NovelToon NovelToon
Ayah Apa Salahku?

Ayah Apa Salahku?

Status: tamat
Genre:Fantasi Wanita / Tamat
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"

Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.

Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.

Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.

Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KETENANGAN DIBAWAH LANGIT BANYU

Perjalanan menuju rumah Kanaya terasa jauh lebih hidup dibandingkan biasanya. Di dalam mobil, Wanda tidak henti-hentinya menggoda Banyu dan Kanaya, sementara Banyu tetap tenang mengemudi meskipun sesekali telinganya memerah mendengar ocehan sepupunya itu. Kanaya sendiri lebih banyak terdiam, menatap botol air mineral yang tadi diberikan Banyu, sambil mencoba mencerna kegilaan yang baru saja terjadi di lobi kantor.

Sesampainya di depan pagar rumah, Kanaya sempat ragu. Namun, melihat Wanda yang sudah siap melompat turun, ia akhirnya memberanikan diri. "Mas Banyu, Wan... mampir dulu ya? Ibu pasti senang kalau tahu Wanda datang, apalagi ada Mas Banyu yang sudah repot-repot bantu tadi."

"Tanpa diminta pun aku pasti turun, Nay! Aku kangen masakan Ibu Maya," seru Wanda riang sambil menarik lengan Kanaya masuk.

Begitu pintu terbuka, Ibu Maya sedang duduk di ruang tamu sambil merajut. Wajahnya yang dulu kuyu kini tampak lebih segar, meski guratan lelah masih ada. Saat melihat Wanda, wajahnya langsung cerah.

"Lho, Wanda! Tumben sekali mampir sore-sore begini," ucap Ibu Maya sambil bangkit berdiri. Matanya kemudian beralih ke sosok tinggi tegap yang berdiri di belakang Kanaya. Ia tertegun sejenak melihat seragam loreng yang dikenakan pria itu.

"Ibu, ini Banyu, sepupuku yang sering kuceritakan itu lho. Dia yang jemput kami tadi," Wanda langsung memeluk Ibu Maya dengan akrab, menunjukkan betapa dekatnya mereka selama ini.

Banyu melangkah maju dengan sangat sopan. Ia melepaskan baretnya, menjepitnya di ketiak, lalu membungkuk hormat untuk menyalami tangan Ibu Maya. "Selamat sore, Tante. Saya Banyu. Maaf mengganggu waktu istirahat Tante."

Ibu Maya menatap Banyu dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menyelidik, namun penuh kekaguman. "Oh, ini Mas Banyu yang AU itu? Gagah sekali ya. Ayo, silakan duduk. Naya, ambilkan minum untuk tamu-tamunya."

Kanaya segera bergegas ke dapur, meninggalkan Banyu yang kini duduk berhadapan dengan ibunya. Dari dapur, Kanaya bisa mendengar percakapan yang mengalir begitu lancar.

"Tante dengar Banyu tugas di pangkalan dekat sini ya?" tanya Ibu Maya.

"Siap, betul Tante. Baru pindah sekitar tiga bulan yang lalu," jawab Banyu dengan suara baritonnya yang mantap namun tetap lembut saat berbicara dengan orang tua.

Wanda, yang memang berniat menjadi mak comblang, langsung menyela, "Iya Bu Maya, Mas Banyu ini jomblo abadi gara-gara sibuk jaga langit Indonesia. Padahal dia baik banget, tadi aja pas lihat Naya melamun di taman, dia langsung sigap jagain."

Kanaya kembali dengan nampan berisi teh hangat, wajahnya memerah mendengar ucapan Wanda. Ia meletakkan cangkir itu di depan Banyu. Mata mereka sempat bertemu sesaat, dan Banyu memberikan anggukan kecil yang seolah berkata, 'Tenang saja, semuanya aman'.

Ibu Maya memperhatikan interaksi itu. Sebagai ibu yang pernah menghancurkan kebahagiaan anaknya, ia kini memiliki kepekaan yang lebih tajam. Ia melihat bagaimana cara Banyu menatap Kanaya—bukan dengan tatapan menuntut seperti mantan suaminya, atau tatapan penuh beban seperti Hendri dulu, melainkan tatapan yang kokoh, seolah ia adalah pelabuhan yang siap menghadapi badai apa pun.

"Mas Banyu," panggil Ibu Maya tiba-tiba, membuat suasana sedikit serius. "Naya ini anak saya satu-satunya. Hidupnya sudah cukup berat selama ini. Dia butuh orang yang tidak hanya bisa berjanji, tapi juga bisa berdiri tegak melindunginya."

Banyu meletakkan cangkir tehnya, ia menatap Ibu Maya dengan kesungguhan seorang prajurit. "Saya paham, Tante. Saya memang baru mengenal Kanaya, tapi saya bukan tipe orang yang suka membuang waktu untuk hal yang tidak pasti. Jika Kanaya mengizinkan, saya ingin mengenalnya lebih jauh."

Kanaya hampir saja menjatuhkan toples biskuit yang ia pegang. Ia menatap Banyu dengan tidak percaya, namun pria itu tidak terlihat sedang bercanda. Di kursi sebelah, Wanda menahan tawa kemenangan. Malam itu, di rumah yang dulu penuh dengan air mata dan tekanan, perlahan mulai hangat kembali. Kehadiran Banyu bukan hanya menjadi benteng baru bagi Kanaya untuk melawan masa lalu, tapi juga menjadi harapan baru bagi Ibu Maya bahwa anaknya akhirnya akan menemukan penjaga yang sesungguhnya.

Malam itu menjadi titik balik yang tak terduga. Setelah Wanda dan Banyu pamit pulang, suasana rumah yang biasanya terasa sunyi dan dingin kini menyisakan kehangatan yang asing namun menyenangkan. Ibu Maya tidak langsung masuk ke kamar. Ia duduk di ruang tamu, menatap cangkir teh kosong bekas Banyu, lalu beralih menatap Kanaya yang sedang sibuk membereskan meja.

"Naya," panggil Ibu Maya lembut. "Kemari sebentar, Nduk."

Kanaya meletakkan nampannya dan duduk di samping ibunya. Ia bersiap jika ibunya akan melarangnya lagi, atau justru memberondongnya dengan pertanyaan tentang Hendri yang tadi sempat muncul di kantor. Namun, yang dilakukan Ibu Maya justru menggenggam tangan Kanaya erat-alih.

"Ibu melihat sesuatu yang berbeda pada Mas Banyu," bisik Ibu Maya. "Dia bukan laki-laki yang hanya datang membawa janji manis. Dia membawa ketenangan. Dan Ibu rasa, setelah semua badai yang Ibu ciptakan dalam hidupmu, Tuhan mengirimkannya untuk menjagamu."

Kanaya terdiam, matanya berkaca-kaca. "Naya baru kenal dia hari ini, Bu. Tadi di kantor, Mas Hendri juga ada. Dia... dia sudah punya hidup baru."

"Bagus kalau begitu," sahut Ibu Maya tegas namun tanpa kebencian. "Artinya pintu masa lalu itu sudah dikunci oleh Tuhan dari luar. Kamu tidak perlu lagi menoleh ke belakang. Sekarang, fokuslah pada pria yang berani berdiri di depanmu tadi."

Keesokan paginya, kejutan lain menanti. Saat Kanaya baru saja sampai di depan pagar rumah untuk berangkat kerja, sebuah mobil SUV hitam sudah terparkir di sana. Bukan Banyu, melainkan Hendri. Pria itu tampak tidak tidur semalaman, matanya sembab dan pakaiannya sedikit kusut.

"Nay, tolong... dengarkan aku sekali saja," pinta Hendri saat Kanaya mencoba melewatinya.

Kanaya berhenti, namun ia tidak lagi merasa sesak seperti kemarin. Keberadaan Banyu dan dukungan ibunya semalam seolah menjadi perisai yang sangat kuat. "Mau bicara apa lagi, Mas? Semuanya sudah jelas. Kamu sudah punya istri, mungkin sebentar lagi punya anak. Kenapa masih di sini?"

"Foto itu... itu bukan istriku, Nay. Itu kakakku dan bayinya. Aku menaruhnya di sana karena aku rindu suasana keluarga yang hangat," ucap Hendri dengan nada putus asa. "Aku belum menikah, Nay. Aku menunggumu."

Kanaya tertegun sejenak. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum tipis. Senyum yang penuh dengan kelegaan, bukan lagi cinta. "Mas, mau itu kakakmu atau istrimu, kenyataannya tetap sama: kita sudah selesai setahun lalu. Saat aku memblokirmu, aku sedang menyelamatkan hidupku dan ibuku. Dan sekarang, aku sudah sampai di tempat yang jauh lebih tenang."

"Tapi pria berseragam itu? Kamu baru kenal dia, kan?" Hendri mencoba memegang tangan Kanaya.

"Lepaskan." Sebuah suara bariton yang tegas terdengar dari arah belakang.

Banyu muncul dengan seragam dinas hariannya. Ia tidak tampak marah, namun auranya begitu mengancam. Ia berdiri di samping Kanaya, meletakkan tangannya di bahu gadis itu dengan protektif. "Saya rasa Kanaya sudah cukup jelas. Sebagai pria, harusnya Anda tahu kapan harus mundur dengan terhormat."

Hendri menatap Banyu, lalu beralih ke mata Kanaya yang kini tidak lagi menunjukkan keraguan. Hendri sadar, ia telah kehilangan Kanaya bukan karena jarak atau waktu, melainkan karena ia tidak ada di sana saat Kanaya sedang berjuang sendirian melawan dunianya yang runtuh. Dan pria di depannya ini, meski baru sekejap, telah mengisi ruang kosong itu dengan keberanian.

"Baiklah," bisik Hendri layu. Ia berbalik dan masuk ke mobilnya, pergi meninggalkan kenangan yang akhirnya benar-benar ia kubur.

Beberapa bulan kemudian, suasana di pangkalan Angkatan Udara sedang cerah. Kanaya berdiri di pinggir landasan dengan gaun yang sederhana namun cantik. Di depannya, Banyu baru saja turun dari salah satu pesawat angkut setelah menyelesaikan tugas dinas luar kotanya.

Hubungan mereka mengalir dengan sangat alami. Banyu tidak pernah mendesak Kanaya untuk melupakan masa lalunya, ia justru membantu Kanaya menyembuhkan luka-lukanya satu per satu. Ia sering datang ke rumah, bukan untuk berkencan, tapi untuk membantu Ibu Maya membetulkan atap yang bocor atau sekadar menemani wanita tua itu mengobrol tentang masa muda.

"Mas Banyu," panggil Kanaya saat pria itu mendekat dengan senyum lebarnya.

"Sudah lama menunggu?" Banyu mengusap puncak kepala Kanaya, sebuah gerakan yang kini menjadi rutinitas favorit mereka.

"Tidak juga. Tadi Ibu menitip pesan, katanya jangan lupa mampir. Beliau masak makanan kesukaan Mas," jawab Kanaya ceria.

Banyu tertawa kecil, ia menggandeng tangan Kanaya erat. "Naya, minggu depan ada acara di kantor pusat. Saya ingin kamu ikut. Sebagai pendamping resmiku."

Kanaya menatap mata Banyu. Ia tahu apa arti 'pendamping resmi' bagi seorang prajurit. Itu berarti pengenalan kepada keluarga besar dan langkah menuju komitmen yang lebih serius. Tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi bayang-bayang ayah tirinya yang jahat atau fitnah adik tirinya yang pengecut. Semua itu sudah ia lewati.

"Aku ikut, Mas," jawab Kanaya mantap.

Cerita berakhir di sebuah sore yang jingga, persis seperti saat mereka pertama kali bertemu di taman. Kanaya kini duduk di teras rumahnya sendiri, menyesap teh bersama Ibu Maya. Ayahnya tidak pernah kembali lagi setelah kejadian di rumah tua itu, dan Kanaya sudah memaafkan segalanya dalam hati, meski ia tidak ingin bertemu lagi.

Dari kejauhan, suara motor Banyu terdengar mendekat. Kanaya bangkit dengan senyuman yang paling tulus yang pernah ia miliki. Ia tidak lagi menjadi tawanan sepuluh menit dari rumah ke toko. Ia adalah wanita yang merdeka, yang menemukan cintanya di tengah badai, dan yang akhirnya memiliki pelindung yang siap menjaganya hingga akhir hayat.

Kanaya menyadari bahwa terkadang, kita harus melepaskan sesuatu yang kita anggap 'cinta' untuk mendapatkan sesuatu yang lebih tinggi: yaitu ketenangan jiwa dan seseorang yang benar-benar tahu cara menghargai keberadaan kita. Di bawah langit yang dijaga oleh Banyu, Kanaya akhirnya pulang.

TAMAT

Terimakasih atas dukungannya aku lagi mentok ide nanti ku lanjut xixixi

1
Mega Arum
luar biasa
Mega Arum
bagus sekali ceritanya.. menguras airmata,
sukensri hardiati
👍💪🙏/Rose//Heart//Ok/
sukensri hardiati
astagaa....bagaas...bagaas...
sukensri hardiati
semuanya sakit...psikis dan fisik
sukensri hardiati
masyaa Allah...kanaya...hebaat kamu...
sukensri hardiati
bagas dateng salah.....nggak dateng salah juga...mbah kung mbingungke...yaaah..kanaya yg jadi korban
sukensri hardiati
banyak sekali yg sayang kanaya.../Rose/
falea sezi
q ksih ne bunga lagi tp kasih boncap banyakkkk
falea sezi
Duh seru lo tambah boncap donk thor/Shame/
nanuna26: boncap itu apa ka
total 1 replies
falea sezi
q ksih bunga karena cerita mu bagus menguras air mata/Sob/
falea sezi
Wanda baik bgt sih uda Hendri urus aja bini mu itu q kira qm. setia perjuangan kan Kanaya nyatanya bini nya lagi hamil dih
nanuna26: kak makasih banyak ya, ini kisah nyata author walau endingny belum sebahagia kanaya hehe
total 1 replies
falea sezi
move on nay qm nanti pasti ketemu jodoh
falea sezi
biarin aja bapak mu yg urus itu kakaknya
Boa: serius kak?
total 2 replies
falea sezi
gila bner. maya ne harusnya di rmh sakit jiwa aja
falea sezi
pergi aja Kanaya ngekos maya jd gila. karena. jd perawan tua
falea sezi
berikan naya bahagia
falea sezi
nyesek amat Kanaya astaga
falea sezi
pengen tak bejek2 si bagas
falea sezi
pergi aja dr situ bagas laki kok. lembek. krja lah ajak anakmu pergi jauh
nanuna26: kak falea makasi udh support
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!