NovelToon NovelToon
Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Ratu Layla ( Takhta Darah Di Atas Atlas )

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Barat
Popularitas:356
Nilai: 5
Nama Author: Anang Bws2

kisah tentang kekuasaan, pengorbanan, dan perjuangan seorang ratu di tengah dunia yang penuh dengan intrik politik dan kekuatan sihir serta makhluk mitologi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anang Bws2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Titah Baru dan Penaklukan Negeri Kecil

Suasana di aula kembali sunyi setelah penjelasan Penyihir Petir. Delta terdiam, merasa argumennya telah dipatahkan secara total di depan sang Ratu. Ratu Layla kembali menaiki tangga singgasananya, namun ia tidak langsung duduk. Ia berdiri membelakangi mereka, menatap peta besar Kerajaan Atlas dan wilayah sekitarnya yang terukir di dinding batu aula tersebut. Tangannya bergerak menyusuri garis-garis wilayah, mencari sesuatu yang bisa memuaskan dahaganya akan kekuatan.

"Aku tidak akan membiarkan Atlas tetap lemah hanya karena naga-nagaku telah mati," ucap Ratu Layla tanpa berbalik. "Jika kita tidak bisa menciptakan kekuatan baru dari kegelapan, maka kita akan mengambilnya dari mereka yang tidak layak memilikinya. Delta, kau begitu bersemangat untuk memimpin pasukan, maka aku akan memberimu tugas yang sesuai dengan kemampuanmu saat ini. Tidak ada lagi mimpi tentang Arkhne. Fokuslah pada sesuatu yang nyata."

Ratu Layla menunjuk pada sebuah wilayah kecil di perbatasan luar Atlas, sebuah negeri yang selama ini dianggap tidak penting namun memiliki sumber daya manusia dan mahluk-mahluk pekerja yang tangguh. "Negeri kecil itu... mereka telah hidup terlalu lama dalam kedamaian di bawah bayang-bayang kita tanpa memberikan upeti yang layak. Mereka memiliki populasi prajurit manusia yang disiplin dan ternak-ternak mahluk pengangkut beban yang bisa kita konversi menjadi mesin perang. Pergilah ke sana. Bawa sisa Minotaur dan Centaur yang masih bisa berjalan."

Mata Ratu Layla berkilat dengan kekejaman yang murni saat ia akhirnya berbalik menatap Delta. "Tundukkan mereka. Jangan tinggalkan satu pun batu berdiri jika mereka melawan. Ambil setiap prajurit yang sehat, pasangkan tanda budak Atlas pada leher mereka, dan bawa mereka kembali kepadaku sebagai bagian dari barisan baru kita. Aku ingin kau menunjukkan padaku bahwa kau masih bisa menjadi Panglima yang bisa membawakan kemenangan, bukan hanya seorang pemimpi yang membawa kabar duka. Pergilah sekarang, dan jangan kembali sebelum bau darah negeri itu tercium hingga ke gerbang istanaku."

Begitu kaki Panglima Delta melangkah keluar dari aula utama, suasana di dalam istana Atlas berubah menjadi hiruk-pikuk yang penuh ketegangan,Delta, dengan rahang yang mengeras dan kemarahan yang masih tersisa di dadanya karena teguran sang Ratu, segera menuju ke barak militer. Di sana, sisa-sisa pasukan Minotaur yang terluka dan para Centaur yang kelelahan dipaksa bangkit dengan pecutan kata-kata yang tajam.

Di sudut lain istana, Penyihir Petir telah bersiap dengan jubah hitamnya yang berkilat. Ia membawa botol-botol kaca berisi cairan pekat dan gulungan perkamen kuno yang memancarkan aura kegelapan,Panglima dan Penasehat, bertemu di gerbang bawah tanah yang menuju langsung ke dermaga militer tersembunyi milik kerajaan.

Minotaur-minotaur itu melangkah dengan berat, membuat kayu dek kapal berderak di bawah beban tubuh mereka, sementara para Centaur bergerak dengan gelisah, merasa tidak nyaman berada di atas permukaan air yang goyah.

Saat matahari mulai tenggelam, menciptakan bayangan panjang yang menyerupai jari-jari raksasa di atas permukaan air, armada kecil namun mematikan itu mulai bergerak meninggalkan pelabuhan. Angin dingin bertiup kencang, membawa aroma garam dan besi. Delta berdiri di anjungan kapal terdepan, matanya menatap lurus ke cakrawala yang gelap. Di sampingnya, Penyihir Petir mengangkat tongkatnya, memanggil angin sihir untuk mempercepat laju kapal mereka.

Setelah berhari-hari mengarungi lautan yang ganas, di mana ombak-ombak besar mencoba menghantam keberanian para prajurit yang tersisa, daratan akhirnya muncul di cakrawala. Negeri kecil itu tampak begitu tenang, seolah-olah mereka tidak tahu bahwa badai kehancuran sedang menuju ke arah mereka. Dari kejauhan, terlihat bangunan-bangunan yang teratur, ladang-ladang yang hijau, dan dermaga yang dipenuhi oleh kapal-kapal dagang kayu yang sederhana.

Kapal-kapal Atlas tidak menurunkan kecepatan. Dengan sihir dorongan dari Penyihir Petir, kapal-kapal itu membelah air dengan kecepatan yang tidak wajar. Begitu mereka mendekati garis pantai, kepanikan mulai melanda penduduk setempat. Lonceng peringatan berbunyi nyaring, memecah kesunyian pagi. Namun, peringatan itu sudah terlambat. Kapal-kapal besar itu menghantam dermaga dengan keras, menghancurkan perahu-perahu kecil di sekitarnya seperti mainan. Jangkar-jangkar raksasa dijatuhkan, dan jembatan kayu diturunkan dengan suara dentuman yang menggetarkan tanah.

Delta menghunus pedang besarnya, yang memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilatan yang mengancam. "Turunkan semua pasukan!" teriaknya, suaranya menggelegar mengalahkan suara deburan ombak. "Ingat perintah Ratu! Ambil yang berguna, hancurkan sisanya! Aku ingin negeri ini bertekuk lutut sebelum matahari mencapai puncaknya!" Pasukan Minotaur adalah yang pertama melompat ke daratan. Dengan sekali ayun, kapak-kapak besar mereka menghancurkan barikade darurat yang coba dibangun oleh para penjaga pelabuhan. Suara geraman mereka berpadu dengan jeritan ketakutan penduduk yang berlarian menyelamatkan diri.

Penyihir Petir turun dari kapal dengan langkah yang anggun, kakinya seolah tidak menyentuh tanah yang mulai kotor oleh debu dan kekacauan. Ia menatap ke arah pemukiman yang mulai terbakar dengan pandangan dingin.

Ia mulai merapalkan mantra dalam bahasa kuno yang membuat udara di sekelilingnya bergetar. Listrik statis mulai menyambar-nyambar di ujung tongkatnya,Tanpa memberikan kesempatan bagi tentara negeri tersebut untuk mengorganisir pertahanan, Penyihir Petir mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi ke langit yang mulai tertutup awan gelap buatannya. Dari ujung tongkat itu, bukan petir yang keluar, melainkan gumpalan asap tebal berwarna ungu kehitaman yang menjalar dengan sangat cepat. Asap itu bukan sekadar kabut biasa; itu adalah sihir beracun yang dirancang untuk melumpuhkan kesadaran manusia tanpa membunuh mereka secara langsung. Asap tersebut merayap masuk ke setiap celah rumah, lorong-lorong sempit, dan barak-barak militer, membuat siapa pun yang menghirupnya langsung terjatuh lemas dengan paru-paru yang terasa terbakar namun tidak mampu berteriak.

"Sekarang, Delta! Ambil mereka semua!" perintah Penyihir Petir dengan nada datar. Delta tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia memimpin pasukan Minotaur dan Centaur masuk ke tengah pemukiman yang kini telah diselimuti asap beracun. Para prajurit Atlas bergerak dengan efisiensi yang mengerikan. Mereka tidak lagi bertempur, melainkan memanen. Para tentara negeri itu yang sedang tergeletak lemas diseret keluar, tangan mereka diikat dengan rantai besi yang telah disiapkan. Para pemuda dan pekerja yang memiliki fisik kuat dipisahkan dari keluarga mereka, dipaksa berdiri dalam barisan panjang yang menyedihkan.

Suara tangisan pecah di mana-mana, namun para Minotaur tidak peduli. Dengan kekuatan fisik mereka yang luar biasa, satu Minotaur bisa menyeret lima hingga sepuluh manusia sekaligus. Mereka yang mencoba melawan atau terlalu lemah untuk berjalan langsung dihabisi di tempat sebagai peringatan bagi yang lain. Delta berjalan di antara barisan budak baru itu, sesekali memukul mereka yang dianggapnya terlalu lambat. Ia merasa kekuatannya kembali pulih saat melihat ribuan orang kini berada di bawah kendalinya.Ini adalah barisan mesin perang baru yang akan dipersembahkan kepada Ratu Layla.

Hanya dalam waktu beberapa jam, negeri yang dulunya hidup itu kini menjadi kota hantu yang sunyi, hanya menyisakan jejak kaki dan darah di tanah. Semua sumber daya yang berharga dijarah, dan ribuan orang—baik tentara maupun warga sipil yang kuat—telah digiring menuju kapal-kapal Atlas. Penyihir Petir menutup mantranya, membiarkan sisa asap menghilang dan menunjukkan kehancuran total yang telah mereka ciptakan. Mereka kembali ke pelabuhan dengan rampasan yang melimpah, meninggalkan sebuah negeri yang telah kehilangan masa depannya dalam satu tarikan napas sihir Atlas.

Setibanya di pelabuhan bawah tanah istana Atlas, proses penurunan budak dan tentara baru segera dilakukan. Ribuan orang digiring keluar dari kapal dengan kasar, berjalan tertatih-tatih menuju aula besar di mana Ratu Layla sudah menunggu. Ratu berdiri di puncak tangga singgasananya, mengenakan jubah kebesarannya yang berwarna hitam pekat. Saat ia melihat ribuan orang yang berlutut di bawahnya, sebuah senyum kemenangan mengembang di wajahnya yang pucat. "Luar biasa," gumamnya, suaranya terdengar merdu namun mengandung racun. "Atlas tidak akan pernah kekurangan tangan untuk bekerja dan tubuh untuk dikorbankan."

Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama. Ratu Layla turun beberapa langkah, mendekati barisan terdepan dari tentara hasil tangkapan tersebut. Ia mengamati mereka dengan teliti, menyentuh wajah salah satu tentara yang gemetar ketakutan. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh kerutan di dahi yang menandakan kemarahan yang mulai tumbuh. Ia berbalik menatap Delta yang berdiri dengan bangga di samping barisan itu. "Delta... jelaskan padaku apa yang sedang kulihat ini," ujar Ratu dengan nada yang tiba-tiba menjadi sangat rendah dan berbahaya.

Delta tampak bingung. "Ini adalah tentara-tentara terbaik mereka, Ratuku. Mereka disiplin dan terlatih dalam teknik bertahan..." Ratu Layla memotong perkataan Delta dengan sebuah tamparan yang menggema ke seluruh ruangan. "Bodoh!" teriaknya. "Aku meminta mesin perang, bukan pengecut yang gemetar hanya karena melihat bayanganku! Lihatlah mereka! Tulang-tulang mereka lemah, kulit mereka tipis, dan yang paling memuakkan, mereka memiliki mata yang penuh dengan keraguan. Bagaimana kau mengharapkan mahluk-mahluk ini menggantikan naga-nagaku? Mereka bahkan tidak akan bisa menahan satu hantaman kapak dari musuh kita!"

Ratu Layla berjalan mondar-mandir di depan barisan manusia itu dengan wajah yang tampak sangat muram.

Kemarahan Ratu Layla mencapai puncaknya saat ia melihat salah satu tawanan menangis tersedu-sedu sambil memohon ampun. Ia berhenti tepat di depan Delta dan Penyihir Petir, matanya berkilat dengan kebencian yang murni. "Aku tidak punya waktu untuk melatih sampah-sampah ini menjadi prajurit," desis Ratu Layla,

Ia menunjuk ke arah pintu besi besar yang menuju ke ruang penyimpanan bawah tanah yang lembap dan gelap. "Masukkan mereka semua ke dalam gudang! Aku tidak ingin melihat wajah-wajah menyedihkan ini di aula utamaku lagi. Beri mereka rantai yang lebih berat agar mereka tidak punya energi untuk menangis." Ratu Layla kemudian melirik ke arah langit-langit aula, di mana suara kepakan sayap dari beberapa ekor Griffon yang masih tersisa terdengar dari menara pengawas. Sebuah ide yang sangat kejam muncul di benaknya, membuat bibirnya melengkung menjadi seringai yang mengerikan.

"Dan jika gudang itu sudah penuh dan tidak muat lagi untuk menampung sampah-sampah ini..." Ratu berhenti sejenak, menatap Delta dengan pandangan yang membuat Panglima itu menggigil. "Berikan sisanya kepada para Griffon. Mahluk-mahluk itu sudah lama tidak merasakan daging segar sejak perang terakhir. Biarkan mereka berpesta siang ini. Setidaknya, manusia-manusia lemah ini bisa berguna untuk mengisi perut hewan peliharaanku daripada menjadi beban di barisan pasukanku."

Setelah mengucapkan kalimat yang sangat mengerikan itu, Ratu Layla berbalik dan berjalan kembali ke singgasananya tanpa menoleh sedikit pun. Ia meninggalkan Delta yang terpaku dalam keterkejutan dan Penyihir Petir yang hanya mengangguk pelan seolah setuju dengan keputusan tersebut. Para penjaga segera menyeret ribuan orang itu dengan lebih kasar. Suara teriakan histeris para tawanan yang menyadari nasib mereka memenuhi udara, namun bagi Ratu Layla, itu hanyalah kebisingan latar belakang dari kekuasaannya yang tak tergoyahkan.

1
Anang Anang
seru
Dini
sungguh mengerikan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!