Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH TUJUH: MALAM TERAKHIR
Orion terengah-engah dengan napas yang memburu, tubuhnya yang berpeluh menindih Seraphina di atas bangku latihan yang dingin itu. Penyatuan mereka yang baru saja meledak meninggalkan keheningan yang menyesakkan di dalam ruangan gym pribadi tersebut. Sisa-sisa dari hasrat liar Orion masih terasa berdenyut di dalam diri Seraphina, sementara gadis itu hanya bisa terbaring tak berdaya dengan mata yang menatap kosong ke langit-langit baja. Tubuhnya gemetar, dan setiap embusan napasnya adalah sebuah isakan yang tertahan, seolah-olah ia sedang mencoba mengumpulkan kembali serpihan jiwanya yang telah hancur lebur di bawah dominasi pria itu.
Perlahan, Orion menarik dirinya menjauh, sebuah gerakan yang meninggalkan rasa hampa sekaligus nyeri yang tajam bagi Seraphina. Cairan hasil penaklukan itu mengalir perlahan di kulit paha Seraphina, membasahi permukaan kulit yang dingin. Orion sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah. Ia justru menatap Seraphina dengan senyuman puas yang sangat dingin, sebuah tatapan yang menegaskan bahwa ia telah berhasil menanamkan tandanya sekali lagi.
Narasi internal Orion mendesis penuh kemenangan. "Dia adalah wadah yang sempurna bagi egoku. Hancur, namun tetap menerima segalanya tanpa bisa melawan. Pernikahan besok hanyalah sebuah upacara untuk melegalkan apa yang sudah aku lakukan padanya sejak awal. Setelah janji suci itu diucapkan, tidak akan ada lagi tempat baginya untuk bersembunyi dari tanganku."
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh suara riang Giselle yang terdengar dari lorong luar. "Nana! Sayangku! Kau di mana?! Mama butuh bantuanmu memilih rangkaian bunga lili untuk resepsi besok!" Suara itu terdengar semakin mendekat, menciptakan kepanikan sesaat bagi Seraphina yang masih dalam keadaan tanpa busana.
Orion mendengus kesal, rahangnya mengeras. Ia sangat membenci gangguan, bahkan jika itu datang dari ibunya sendiri. Dengan gerakan yang sigap namun tetap terasa kasar, ia melepaskan lilitan handuk yang mengunci pergelangan tangan Seraphina. Tanpa banyak bicara, ia mengangkat tubuh lemas gadis itu dalam dekapannya, membawanya seolah-olah Seraphina hanyalah sebuah benda mati yang berharga.
"Cepat," Orion berbisik dengan nada datar yang menusuk. "Jangan sampai ada satu kata pun yang keluar dari mulutmu atau kau akan menyesal."
Orion membawa Seraphina melalui pintu belakang gym yang terhubung langsung dengan lift pribadi menuju lantai kamar mereka. Di dalam lift yang berdinding cermin itu, Orion meraih jubah mandi tebal dan memakaikannya pada tubuh Seraphina, menyembunyikan segala tanda kemerahan dan lebam kecil yang baru saja ia ciptakan. Wajah Seraphina tampak sangat pucat, dengan bibir yang sedikit bengkak dan mata sembab yang berusaha ia tutupi dengan menunduk dalam.
Begitu pintu lift terbuka di lantai atas, Orion menurunkan Seraphina tepat di depan pintu kamarnya. "Bersihkan dirimu secepat mungkin. Dan ingat, kau harus tampil sempurna saat makan malam nanti. Jangan biarkan Mama mencium bau apa pun darimu."
Seraphina hanya bisa mengangguk lemah. Ia masuk ke dalam kamarnya dan langsung mengunci pintu, berlari menuju kamar mandi seolah-olah ia sedang dikejar oleh hantu. Di bawah kucuran air hangat yang menyentuh kulitnya yang perih, Seraphina menangis tanpa suara. Ia berusaha menggosok setiap inci tubuhnya, ingin sekali menghapus jejak tangan Orion dan aroma maskulin yang seolah-olah telah menyerap ke dalam pori-porinya. Namun, jauh di dalam lubang batinnya, ia tahu bahwa tidak ada air sebanyak apa pun yang bisa membersihkan noda yang ditinggalkan pria itu pada harga dirinya.
Hari-hari terakhir menjelang pernikahan adalah neraka yang dibalut dengan kemegahan. Seraphina menjalani setiap detik aktivitasnya seperti sebuah boneka yang digerakkan oleh tali tak terlihat. Ia membiarkan tim penata rias menyentuh wajahnya, membiarkan para perancang busana menyesuaikan kain sutra di tubuhnya, dan mendengarkan Giselle berceloteh tanpa henti tentang ribuan tamu undangan dari kalangan elit yang akan hadir. Di hadapan dunia, ia adalah pengantin impian; cantik, pendiam, dan misterius. Namun di balik gaun pengantin yang bertabur berlian itu, ada tubuh yang lebam dan jiwa yang menjerit meminta tolong.
Oskar Valentinus sesekali muncul untuk memantau persiapan. Setiap kali pria paruh baya itu datang, suasana di mansion menjadi semakin mencekam. Oskar akan menatap Seraphina dengan mata hitamnya yang dingin, memberikan penilaian yang seolah-olah sedang mengukur nilai sebuah aset perusahaan. Ia tidak pernah mengajak Seraphina bicara secara pribadi, namun kehadirannya memberikan restu tak tertulis bagi segala kekejaman yang dilakukan Orion.
Narasi internal Orion terus membara seiring dengan berjalannya waktu. "Pernikahan ini akan menjadi panggung sandiwara terbaik dalam sejarah keluarga Valentinus. Dunia akan melihatku sebagai suami yang protektif, sementara di balik pintu kamar yang tertutup, aku akan menjadi penguasa tunggal atas setiap embusan napasnya. Aku akan membentuknya hingga dia tidak bisa lagi berfungsi sebagai manusia tanpa kehadiranku."
Malam sebelum hari pernikahan tiba, Giselle mengadakan jamuan makan malam kecil yang bersifat sangat pribadi. Hanya ada Oskar, Orion, Seraphina, dan beberapa kerabat terdekat. Mansion itu dihiasi dengan ribuan bunga mawar putih yang harumnya sangat menyengat, menciptakan kontras yang aneh dengan perasaan Seraphina yang hancur. Sepanjang acara, Giselle tidak berhenti memamerkan calon menantunya itu.
"Nana ini adalah hadiah terindah bagi keluarga kita, Oskar," ucap Giselle dengan tawa riangnya sambil mengelus rambut Seraphina yang tertata rapi. "Dia sangat lembut dan penurut. Aku yakin dia akan melahirkan cucu-cucu yang luar biasa bagi keluarga Valentinus."
Oskar hanya memberikan anggukan pendek sambil menyesap wiskinya. "Seorang wanita memang seharusnya mengetahui posisinya. Jika dia bisa melayani Orion dengan baik dan menjaga nama baik kita, maka dia akan mendapatkan tempatnya di rumah ini." Ia melirik Seraphina dengan tatapan yang seolah-olah bisa melihat menembus pakaiannya. "Orion adalah guru yang keras, namun dia tahu bagaimana cara menjinakkan sesuatu yang liar."
Seraphina merasa mual mendengar kata-kata itu. Ia merasa seolah-olah dirinya adalah seekor hewan yang sedang dipersiapkan untuk disembelih demi kepentingan keluarga besar ini.
Setelah jamuan makan malam selesai dan para tamu telah berpamitan, suasana mansion kembali sunyi. Giselle yang kelelahan karena semangatnya sendiri akhirnya masuk ke kamar untuk beristirahat. Seraphina berdiri sendirian di balkon kamarnya, menatap langit malam yang mendung, seolah-olah alam pun sedang berduka untuk nasibnya besok pagi.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas meja rias. Dengan tangan yang gemetar, Seraphina meraih perangkat tersebut. Sebuah pesan singkat dari Orion telah menunggunya.
'Datang ke kamarku sekarang. Tengah malam tepat. Ini adalah malam terakhirmu sebagai seorang gadis bebas. Aku akan memastikan kau mengingat setiap detik malam ini sebelum fajar menyingsing dan kau secara resmi menjadi milikku selamanya di depan altar.'
Jantung Seraphina terasa seolah-olah berhenti berdetak sesaat. Pesan itu bukan sekadar undangan, melainkan sebuah maklumat tentang penghancuran terakhir yang akan diterimanya sebelum ikatan legal itu terpasang di lehernya. Ia tahu bahwa Orion tidak akan menahan diri sedikit pun malam ini. Pria itu akan menggunakan setiap detik yang tersisa untuk menegaskan kekuasaannya, memastikan bahwa Seraphina benar-benar patah sebelum memasuki gerbang pernikahan.
Rasa takut yang sangat murni mulai menjalar dari ujung kakinya hingga ke ubun-ubun. Seraphina melihat ke arah pintu kamarnya yang terkunci, lalu ke arah balkon yang gelap. Tidak ada tempat untuk lari. Seluruh area mansion ini adalah wilayah kekuasaan Orion. Pelayan, penjaga, bahkan calon mertuanya pun tidak akan ada yang membelanya.
Ia menarik napas panjang, mencoba menahan isak tangisnya yang ingin pecah. Ia tahu bahwa ia tidak punya pilihan selain melangkah menuju kamar pria yang ia benci sekaligus ia takuti itu. Dengan langkah yang berat, Seraphina meninggalkan kamarnya, menyusuri lorong yang remang-remang menuju kamar utama sang pemangsa, menyadari bahwa fajar esok hari bukan membawa cahaya baru, melainkan awal dari kegelapan abadi yang akan ia lalui sebagai Nyonya Valentinus.