NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / CEO / Office Romance
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh,detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26— EFFECTIVE IMMEDIATELY

"Artha Capital masuk tahap efisiensi," Arsenio memotong sisa bisik-bisik di meja rapat. Ia tidak duduk. "Struktur proyek saya rombak mulai jam ini."

Ujung jarinya mengetuk trackpad. Di layar proyektor, nama Alinea yang semula di baris teratas sebagai Lead, bergeser turun ke kolom Internal Analyst. Kotak di atasnya dibiarkan kosong. Tanpa nama pengganti.

Alinea meletakkan tabletnya. Ia mengangkat tangan. "Izin interupsi, Pak Arsenio. Apakah ada evaluasi performa yang mendasari keputusan ini?"

Arsenio melirik sekilas dari balik laptop. "Penyesuaian risiko," jawabnya pendek.

Alinea mengangguk satu kali. "Baik. Saya tunggu arahan tertulis mengenai batasan tanggung jawab baru ini sebelum makan siang. Agar tidak ada tumpang tindih koordinasi."

Staf lain mendadak sibuk dengan catatan masing-masing. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara mesin pendingin ruangan yang mendengung pelan.

"Detailnya diatur sekretariat." Arsenio menutup laptopnya. Suara klik yang dihasilkan menjadi tanda titik yang final. Ia berdiri dan melangkah keluar sebelum menit kesepuluh.

Alinea mengetuk pintu satu kali sebelum melangkah masuk. Ia meletakkan dokumen resmi di meja Arsenio tanpa perlu dipersilakan duduk. Tidak ada raut protes, hanya tumpukan kertas yang menuntut kejelasan.

"Saya butuh klarifikasi ruang lingkup peran baru ini," Alinea membuka suara. "Apakah seluruh jalur komunikasi eksternal dengan klien sepenuhnya dialihkan?"

Arsenio tidak mengangkat wajah dari layar.

"Ya. Berlaku efektif hari ini."

Alinea mengangguk pelan, lalu menyelipkan satu lembar tambahan ke atas meja. "Kalau begitu, saya informasikan bahwa pagi ini saya menerima undangan diskusi dari Artha Group sebagai konsultan independen. Mereka menghubungi secara personal."

Gerakan tangan Arsenio yang sedang membuka map terhenti seketika. Ia menatap lembar undangan itu selama beberapa detik.

"Apakah Anda sedang mempertimbangkannya?"

"Saya mempertimbangkan semua peluang profesional selama tidak melanggar kontrak kerja saya di sini," sahut Alinea. Kalimatnya datar, tanpa nada menantang.

"Saya pikir loyalitas Anda masih ada di divisi ini," Arsenio meliriknya tajam. Alinea membalas tatapan itu tanpa berkedip. "Loyalitas saya pada perusahaan dan kontrak, Pak, bukan pada individu."

Alinea merapikan ujung blazernya. "Saya tunggu keputusan tertulis mengenai posisi saya di proyek ini sore nanti." Ia berbalik dan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban.

Notifikasi surel masuk ke layar Arsenio tepat saat Alinea menutup pintu. Subjeknya singkat, Pernyataan Keberatan Struktur Artha Capital. Klien utama mempertanyakan alasan hilangnya nama Alinea dari posisi Lead.

Pintu terbuka tanpa ketukan, Raka masuk dengan raut wajah kaku.

"Klien baru saja menelpon, mereka tidak nyaman dengan pergantian mendadak ini," ujarnya sambil meletakkan ponsel di meja.

"Ada potensi risiko pembatalan kontrak jika stabilitas tim tidak segera dipulihkan.”

Arsenio menarik laci meja dan mengeluarkan map personil milik Alinea. Ia membalik lembaran hingga menemukan bagian klausul non-kompetisi. Jarinya menelusuri poin demi poin mengenai batasan kerja konsultan di luar jam kantor. Ia menandai satu paragraf dengan tinta hitam.

Sebuah notifikasi surel baru muncul dari Alinea. Isinya adalah permohonan evaluasi formal terhadap seluruh keterlibatannya dalam proyek berjalan. Ia melampirkan draft mitigasi konflik kepentingan untuk mencegah celah hukum atas tawaran konsultan independennya. Bahasanya lugas, teknis, dan sangat dingin.

Arsenio membaca ulang draf mitigasi tersebut di layar monitornya. Mempertahankan posisi baru Alinea berarti mempertahankan hubungan dengan klien besar. Namun, membatalkan keputusan itu sekarang akan merusak otoritasnya di hadapan tim. Ia menutup layar laptop, menyadari tidak ada celah hukum yang bisa digunakan untuk mengikat Alinea secara paksa.

Reputasi perusahaan berada di ujung tanduk jika kerja sama dengan Artha Group gagal. Nilai proyek sembilan angka itu bisa melayang hanya karena satu langkah restrukturisasi yang salah. Arsenio tahu bursa saham akan bereaksi negatif pada ketidakstabilan manajerial internal. Fokusnya kini bukan lagi sekadar ego, melainkan menyelamatkan aset terbesar kantor.

Lampu koridor mulai padam otomatis, menyisakan pendar putih pucat di atas lantai marmer yang sunyi.

Arsenio melangkah melewati deretan kubikel kosong tanpa menoleh ke arah ruangannya lagi. Hanya ada bunyi langkah kakinya yang bergema, memantul di antara dinding kaca yang memisahkan ruang kerja dengan gelapnya kota Jakarta di luar sana.

Lantai basement terasa lebih lembab dan pengap. Ia masuk ke dalam mobil, namun tangannya hanya diam mematung di atas setir yang terasa dingin. Ia tidak segera menyalakan mesin, membiarkan keheningan kabin menekannya selama beberapa menit. Ujung ibu jarinya menekan setir begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

Di lantai dua puluh, Alinea masih duduk di hadapan monitor yang membiaskan cahaya biru ke wajahnya. Ponselnya bergetar di atas meja kayu, menampilkan nama Direktur Operasional Artha Group. Ia menarik nafas pendek sebelum menggeser layar dan menempelkan perangkat itu ke telinga.

"Kami baru saja menerima memo internal kantor Anda, Alinea," suara di seberang terdengar berat. "Apakah benar posisi Lead untuk proyek ini sekarang kosong?"

Alinea memutar kursi kerjanya menghadap jendela. "Ada penyesuaian struktur internal untuk optimasi risiko, Pak."

"Kami tidak butuh optimasi risiko, kami butuh stabilitas yang Anda bawa sejak awal," sahut pihak klien tanpa basa-basi. "Jika Anda bukan lagi pengambil keputusan, kami akan meninjau ulang klausul kelanjutan kontrak minggu depan."

Alinea menutup telepon tepat saat notifikasi portal berita ekonomi muncul di sudut layarnya. Rumor restrukturisasi di biro konsultan papan atas mulai tercium, dan grafik saham perusahaan Arsenio menunjukkan kurva merah yang menurun tipis. Ini bukan lagi sekadar urusan ego di dalam ruang rapat, melainkan ancaman nyata pada valuasi pasar.

Di dalam mobil, Arsenio akhirnya menyalakan ponselnya. Ia menatap ulang baris kalimat dalam surel keberatan klien yang baru saja masuk ke kotak masuknya. Dengan satu gerakan cepat, ia mencari kontak Alinea dan menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar lima kali sebelum akhirnya suara Alinea muncul, datar dan terjaga.

"Ya, Pak Arsenio?"

"Turun ke lobi sekarang," perintah Arsenio tanpa pembukaan. "Kita perlu bicara di luar kantor."

Alinea terdiam sejenak, suara ketikan keyboard terdengar samar dari ujung sana.

"Saya masih harus menyelesaikan draft mitigasi yang Anda minta sore tadi."

"Lupakan draft itu. Artha Group mengancam menarik diri dari kontrak jika posisi Lead tidak segera dipastikan."

"Nilai proyek itu terlalu besar untuk dikompromikan hanya karena satu posisi, bukan?" tanya Alinea, suaranya mengandung nada yang sulit diartikan.

Arsenio memutar kunci kontak, mesin mobil menderu pelan. "Justru karena angkanya terlalu besar, saya tidak ingin ada celah bagi Anda untuk keluar sebagai konsultan independen mereka."

"Integritas profesional saya tidak bisa dinegosiasikan dengan angka atau ancaman kontrak, Pak," sahut Alinea cepat.

"Ini bukan negosiasi. Ini adalah upaya pencegahan kehancuran sistemik yang baru saja Anda mulai."

Arsenio mematikan sambungan telepon sebelum Alinea sempat membalas. Ia menyadari sepenuhnya bahwa secara hukum, klausul non-kompetisi yang ia baca tadi memiliki lubang besar bagi konsultan tingkat independen. Jika Alinea memilih pergi sekarang, ia bukan hanya kehilangan staf terbaik, tapi juga kehilangan kendali atas klien terbesarnya.

Indikator saham di layar dasbor mobilnya kembali berkedip, menunjukkan penurunan poin yang konsisten. Tekanan dari pemegang saham akan mulai berdatangan dalam beberapa jam ke depan. Ia harus menghentikan pendarahan ini sebelum bursa dibuka esok pagi.

Alinea akhirnya berdiri, menyambar tasnya, dan meninggalkan meja yang masih berantakan. Ia melangkah menuju lift dengan kepala tegak, menyadari bahwa posisi tawar-menawarnya kini telah bergeser sepenuhnya. Ia bukan lagi bawahan yang menunggu instruksi, melainkan pemegang kunci keselamatan proyek.

Arsenio memacu mobilnya menuju area lobi depan, tempat lampu jalanan mulai membiaskan bayangan panjang. Ia melihat sosok Alinea berdiri di sana, sendirian di bawah lampu merkuri yang temaram. Tidak ada lagi meja mahoni yang membatasi mereka, hanya udara malam yang tajam dan dingin.

Ia menurunkan kaca jendela, menatap Alinea tanpa emosi yang terbaca. "Masuk. Kita selesaikan ini sekarang."

Alinea tidak langsung bergerak, ia menatap Arsenio cukup lama seolah sedang menghitung setiap kemungkinan yang ada. Akhirnya, ia membuka pintu mobil dan duduk di kursi penumpang tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Arsenio menginjak pedal gas, membawa kendaraan itu membelah jalanan kota yang mulai lengang. Pikirannya sudah melompat jauh ke depan, menyusun skenario yang mungkin akan dibenci oleh dewan direksi. Namun, stabilitas adalah mata uang tertinggi di industri ini, dan ia tahu harga yang harus dibayar.

Ia tidak akan membiarkan Alinea menjadi musuh di luar sana, karena itu jauh lebih berbahaya daripada memilikinya sebagai rival di dalam.

Keputusan yang ia ambil malam ini bersifat impulsif namun strategis secara brutal. Ia akan melakukan apa pun untuk menjaga agar papan catur ini tidak berantakan.

Arsenio melirik jam di dasbor yang menunjukkan hampir tengah malam. Besok pagi, struktur proyek akan kembali berubah.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙌
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
🙆✨🥰 👉👍👈
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
readers tekan jempolnya mana????

👍

🙆✨🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
yang mau aku UP terosss 🫵 komen lanjut!!!
kalo gak aku gakan UP lagi loh🫸
🙌 eitss!! becanda yak readers 😹

terimakasih banyak buat pembaca setia 🫶✨✍️🔥
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: oiyaaaa kalo Sukak novel ini, pencet jempol likenya yak 👍🙆🫰
total 1 replies
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!