NovelToon NovelToon
Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Terbelenggu Cinta & Obsesi Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Obsesi / Persaingan Mafia
Popularitas:16.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lea

Kehadiran Jay Van O’Connor adalah noda yang tak pernah bisa diterima Zavier Van O’Connor.

Jay si anak haram Jackman Van O’Connor, bukan hanya bukti pengkhianatan sang ayah, tetapi juga ancaman nyata bagi posisi dan kendali yang selama ini Zavier inginkan. Warisan dan tahta.

Sejak awal, Zavier berusaha melenyapkan Jay.
Dengan cara halus maupun kejam, dengan kekuasaan, uang, dan strategi.

Zavier harus melenyapkan sang adik bukan karena tanpa alasan, setiap melihat Jay, Zavier seperti melihat sosok sang ayah ada dalam diri adiknya. Jay benar-benar mirip seperti Jackman.

Hingga suatu hari, Zavier menemukan celah Jay.

Anna Barthley, seorang gadis sederhana yang hidupnya dipenuhi pekerjaan paruh waktu, berjuang melunasi hutang orang tuanya, dan tak pernah bersentuhan dengan dunia kelam keluarga O’Connor.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11

Siluet seorang gadis tampak bergerak samar di balik tirai tipis. Rambut panjangnya tergerai. Ia tampak duduk, mungkin membaca, mungkin menulis. Rutinitas yang sama seperti malam-malam sebelumnya.

Dada Jay terasa sesak dengan cara yang aneh—bukan karena ancaman, bukan karena ambisi.

Melainkan karena perasaan yang selama ini ia kubur dalam-dalam.

“Empat tahun…” gumamnya pelan.

Ia bisa saja mendekat.

Ia punya kekuasaan untuk itu.

Namun Jay memilih jarak.

Karena semakin ia dekat, semakin besar kemungkinan gadis itu terseret ke dalam dunia kelamnya. Terlalu beresiko. Jay tak ingin mempertaruhkan gadis itu. Dan Jay tidak ingin itu.

Mobil tetap diam di sana selama beberapa menit—cukup untuk memastikan semuanya aman, cukup untuk menenangkan hatinya sendiri. Hanya dengan melihat gadis itu Jay sudah merasa tenang dari semua kemunafikan dunia yang ada di sekitarnya.

Akhirnya, Jay memejamkan mata sebentar. Dan mengetuk jendela dengan jentikan jarinya.

“Baik,” ucapnya saat Drew kembali masuk ke mobil. “Kita pergi.”

Mobil kembali bergerak. Perlahan meninggalkan kawasan sederhana itu.

Jay tidak menoleh lagi.

Namun dalam hatinya, ia tahu satu hal—

Acara amal, kekuasaan, intrik keluarga… semuanya tidak pernah benar-benar mengguncangnya.

Yang paling berbahaya baginya justru satu hal sederhana. Seorang gadis yang selama 4 tahun ini berada dalam hatinya, dan Jay menahan dirinya begitu kuat untuk tidak melibatkan gadis itu ke dalam kehidupannya yang sangat keras.

———

Malam sudah jauh lebih sunyi ketika Jay tiba di apartemennya.

Gedung tinggi itu berdiri angkuh di tengah kota, lantai teratas sepenuhnya milik Jay. Tempat itu selalu rapi, bersih, dan teratur—seperti pikirannya yang terbiasa mengendalikan segalanya.

Begitu pintu terbuka, lampu otomatis menyala.

Sepi.

Jay melangkah masuk dengan tenang. Jasnya masih melekat rapi di tubuhnya. Pintu tertutup perlahan di belakangnya.

Sunyi.

Namun sesuatu terasa berbeda.

Tatapannya menyapu ruangan. Sofa tetap pada tempatnya. Meja kaca tidak bergeser. Tirai tertutup seperti biasa.

Lalu matanya berhenti pada satu titik.

Sebuah pajangan kristal kecil di atas rak—miniatur kuda perak yang selalu ia posisikan menghadap tepat ke arah jendela—kini sedikit miring. Hanya beberapa derajat.

Orang lain mungkin takkan menyadarinya.

Tapi Jay menyadarinya.

Ia tidak pernah menyentuhnya sejak terakhir dibersihkan oleh petugas kepercayaannya. Dan petugas itu selalu bekerja di bawah pengawasan ketat.

Langkah Jay terhenti.

Hening berubah menjadi kewaspadaan.

Ia tidak langsung bergerak mendekat. Sebaliknya, matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan lebih tajam. Pintu balkon. Lorong menuju kamar. Dapur kecil yang terhubung dengan ruang utama.

Semua tampak normal.

Terlalu normal.

Jay berjalan perlahan menuju rak itu. Ujung jarinya menyentuh miniatur tersebut dan memutarnya kembali ke posisi semula.

Dingin.

Seseorang telah masuk.

Dan orang itu cukup berani untuk tidak meninggalkan jejak jelas—atau cukup percaya diri untuk sengaja meninggalkan isyarat kecil.

Sementara itu, ponsel Jay bergetar singkat.

Panggilan dari Drew.

“Tuan, saya dipanggil kembali ke mansion utama oleh Tuan Jackman. Ada sesuatu yang mendadak.”

Jay menjawabnya tanpa ekspresi.

“Pergilah. Jangan khawatirkan.”

Ia menutup ponselnya.

Apartemen itu kini terasa berbeda. Bukan lagi sekadar tempat beristirahat—melainkan ruang yang mungkin telah ada yang masuk dan melanggar aturan Jay.

Jay membuka laci meja konsol perlahan. Tangannya mengambil pistol hitam yang tersembunyi rapi di dalamnya. Gerakannya tenang, terlatih.

Ia mematikan sebagian lampu, menyisakan pencahayaan redup.

Jika seseorang masih berada di dalam sini— Maka orang itu telah membuat kesalahan besar.

Jay melangkah menuju lorong kamar, langkahnya tanpa suara. Tatapannya dingin, fokus, seperti predator yang kembali ke wilayahnya dan menyadari ada jejak asing di tanahnya.

Sunyi kembali menyelimuti ruangan.

Namun kali ini, sunyi itu bukan tenang.

Melainkan menunggu.

Langkah Jay terhenti tepat di depan ruang kontrol kecil tersembunyi di balik panel dinding apartemennya.

Ia memasukkan kode akses.

Layar-layar CCTV menyala satu per satu.

Rekaman beberapa jam lalu diputar ulang.

Dan di sana—

Berdiri sosok yang sangat ia kenal.

Tuan Jackman.

Ternyata ketika Jay pergi dari mansion utama, untuk memastikan gadis yang Jay sukai, ia sudah di awasi, dan Jackman pergi memastikan apartmen Jay.

Sang ayah berdiri tegak di ruang tamu apartemen itu, ditemani pengawal kepercayaannya. Wajahnya dingin, sorot matanya menyapu setiap sudut ruangan dengan penilaian tajam.

Jay memperhatikan dalam diam.

Rekaman memperlihatkan Jackman berhenti di depan meja kecil dekat sofa. Ia membungkuk sedikit.

Tanpa menyentuh. Tapi Jay tahu Jackman memperhatikan barang itu.

Plester. Dan sebuah kresek kecil berisi obat-obatan sederhana.

Barang-barang yang tampak kumuh. Murahan. Tidak selaras dengan kemewahan apartemen itu.

Rahang Jay mengeras.

Jackman menatap benda itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Wajahnya tak menunjukkan jijik, tapi jelas tidak menyukai apa yang ia lihat.

Jay tahu.

Ayahnya juga tahu bahwa Jay memiliki kebiasaan aneh.

Lalu di rekaman itu, Jackman perlahan mengangkat wajahnya.

Menatap lurus ke arah kamera. Seolah ia tahu Jay pasti akan memeriksa rekaman ini.

Tatapan itu bukan kebetulan.

Itu pernyataan dan peringatan.

Setelah itu, Jackman berjalan menuju rak pajangan. Tangannya menyentuh miniatur kuda perak—kristal kecil yang selalu Jay atur presisi.

Ia memutarnya sedikit.

Sengaja.

Sebuah tanda untuk Jay.

Senyum tipis yang hampir tak terlihat terukir di sudut bibir Jackman.

Seolah berkata:

Aku tahu kau akan menyadarinya.

Merasa tidak tenang. Jay kemudian melihat ka arah layar lain, Jay mengotak atik, dan beralih ke rekaman lain. Rekaman yang sudah Jay retas.

Beberapa jam setelah Jay meninggalkan mansion utama.

Mobil Jay terlihat keluar dari gerbang.

Beberapa detik kemudian—mobil lain mengikuti dari jarak aman.

Pengawal pribadi Jackman.

Rekaman berpindah ke kamera eksternal kota yang telah diretas sistem keamanan mereka.

Mobil itu berhenti tidak jauh dari kawasan sederhana yang Jay kunjungi.

Jay menatap layar tanpa berkedip.

Ia melihat dirinya sendiri duduk di dalam mobil, menatap ke arah rumah kecil itu.

Dan dari kejauhan—kamera lain menangkap pengawal Jackman berbicara melalui alat komunikasi.

Melaporkan.

Perkiraan Jay. Pengawal itu melaporkan bahwa Jay, putra keluarga terpandang, mengawasi seorang gadis desa. Kemungkinan belum tahu bahwa Jay mengawasi selama 4 tahun. Tapi Jackman tetap tahu fakta tentang gadis itu.

Ruangan terasa lebih dingin.

Jadi ini bukan sekadar kunjungan iseng.

Ini pengawasan.

Jackman bukan hanya tahu tentang plester dan obat-obatan murah itu. Ia tahu tentang gadis itu.

Tentang rutinitas Jay. Tidak mungkin Jay tiba-tiba saja datang ke daerah kumuh itu tanpa tujuan.

Jackman tahu.. Tentang rahasia yang Jay jaga lebih rapat daripada bisnis keluarga.

Jay mematikan layar perlahan. Sunyi kembali menyelimuti apartemen. Namun kali ini bukan sunyi yang menunggu. Melainkan badai yang sedang terbentuk.

“Kalau begitu Drew…. ” gumamnya pelan.

Tangannya masih memegang pistol, tapi kini bukan penyusup yang menjadi ancaman. Melainkan seseorang yang jauh lebih berbahaya. Seseorang yang mengenalnya terlalu baik. Dan jika Jackman sudah tahu tentang gadis itu—

Maka jarak empat tahun yang Jay pertahankan dengan susah payah… Bisa runtuh dalam satu keputusan. Dan nyawa Drew di ujung tanduk.

Bersambung

1
@emak aisyah
tidak tau lagi mau berkata apa,di tunggu pertempurannya Thor pastikan Jay tak terkalahkan
wiwied
next
@emak aisyah
ya ampun,bang NEWBE update bersamaan tapi kenapa aku lebih milih Jay,Jay aku padamu 😍😍
daniez
upp
daniez
ok
@emak aisyah
keren,tidak ada kata selain keren,KEREN KALI THOR semangat di tunggu updatenya 🙏
@emak aisyah
cas cis cus pokoknya gas torr
@emak aisyah
satu kesalan satu ciuman bikin kesalahan trs aahhh🤣🤣
@emak aisyah
lah jadi kacau,kasihan Anna nggk tau apa² jadi sasaran semua orang gerak cepat Jay simpan jangn sampai ada yang menyentuhnya
@emak aisyah
nggk bisa nafas aku bacanya
@emak aisyah
masuk babak menegangkan,apakah Jay masih diam saja saat di tindas zavier
@emak aisyah
blm terjadi tapi aku udah kasihan Ama Anna
@emak aisyah
lah kirain tak sama,ternyata sama² psikopat
@emak aisyah
ko bisa orng berbahaya kaya Jay bisa kuat diam saja di siksa😔😔
@emak aisyah
keren tidak salah kalian author terbaik semangat thor💪💪
@emak aisyah
halo kakak author salam kenal saya fans NEWBEE HK mau ikut nimbrung di sini🙏🙏
eva nindia
makasih up nya thor...
adu domba zavier brhasil nih...
untung jay segera datang....
eva nindia
baguss kluar ajaa jay,,, bangun dinasti baru mu....
eva nindia
🙄 knapa insting c jackman gak jalan
eva nindia
cba tahta itu d serahin ke zavier djamin ancurr 🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!