🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29 | Pengkhianatan yang Tak Terduga
...----------------{🔖}----------------...
Kantor pusat Samantha Holdings di Shanghai seharusnya menjadi tempat paling aman di dunia, namun malam ini, setiap bayangan yang jatuh di lorong marmer putih ini terasa seperti belati yang siap menghujam punggung ku. Aku berdiri di depan jendela kaca raksasa di lantai 88, menatap gemerlap kota yang seolah tak pernah tidur. Namun, tangan ku yang memegang tablet terenkripsi gemetar hebat.
"Tuan Satya sedang bertaruh nyawa di London," gumam ku, suara ku tercekat di tenggorokan. "Dia memercayakan rumah ini pada ku. Dia memercayakan pondasi perusahaan ini pada tangan ku yang biasa nya hanya menyeduh teh dan menjadwalkan rapat. Dan sekarang... aku melihat pondasi itu mulai retak dari dalam."
Aku melihat data yang baru saja dikirimkan oleh unit intelijen rahasia yang dibentuk Detektif Chen sebelum ia berangkat. Klan Wei salah satu pilar bisnis tekstil dan manufaktur yang disatukan Satya dengan paksa di sebelum nya baru saja memindahkan aset senilai 4 miliar Dollar ke sebuah akun bank di Swiss yang terafiliasi dengan The Sovereign.
Ini bukan sekadar kesalahan akuntansi. Ini adalah pemberontakan.
"Nona Lin," suara berat itu mengejutkan ku.
Aku berbalik dan melihat Tuan Wei Long, pemimpin Klan Wei, berdiri di pintu kantorku. Dia mengenakan setelan jas abu-abu yang mahal, wajah nya yang keriput tampak tenang, namun mata nya yang kecil memancarkan kelicikan yang selama ini dia sembunyikan di balik senyum tunduk nya pada Satya.
"Tuan Wei," kata ku, mencoba menstabilkan suara ku. Aku meletakkan tablet itu di meja dengan gerakan yang sengaja ku buat lambat. "Ada urusan apa Anda datang ke kantor pusat pada jam dua pagi?"
"Aku mendengar kabar bahwa Tuan Satya mengalami kesulitan di London," Wei Long berjalan masuk tanpa diundang, duduk di kursi di depan meja ku. "Ada rumor bahwa dia bukan lagi manusia. Bahwa dia adalah monster yang sedang diburu oleh seluruh kekuatan Barat. Aku hanya ingin memastikan bahwa aset klan ku tidak ikut tenggelam bersama nya."
"Tuan Satya baik-baik saja," balas ku tegas. "Dan aset Anda adalah aset Samantha Holdings. Anda sudah menandatangani sumpah setia, bukan?"
Wei Long tertawa, sebuah suara kering yang terdengar seperti amplas. "Sumpah setia yang dibuat di bawah ancaman itu tidak berlaku bagi The Sovereign. Mereka menjanjikan ku kursi di meja mereka. Mereka menjanjikan ku bahwa setelah Satya dihapus dari sejarah, Klan Wei akan memimpin Shanghai."
Aku merasakan hawa dingin merayap di punggung ku. Di bawah meja, tangan ku menyentuh sebuah tombol merah kecil. Protokol Lonceng Kematian.
"Jadi Anda memilih untuk menjadi anjing bagi mereka yang memeras bangsa kita selama berabad-abad?" tanya ku, mata ku menatap nya tajam. Aku teringat pada pandangan dingin Satya. Aku harus menjadi dia malam ini. Aku harus membuang rasa iba ku.
"Aku memilih untuk selamat, Xia," Wei Long berdiri, mencondongkan tubuh nya ke depan. "Sekarang, berikan aku kode akses untuk melepaskan blokade saham klan ku. Jika kau melakukan nya, aku mungkin bisa meyakinkan The Sovereign untuk membiarkan mu hidup sebagai sekretaris ku. Kau terlalu cantik untuk mati bersama orang yang sedang sekarat itu."
"Dia tidak tahu," batin ku, di dalam kepalaku berbisik. "Dia tidak tahu bahwa aku telah belajar lebih banyak dari sekadar mengatur jadwal."
"Maafkan saya, Tuan Wei," kata ku, suara ku kini sedingin es, meniru nada bicara Satya saat dia menghancurkan lawan bicaranya. "Tapi variabel pengkhianatan tidak diizinkan dalam persamaan Samantha Holdings."
Aku menekan tombol itu.
KLAK.
Pintu ruangan terkunci secara otomatis dengan baja kedap suara. Wei Long tersentak, wajah nya berubah pucat. "Apa yang kau lakukan, jalang kecil?!"
"Saya sedang membersihkan sampah," jawab ku.
Tiba-tiba, dari balik tirai belakang kantorku, dua pria berpakaian hitam dengan lambang naga perak di lengan mereka muncul. Mereka adalah unit Shadow Guardians pasukan elit yang setia secara buta hanya kepada perintah Satya, yang kini berada di bawah kendali ku.
"Amankan dia," perintah ku.
"Kau tidak bisa melakukan ini! Aku adalah pemimpin klan!" Wei Long berteriak saat kedua pria itu meringkus nya ke lantai.
"Anda adalah pemimpin klan," koreksi ku. "Besok pagi, putra Anda yang lebih patuh akan mengambil alih, dan dunia akan tahu bahwa Anda meninggal karena serangan jantung akibat tekanan kerja."
Aku melangkah keluar dari ruangan itu, meninggalkan teriakan Wei Long yang mereda di balik dinding kedap suara. Aku berjalan menuju ruang kendali utama, tempat para peretas dan analis data terbaik Samantha Holdings bekerja dalam ketegangan.
"Status?" tanya ku pada kepala keamanan.
"Empat manajer senior dari klan lain mencoba melarikan diri melalui bandara Pudong, Nona Lin. Mereka membawa hard drive berisi algoritma Imperial Network," lapor nya.
Aku menatap layar besar yang menunjukkan posisi mereka. Empat titik merah bergerak menuju terminal internasional.
"Satya selalu bilang, jika satu bagian dari tubuh mengalami kebusukan, kau tidak memberinya obat. Kau memotong nya," gumam ku. Air mata mulai menggenang di mata ku, namun aku segera menyeka nya. Aku tidak boleh lemah. Tidak malam ini.
"Aktifkan unit eksekusi di Pudong," suara ku bergetar, namun aku tidak menarik kata-kata ku. "Jangan biarkan mereka naik ke pesawat. Dan... pastikan tidak ada data yang bocor."
"Anda yakin, Nona? Ini akan menjadi pertumpahan darah di area publik," tanya kepala keamanan dengan ragu.
Aku berbalik, menatap nya dengan intensitas yang aku sendiri tidak tahu aku memilikinya. "Jika mereka lolos, The Sovereign akan memiliki kunci untuk menghancurkan Tuan Satya di London. Apakah Anda lebih suka satu malam yang berdarah di Shanghai, atau kehancuran seluruh masa depan kita?"
Dia menunduk. "Mengerti, Nona Lin."
Dua jam berikutnya adalah neraka bagi ku. Aku duduk di kursi Satya, menatap monitor yang menampilkan laporan-laporan mengerikan. Suara tembakan yang terekam secara audio, laporan tentang kecelakaan mobil yang melibatkan pengkhianat di jalan tol, dan pengambilalihan paksa gudang-gudang logistik milik Klan Wei.
Aku memegang cangkir teh yang sudah dingin, tangan ku masih gemetar. Aku baru saja memerintahkan kematian delapan orang. Orang-orang yang pernah duduk di meja yang sama dengan ku saat perayaan kemenangan sebelum nya.
"Xia," sebuah suara muncul dari interkom khusus.
"T-tuan Satya?" aku tersentak.
"Aku melihat apa yang kau lakukan melalui Imperial Link," suara Satya terdengar jauh, namun stabil. Ada nada bangga yang terselip di dalam kedinginan nya yang biasa. "Kau melakukan hal yang benar. Kau baru saja menyelamatkan jantung perusahaan ini."
"Tuan... saya... saya membunuh mereka," bisik ku, air mata akhirnya jatuh membasahi pipi ku. "Saya merasa kotor. Saya tidak ingin menjadi seperti ini."
"Dengarkan aku, Xia," suara Satya melembut, seolah dia berada tepat di samping ku. "Dunia ini adalah tempat yang kejam bagi mereka yang hanya memiliki hati tanpa pedang. Kau tidak membunuh mereka karena kebencian. Kau melakukan nya karena cinta pada apa yang kita bangun. Malam ini, kau telah membuktikan bahwa kau bukan sekadar sekretaris. Kau adalah perisai perusahaan."
"Kapan Anda akan pulang?" tanya ku, merindukan kehadiran nya yang menenangkan sekaligus menakutkan.
"Segera. Setelah aku menyelesaikan urusan di Thames, aku akan kembali untuk merapikan sisa-sisa pengkhianatan ini. Bertahan lah sebentar lagi, Xia. Kau telah melakukan pekerjaan luar biasa."
Sambungan terputus. Aku menyandarkan kepala ku di meja kerja Satya. Aroma parfum nya yang khas campuran kayu cendana dan energi ozon masih tertinggal di sini.
Fajar mulai menyingsing di atas cakrawala Shanghai. Cahaya oranye mulai menyinari lantai kantor ku, menyentuh noda darah kecil yang tertinggal di karpet saat penangkapan Wei Long tadi.
Petugas kebersihan masuk dengan wajah tanpa ekspresi, segera bekerja menghapus jejak konflik semalam. Bagi ku, itu adalah simbol dari dunia Satya: kehancuran yang terjadi dalam sunyi, dibersihkan sebelum publik menyadarinya.
Aku berdiri dan berjalan ke cermin di sudut ruangan. Aku melihat pantulan ku. Wajah ku tampak lebih pucat, mata ku tampak lebih tua. Aku tidak lagi melihat gadis desa yang pemalu yang pertama kali bekerja untuk Satya.
"Aku telah kehilangan kesucian ku malam ini," pikir ku sambil merapikan kerah baju ku. "Aku telah menjadi algojo. Tapi jika ini adalah harga yang harus kubayar agar dia bisa tetap berdiri di puncak dunia, maka aku akan melakukan nya lagi seribu kali."
Ponsel ku bergetar. Sebuah pesan singkat dari Meiling di London. [Semua aman di sini. Terima kasih, Xia. Kau adalah pahlawan yang sebenarnya malam ini.]
Aku tersenyum pahit. Pahlawan? Tidak. Aku hanyalah bayangan yang memastikan bahwa saat sang matahari kembali, tidak ada awan yang menghalangi sinar nya.
Aku kembali ke meja ku, mengambil baki teh yang baru saja diantarkan oleh sekretaris junior. Aku menghirup aroma nya, mencoba menenangkan saraf ku yang hancur. Shanghai sudah bersih. Pengkhianatan telah dipadamkan dengan darah. Dan sekarang, yang tersisa hanyalah menunggu kepulangan sang Kaisar untuk memulai penghakiman terakhir bagi The Sovereign.
"Nona Lin," seorang staf masuk. "Rapat darurat dengan dewan direksi yang baru akan dimulai dalam lima menit."
"Baik," kata ku, berdiri dengan tegak. "Bawa laporan nya. Dan pastikan mereka tahu... siapa pun yang berkedip di depan saya hari ini, akan berakhir seperti Tuan Wei."
Aku melangkah keluar dari ruangan itu dengan suara sepatu hak tinggi yang berdetak tegas di atas lantai marmer. Suara itu bukan lagi suara ketakutan, melainkan suara dari seorang wanita yang baru saja mewarisi sebagian dari kedinginan sang Naga.
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee