"Ketika seorang anak ingin dicintai tapi selalu dijadikan alasan"
Kanaya ditinggalkan ibunya sejak bayi berumur 14 bulan dan tumbuh bersama ayah yang selalu menyalahkannya atas setiap kegagalan hidup.
Saat ayahnya menikah lagi, kasih sayang yang dulu sempat ia rasakan perlahan hilang.
Rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang berubah menjadi sumber luka.
Kanaya hanya ingin diakui sebagai anak, bukan beban.
Namun semakin ia berusaha, semakin ia disalahkan.
Sampai akhirnya ia hanya bisa bertanya dalam diam—
Ayah, apa salahku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENCINTAIMU TANPA SUARA
Hendri memang bukan pria yang gegabah. Ia tahu betul siapa Maya, dan ia bisa menebak betapa sesaknya atmosfer yang kini menghimpit Kanaya. Maka, alih-alih bertindak seperti pahlawan dalam drama yang menerobos masuk, ia memilih strategi yang jauh lebih halus. Ia tahu bahwa di tempat seperti ini, kecurigaan adalah musuh utama.
Sore itu, lonceng di atas pintu toko berdenting pelan. Hendri melangkah masuk dengan santai, mengenakan jaket yang biasa dan helm yang masih terpasang separuh di kepala, membuatnya tampak seperti pelanggan biasa yang baru pulang kerja. Ia tidak langsung menuju meja administrasi tempat Kanaya duduk kaku. Sebaliknya, ia mengambil sebuah keranjang belanja plastik dan mulai berjalan menyusuri rak-rak barang grosiran.
Kanaya sempat mendongak, dan jantungnya nyaris melompat saat mengenali sosok itu. Namun, Hendri tidak memberikan kontak mata yang mencolok. Ia sibuk meneliti label harga detergen dan membandingkan isi botol minyak goreng, seolah ia benar-benar butuh belanja bulanan.
Dari balik rak yang tinggi, Hendri bergerak perlahan mendekati sudut tempat Kanaya berada. Tante Rosa sedang sibuk melayani pembeli lain di kasir depan, namun matanya sesekali masih menyapu ruangan dengan waspada.
"Berapa harga satu dus mie instan ini, Mbak?" tanya Hendri dengan suara yang dibuat datar, sangat formal, sambil mengangkat satu kotak di dekat meja Kanaya.
Kanaya menatapnya dengan mata yang berbicara banyak hal—ketakutan, peringatan, sekaligus rasa terima kasih yang mendalam. "Empat puluh lima ribu, Mas," jawab Kanaya sesingkat mungkin, suaranya bergetar tipis.
Saat Kanaya menunjuk ke arah barcode untuk diperiksa, Hendri mendekat selangkah, seolah sedang memperhatikan angka di layar komputer. Dalam posisi yang terlindung dari sudut pandang CCTV oleh tubuh tingginya dan rak besar, Hendri berbisik sangat pelan, nyaris seperti embusan angin.
"Jangan takut. Aku cuma mau pastikan kamu tidak apa-apa," bisiknya tanpa merubah ekspresi wajahnya yang serius. "Aku tahu kamu dikunci semalam. Aku ada di sini, Nay. Aku tidak akan membuatmu dalam masalah."
Kanaya hanya bisa mengangguk kecil, jemarinya pura-pura sibuk mengetik di keyboard yang sebenarnya sudah tidak ada data yang perlu diinput. Ada kehangatan yang menjalar di hatinya, namun ketakutan akan "mata dan telinga" Maya membuatnya segera kembali memasang wajah dingin.
Hendri kemudian berjalan menuju kasir, membayar beberapa barang yang ia ambil—roti, kopi, dan sebotol air mineral—lalu keluar dengan langkah tenang tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Ia bertindak sangat bersih. Tidak ada sapaan akrab, tidak ada tatapan rindu yang tertangkap kamera, hanya seorang pembeli yang singgah sepuluh menit.
Namun, sepuluh menit bagi Hendri itu adalah oksigen bagi Kanaya. Pria itu baru saja membuktikan bahwa meskipun Kanaya berada di dalam kerangkeng, Hendri akan selalu menemukan celah untuk tetap hadir tanpa merusak dinding yang sedang Kanaya jaga demi kedamaian ibunya.
Tante Rosa menghampiri meja Kanaya setelah Hendri pergi. "Siapa itu tadi? Temanmu?" tanyanya dengan nada menyelidik yang tajam.
"Bukan, Tante. Pembeli biasa, tanya harga mie instan," jawab Kanaya datar, hatinya kini jauh lebih kuat dari satu jam yang lalu.
Kanaya menyadari satu hal: Hendri sedang bertarung dengannya, dengan caranya sendiri yang sunyi. Dan mungkin, justru kesabaran Hendri inilah yang suatu saat nanti akan menjadi kunci yang tidak bisa disembunyikan oleh ibunya.
Malam itu, setelah melewati jam kerja yang terasa seperti berabad-abad di bawah pengawasan Tante Rosa, Kanaya akhirnya sampai di rumah. Maya sudah menunggunya di ruang tamu, masih dengan seragam PNS-nya, menatapnya tajam seolah sedang memindai apakah ada "noda" pembangkangan yang dibawa anaknya pulang. Namun, Kanaya hanya menunduk, mencium tangan ibunya, dan langsung masuk ke kamar tanpa sepatah kata pun.
Di dalam kamar yang pengap itu, Kanaya merogoh ponselnya. Ada satu notifikasi pesan dari Hendri yang baru saja masuk. Dengan tangan gemetar, ia membukanya.
"Aku tidak akan membawamu ke jurang terdalam. Sekalipun diam adalah cara terbaik, maka akan aku lakukan."
Kanaya membacanya berulang-ulang hingga penglihatannya kabur oleh air mata yang tertahan. Kalimat itu bukan sekadar pesan singkat; itu adalah janji suci seorang pria yang memahami bahwa cintanya saat ini adalah beban bagi wanita yang ia cintai. Hendri tidak memaksanya untuk lari, tidak memintanya untuk melawan Maya secara frontal, dan tidak menuntut perhatian yang akan membahayakan posisi Kanaya.
Hendri memilih untuk menjadi "diam". Ia menawarkan kehadiran yang tidak berisik, sebuah dukungan yang tidak menuntut balasan, agar Kanaya tidak perlu merasa bersalah lebih jauh. Pria itu sadar bahwa bagi Kanaya, mencintai saat ini berarti harus bersembunyi, dan ia bersedia melakukan itu demi keselamatan mental Kanaya.
"Terima kasih, Mas," bisik Kanaya dalam hati.
Tiba-tiba, pintu kamarnya terbuka sedikit. Maya berdiri di ambang pintu, memerhatikan raut wajah Kanaya yang tampak sedikit lebih tenang—sesuatu yang biasanya memicu kecurigaan Maya.
"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Maya, suaranya kembali tajam, penuh selidik. "Tante Rosa bilang tadi ada laki-laki yang tanya harga mie sama kamu lama sekali. Benar itu cuma pembeli?"
Kanaya segera mematikan layar ponselnya dan meletakkannya dengan posisi menghadap ke bawah. Ia menarik napas panjang, menatap ibunya dengan tatapan datar yang sudah ia latih. "Iya, Bu. Namanya juga toko grosir, banyak orang datang dan pergi. Tante Rosa terlalu berlebihan lapornya."
Maya mendengus, namun ia tidak melanjutkan interogasinya. Ia melihat Kanaya yang tampak patuh dan tidak membantah, sebuah kondisi yang membuatnya merasa kembali memegang kendali. "Bagus kalau begitu. Besok jangan telat lagi. Ibu sudah buatkan makan malam, keluar sekarang."
Kanaya mengangguk pelan. Ia mengikuti langkah ibunya menuju meja makan, berjalan di belakang seragam cokelat yang kaku itu. Di balik wajahnya yang tenang dan kepatuhannya yang tampak sempurna, ada kekuatan baru yang berdenyut di nadinya. Pesan Hendri telah memberinya ruang bernapas di dalam kerangkeng ini. Ia tahu ia masih terpenjara, tapi kini ia tahu ada seseorang yang bersedia menunggu di luar jeruji itu, menjaga kesunyian bersamanya sampai waktu yang tepat tiba.
Kanaya hanya bisa membatin sambil menyuap nasinya dengan gerakan mekanis. "Kalau tidak boleh ada laki-laki bertanya, ya sekalian saja aku dikurung di rumah selamanya," pikirnya getir. Logika ibunya memang seringkali tidak masuk akal; Maya ingin Kanaya bekerja agar tidak menjadi beban, tapi di sisi lain, Maya ketakutan setengah mati jika Kanaya berinteraksi dengan dunia luar—terutama dengan laki-laki.
Ia menatap punggung ibunya yang sedang sibuk menuangkan air minum. Di mata Maya, setiap laki-laki adalah potensi ancaman, pengkhianat yang akan membawa Kanaya pergi dan membiarkannya hancur seperti masa lalu Maya sendiri. Bagi Maya, dunia luar adalah rimba yang hanya akan memberikan luka, dan satu-satunya tempat aman adalah dalam jangkauan tangannya.
Namun, pesan dari Hendri tadi siang menjadi pembeda. Jika selama ini Kanaya merasa laki-laki hanya akan menambah kerumitan hidupnya, Hendri justru menawarkan sesuatu yang asing: kesunyian yang mendukung.
"Jangan melamun! Makan yang benar," tegur Maya ketus, memutus aliran pikiran Kanaya. "Ibu tidak mau dengar besok-besok ada laporan kamu tidak fokus kerja karena memikirkan yang tidak-tidak."
"Iya, Bu," jawab Kanaya singkat.
Ia menyadari bahwa mulai saat ini, ia harus menjadi aktris yang hebat. Di hadapan Maya dan Tante Rosa, ia akan menjadi robot yang patuh, tanpa emosi, dan seolah-olah tidak memiliki ketertarikan pada apa pun selain pekerjaan. Ia akan membiarkan Maya merasa menang, membiarkan ibunya merasa bahwa strategi "sepuluh menit" itu berhasil melumpuhkan keinginannya.
Tapi di balik itu semua, di dalam sudut hatinya yang paling dalam, janji Hendri tertanam kuat. Hendri bersedia menjadi "diam" agar Kanaya bisa tetap "aman". Bagi Kanaya, itu adalah pengorbanan yang luar biasa. Jika Maya mencintainya dengan cara mengurung, maka Hendri mencintainya dengan cara memberinya ruang untuk bernapas, meski ruang itu hanya sekecil celah di balik rak mie instan.
Malam itu, Kanaya kembali ke kamarnya dengan perasaan yang lebih stabil. Ia menatap ke luar jendela, ke arah lampu-lampu jalan yang temaram. Ia tahu perjalanannya masih panjang, dan Maya mungkin akan semakin posesif seiring berjalannya waktu. Namun, ia tidak lagi merasa sendirian di dalam kerangkeng itu.