AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 35: the first snow [5]
“YANG Mulia, Anda baik-baik saja?”
Aku mengabaikan pertanyaan kepala pelayan dan membiarkan kakiku menuntut ke tempat di mana Elora berada, seolah tahu tanpa perlu bertanya. Teriakan para ksatria yang melihatku berlari kuabaikan dan terus melangkah ke arah taman krisan–seolah yakin anak itu ada di sana. Lalu, dari kejauhan, sosok Hamon yang terbaring di tanah membuatku menambah kecepatan dengan detak jantung yang berdetak cepat. Napas yang memburu dan perasaan takut datang bersamaan dalam diriku, memaksaku untuk segera sampai di sana sebelum terlambat.
Di depan sana, aku merasakan keberadaan dinding penghalang yang tidak terlihat dari luar. Aura biru pekat segera muncul dari tanganku dan memanggil pedang naga, kemudian menggabungkan [mana] yang kupunya dengan kekuatan kegelapan–mencoba merobek pertahanan dinding penghalang yang tersembunyi.
Dalam sekali tebasan, perisai itu retak di beberapa bagian namun belum pecah. Aku mengerahkan tenaga sekali lagi dan hasilnya tetap sama. Penghalang itu sangat kuat bahkan sulit ditembus oleh kegelapan. Namun, aku tidak menyerah. Pada percobaan ketiga, penghalang tersebut akhirnya hancur dan memperlihatkan Elor yang terduduk dengan air mata yang menetes. Di depannya, Leocadio memakai seragam dengan jubah putih dan rambut abu muda sebahu yang dibiarkan terurai, khas seperti penampilan seorang utusan dewa.
“Papa, jangan ke sini!”
Aku melangkah masuk dan mengabaikan teriakan putriku. Bekas tebasan pedang di leher dan dada Elora mengeluarkan darah, seolah luka tersebut adalah luka baru. Aku beringsut turun dan bertumpu pada lutut kiri sementara mataku berpendar meneliti seluruh tubuhnya–mencari luka lain yang mungkin ada. Tanganku segera menyentuh wajahnya, mengelap air mata putriku yang jatuh sebelum menatap sinis ke arah pelaku yang membuat putri mungilku menangis.
Aku lantas berdiri, mengeratkan pegangan pda pedang naga sembari menghunuskan tatapan membunuh kepada Leocadio. Namun, pria itu malah tertawa. Dia menyeringai dan berkata meremehkan. “Apa kabar, Yang Mulia? Sepertinya Anda terlambat lagi kali ini.”
“Ck. Aku sempat ragu dan tidak percaya dengan asumsiku. Namun, setelah melihatnya langsung, itu memang benar bahwa kau yang merencanakan semua ini.” Aku tidak melepas tatapanku padanya dan melanjutkan, “Tetapi, aku tidak mengerti kenapa kau harus melukai putriku padahal yang menjadi targetmu adalah aku.”
Dia terbahak. “Itu karena dia berulang kali berkhianat.” Rambutnya dia naikkan ke atas. “Jika dipikirkan kembali, itu membuatku semakin kesal karena dia telah menusukku dari belakang sebanyak dia mengulang kehidupan.”
“Bukankah kau sendiri yang mengutusnya?”
Leocadio membenarkan. “Dia adalah senjata yang kupersiapkan untuk membunuhmu. Namun, yang kudapatkan hanyalah sebuah pengorbanan tak berarti selama tiga kehidupan yang kuberikan.”
“Atas dasar apa kau ingin membunuhku?” Aku bertanya skeptis. “Oh, apakah karena aku sudah mengambil banyak nyawa di masa lalu?”
“Bukankah itu sudah jelas? Itu karena kau telah merusak bumi dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah.”
Aku lantas melirik Elora dan menggeser tubuh di dekatnya–berusaha menjadi tameng untung melindunginya secara maksimal. “Kalau begitu, biarkan putriku yang membunuhku. Aku tidak mau mati di tanganmu yang kotor.”
Dia sekali lagi tertawa. Kali ini lebih kencang dari sebelumnya. “Tidak bisa. Itu karena dia telah memilih untuk mengorbankan hidupnya lagi.” Aku lantas melirik putriku bersamaan dengan dia yang memegang ujung jubahku. “Benarkan?” lanjut Leocadio lagi.
“El tidak akan membunuh Papa.” Netra biru cerahnya menatap tajam dengan genagan air mata yang ditahan di pelupuk mata. Wajahnya mengekpresikan tekad yang kuat. “Tidak akan pelnah,” tegasnya lagi.
Perkataan itu keluar dari mulut mungil yang terlihat pucat, darah yang menetes dari leher dan dada–dengan rembesan cairan merah pekat itu di bagian depan gaunnya. Bersama dengan sorot matanya yang tajam, putriku mengeratkan cengkraman di ujung jubahku–yang membuat atensiku selama beberapa detik terpaku pada anak kecil itu.
“Sangat romantis,” balas Leocadio mengejek. Dia kemudian tertawa lagi seperti orang gila. “Sesuai dengan prediksi bahwa kau akan menusukku lagi dari belakang,” sambungnya.
Penampilan Leocadio sangat berbeda sewaktu dia memperlihatkan wujud aslinya yang membuatku terlihat bodoh karena tidak menyadarinya selama ini. Sikapnya yang mendadak berubah dari yang membenci anak kecil menjadi tergila-gila pada Elora membuatku sempat berpikir bahwa keajaiban mungkin telah terjadi.
Ternyata dugaanku salah dan keraguan yang sempat hinggap sebentar di hatiku ternyata benar. Sekarang, aku tidak tahu apakah warna asli seorang utusan dewa memang seperti ini–atau hanya pria itu saja yang melenceng dan melewati batas bagi seorang utusan yang dipercayakan dewa.
“Aku mengakui bahwa rencanamu berjalan sangat mulut. Sengaja melemahkan kekuatanku dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh. Ide boneka kelinci yang kau berikan melalui perantara Marquess of Matheo juga sangat membuatku takjub. Begitu pula dengan tindakanmu saat ini.” Kemudian aku menatapnya datar. “Namun, sepertinya seorang utusan dewa tidak mungkin merencanakan hal sepicik ini, kan?”
“Benar.” Dia menjawabg dengan percaya diri. “Tetapi, tidak peduli bagaimana caranya, tugas utamaku adalah untuk membunuhmu karena kau sudah banyak menyengsarakan orang lain.”
“Apakah kau sedang membalaskan dendam kakekmu?”
Ekspresinya berubah datar dan kelam, tetapi di detik selanjutnya dia terkekeh. “Benar. Apa kau masih ingat dengan perkataan utusan dewa yang kau bunuh? Ini adalah saat yang ditentukan untuk menerima hukumanmu.”
Cahaya putih lantas muncul dan menyelimuti tangan Leocadio sebelum berubah memanjang dan membentuk sebuah pedang dengan sisi tajam berwarna putih dan pegangannya berwarna abu muda yang dipadu dengan warna putih polos. Dalam sekali lihat, aku sudah tahu bahwa yang dipegangnya sekarang adalah pedang suci yang hanya utusan dewa dengan tingkat tertinggi saja yang bisa memegangnya.
“Kau tahu?” tanyanya meremehkan. “Kekuatan kegelapan dalam dirimu itu akan langsung lenyap begitu pedang ini tertancap tepat di jantungmu. Saat itu, hidupmu akan berakhir dengan sangat menyakitkan.”
Tarikan pelan yang berasal dari bagian bawah–tepatnya sisi yang digenggam Elora membuatku melirik. Dia memandang pedang suci itu dengan ekspresi takut dan gelisah. Menyadari hal tersebut, aku seolah mengerti bahwa apa yang dikatakan Leocadio bukanlah ancaman biasa. Aku lantas membelai kepalanya pelan, melepaskan genggaman tangan mungil itu dari juba dan tersenyum kepada putriku.
“Jangan khawatir.”
Aku berusaha menenangkan dia meski itu tidak memberikan efek ketenangan pada dirinya. Namun, aku yang tak punya pilihan lain dengan terpaksa melepas genggaman tangan Elora untuk maju melangkah ke depan bersama dengan pedang naga di genggamanku.
Meski aku mungkin akan kalah mengingat kondisi tubuhku yang melemah–aku tetap akan menyerang dan takkan membiarkan pria itu menyakiti putriku lagi. Bagiku yang sedari awal telah mempersiapkan diri untuk mati–itu tidak menjadi masalah–asal aku dapat mempertahankan senyuman indah itu di hatiku sebagai satu-satunya hal berharga yang kumiliki.[]
Pace nya di sini agak lambat buat ku karena mungkin terlalu banyak percakapan dengan pergerakan statis 🤔
tapi kacian Eloraaaa pengen karungin bawa dari situ
itu harusnya MULUS kan ya
aga lain emg ya, anda 🤺