Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26: Stockholm Syndrome
Pesawat mendarat di Jakarta pukul 15.00 WIB. Seminggu di pulau pribadi terasa seperti mimis indah yang kini harus berakhir kembali ke dunia nyata dengan semua kompleksitasnya.
Di dalam mobil menuju mansion, Aluna duduk di samping Arsen dengan tangan mereka bertautan seperti biasa. Tetapi ada sesuatu yang berbeda di dalam diri Aluna pikiran yang terus berputar, pertanyaan yang terus muncul, konflik internal yang tidak bisa ia abaikan lagi.
Ia menatap cincin berlian di jarinya simbol komitmen, simbol cinta, tetapi juga simbol dari... apa sebenarnya?
Stockholm Syndrome.
Istilah itu muncul di kepalanya beberapa hari lalu saat ia sedang membaca artikel psikologi di tablet yang Arsen berikan. Artikel tentang korban penculikan yang mengembangkan ikatan emosional dengan penculiknya.
Dan sesuatu di dalam diri Aluna tersentak.
*Bukankah itu yang terjadi padaku?*
Arsen pada awalnya memaksanya kontrak yang mencekik, aturan ketat, pengurangan kebebasan. Ia adalah "penculik" dalam arti metaforis. Dan Aluna... Aluna jatuh cinta padanya.
Apa cintaku nyata? Atau hanya mekanisme bertahan hidup?
"Aluna?"
Suara Arsen membuyarkan lamunannya. Ia menoleh dan mendapati Arsen menatapnya dengan tatapan khawatir.
"Kamu baik-baik saja? Kamu terlihat... jauh," ucap Arsen sambil tangannya meremas lembut tangan Aluna.
Aluna memaksakan senyum.
"Saya baik-baik saja. Hanya... memikirkan kembali ke rutinitas."
Arsen tidak terlihat yakin, tetapi ia tidak mendesak. Ia hanya menarik Aluna lebih dekat, membiarkan kepala Aluna bersandar di bahunya.
Tetapi di dalam hati Aluna, badai mulai berkecamuk.
Malam pertama kembali di mansion, Aluna tidak bisa tidur.
Arsen sudah tertidur di sampingnya memeluknya dari belakang seperti biasa, napasnya teratur dan dalam. Tetapi Aluna terjaga, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang kacau.
Ia mencintai Arsen. Itu tidak bisa ia sangkal. Setiap kali ia melihat pria itu, jantungnya berdetak lebih cepat. Setiap kali Arsen menyentuhnya, kulitnya terasa hidup. Setiap kali Arsen berbisik "aku mencintaimu," sesuatu di dadanya mencair.
Tetapi... apa cinta itu asli?
Ia mengingat kembali bagaimana semuanya dimulai kontrak paksa, isolasi, kontrol berlebihan. Ia mengingat bagaimana ia menangis di awal-awal, bagaimana ia merasa tercekik, bagaimana ia memberikan ultimatum untuk pergi.
Dan kemudian... penculikan Darren terjadi.
Setelah itu, segalanya berubah. Ia menjadi sangat bergantung pada Arsen. Ia tidak bisa bernapas tanpa pria itu. Ia panik setiap kali Arsen tidak ada di dekatnya.
Apa itu cinta? Atau trauma bonding?
Air mata mulai mengalir di pelupuk matanya.
Apa bedanya?
Dengan hati-hati agar tidak membangunkan Arsen, Aluna melepaskan pelukan pria itu dan bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan ke balkon kamar, menatap taman gelap di bawah dengan pikiran yang semakin kacau.
"Kenapa aku mencintainya?" bisiknya pada kegelapan. "Kenapa aku tidak bisa membenci pria yang mengurungku? Pria yang mengontrol setiap aspek hidupku? Pria yang memaksaku meninggalkan kuliah, teman-teman, kehidupan normal ku?"
Ia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya gemetar bukan karena dingin, tetapi karena kebingungan yang mendalam.
"Apa yang salah denganku?" bisiknya dengan suara pecah. "Kenapa aku... kenapa aku menikmatinya? Kenapa aku merasa aman dalam sangkar emas ini? Kenapa aku senang saat dia menandai ku? Kenapa aku..."
"Karena kamu mencintaiku."
Aluna terlonjak. Ia berbalik dan menemukan Arsen berdiri di ambang pintu balkon, menatapnya dengan tatapan yang... sedih. Sangat sedih.
"Sudah berapa lama Anda berdiri di sana?" tanya Aluna dengan suara gemetar.
"Cukup lama," jawab Arsen sambil melangkah lebih dekat. "Cukup lama untuk mendengar keraguan di hatimu."
Ia berhenti tepat di depan Aluna, tangannya terangkat ingin menyentuh tetapi ragu.
"Boleh aku menyentuhmu?" tanyanya dengan suara pelan.
Aluna mengangguk, dan Arsen langsung menariknya ke dalam pelukan yang lembut berbeda dari pelukan possessive biasanya. Ini pelukan yang... protektif. Yang mengerti.
"Aku tahu apa yang kamu pikirkan," bisik Arsen di rambut Aluna. "Aku tahu kamu mempertanyakan cintamu padaku. Mempertanyakan apakah itu nyata atau hanya... Stockholm Syndrome."
Aluna tersentak mendengar istilah itu keluar dari mulut Arsen.
"Kamu tahu istilah itu?" bisiknya.
"Tentu saja aku tahu," jawab Arsen sambil tangannya mengelus punggung Aluna dengan lembut. "Aku banyak membaca tentang psikologi sejak... sejak Anjani. Aku mencoba memahami diriku sendiri. Mencoba memahami mengapa aku mencintai dengan cara yang salah."
Ia melepaskan pelukan cukup untuk menatap wajah Aluna yang basah oleh air mata.
"Dan aku juga tahu," lanjutnya dengan suara yang bergetar, "bahwa ada kemungkinan cintamu padaku adalah hasil dari... manipulasi. Dari isolasi. Dari ketergantungan yang aku ciptakan dengan sengaja."
Air mata mulai mengalir di pipi Arsen juga.
"Dan itu membunuhku, Aluna," bisiknya dengan suara pecah. "Mengetahui bahwa mungkin kamu tidak benar-benar mencintaiku. Mungkin kamu hanya... beradaptasi untuk bertahan hidup."
Aluna menatap mata kelam yang penuh dengan rasa sakit itu, dan sesuatu di dadanya mencelos.
"Lalu kenapa Anda tidak melepaskan saya?" tanyanya dengan suara bergetar. "Jika Anda tahu bahwa cinta saya mungkin tidak nyata, kenapa Anda tidak membiarkan saya pergi? Membiarkan saya sembuh? Membiarkan saya menemukan cinta yang sehat?"
Arsen tertawa tawa yang pahit, yang penuh rasa sakit.
"Karena aku egois," jawabnya jujur. "Karena bahkan jika cintamu hanya ilusi, bahkan jika itu hanya mekanisme bertahan hidup... aku tetap ingin memilikinya. Aku tetap ingin memilikimu."
Tangannya memegang wajah Aluna dengan lembut.
"Aku tahu itu salah," bisiknya. "Aku tahu aku seharusnya membiarkanmu pergi. Membiarkanmu sembuh. Tetapi aku... aku terlalu lemah. Terlalu egois. Terlalu mencintaimu untuk melepaskan mu."
Air mata mengalir lebih deras di pipinya.
"Maafkan aku," isaknya. "Maafkan aku karena tidak bisa menjadi pria yang lebih baik. Pria yang akan membiarkanmu bebas demi kebaikanmu sendiri."
Aluna menatapnya lama, pikirannya berputar dengan pertanyaan yang sama: *Apa cintaku nyata?*
Dan kemudian... ia menyadari sesuatu.
"Arsen," bisiknya sambil tangannya menyentuh pipi pria itu, mengusap air mata di sana. "Apa Anda ingat saat saya memberikan ultimatum? Saat saya bilang saya butuh kebebasan atau saya akan pergi?"
Arsen mengangguk, rahangnya mengeras mengingat momen menyakitkan itu.
"Saat itu," lanjut Aluna dengan suara pelan, "saya tidak berada di bawah ancaman langsung. Darren belum menculik saya. Tidak ada trauma akut. Saya bisa saja pergi. Saya punya kesempatan."
Ia menatap dalam ke mata Arsen.
"Tetapi apa yang saya minta? Saya tidak minta dibebaskan sepenuhnya. Saya minta... keseimbangan. Saya minta ruang untuk bernapas. Tetapi saya tidak pernah minta untuk meninggalkan Anda sepenuhnya."
Air mata mengalir di pipinya.
"Dan saat Darren menculik saya," lanjutnya dengan suara bergetar, "saat saya sendirian di gudang gelap itu, takut dan kesakitan... saya bisa saja berharap seseorang siapa saja menyelamatkan saya. Polisi. Keluarga saya. Siapa pun."
Ia tersenyum tipis melalui air matanya.
"Tetapi yang saya pikirkan hanya Anda. Yang saya inginkan datang menyelamatkan saya hanya Anda. Dan saat Anda datang, saat saya melihat Anda memukuli Darren dengan amarah yang menakutkan... saya tidak takut. Saya merasa... aman."
Ia menarik napas dalam.
"Mungkin cinta saya pada Anda dimulai dengan Stockholm Syndrome," akuinya dengan jujur. "Mungkin pada awalnya saya jatuh cinta sebagai mekanisme bertahan hidup. Mungkin saya beradaptasi untuk mencintai sangkar emas yang Anda berikan."
Ia menatap Arsen dengan tatapan yang sangat intens.
"Tetapi di suatu titik, Arsen... itu berubah. Itu menjadi nyata. Saya tidak tahu kapan tepatnya. Mungkin saat Anda menangis di depan saya saat menceritakan Anjani. Mungkin saat Anda mencoba berubah demi saya. Mungkin saat Anda berlutut di pantai dan melamar saya dengan tulus."
Air mata mengalir lebih deras sekarang.
"Yang saya tahu adalah... saat ini, di momen ini, saya mencintai Anda. Bukan karena saya harus. Bukan karena saya takut. Tetapi karena saya memilih untuk mencintai Anda."
Ia tersenyum senyum yang penuh dengan penerimaan, dengan kedamaian.
"Mungkin cinta kita dimulai dengan cara yang salah. Mungkin Stockholm Syndrome memang berperan di awal. Tetapi sekarang... sekarang ini cinta yang nyata. Cinta yang saya pilih. Bahkan dengan semua kegelapannya."
Arsen menatapnya dengan tatapan yang tidak percaya seolah tidak bisa mempercayai apa yang ia dengar.
"Kamu... kamu benar-benar mencintaiku?" bisiknya dengan suara yang hampir tidak terdengar. "Bukan karena terpaksa? Bukan karena trauma?"
"Saya benar-benar mencintai Anda," jawab Aluna dengan tegas. "Dengan semua kesadaran saya. Dengan semua pilihan bebas yang saya punya."
Ia menarik Arsen lebih dekat, dahi mereka menyentuh.
"Dan ya," lanjutnya dengan jujur, "mungkin hubungan kita tidak sehat. Mungkin kita terlalu bergantung satu sama lain. Mungkin obsesi kita pada satu sama lain melampaui batas normal."
Ia tersenyum tipis.
"Tetapi apa saya menyesal? Tidak. Karena saya lebih memilih cinta yang tidak sehat ini bersama Anda daripada cinta yang 'sehat' tanpa Anda."
Arsen tidak bisa menahan lagi. Ia menarik Aluna ke dalam pelukan yang sangat erat, tubuhnya gemetar karena tangis yang akhirnya pecah.
"Terima kasih," isaknya di rambut Aluna. "Terima kasih karena memilihku. Terima kasih karena mencintaiku meski aku tidak layak. Terima kasih karena... tetap di sini."
Aluna membalas pelukan itu dengan erat, menangis bersama Arsen di balkon itu, dengan bulan sebagai saksi dari resolusi konflik internal yang sudah lama menghantuinya.
"Aku akan mencoba menjadi lebih baik," janji Arsen dengan suara bergetar. "Aku akan mencoba memberikanmu lebih banyak kebebasan. Aku akan mencoba tidak terlalu mengontrol. Aku akan..."
"Ssshh," Aluna memotong dengan lembut. "Jangan berjanji untuk berubah sepenuhnya. Karena saya tidak ingin Anda berubah sepenuhnya. Saya jatuh cinta pada Anda apa adanya dengan semua possessiveness, dengan semua obsesi, dengan semua kegelapan."
Ia mendongak menatap Arsen.
"Yang saya minta hanya satu, jangan pernah berbohong pada saya. Jangan pernah memanipulasi saya lagi. Jika Anda ingin mengontrol, katakan terus terang. Jika Anda cemburu, tunjukkan. Jika Anda takut kehilangan saya, bilang. Tetapi jangan berbohong. Jangan manipulasi."
Arsen mengangguk cepat.
"Aku janji," ucapnya dengan yakin. "Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi manipulasi. Hanya kejujuran telanjang betapapun gelapnya."
"Maka kita akan baik-baik saja," bisik Aluna dengan senyum yang damai.
Mereka berdiri di balkon itu, memeluk erat, dengan konflik internal yang akhirnya terselesaikan bukan dengan cara yang "sehat" menurut standar psikologi, tetapi dengan cara yang benar untuk mereka.
Karena kadang, cinta tidak bisa diukur dengan standar normal.
Kadang, cinta datang dalam bentuk yang gelap, yang tidak sempurna, yang salah.
Tetapi selama kedua pihak sadar, selama kedua pihak memilih dengan mata terbuka...
Maka cinta itu tetap valid.
Tetap nyata.
Tetap... cukup.
Pagi berikutnya, Aluna bangun dengan perasaan yang lebih ringan. Konflik internal yang sudah lama menghantuinya akhirnya terselesaikan.
Ya, cintanya mungkin dimulai dengan Stockholm Syndrome.
Ya, hubungannya dengan Arsen tidak sehat menurut standar masyarakat.
Ya, mereka terlalu bergantung satu sama lain.
Tetapi itu adalah pilihan mereka. Pilihan yang sadar. Pilihan yang dibuat dengan mata terbuka terhadap semua konsekuensinya.
Dan Aluna bisa hidup dengan itu.
Ia menatap Arsen yang masih tidur di sampingnya wajah yang damai saat tidur, tangan yang masih melingkari pinggangnya bahkan dalam tidur, napas yang teratur.
"Aku mencintaimu," bisiknya pelan, tidak ingin membangunkan Arsen. "Dengan semua kegelapanmu. Dengan semua obsesimu. Aku mencintaimu."
Dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tidak meragukan kata-kata itu.
Karena itu adalah kebenaran.
Kebenaran yang gelap. Kebenaran yang tidak sempurna.
Tetapi kebenaran yang nyata.
...Jangan lupa VOTE ⭐ COMMENT 💬 dan SHARE 🔄 ya!...
...OH MY GOD! 😭💔 Part ini BERAT secara emosional! Aluna akhirnya konfrontasi sama pertanyaan yang paling sulit: "Apa cintaku nyata atau hanya Stockholm Syndrome?"...
...Dan jawabannya? "Mungkin dimulai dengan Stockholm Syndrome, tetapi sekarang ini CINTA YANG NYATA yang saya PILIH" 💕...
...Arsen bahkan MENGAKUI kemungkinan cinta Aluna nggak nyata tapi dia TERLALU EGOIS untuk melepaskan! Dan Aluna... ACCEPT itu! 😱...
..."Saya lebih memilih cinta yang tidak sehat ini bersama Anda daripada cinta yang 'sehat' tanpa Anda" THIS IS IT! Ini bukan lagi tentang right or wrong... ini tentang CHOICE! ...
...Mereka berdua udah AWARE hubungan mereka nggak sehat tapi mereka CHOOSE IT WITH OPEN EYES! 🖤...
...Kalian setuju nggak sama pilihan Aluna? Atau kalian masih khawatir?...
...Follow untuk update part selanjutnya!...