juga sedang melihat hal yang sama.

Enam bulan berlalu.

Raka masih di luar negeri, tapi kami semakin pandai berkomunikasi tanpa harus setiap hari.

Kami belajar menghargai diam yang berarti, dan kata yang sederhana tapi tulus.

Suatu sore, aku sedang mengajar saat seorang murid kecil berlari sambil memegang amplop.

“Bu Alya! Ada surat buat Ibu!”

Aku menerimanya dengan bingung.

Di depan amplop itu tertulis dengan huruf yang sangat kukenal:

Untuk Alya — dari taman di bawah langit lain.

Aku membuka surat itu perlahan.

Ly,

Hari ini taman di sini selesai. Tapi setiap kali aku lihat kolam kecil di tengahnya, aku selalu keinget taman kita. Di sini bunga mataharinya tumbuh tinggi, dan tiap pagi aku lihat bayanganku di air — selalu ada kamu di sana.

Aku sadar, taman ini bukan sekadar proyek. Ini bukti bahwa semua yang kita tanam dengan sabar, akan tumbuh bahkan di tanah yang baru.

Dan aku janji, Ly — musim ini mungkin beda, tapi janjinya tetap sama: aku akan pulang.

— Raka

Air mataku menetes tanpa sadar.

Aku melipat surat itu dengan hati-hati dan menatap langit sore yang mulai oranye.

“Rak,” bisikku, “aku tunggu, seperti biasa.”

Tiga bulan kemudian, Taman Langit mengadakan acara ulang tahun pertamanya.

Aku datang pagi-pagi membawa bunga segar. Banyak orang berkumpul, menikmati suasana.

Anak-anak berlari di jalan setapak, orang tua bercengkerama di bawah pohon flamboyan.

Dan di tengah keramaian itu, aku mendengar suara yang membuatku berhenti seketika.

“Boleh saya duduk di kursi ini, Bu Guru?”

Aku berbalik.

Di sana dia — Raka, berdiri dengan senyum yang sama seperti dulu.

Matanya sedikit lelah, tapi ada cahaya bahagia yang tak bisa disembunyikan.

Aku menatapnya tanpa kata. “Kamu…”

Dia mengangguk pelan. “Aku pulang.”

Air mataku mengalir, tapi aku tertawa di sela tangis. “Kamu bahkan nggak bilang mau datang hari ini!”

Dia mengangkat bahu. “Aku pengen bikin kejutan. Lagipula, hari ulang tahun taman ini harus dirayain bareng penciptanya, kan?”

Aku memukul lengannya pelan, lalu menatapnya lama. “Kamu nggak berubah, Rak.”

Dia menatapku lembut. “Dan kamu masih rumah yang sama, Ly.”

Malamnya, setelah semua orang pulang, kami duduk di kursi kayu itu lagi.

Langit penuh bintang.

Raka membuka tasnya, mengeluarkan dua benda kecil: gelang hijau baru dan buku catatan kulit.

“Ini buat kamu,” katanya sambil menyerahkan.

Aku membuka buku itu. Di dalamnya ada gambar taman dari berbagai sudut — bukan cuma taman kami, tapi juga taman-taman yang ia buat di luar negeri.

Dan di halaman terakhir, tertulis satu kalimat sederhana:

Semua taman yang pernah kutanam, berawal dari satu tempat: kamu.

Aku menatapnya sambil menahan tangis. “Kamu masih suka banget bikin aku nangis, ya?”

Dia tertawa pelan. “Kalau itu satu-satunya cara buat kamu inget aku, aku nggak apa-apa.”

Aku menatap gelang baru itu. Warnanya hijau cerah, lebih muda dari yang lama. Aku menggantungkannya di pergelangan tangan, lalu menggenggam tangannya.

“Musim baru,” kataku pelan. “Tapi janji yang sama.”

Dia mengangguk. “Selama masih ada langit di atas kita, janji itu nggak akan hilang.”

Kami menatap langit bersama — bintang-bintang berkelip, seolah ikut mendengarkan doa yang kami simpan.

Dan di antara keheningan itu, aku tahu satu hal dengan pasti:

Cinta ini tidak lagi tentang pertemuan atau perpisahan.

Cinta ini sudah menjadi bagian dari kehidupan — seperti taman yang tumbuh tanpa harus disiram setiap hari, karena akarnya sudah cukup dalam untuk bertahan.

Tangan kami saling menggenggam erat.

Dan malam itu, di bawah bintang yang sama, aku tahu:

kami tidak lagi hanya menjaga taman di bumi, tapi juga taman kecil di hati yang akan terus tumbuh —

di setiap musim, di setiap jarak, di setiap langit yang berbeda.

✨ Bersambung ke Bab 19

1
dias lobers
baguss
dias lobers
gimana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!