NovelToon NovelToon
Elizabeth Vale

Elizabeth Vale

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Action / Cinta Terlarang / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.

Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EV — BAB 06

LUKA YANG TERTUTUP

Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Elizabeth.

Langkahnya pelan, hampir tanpa suara, seolah tubuhnya masih ragu apakah ia benar-benar diizinkan keluar. Pipi kirinya memar jelas, warna kemerahan bercampur kebiruan. Sudut bibirnya pecah, bekas darah mengering tipis di kulit pucatnya. Rambutnya masih terurai, sedikit berantakan—tak ada sanggul rapi, tak ada bedak, tak ada usaha menyamarkan apa pun.

Ia bahkan belum sempat berpikir ke arah itu.

Yang ada di kepalanya hanya satu: menjauh dari kamar itu.

Lorong mansion Holloway terasa dingin. Para pelayan menunduk saat melihatnya, langkah mereka dipercepat, tatapan dihindarkan. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menolong.

Elizabeth sampai di ruang makan kecil—ruang semi-pribadi tempat keluarga Holloway biasa menikmati teh pagi.

Esperance sudah duduk di sana, anggun seperti biasa, mengenakan gaun rumah gelap dengan bros mutiara di dada. Soraya duduk di seberangnya, kaki bersilang, sedang menuang teh dengan gerakan tenang.

Cangkir berhenti di udara saat Soraya mendongak.

“Oh.” Satu kata. Datar. Pendek.

Tatapan Soraya jatuh langsung ke wajah Elizabeth—tepat ke memar yang tak tersembunyi. Bukan terkejut. Bukan khawatir. Lebih seperti… menilai.

Esperance menoleh menyusul. Dan hening pun jatuh. Beberapa detik berlalu sebelum Esperance berbicara, suaranya tetap lembut, hampir keibuan.

“Kau keluar kamar dalam keadaan seperti itu?”

Elizabeth berhenti melangkah. Tangannya mencengkeram ujung gaun tidurnya. “Aku… hanya ingin mencari udara.”

Soraya tersenyum tipis, meletakkan cangkirnya. “Udara, atau perhatian?”

Elizabeth tersentak. “Bukan—”

“Duduklah,” potong Esperance pelan, namun tak terbantahkan.

Elizabeth menurut. Ia duduk di ujung kursi, punggungnya tegang, bahunya sedikit turun—posisi seseorang yang belum sepenuhnya sadar ia sedang diadili.

Esperance mengamati wajah menantunya lebih dekat kini. Tatapannya tajam, dingin, namun tetap dibingkai senyum tipis yang sopan. “Luis terlalu keras bukan,” katanya ringan, seolah membicarakan cuaca.

Elizabeth menunduk, lalu berkernyit kening. Tidak menjawab.

Soraya menghela napas kecil. “Kau seharusnya tahu bagaimana menghadapi pria seperti adikku.”

“Itu hal yang mendadak.” Elizabeth menelan ludah. Ucapannya berhasil membuat Esperance dan Soraya menatapnya tajam.

“Aku tidak bermaksud membuat masalah.” lanjutnya.

“Masalah bukan soal niat,” sahut Esperance. Ia bangkit, melangkah mendekat. “Masalah adalah hasil.”

Tanpa meminta izin, Esperance meraih tangan Elizabeth. Bukan dengan kasar—justru terlalu tenang. Ia membalik telapak tangan itu, menelitinya seperti seorang bangsawan menilai perhiasan.

“Tanganmu,” gumamnya. “Masih terlalu bersih.”

Elizabeth membeku dan hanya menatap nya.

“Tangan seorang menantu Holloway seharusnya lebih berguna,” lanjut Esperance sambil tersenyum miring. “Mandiri. Terbiasa bekerja. Dapur bukan tempat yang hina.”

Soraya menyahut santai, “Pelayan tidak sepenuhnya bertugas di dapur, Elizabeth. Terutama untuk masakan keluarga. Itu tanggung jawab perempuan rumah.”

Esperance mengangguk setuju, masih memegang tangan Elizabeth. “Dan tanganmu,” katanya pelan, “cocok untuk itu.”

Elizabeth menarik tangannya perlahan, jari-jarinya gemetar. “Aku bisa belajar,” ucapnya lirih. “Aku tidak keberatan.”

“Bagus,” kata Esperance. Lalu, pandangannya naik kembali ke wajah Elizabeth—ke pipi yang memar, ke bibir yang pecah.

Senyumnya memudar sedikit.

“Tapi sebelum itu,” katanya dingin, “kau harus menutup luka itu. Aku tidak suka melihatnya.”

Elizabeth refleks menyentuh pipinya. Baru saat itu ia seperti benar-benar menyadari kondisinya. Rasa perih kembali naik, bercampur panas di dada.

“Ini… hanya sementara,” katanya pelan.

“Tidak ada yang sementara jika orang luar melihatnya,” jawab Soraya cepat. “Nama Holloway tidak boleh tercemar.”

Esperance mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah namun jelas. “Apa pun yang terjadi di dalam rumah ini adalah urusan kita. Bukan dunia.”

Elizabeth mengangguk pelan. “Aku mengerti.”

“Kau harus,” balas Esperance. “Karena jika tidak—” Ia berhenti, membiarkan kalimat itu menggantung.

Soraya tersenyum tipis. “Dan satu hal lagi, Elizabeth. Jangan pernah keluar kamar dalam keadaan seperti ini lagi.”

Elizabeth menunduk lebih dalam. “Hm.”

Esperance kembali ke kursinya, mengambil cangkir teh, seolah pembicaraan barusan tidak lebih dari teguran ringan.

“Sekarang pergilah,” katanya santai. “Bersihkan dirimu. Setelah itu, dapur menunggumu.”

Elizabeth berdiri. Langkahnya pelan saat meninggalkan ruangan. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang peduli.

Di lorong itu, untuk pertama kalinya sejak pukulan semalam, ia memahami satu kebenaran pahit: Di rumah Holloway,

luka bukan untuk disembuhkan—

luka hanya harus disembunyikan.

Dia berjalan disetiap lorong Mansion Holloway, memperhatikan bagaimana pelayan berperilaku dan bagaimana keheningan dirumah itu semakin memperjelas semuanya.

Ia menghentikan langkahnya saat melewati ruang tengah. Ruang keluarga yang hening dan dingin.

“Siapapun dilarang masuk, Nyonya. Sebaiknya Anda jangan masuk.” Kata salah seorang pelayan yang masih menunduk takut.

Eliza terdiam, menatap ke dalam ruangan lewat pintu kaca yang tembus pandang. Ia bisa melihat sebuah bingkai foto besar terpajang tepat di tengah dinding ruangan yang gelap. Ia menyipitkan matanya saat melihat foto tersebut, sebuah foto keluarga namun hanya satu wajah yang dia lihat— sosok pria tampan, dengan mata tajam dan rahang yang tegas tanpa senyuman.

Tak ingin berlama-lama, Elizabeth berjalan menjauh dan kembali ke kamarnya.

Ia bersiap, duduk di depan meja rias sambil memakai foundation serta bedak yang menutupi lukanya. -‘Rasanya aneh, dan sangat berat.’ Batin Eliza yang hanya bisa pasrah.

Sementara di ruang VIP PUB. Terlihat Luis yang tengah menikmati vodka nya bersama dua klien yang baru saja menyelesaikan meeting kerjasama.

Seorang pelayan cantik juga menemani mereka, namun hanya ada satu pelayan di sana, dan itu sudah cukup. “Anda ingin vodka lagi, Tuan?”

Salah satu pria yang ditawari minuman tadi hanya mengangkat tangannya beberapa detik, tanda bahwa dia menolak.

“Sudah pernah bertemu Nathaniel Vale?” tanya pria paruh baya yang kini menatap Luis dengan serius.

“Itu tidak penting.” Jawab Luis dengan malas.

“Aku dengar kalian memiliki ikatan— ”

“Tidak ada ikatan yang kau maksud, Mr. Hanry. Dia hanya saingan bagiku, dan sama seperti saingan ku yang lainnya.” Jelas Luis menatap tajam lalu kembali lurus seraya meneguk minumannya.

Sementara pria bernama Hanry dan pria satunya tadi, hanya saling memandang.

“Ya, itu cukup bagus. Aku juga tidak menyukainya, dia sangat sombong dan ambisius. Cukup susah meruntuhkannya.” Ujar Hanry yang ikut meneguk minumannya.

“Tapi putrimu sangat menyukainya!” kata pria satunya yang menyeringai kecil. “Tapi... Berbicara soal putri— bukankah Anda menikah dengan putri dari Samuel Taylor? Sebenarnya, aku memiliki jadwal membahas soal bisnis, tapi entah kenapa mereka tidak bisa dihubungi. Apa anda tahu sesuatu?”

Tatapan Luis menajam bak silet. Ia terdiam dan membuat ruangan tadi hening detik itu juga.

Gelas kristal begitu diremas kuat oleh Luis seolah dia sedang menahan— benar-benar menahan amarahnya akan pertanyaan tersebut.

“Anda mau vodka— ”

Bruak!! Bruakk! Bruakk!

Seketika Luis memukul pelayan cantik tadi menggunakan gelas yang dia remas selama tiga kali pukulan sampai wanita itu berteriak sakit dan pingsan. Tentu, kedua pria tadi terkejut, mereka tahu akan kegilaan dan kebrutalan Luis Holloway jika marah.

“Maaf, kau bertanya soal keluargaku, dan aku kurang nyaman. Tapi mereka pergi meninggalkan Birmingham.” Kata Luis dengan nada santai lalu mengelap darah di tangannya ke jas pria yang melontarkan pertanyaan tadi, sebelum akhirnya Luis melenggang pergi.

Tentu, Luis segera masuk ke dalam mobilnya dengan amarah yang masih meluap. “Habisi pelayan itu dan hilangkan jejaknya.” Pinta Luis kepada anak buahnya dari arah jendela.

“Fuck..”

(“Ambil saja. Anggap saja semua itu pemberian cuma-cuma dari keluarga Vale! Dan enyalah dari hadapanku atau ku bunuh ibu dan kakakmu juga.”)

Luis menyeringai kecil mengingat kata-kata sialan itu dari mulut pria bernama Nathaniel Vale. Ia mengeluarkan rokok dan menyumatnya, menghisap dengan tenang sampai asap rokok membantu sedikit merilekskan pikirannya.

1
Nur Haswina
sangat di sayangkan demi ambisinya rela mengorbankan org yg tidak bersalah, semoga saja Luis secepatnya menyadari klau dia hanya di jadikan alat balas dendam ibu gilanya
Four.: semoga aja /Sweat/
total 1 replies
Tiara Bella
ya Allah Carlitos skrng yg meregang nyawa..... Esperance bener² bunuh semua orng....
Four.: ho,oh hati² ya datang ke rumahmu /Chuckle/
total 1 replies
Kinara Widya
jangan meninggal kak Carlitos...kasian kim...belum juga bersatu keluarga mereka..
Four.: yaaaa mau bagaimana lagi /Cry//Sweat/
total 1 replies
sleepyhead
Vale said : Oooowwh gosh she's driving me crazy
Four.: gila cinta gpp kali yaaa 😁
total 1 replies
Jelita S
semoga Soraya menjadi penyelamat keluarga Vale dan Holloway dari salah paham ini semua
Four.: semoga saja.
total 1 replies
Kinara Widya
bener2 wanita biadap esperanse...
Four.: mohon bersabar 😁
total 1 replies
vnablu
gilaa nih ibu macam apa mau anaknya sendiri dibunuh.. berrti Esperance ini kakaknya ibu Nathaniel ..dia menjadikan orang lain untuk jadi kambing hitam nya padahal dia yang bunuh suaminya sendiri benar' ambisi 😤😤
Four.: ho,oh
total 1 replies
Tiara Bella
Soraya akhirnya tw kebenaran nya....betapa sedihnya dia....
Four.: ho, oh
total 3 replies
sagi🏹
uhui Vale diam² kamu mulai menyimpan perasaan pada Eliza lanjutkan Vale aku dukung,,tapi ambigu banget saat Vale mengatakan Eliza kesayanganku 🥴
Four.: yaudah nanti bilang gini aja si Vale. Eliza cintaku 😁😅
total 1 replies
Hennyy Handriani
padahal bab ini menegangkan...tapi karena ada cili jadi ngakak🤣
Four.: biar gak tegang² terlalu 😁😌
total 1 replies
Eci Rahmayati
kasian cili kalo bebas di GK bisa nguping lagi untuk selamanya 🤭
Four.: iyakan, dia juga mikir begitu lohh😅
total 1 replies
vnablu
bingung dehhh kalo di keluarin bisa metongg kalo tetep di sana salah .. jdinya serba salah nihh🤣🤣
Four.: iya nih, authornya jadi ikut bersalah nih
total 1 replies
Kinara Widya
jangan bebasin Soraya Vale...dengarkan penjelasan Eliza.
Four.: ho,oh
total 1 replies
vnablu
mulai tumbuh nih benih" cinta di hati tuan Vale kayaknya 😄😄
Four.: tapi masih terhalang sesuatu uyyy/Grimace/
total 1 replies
vnablu
kira" nanti Soraya berpihak kepada siapa yaa ...🤔
Four.: yaaa semoga saja dia tidak membelot
total 1 replies
Jelita S
Eliza adalah orang baik,,biarkan Soraya tetap hidup y thor
Four.: kalau Soraya hidup, berarti Cili atau yang lainnya bisa tewas kapan saja lohhh /Chuckle/
total 1 replies
Tiara Bella
mudah²an Vale ngizinin ya....
Four.: semoga aja, tapi harus bertengkar dulu 😌
total 1 replies
Tiara Bella
bebasin Soraya sm Cili kah Eliza....
Four.: mungkin sih
total 1 replies
Kinara Widya
apa yang akan d lakukan eliza
Four.: apa yaaaa
total 1 replies
Eci Rahmayati
wanita gila😔
Four.: ho, oh asal jangan aku yang gila 😌
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!