"Di tengah kesibukan kehidupan SMA di Jakarta, Yuki dan kelompok teman terbaiknya menjalani petualangan yang mengubah hidup mereka dari merawat kakaknya yang sakit, menemukan cinta pertama, hingga membentuk tim untuk lomba bahasa asing nasional.
Dengan persahabatan sebagai dasar kuatnya, mereka menghadapi segala rintangan: perbedaan cara pandang, tantangan kompetisi, dan bahkan menemukan makna baru dalam persahabatan antar budaya. Awalnya hanya sekelompok teman biasa, kini mereka membuktikan bahwa kerja sama dan cinta bisa membawa mereka meraih kemenangan yang tak terduga termasuk kesempatan untuk menjelajahi dunia luar!"
"Siapakah mereka? Dan apa yang akan terjadi saat mereka melangkah keluar dari zona nyaman Jakarta untuk menjelajahi dunia yang lebih luas?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Kolim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 (S2)
Setelah beberapa minggu menjalani rutinitas pelajaran kelas 3, akhirnya datang waktu untuk kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) yang mereka tunggu-tunggu. Selain klub bahasa dan budaya internasional yang mereka dirikan, masing-masing juga ikut ekskul lain yang sesuai dengan hobinya.
Hari Kamis sore adalah hari ekskul di SMA Negeri 1 Jakarta. Mereka berkumpul di halaman sekolah sebelum berpisah ke tempat ekskul masing-masing. Hana sudah tidak sabar dan langsung menarik tangan Dina. "Ayo kita cepetan ke ekskul memasak aja! Kali ini pasti kita belajar bikin makanan baru!"
Ekskul memasak dipimpin oleh Bu Siti yang ternyata juga pandai memasak berbagai makanan. Hari ini mereka belajar membuat makanan khas Perancis yaitu croissant.
"Ada yang tahu bedanya croissant dengan roti biasa tidak?" tanya Bu Siti kepada peserta ekskul. Hana langsung mengangkat tangan dengan cepat. "Tahu Bu! Croissant nya bentuknya kayak bulan sabit dan teksturnya renyah banget! Selain itu, kalau dimakan bareng saus stroberi pasti lebih enak!"
Bu Siti tertawa dan mengangguk. "Benar sekali Hana! Tapi kita coba dulu bikin croissant nya ya sebelum mikirin saus nya!"
Saat proses membuat adonan, Hana malah salah tambah bahan dia kasih terlalu banyak mentega sehingga adonan nya jadi sangat lengket. "Waduh Bu, adonan nya kayak mau menyatu sama tanganku nih!" ucap Hana dengan panik tapi tetap tertawa. Dina langsung membantu membersihkan tangannya dan mereka mencoba membuat adonan baru bersama.
Meskipun awalnya kesusahan, akhirnya croissant yang mereka buat berhasil dan sangat renyah. Hana langsung mengambil satu dan memberikannya ke teman-teman ekskul lain. "Cobain ya! Ini hasil karya kami yang dibuat dengan cinta dan sedikit kesalahan!" ucap Hana dengan senyum lebar.
Setelah ekskul selesai, Hana membawa beberapa croissant untuk teman-teman nya. "Ini buat kalian semua! Cobain ya, hasil ekskul memasak kami!" ucapnya dengan bangga. Rio yang biasanya jarang makan makanan manis malah langsung suka. "Wah enak banget ya Hana! Kamu memang punya bakat besar di bidang memasak!"
Sementara itu, Rio mengikuti ekskul teknologi yang dipimpin oleh Pak Agus. Hari ini mereka belajar membuat aplikasi sederhana untuk membantu proses belajar mengajar di sekolah.
Rio sudah punya ide sendiri untuk membuat aplikasi yang bisa menghubungkan siswa dengan guru secara daring, lengkap dengan fitur kuis dan pembelajaran interaktif. Saat dia mempresentasikan ide nya di depan peserta ekskul, semua orang langsung terkesan.
"Ide nya sangat bagus Rio! Kalau aplikasi ini jadi nyata, pasti akan sangat membantu banyak siswa dan guru," ucap Pak Agus dengan bangga. Rio tersenyum dan mulai menjelaskan bagaimana cara kerja aplikasi nya.
Namun saat proses pembuatan, ada sedikit masalah dengan sistem database. Rio mencoba memperbaikinya sendiri tapi tidak berhasil. Tiba-tiba Kinta yang baru saja selesai dari ekskul olahraga datang menemani nya.
"Kenapa kamu kayak capek banget ya Rio? Ada masalah apa?" tanya Kinta dengan perhatian. Rio menjelaskan masalah yang dia hadapi, dan Kinta yang juga suka dengan teknologi memberikan ide yang sangat membantu. "Kalau kamu pakai sistem ini mungkin bisa jalan nih! Kita coba aja!"
Bersama-sama mereka berhasil memperbaiki masalah tersebut dan aplikasi nya bisa berjalan dengan baik. Rio merasa sangat senang dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih ya Kinta! Tanpa kamu aku mungkin masih bingung sampai sekarang!" ucap Rio dengan tulus.
Rina mengikuti ekskul seni rupa yang dipimpin oleh Pak Joko. Hari ini tema yang diberikan adalah "Cinta dan Persahabatan di Kota Jakarta".
Rina langsung terinspirasi oleh teman-teman nya dan hubungan Yuki dengan Kinta. Dia mulai membuat lukisan besar yang menggambarkan mereka semua berkumpul di halaman sekolah dengan latar belakang gedung pencakar langit Jakarta.
Saat sedang melukis, beberapa peserta ekskul lain datang melihat karyanya. "Wah cantik banget ya! Ini kamu gambar teman-teman mu sendiri kan?" tanya salah satu peserta. Rina mengangguk dengan bangga. "Ya dong! Mereka adalah inspirasi terbaik buat aku!"
Pak Joko datang melihat karyanya dan sangat terkesan. "Rina, karya mu sangat penuh emosi dan detail. Kamu benar-benar bisa menangkap makna dari tema yang diberikan. Kalau kamu lanjutkan seperti ini, pasti akan jadi seniman yang hebat!"
Setelah selesai melukis, Rina membawa karyanya ke ruang klub bahasa dan budaya internasional. Semua orang langsung terkejut dan memuji karyanya. "Wah Rina, ini sangat cantik! Kamu harus pajangin ini di acara kita nanti!" ucap Mei dengan kagum. Rina tersenyum dan berkata, "Tentu aja boleh! Ini buat semua dari kita!"
Kinta mengikuti ekskul olahraga khususnya bola voli. Hari ini mereka melakukan latihan bertanding dengan tim dari sekolah lain.
Sebelum mulai bertanding, Kinta mengajak Yuki yang sedang menunggu di sisi lapangan. "Yuki, kamu mau nonton aku bermain nggak? Bantu aku semangatin aja ya!" ucap Kinta dengan senyum manis. Yuki langsung mengangguk. "Tentu aja Kinta! Aku akan selalu dukung kamu!"
Saat pertandingan mulai, Kinta bermain dengan sangat baik dan membantu tim nya unggul di babak pertama. Tapi di babak kedua, dia sedikit kurang fokus karena sering melihat ke arah Yuki yang sedang memberi semangat. Akhirnya dia salah menyetak bola dan bola nya malah terbang keluar lapangan.
"Hahaha! Kamu fokus aja sama mainnya Kinta! Jangan fokus sama aku!" teriak Yuki dengan suara keras sehingga semua orang bisa mendengarnya. Kinta langsung jadi merah padam tapi juga tertawa. Dia kembali fokus dan akhirnya tim nya menang dengan skor yang cukup besar.
Setelah pertandingan selesai, Yuki langsung mendekati Kinta dengan membawa handuk dan air minum. "Kamu hebat banget tadi Kinta! Walaupun sedikit salah fokus aja," ucap Yuki dengan senyum nakal. Kinta mengambil tangannya dan berkata, "Itu karena kamu terlalu cantik jadi aku jadi kurang fokus deh!" Mereka berdua langsung tertawa dan saling melihat dengan mata penuh cinta.
Minggu berikutnya, sekolah mengadakan acara tahunan yaitu lomba tari dan musik antar kelas. Kelas 3 mereka langsung mendaftarkan diri dengan pertunjukan yang sangat spesial kombinasi tari tradisional Indonesia dan musik modern internasional.
Mereka mulai berlatih setiap sore setelah pelajaran selesai. Rina menjadi koreografer karena dia punya rasa seni yang baik, Mei membantu dengan pemilihan musik yang sesuai, Rio membuat efek pencahayaan digital, Hana dan Dina menangani kostum, sedangkan Yuki dan Kinta jadi pemain utama tari.
Saat proses latihan, banyak sekali kejadian lucu. Hana malah salah pakai kostum sehingga dia jadi kayak orang yang sedang pergi ke pesta adat tapi pakai sepatu olahraga. "Waduh, ini salah baju aja!" ucap Hana dengan canggung tapi tetap tertawa. Semua orang langsung membantu dia mengganti kostum yang benar.
Kinta juga sering salah langkah saat menari bareng Yuki. "Aduh, aku memang kurang bisa tari ya Yuki," ucap Kinta dengan malu. Yuki langsung memeluknya dan berkata, "Tidak apa-apa Kinta. Yang penting kita senang bareng aja kan?" Mereka berdua terus berlatih sampai bisa menari dengan sangat baik dan sinkron kayak sinetron.
Hari acara tiba, mereka siap dengan kostum yang sangat cantik dan musik yang sudah disiapkan dengan baik. Saat giliran mereka tampil, seluruh ruangan langsung menjadi riang. Tari yang mereka tampilkan sangat indah dan musik nya sangat menyenangkan. Bahkan beberapa guru juga ikut menari dari tempat duduk nya.
Akhirnya mereka mendapatkan juara pertama dengan nilai tertinggi. Ketua juri mengatakan, "Pertunjukan kalian sangat luar biasa! Kalian berhasil menggabungkan budaya lokal dengan internasional dengan sangat baik. Sangat layak untuk mendapatkan juara pertama!"
Mereka semua sangat senang dan saling berpelukan. Kinta langsung mengangkat Yuki dengan bahagia dan berputar-putar di atas panggung. "Kita menang Yuki! Kita menang!" teriak Kinta dengan penuh semangat. Yuki hanya bisa tertawa dan memeluk leher Kinta dengan erat.
Setelah acara selesai, mereka semua pergi ke kafe malam di kawasan Kemang untuk merayakan kemenangan mereka. Tempat itu cukup sepi dan memiliki suasana yang sangat romantis dengan lampu lilin yang menyala.
Mereka memesan makanan dan minuman kesukaan masing-masing. Hana langsung memesan semua makanan yang ada di menu. "Hari ini kita menang, jadi boleh aja makan banyak kan?" ucap Hana dengan senyum lebar yang bikin semua orang tertawa.
Saat sedang makan, Rio membuka laptop nya dan menunjukkan video dokumentasi pertunjukan mereka tadi. Semua orang melihatnya dengan penuh kebahagiaan dan mulai bercerita tentang momen-momen lucu saat latihan.
"Tahu nggak, waktu latihan pertama Kinta malah tersandung rok Yuki dan mereka berdua jatuh bareng!" ucap Mei dengan tertawa. Semua orang langsung melihat ke arah Kinta dan Yuki yang langsung jadi merah padam. "Itu kan karena aku terlalu fokus sama dia aja!" ucap Kinta dengan bercanda.
Setelah makan, mereka keluar ke teras kafe yang menghadap jalan raya Jakarta yang sudah mulai sepi. Kinta mengambil tangan Yuki dan membawa dia ke sudut teras yang lebih sunyi.
"Yuki, malam ini aku sangat bahagia. Bukan hanya karena kita menang lomba, tapi karena aku bisa menjalani semua ini bersamamu," ucap Kinta dengan suara lembut. Dia kemudian mengambil sebuah kotak kecil dari saku jas nya dan membukanya di dalam nya ada cincin perak dengan bentuk hati kecil.
"Ini bukan cincin tunangan ya," ucap Kinta dengan sedikit malu. "Tapi ini adalah simbol cinta dan janjiku padamu bahwa aku akan selalu ada di sisimu, tidak peduli apa yang terjadi. Aku cinta kamu Yuki."
Yuki menangis bahagia dan menerima cincin nya dengan senyum lebar. "Aku cinta kamu juga Kinta. Terima kasih sudah selalu ada untukku. Cincin ini sangat cantik dan aku akan selalu memakainya."
Mereka saling memeluk erat dan memberikan ciuman lembut di bibir masing-masing. Sementara itu, teman-teman mereka yang melihat dari kejauhan langsung bertepuk tangan dan bersorak senang. "Aduh, mereka benar-benar cocok banget ya!" ucap Hana dengan air mata bahagia. "Semoga mereka selalu bahagia bersama aja!" sambung Rina dengan mengangguk.
Mereka semua berkumpul lagi dan mulai menyanyi lagu kesukaan mereka bersama-sama. Suara mereka bergema di malam hari Jakarta yang damai, menandai akhir dari hari yang sangat spesial dan awal dari banyak momen indah yang akan datang.