Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatto Mawar
Ayumi menatap Adara yang duduk gelisah di sebelahnya. Gadis itu menggigiti kukunya sambil menatap layar laptop yang masih mati.
Kedua gadis itu duduk di kursi, menghadap laptop yang sudah terbuka di atas meja. Entah sudah berapa lama mereka hanya terdiam di sana.
“Dar… lo udah siap?” tanya Ayumi lembut.
Adara menarik napas kasar lalu memejamkan matanya. Kakinya bergerak naik turun tanpa sadar, menandakan gadis itu sedang sangat gelisah.
Helaan napas kasar kembali terdengar. “Gue siap!” ucapnya dengan nada suara yakin.
Ayumi menghela napas lega lalu mulai menghidupkan laptopnya. “Lo punya akun X, Dar?” tanyanya.
Adara menggeleng cepat. “Gue nggak pernah tertarik buat download aplikasi itu,” jawabnya.
“Video itu pertama kali diposting di X, Dar.” Ayumi menjelaskan.
“Lo punya akun X, kan? Masuk aja ke akun Lo,” usul Adara.
“Gue nggak inget kata sandi akun gue, Dar. Lo tau kan gue…”
Adara memotong ucapan Ayumi. “Iya, gue tau!”
Ayumi memang selalu lupa kata sandi akun sosial medianya. Bahkan saat ia mengganti semua akun sosial medianya dengan kata sandi yang sama pun, tetap saja—dia akan selalu lupa lagi.
“Kalo gitu buat akun baru aja,” ucap Adara.
“Gue coba ya, Dar. Setau gue, bikin akun X itu ribet banget!” keluhnya.
“Ribetnya gimana?” tanya Adara.
“Lo liat sendiri deh.” Ayumi masuk ke laman web X. Ayumi memilih opsi ‘Daftar lewat Google’. Hanya butuh satu klik, dan halaman langsung berganti setelah meminta konfirmasi terakhir.
Ayumi terpaku.
“…Hah? Segampang ini?”
Adara mengangkat alis. “Udah?”
Ayumi menekan tombol lanjutkan, dan akun barunya langsung jadi. Ayumi menutup mulutnya, menahan tawa.
“Gila, Dar… gue kira bakal ribet. Ternyata gampang banget!”
Ayumi melanjutkan mengecek daftar trending dan benar nama Adara Naqia Selvira yang terpampang di urutan paling atas dengan ribuan thread tentangnya.
“Jangan dibacain thread orang-orang, Dar. Tundukin pandangan lo! Ghadul Basar!” perintah Ayumi ngasal.
Anehnya, Adara menuruti permintaan Ayumi tanpa banyak protes.
Setelah beberapa menit menggulir layar laptop—Ayumi pun menemukan video yang dia cari.
“Ketemu!” serunya.
Jantung Adara berdetak cepat mendengar ucapan Ayumi. Dia sangat takut melihat video itu, meskipun Adara tau—video itu bukanlah dirinya. Namun mengingat banyak netizen yang mempercayainya, sudah pasti video itu memiliki sesuatu yang sulit dibantah.
“Lo udah liat videonya?” tanya Adara.
Ayumi menggeleng pelan. “Begitu berita ini keluar, gue langsung nelpon lo, Dar. Gue nggak kepikiran buat ngeliat video itu.”
Adara meneguk salivanya. “Gue makin takut…” lirihnya.
“Semirip apapun, kalo videonya palsu pasti bakal keliatan, Dar. Jangan khawatir.” Ayumi menatap Adara. “Gue mulai videonya, ya?”
Adara terdiam sejenak lalu mengangguk ragu. Tanpa bertanya lagi, Ayumi bergegas memutar video itu. Begitu tombol play ditekan, layar menampilkan sebuah ruangan remang dengan lampu kuning lembut.
Video langsung menampilkan seorang pria duduk di atas meja. Di depannya, seorang perempuan berdiri sangat dekat—tingginya pas sehingga wajah mereka sejajar. Terlihat jelas mereka sedang berciuman meski video diambil dari cctv yang cukup jauh.
Perempuan itu membelakangi kamera. Rambutnya tergerai sampai punggung. Baju tidurnya tipis dan seksi, dan pundak kanannya terbuka, memamerkan kulitnya di bawah cahaya lampu.
Dengan posisi yang membelakangi kamera membuat wajah perempuan itu sama sekali tidak terlihat—yang tampak hanya siluet tubuh, rambut, dan baju yang ia kenakan.
Adara menajamkan pandangan, jantungnya naik-turun seiring napasnya. Ruangan di dalam video itu benar-benar ruang kerjanya. Ruang yang selalu dia pakai saat live produk brandnya. Jelas penggemarnya sangat memahami ruangan itu.
Selain lokasi video itu dibuat yang benar-benar di dalam ruangannya—pria di dalam video itu juga adalah Farel Abraham—CEO perusahaan penerbitan yang biasa menerbitkan buku-bukunya. Namun… Adara jelas tau, Farel tidak pernah memasuki apartemennya.
“Farel…” bisiknya pelan. “Dia beneran Farel?”
“Iya, Dar. Gue memang yakin banget kalo dia Farel!” ucap Ayumi. “Tapi, bukannya Farel nggak pernah ke apartemen lo, ya?”
Adara mengangguk cepat. “Seinget gue… gue juga nggak pernah ngasih tau lokasi apartemen gue ke Farel.”
“Mungkin dia stalker lo, Dar? Bukannya Farel pernah bilang kalau dia suka sama lo, ya?” tanya Ayumi.
Adara mengangguk pelan. Dia ingat saat Farel menyatakan perasaannya dan mengatakan ingin menikahinya. Namun saat itu Adara langsung menolak dan mengatakan kalau dia sudah memiliki tunangan. Apa mungkin Farel yang melakukan semua ini?
Banyak sekali pertanyaan aneh yang muncul di kepalanya. Apa mungkin Farel menduplikasi ruangan lain agar mirip dengan ruangannya? Tapi… semuanya terlalu sama. Sama persis. Hingga sangat sulit untuk mengatakan kalau lokasi itu hanyalah duplikasi.
Ayumi memperbesar layar, alisnya bertaut. “Tenang, Dar. Angle-nya kejauhan. Nggak ada yang bisa pastiin itu lo.”
“Jelas itu bukan gue. Potongan rambutnya juga beda sama gue,” sahut Adara.
“Tapi, Dar…” Ayumi menyipitkan matanya, seperti sedang mencoba melihat sesuatu yang sangat kecil.
“Kenapa, Yum?” tanya Adara heran.
“Tatto! Di bahunya ada tattoo bunga mawar!” seru Ayumi.
“Tatto bunga mawar?” Adara mengernyitkan dahinya.
“Fix! Kita harus cari tau siapa perempuan bertato mawar ini, Dar. Gue yakin… dia pasti tau sesuatu tentang ini!” ujar Ayumi.
“Yum… gue liat artikel-artikel itu beritain tentang gue bukan karena video ini doang, kan?” Adara menatap lekat mata Ayumi.
Ayumi mengangguk pelan.
“Pelacur…” gumamnya. “Kenapa mereka menyebut gue dengan panggilan itu?”
“Ada video lain, Dar…” lirih Ayumi. “Video cewek bercadar yang ganti baju di dalam taxi.”
“Maksudnya?” Adara tak paham.
“Dia bercadar terus pas di dalam taxi—dia ganti baju jadi sexy gitu.” Ayumi menjelaskan.
“Dia kenapa ganti baju di dalam taxi?” tanya Adara. Masih bingung.
“Karena kan nggak mungkin masuk club pake cadar, Dar. Makanya di mobil dia ganti baju,” jelas Ayumi. “Nah cewek itu bilang kalau dia ganti baju karena mau jualan.”
“Gila, ya! Kok bisa ada orang segila itu!” Adara tak habis pikir.
“Pertanyaannya cuma satu, Dar.” Ayumi menatap Adara. “Siapa perempuan bercadar di dalam video itu? Dia melakukan itu untuk apa? Menjelekkan cadar atau memang mau ngancurin nama baik lo.”
Adara terdiam mendengar ucapan Ayumi. Jika memang ada yang ingin menghancurkannya… siapa dia? Di antara semua orang yang dikenalnya, siapa pelakunya? Pasti selama ini dia bersembunyi di sekitarnya dengan kebencian untuk Adara.
Adara merasa dia tidak pernah punya musuh. Dia memiliki banyak teman, tapi hanya punya satu sahabat, dia Ayumi. Selain Ayumi… semuanya hanya teman biasa. Jadi… apa mungkin pelakunya bersembunyi di antara teman-temannya?
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.