Ketika luka fisik ditutup oleh foundation.
Elizabeth Taylor menikah dengan Luis Holloway demi keluarganya, tanpa tahu bahwa pernikahan itu adalah awal dari neraka. Ketika kebenaran tentang suaminya terungkap, Elizabeth meminta bantuan Nathaniel Vale untuk lepas dari jerat Luis—tanpa menyadari bahwa pria itu juga menyimpan dendam yang sama berbahayanya, yang seharusnya dijauhi malah berakhir di ranjang panas dan perjanjian yang adil namun menusuk.
°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧◝(⁰▿⁰)◜✧
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EV — BAB 06
LUKA YANG TERTUTUP
Pintu kamar tertutup perlahan di belakang Elizabeth.
Langkahnya pelan, hampir tanpa suara, seolah tubuhnya masih ragu apakah ia benar-benar diizinkan keluar. Pipi kirinya memar jelas, warna kemerahan bercampur kebiruan. Sudut bibirnya pecah, bekas darah mengering tipis di kulit pucatnya. Rambutnya masih terurai, sedikit berantakan—tak ada sanggul rapi, tak ada bedak, tak ada usaha menyamarkan apa pun.
Ia bahkan belum sempat berpikir ke arah itu.
Yang ada di kepalanya hanya satu: menjauh dari kamar itu.
Lorong mansion Holloway terasa dingin. Para pelayan menunduk saat melihatnya, langkah mereka dipercepat, tatapan dihindarkan. Tidak ada yang bertanya. Tidak ada yang menolong.
Elizabeth sampai di ruang makan kecil—ruang semi-pribadi tempat keluarga Holloway biasa menikmati teh pagi.
Esperance sudah duduk di sana, anggun seperti biasa, mengenakan gaun rumah gelap dengan bros mutiara di dada. Soraya duduk di seberangnya, kaki bersilang, sedang menuang teh dengan gerakan tenang.
Cangkir berhenti di udara saat Soraya mendongak.
“Oh.” Satu kata. Datar. Pendek.
Tatapan Soraya jatuh langsung ke wajah Elizabeth—tepat ke memar yang tak tersembunyi. Bukan terkejut. Bukan khawatir. Lebih seperti… menilai.
Esperance menoleh menyusul. Dan hening pun jatuh. Beberapa detik berlalu sebelum Esperance berbicara, suaranya tetap lembut, hampir keibuan.
“Kau keluar kamar dalam keadaan seperti itu?”
Elizabeth berhenti melangkah. Tangannya mencengkeram ujung gaun tidurnya. “Aku… hanya ingin mencari udara.”
Soraya tersenyum tipis, meletakkan cangkirnya. “Udara, atau perhatian?”
Elizabeth tersentak. “Bukan—”
“Duduklah,” potong Esperance pelan, namun tak terbantahkan.
Elizabeth menurut. Ia duduk di ujung kursi, punggungnya tegang, bahunya sedikit turun—posisi seseorang yang belum sepenuhnya sadar ia sedang diadili.
Esperance mengamati wajah menantunya lebih dekat kini. Tatapannya tajam, dingin, namun tetap dibingkai senyum tipis yang sopan. “Luis terlalu keras bukan,” katanya ringan, seolah membicarakan cuaca.
Elizabeth menunduk, lalu berkernyit kening. Tidak menjawab.
Soraya menghela napas kecil. “Kau seharusnya tahu bagaimana menghadapi pria seperti adikku.”
“Itu hal yang mendadak.” Elizabeth menelan ludah. Ucapannya berhasil membuat Esperance dan Soraya menatapnya tajam.
“Aku tidak bermaksud membuat masalah.” lanjutnya.
“Masalah bukan soal niat,” sahut Esperance. Ia bangkit, melangkah mendekat. “Masalah adalah hasil.”
Tanpa meminta izin, Esperance meraih tangan Elizabeth. Bukan dengan kasar—justru terlalu tenang. Ia membalik telapak tangan itu, menelitinya seperti seorang bangsawan menilai perhiasan.
“Tanganmu,” gumamnya. “Masih terlalu bersih.”
Elizabeth membeku dan hanya menatap nya.
“Tangan seorang menantu Holloway seharusnya lebih berguna,” lanjut Esperance sambil tersenyum miring. “Mandiri. Terbiasa bekerja. Dapur bukan tempat yang hina.”
Soraya menyahut santai, “Pelayan tidak sepenuhnya bertugas di dapur, Elizabeth. Terutama untuk masakan keluarga. Itu tanggung jawab perempuan rumah.”
Esperance mengangguk setuju, masih memegang tangan Elizabeth. “Dan tanganmu,” katanya pelan, “cocok untuk itu.”
Elizabeth menarik tangannya perlahan, jari-jarinya gemetar. “Aku bisa belajar,” ucapnya lirih. “Aku tidak keberatan.”
“Bagus,” kata Esperance. Lalu, pandangannya naik kembali ke wajah Elizabeth—ke pipi yang memar, ke bibir yang pecah.
Senyumnya memudar sedikit.
“Tapi sebelum itu,” katanya dingin, “kau harus menutup luka itu. Aku tidak suka melihatnya.”
Elizabeth refleks menyentuh pipinya. Baru saat itu ia seperti benar-benar menyadari kondisinya. Rasa perih kembali naik, bercampur panas di dada.
“Ini… hanya sementara,” katanya pelan.
“Tidak ada yang sementara jika orang luar melihatnya,” jawab Soraya cepat. “Nama Holloway tidak boleh tercemar.”
Esperance mencondongkan tubuh sedikit, suaranya rendah namun jelas. “Apa pun yang terjadi di dalam rumah ini adalah urusan kita. Bukan dunia.”
Elizabeth mengangguk pelan. “Aku mengerti.”
“Kau harus,” balas Esperance. “Karena jika tidak—” Ia berhenti, membiarkan kalimat itu menggantung.
Soraya tersenyum tipis. “Dan satu hal lagi, Elizabeth. Jangan pernah keluar kamar dalam keadaan seperti ini lagi.”
Elizabeth menunduk lebih dalam. “Hm.”
Esperance kembali ke kursinya, mengambil cangkir teh, seolah pembicaraan barusan tidak lebih dari teguran ringan.
“Sekarang pergilah,” katanya santai. “Bersihkan dirimu. Setelah itu, dapur menunggumu.”
Elizabeth berdiri. Langkahnya pelan saat meninggalkan ruangan. Tidak ada yang menoleh. Tidak ada yang peduli.
Di lorong itu, untuk pertama kalinya sejak pukulan semalam, ia memahami satu kebenaran pahit: Di rumah Holloway,
luka bukan untuk disembuhkan—
luka hanya harus disembunyikan.
Dia berjalan disetiap lorong Mansion Holloway, memperhatikan bagaimana pelayan berperilaku dan bagaimana keheningan dirumah itu semakin memperjelas semuanya.
Ia menghentikan langkahnya saat melewati ruang tengah. Ruang keluarga yang hening dan dingin.
“Siapapun dilarang masuk, Nyonya. Sebaiknya Anda jangan masuk.” Kata salah seorang pelayan yang masih menunduk takut.
Eliza terdiam, menatap ke dalam ruangan lewat pintu kaca yang tembus pandang. Ia bisa melihat sebuah bingkai foto besar terpajang tepat di tengah dinding ruangan yang gelap. Ia menyipitkan matanya saat melihat foto tersebut, sebuah foto keluarga namun hanya satu wajah yang dia lihat— sosok pria tampan, dengan mata tajam dan rahang yang tegas tanpa senyuman.
Tak ingin berlama-lama, Elizabeth berjalan menjauh dan kembali ke kamarnya.
Ia bersiap, duduk di depan meja rias sambil memakai foundation serta bedak yang menutupi lukanya. -‘Rasanya aneh, dan sangat berat.’ Batin Eliza yang hanya bisa pasrah.
Sementara di ruang VIP PUB. Terlihat Luis yang tengah menikmati vodka nya bersama dua klien yang baru saja menyelesaikan meeting kerjasama.
Seorang pelayan cantik juga menemani mereka, namun hanya ada satu pelayan di sana, dan itu sudah cukup. “Anda ingin vodka lagi, Tuan?”
Salah satu pria yang ditawari minuman tadi hanya mengangkat tangannya beberapa detik, tanda bahwa dia menolak.
“Sudah pernah bertemu Nathaniel Vale?” tanya pria paruh baya yang kini menatap Luis dengan serius.
“Itu tidak penting.” Jawab Luis dengan malas.
“Aku dengar kalian memiliki ikatan— ”
“Tidak ada ikatan yang kau maksud, Mr. Hanry. Dia hanya saingan bagiku, dan sama seperti saingan ku yang lainnya.” Jelas Luis menatap tajam lalu kembali lurus seraya meneguk minumannya.
Sementara pria bernama Hanry dan pria satunya tadi, hanya saling memandang.
“Ya, itu cukup bagus. Aku juga tidak menyukainya, dia sangat sombong dan ambisius. Cukup susah meruntuhkannya.” Ujar Hanry yang ikut meneguk minumannya.
“Tapi putrimu sangat menyukainya!” kata pria satunya yang menyeringai kecil. “Tapi... Berbicara soal putri— bukankah Anda menikah dengan putri dari Samuel Taylor? Sebenarnya, aku memiliki jadwal membahas soal bisnis, tapi entah kenapa mereka tidak bisa dihubungi. Apa anda tahu sesuatu?”
Tatapan Luis menajam bak silet. Ia terdiam dan membuat ruangan tadi hening detik itu juga.
Gelas kristal begitu diremas kuat oleh Luis seolah dia sedang menahan— benar-benar menahan amarahnya akan pertanyaan tersebut.
“Anda mau vodka— ”
Bruak!! Bruakk! Bruakk!
Seketika Luis memukul pelayan cantik tadi menggunakan gelas yang dia remas selama tiga kali pukulan sampai wanita itu berteriak sakit dan pingsan. Tentu, kedua pria tadi terkejut, mereka tahu akan kegilaan dan kebrutalan Luis Holloway jika marah.
“Maaf, kau bertanya soal keluargaku, dan aku kurang nyaman. Tapi mereka pergi meninggalkan Birmingham.” Kata Luis dengan nada santai lalu mengelap darah di tangannya ke jas pria yang melontarkan pertanyaan tadi, sebelum akhirnya Luis melenggang pergi.
Tentu, Luis segera masuk ke dalam mobilnya dengan amarah yang masih meluap. “Habisi pelayan itu dan hilangkan jejaknya.” Pinta Luis kepada anak buahnya dari arah jendela.
“Fuck..”
(“Ambil saja. Anggap saja semua itu pemberian cuma-cuma dari keluarga Vale! Dan enyalah dari hadapanku atau ku bunuh ibu dan kakakmu juga.”)
Luis menyeringai kecil mengingat kata-kata sialan itu dari mulut pria bernama Nathaniel Vale. Ia mengeluarkan rokok dan menyumatnya, menghisap dengan tenang sampai asap rokok membantu sedikit merilekskan pikirannya.
its too little to late Dude..
di rela menjadi samsak asal tubuhnya tdk dijamah 👏👏👏 attagirl