Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.
Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehilangan arah
Aku menelepon Moses setelah semuanya terjadi. Tanganku gemetar saat menekan namanya, bukan karena ragu, tetapi karena aku tidak tahu bagaimana cara menyampaikan kehilangan ini tanpa ikut hancur bersamanya. Ketika suaranya terdengar di seberang sana, pertahananku runtuh. Aku menceritakan semuanya—rasa sakit yang datang tiba-tiba, darah yang membuatku panik, rumah sakit, dan kata-kata dokter yang sampai sekarang masih terngiang di kepalaku.
Ia mendengarkan dengan saksama.
Namun ia tidak panik.
Nada bicaranya tetap tenang, seperti seseorang yang sedang menahan dirinya agar tidak ikut goyah. Ia tidak menunjukkan kepanikan berlebih, juga tidak membiarkan emosinya meluap. Ia hanya berkata, pelan dan pasti, bahwa aku tidak sendirian. Bahwa ia tidak akan meninggalkanku. Bahwa ia akan bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi.
Kalimat itu terdengar seperti janji.
Dan aku ingin mempercayainya.
Tak lama kemudian, Moses menawarkan untuk membayar seluruh tagihan rumah sakit. Ia ingin menggantikan uang yang sudah kupakai. Ia mengatakannya dengan niat baik, seolah itu adalah bentuk tanggung jawab yang seharusnya.
Aku menolak.
Aku mengatakan padanya bahwa aku masih memiliki uang. Bahwa aku bisa mengurus semuanya sendiri. Ucapanku terdengar tegas, meski di dalam dadaku ada pertarungan yang tidak sederhana. Bukan karena aku tidak membutuhkan bantuan, tetapi karena aku takut.
Aku takut suatu hari nanti, semua ini berubah menjadi perhitungan.
Aku takut dianggap memanfaatkan keadaan.
Aku takut kehilangan ini dilihat sebagai celah, bukan luka.
Padahal, yang sebenarnya ingin kulakukan hanyalah bertahan tanpa menggadaikan harga diriku sendiri. Aku ingin tetap berdiri di kakiku, meski kakiku hampir tak mampu menopang tubuhku. Setidaknya dalam hal itu, aku masih ingin punya kendali.
Akhirnya aku menggunakan uangku sendiri. Sebagian lainnya, aku pinjam dari temanku. Mengucapkan permintaan itu terasa berat. Ada rasa malu yang menempel, bercampur dengan rasa terima kasih yang tidak tahu harus diekspresikan bagaimana. Aku merasa kecil—bukan karena dibantu, tetapi karena kehilangan ini membuatku merasa gagal di banyak sisi.
Setelah semuanya selesai, tubuhku seakan kehilangan arah.
Aku lebih banyak terbaring di kasur. Bukan karena ingin, tapi karena tubuhku tidak memberi pilihan lain. Keluar rumah terasa mustahil. Bahkan bangun terlalu lama membuat kepalaku berputar. Hidupku menyempit pada ruang kecil yang sama, dengan langit-langit kamar sebagai pemandangan paling sering kutatap.
Aku mandi di rumah, dengan gerakan yang sangat pelan. Makan hanya karena harus, bukan karena lapar. Tidak ada aktivitas berarti. Tidak ada rencana. Hanya jeda panjang yang terasa kosong.
Tubuhku diam, tetapi pikiranku tidak pernah benar-benar tenang.
Ada perasaan seperti terus diganggu dari dalam. Seolah pikiranku tidak memberiku waktu untuk bernapas. Aku sulit bercanda. Sulit tertawa. Bahkan berbincang ringan pun terasa melelahkan. Bertemu orang lain membuatku canggung, seperti aku membawa cerita yang terlalu berat untuk dibagikan, tapi juga terlalu berat untuk disimpan sendiri.
Teman sekamarku perlahan menjaga jarak. Bukan karena mereka tidak peduli, tetapi karena aku berubah. Aku lebih banyak diam, lebih sering menutup diri. Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi tanpa harus membuka luka yang masih basah. Aku merasa seperti membawa kesialan, seolah kehadiranku saja cukup membuat suasana menjadi berat.
Kami jadi jarang berbicara.
Dan aku tidak berusaha memperbaikinya.
Di tengah semua itu, aku dan Moses masih berkomunikasi.
Kami menelepon. Kami saling mengirim pesan. Ia menanyakan keadaanku, mengingatkanku untuk makan dan beristirahat. Percakapan kami terdengar normal, bahkan hangat di beberapa bagian. Tetapi selalu ada jarak yang tidak bisa kami lewati.
Ia ada, tapi tidak di sini.
Aku terluka, tapi harus menjelaskannya lewat kata-kata.
Kadang aku merasa bersyukur karena ia tetap tinggal. Kadang aku merasa sendirian meski ia berkata akan bertanggung jawab. Dua perasaan itu hidup berdampingan, tanpa saling meniadakan. Aku tidak menyalahkannya. Aku juga tidak sepenuhnya merasa tenang.
Setiap malam, setelah panggilan berakhir, aku kembali sendirian dengan pikiranku. Aku mengulang kejadian-kejadian itu di kepalaku, seolah mencari titik di mana semuanya mulai runtuh. Namun tidak pernah ada jawaban yang benar-benar memuaskan.
Tangisku sering datang tanpa suara. Tidak meledak, hanya mengalir pelan dan panjang. Aku merasa bersalah—pada diriku sendiri, pada tubuhku, pada kehidupan yang tidak sempat bertahan. Aku bertanya-tanya apakah semua ini terjadi karena aku terlalu banyak berpikir, terlalu cemas, terlalu memaksa diri untuk tetap terlihat kuat.
Tubuhku pun menunjukkan akibatnya. Aku mudah pusing, cepat lelah, dan sering merasa kosong. Ketika akhirnya aku memeriksakan diri lagi, dokter mengatakan aku mengalami anemia yang cukup parah. Kekurangan darah. Seperti ada sesuatu yang benar-benar terkuras dari dalam diriku.
Aku tidak terkejut.
Aku sudah merasa kosong jauh sebelumnya.
Aku masih hidup. Masih mencoba menjalani hari demi hari, meski tidak selalu hadir sepenuhnya. Aku belum sembuh, dan mungkin belum akan dalam waktu dekat. Tapi setidaknya sekarang aku tahu—bertahan tidak selalu berarti kuat. Kadang, bertahan hanya berarti mengizinkan diri sendiri rapuh, tanpa merasa harus segera pulih.