Dicampakkan demi masa depan! Arya tidak menyangka hubungan tiga tahunnya dengan Tiara berakhir tepat di gerbang kampus. Namun, saat Arya tenggelam dalam luka, ia tidak sadar bahwa selama ini ada sepasang mata yang terus mengawasinya dengan penuh gairah.
Arini Wijaya, CEO cantik berusia 36 tahun sekaligus ibu dari Tiara, telah memendam rasa selama sepuluh tahun pada pemuda yang pernah menyelamatkan nyawanya itu. Baginya, kegagalan cinta putrinya adalah kesempatan emas yang sudah lama ia nantikan.
"Jika putriku tidak bisa menghargaimu, maka biarkan 'Mbak' yang memilikimu seutuhnya."
Mampukah Arya menerima cinta dari wanita yang seharusnya ia panggil 'Ibu'? Dan apa yang terjadi saat Tiara menyadari bahwa mantan kekasihnya kini menjadi calon ayah tirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Ibu Tania baru saja tiba di rumah setelah bepergian, ketika dia melihat putrinya, Indah Atmajaya, turun tangga sambil menarik sebuah koper besar.
Dia bertanya dengan penasaran: "Indah, kamu mau pergi liburan ke mana?"
"Tidak, Bu, bukan liburan. Aku mau pergi mencari Mas Arya."
Kata-kata Indah Atmajaya ini membuat Ibu Tania segera menahannya. "Sayangku, kamu tidak berniat kawin lari dengan Arya Wiratama, kan? Ayah dan Ibu memang tidak melarangmu mengejar Arya, tapi apa harus sejauh itu sampai bawa koper segala?"
"Ibu bicara apa sih. Siapa juga yang mau kawin lari. Aduh, Ibu jangan ikut campur dulu, aku sedang terburu-buru!" Sambil berkata demikian, dia melepaskan diri, bergegas keluar, menyalakan mobilnya, dan melesat pergi meninggalkan kompleks perumahan elit tersebut.
Indah Atmajaya tiba di Hotel Sunlan Semarang dan bertanya di meja resepsionis tentang lokasi kamar 888. Mendengar Indah Atmajaya ingin ke kamar 888—yang merupakan Presidential Suite terbaik dan dikabarkan sedang ditinggali oleh sang pemilik hotel—resepsionis segera menelepon Ibu Maya untuk meminta instruksi.
Ibu Maya telah menerima pesan dari Arya sebelumnya, maka dia menyuruh resepsionis untuk membukakan lift khusus.
Indah Atmajaya naik lift menuju pintu kamar, lalu mengetuknya. Arya Wiratama yang dalam kondisi setengah mabuk membuka pintu. Melihat wajah cantik dan tubuh indah di depan matanya, dia tidak bisa lagi menahan gejolak di hatinya. Dia langsung menarik Indah Atmajaya, menggendongnya ala princess, dan membawanya masuk ke kamar. Tak lama kemudian, terjadilah pergulatan cinta yang sangat panas di dalam kamar tersebut.
Suara itu terus berlangsung hingga lewat pukul empat sore baru mereda.
Di dalam kamar, Indah Atmajaya bersandar di pelukan Arya sambil terengah-engah: "Mas Arya, akhirnya aku resmi menjadi wanitamu."
Arya mengelus punggung mulus Indah Atmajaya dengan lembut dan berkata dengan nada menyesal. "Indah, maafkan aku."
Indah Atmajaya menutup bibir Arya dengan jarinya, lalu berbisik: "Mas tidak salah, ini semua kemauanku sendiri. Aku sangat senang Mas menginginkanku, itu artinya aku masih punya tempat di hatimu." Setelah bicara, dia memukul dada Arya dengan pelan. "Tapi Mas terlalu bertenaga. Ini kan yang pertama bagiku, harusnya Mas lebih lembut sedikit. Mas melakukannya sampai lima kali tanpa jeda."
Arya berkata dengan bangga: "Ini belum apa-apa. Kalau bukan karena memikirkan ini yang pertama bagimu, lebih dari itu pun aku masih sanggup."
Indah Atmajaya tersentak kaget, membayangkan kekuatan fisik Arya yang luar biasa. "Oh iya, Mas Arya, apakah Mas sedang ada masalah pikiran?"
"Kamu bisa melihatnya?" Arya kemudian menceritakan kejadian kencan buta Arini siang tadi.
Indah Atmajaya mendengarkan dengan serius, lalu berkata dengan nada gemas: "Mas Arya, kamu ini bodoh ya! Mbak Arini sangat mencintaimu, mana mungkin dia melakukan hal seperti itu. Coba pikirkan baik-baik, Mbak Arini pasti dipaksa ibunya pergi ke sana. Lagi pula, kalau dia mau pria lain, buat apa dia minta kamu ambil Kartu Keluarga buat nikah besok? Coba ingat lagi bagaimana perlakuan Mbak Arini padamu selama ini. Soal dia bohong di pesan, itu pasti karena dia takut kamu marah, hanya saja takdir sedang mempermainkan kalian."
Setelah mengobrol dengan Indah Atmajaya, Arya mulai tenang dan menyadari bahwa dia telah salah menyangka Arini Wijaya. Dia berpikir bahwa saat ini Arini pasti sedang sangat sedih. Dia segera bangun untuk mengambil ponselnya.
Namun Indah Atmajaya menahannya. Arya menatapnya bingung. "Ada apa?"
Indah Atmajaya menyentuh hidung Arya. "Memangnya Mas mau menyuruh Mbak Arini datang ke sini dalam kondisi kamar berantakan begini? Penuh baju sobek dan stoking di mana-mana?"
Arya menggaruk kepalanya malu. "Sebenarnya Arini memintaku mencari simpanan karena dia kewalahan melayaniku. Dia bahkan sempat berniat menjebak sekretarisnya sendiri ke tempat tidurku."
Indah Atmajaya terkejut, namun memikirkan kemesraan mereka barusan, dia sangat setuju dengan pemikiran Arini. "Mas Arya, soal hubungan kita sebaiknya biarkan Mbak Arini tahu secara perlahan saja."
"Baiklah kalau begitu, lalu kamu bagaimana?"
"Tidak apa-apa, Mas buka saja kamar baru untukku. Aku akan bersih-bersih sebentar lalu pulang. Bisa menemani Mas sepanjang sore ini saja aku sudah sangat bahagia."
Arya akhirnya bangun dan berpakaian, lalu meminta Ibu Maya menyiapkan satu lagi kamar Presidential Suite untuk Indah Atmajaya beristirahat sebelum pulang.
Di rumah keluarga Wijaya, Arini duduk di sofa sambil bercucuran air mata menceritakan pertemuannya dengan Arya. Dia juga memberitahu orang tuanya bahwa Arya Wiratama adalah CEO Mulyono Group dan pemilik Hotel Sunlan, serta niat Arya untuk menyerahkan pengelolaan Mulyono kepadanya.
Pak Wijaya dan Ibu Linawati sangat terkejut. Arya yang masih begitu muda sudah memiliki kekayaan triliunan; kemampuannya pasti luar biasa. Di mana lagi bisa mencari menantu sehebat ini?
Ibu Linawati merasa sangat menyesal. "Arini, ini salah Ibu. Ibu sudah melakukan hal konyol hari ini. Ibu minta maaf."
Arini menggeleng: "Sebenarnya Ibu tidak salah, ini salahku karena merahasiakan hubungan kami. Kalau aku jujur dari awal, ini tidak akan terjadi."
Pak Wijaya bertanya: "Nduk, Arya itu tahun ini baru 26 tahun, kan? Kamu sepuluh tahun lebih tua darinya, apakah keluarganya setuju? Apalagi melahirkan di usiamu itu berisiko."
"Pak, hari ini dia pulang ke Kendal ambil KK dan sudah lapor orang tuanya. Mereka setuju, aku bahkan sudah video call dengan ibunya dan beliau sudah memberiku uang tanda resmi sebagai menantu."
Ibu Linawati gembira: "Benarkah? Bagus kalau begitu. Hanya saja soal anak itu..."
"Bu, soal punya anak itu bukan masalah. Coba Ibu lihat aku, apa ada yang berbeda?"
Mendengar itu, Ibu Linawati memperhatikan Arini dengan saksama. "Eh, Arini, kulitmu jadi jauh lebih bagus, kencang sekali. Kamu terlihat seperti lebih muda sepuluh tahun, kok bisa?"
Arini berkata bangga: "Ini rahasia, Pak, Bu. Perubahanku karena aku memakan satu 'Pil Panjang Umur' pemberian Arya Wiratama. Khasiatnya luar biasa; memperbaiki fisik dan membuat awet muda selamanya. Kondisi fisikku sekarang sama seperti wanita usia 20-an."
Pasangan itu takjub. Linawati yang ingin cantik selamanya langsung bertanya: "Apa Arya masih punya pil itu?"
"Saat ini habis karena sudah kami makan berdua. Tapi Arya bilang nanti akan ada lagi, dan orang tua kami pasti akan mendapatkannya."
"Benarkah?" Mendengar itu, kedua orang tua itu sangat gembira. Terutama Ibu Linawati yang menyatakan tegas: "Menantu ini sudah Ibu restui! Siapa pun yang tidak setuju, berhadapan dengan Ibu!" Dia melirik suaminya.
Pak Jaya mengangguk pasrah. "Aku juga tidak akan menolak. Siapa pun yang berani merebut menantu hebatku ini, akan berurusan denganku."
Tepat saat itu, ponsel Arini tiba-tiba berdering nyaring.