"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_4
Sepertinya Ajeng memang sengaja membuat situasi seperti ini untuk menegaskan kemenangan
“Sepertinya kamu sangat bangga banget ya, dengan gelar ISTRI itu?”
Ajeng menekan kata *istri* dengan nada merendahkan, seolah gelar itu hanya aksesoris murahan yang kebetulan melekat di tubuhku. Dagunya terangkat, sorot matanya tajam dan penuh perhitungan.
“Suami kamu,” lanjutnya tanpa jeda, “rela semalaman berdiri di depan rumahku. Hujan deras, angin kencang, dan dingin yang menusuk. tapi dia sama sekali tidak bergeming sedikit pun. Kamu tahu kenapa?” Ajeng tak menunggu jawabanku.
“Karena dia ingin minta maaf padaku.” Senyum tipis terbit di bibirnya. “Sekarang kamu bisa bayangkan bukan, betapa cintanya Naren padaku?”
Aku menatapnya datar. Lalu, dengan nada yang sengaja kubuat santai, aku menyahut,
“Mobilnya langsung diterima, tapi orangnya tidak dimaafkan?”
Aku mendecak pelan.
“Maruk juga, ya, Anda.”
Ajeng mendengus. “Situ iri?”
Ia bangkit dari duduknya di tepi ranjang tempat Narendra terbaring lemah. Tubuhnya mendekat, seolah ingin menekan keberadaanku.
“Iri itu tanda tak mampu,” jawabku tenang. “Sedangkan aku—lebih dari mampu." jawab ku tak gentar.
"Aku bisa beli selusin mobil seperti itu dengan uangku sendiri, tanpa perlu mengemis dari suami orang.” Senyumku terangkat tipis. Smirk kecil, cukup untuk menusuk harga dirinya.
“Cih, suami orang katanya.” Ajeng melangkah lebih dekat, jarak kami kini hanya sejengkal. “Aku sungguh kasihan sama kamu. Katakan, kamu tidur di mana semalam? Ruang tamu? Atau dapur?” Ia terkekeh. tangannya yang penuh perhiasan itu, bersedekap dada
“Naren bilang kamu bahkan tidak diberi akses membuka pintu kamar.” Nada suaranya penuh kemenangan, seolah itu pengakuan mutlak atas posisinya.
“Benarkah?” tanyaku ringan. “Apa Naren bilang begitu padamu?” Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh ruangan, lalu kembali menatapnya.
“Kamu pasti tahu setiap sudut kamar ini, bukan?”
“Perlu aku jawab?” balasnya sinis.
Aku menghela napas. Muak.
“Coba perhatikan baik-baik,” kataku perlahan. “Apa menurut mu ada yang berubah dari kamar ini, atau...ada sesuatu benda yang hilang?”
Ajeng sketika menoleh ke sana kemari, matanya menyapu setiap sudut kamar.
“Foto, misalnya,” tambahku memancing agar ia lekas sadar
Wajahnya langsung berubah.
“Perempuan lancang!” bentaknya. “Kau ke mana-kan foto ku dan Naren?!” sentaknya. suaranya melengking seperti kuntilanak kejepit pintu
Narendra masih tak sadarkan diri. Suhu tubuhnya hampir menyentuh empat puluh derajat. Ia tidak mendengar pertengkaran kami, tidak tahu bagaimana perempuan yang katanya ia cintai begitu percaya diri merendahkan istrinya di hadapan ranjangnya.
“Tenang,” aku terkekeh kecil.
“Kenapa kamu semarah itu? Bukankah tadi kamu bilang aku bahkan tidak punya akses ke kamar ini? Kalau begitu, bagaimana mungkin aku membuang foto kalian?” ku pasang wajah lugu dan polos saat mengatakan itu
Tangannya mengepal. Aku bisa melihat urat-urat tegang di lehernya. Mungkin selama ini ia terbiasa menindas, terbiasa menang.
Sayangnya, itu tidak akan berlaku padaku. aku jelas menang jika di lihat dari sudut manapun. status ku sah, dan meskipun Naren tidak memihak ku, tapi keluarga besarnya semua ada di belakang ku.
“Biar aku beri kamu sedikit pencerahan, tentang Benefit menjadi seorang istri.” kataku, melangkah mendekat dan duduk di sisi Naren yang masih setia menutup mata. satu tanganku bergerak menyibak surai rambutnya yang menutupi dahi
Aku memang tidak mencintai Narendra. Aku juga sudah setuju untuk membantu menyembunyikan hubungan mereka dari orang tua kami. Tapi, aku tidak pernah berjanji untuk menjadi perempuan bodoh yang bersedia diinjak-injak oleh gundiknya ini.
“Aku bukan hanya punya akses ke kamar ini,” lanjutku dengan suara rendah namun tegas. “Aku bahkan punya akses ke segala hal yang Narendra miliki. Kamu bangga sidik jarimu bisa membuka pintu kamar? Sidik jariku bahkan bisa membuka brankas keluarga Admawijaya.” aku mengangkat tanganku dan memainkan jari-jariku di udara.
Aku tahu titik lemahnya.
Uang.
Status.
Kekuasaan. Dan aku sengaja menusuk ke sana.
Padahal, jangankan membuka brankas… menginjakkan kaki ke rumah utama Admawijaya saja aku belum pernah.
Wajah Ajeng memucat. Matanya membesar, napasnya tercekat. Aku menikmati setiap detiknya.
“Pergi dari sini,” kataku kemudian, berbalik menunjuk pintu. “Sebentar lagi Mama Farah akan datang.”
“Kamu mengadu ke perempuan tua menyebalkan itu?” Ajeng mendesis marah. “Seharusnya kamu yang pergi dari apartemen kami, bukan aku! Benar kata Narendra—kamu emang perempuan gila!” umpat Ajeng dengan wajah merah padam
Tangannya terangkat. Tamparan itu hampir mendarat jika aku tidak menangkisnya tepat waktu. Aku mencengkeram pergelangan tangannya erat hingga ia mengaduh kesakitan.
“Jaga batasanmu,” bisikku dingin. “Dan jangan pernah menyebut apa pun milik Narendra sebagai milikmu.”
Aku mendekat ke telinganya. “Mungkin di dunia lelembut sepertimu aturan ini tidak berlaku, tapi di dunia manusia, berlaku bahwa harta suami adalah harta istri. Bukan harta gundik seperti mu, " Aku melepaskan cengkeramanku. Ajeng terhuyung mundur.
“Oh, dan satu lagi,” kataku sambil membelai rambut Narendra—bukan karena perasaan, melainkan provokasi. “Kalau aku memang gila, aku tidak akan menjadi istri Narendra sekarang.” Aku menatapnya tajam.
“Pergilah sebelum Mama Farah datang. Atau aku tidak akan bisa lagi melindungi hubungan kalian.” ucapku tanpa menoleh ke arahnya dan sibuk memasang plester penurun demam di dahi Naren
---
Dua jam berlalu. Narendra belum juga sadar.
Awalnya aku biasa saja. Namun perlahan, rasa panik merayap. Aku bangkit untuk mengambil ponsel, aku harus menelfon dokter.
Namun tiba-tiba, tanganku direngkuh kuat. Aku tersentak, refleks terduduk, tubuhku menubruk dada bidangnya. Kami sama-sama terkejut.
Narendra segera menjauh, wajahnya pucat namun matanya tajam. “Kamu?” suaranya serak.
“Ngapain kamu di sini? Ini aku kok bisa… Ajeng? Di mana Ajeng?!” Ia berusaha bangkit.
“Hati-hati,” kataku spontan. “Kamu masih sakit.”
“Bajuku…” matanya menyipit. “Harga diri perempuan itu ada pada rasa malunya. Ini pertama dan terakhir kamu menyentuh tubuhku.” amuknya. Dadaku terasa sesak.
“Aku jijik membayangkan tangan kotormu menggerayangi tubuhku,” lanjutnya tanpa ampun. Aku hanya menggeleng pelan.
Ia mencengkeram tanganku, menyeretku ke pintu, lalu mendorongku keluar dengan sekuat tenaga.
“Astagfirullah!” pekikku.
“Astaga, Bu Rayna!” Ardi sigap menangkap tubuhku.
“Ada apa ini, Pak?” tanya Ardi panik.
“Ngapain kamu di sini?” bentak Narendra.
“Maaf, Pak,” jawab Ardi jujur. “Bu Rayna menelepon. Katanya Bapak sakit dan pakaian bapak basah kuyup. Saya ke sini membantu mengganti pakaian Bapak.”
Narendra terdiam. Kikuk. Raut wajahnya berubah.
“Jadi… kamu yang merawatku?” tanyanya pelan.
“Tidak, Pak. Saya hanya mengganti pakaian. Selebihnya Bu Rayna yang melakukan” jelas Ardi
Aku mengambil tasku yang masih tergeletak di sofa ruang tamu sejak kemarin.
“Pulanglah, Ar,” kataku lirih. “Tuanmu sudah cukup kuat untuk mendorong ku. itu artinya dia sudah sembuh.” tukas ku, sebelum melangkah melangkah pergi.
Baru dua hari menikah, tapi lahir batinku terasa sangat lelah. Kami memang tidak saling cinta, tetapi itu bukan alasan untuk dia bertindak demikian.
Aku seperti berjalan ke arah jalan buntu. Gelap. tertih mencari yang katanya akan indah waktunya.
plisss dong kk author tambah 1 lagi