NovelToon NovelToon
Simfoni Dua Deru

Simfoni Dua Deru

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Syra Aliyah Farhana, seorang gadis kota yang hidup bebas dengan deru mesin motor, mendapati dunianya jungkir balik saat dipaksa "mondok" dan dijodohkan dengan putra mahkota Pesantren Al-Fathan. Ia datang dengan jaket denim robek dan knalpot bising, siap untuk memberontak.
​Namun, ia harus berhadapan dengan Arkanza Farras Zavian, Gus muda yang berwibawa, dingin, dan tak mudah goyah oleh gertakan. Di tengah aroma kopi dan lantunan kitab kuning, Syra terjebak dalam perjanjian yang merampas fasilitas mewahnya. Di balik tembok pesantren, ia tidak hanya harus berhadapan dengan aturan yang mencekik, tapi juga rahasia hati, kecemburuan, dan masa lalu yang mengejarnya dari Jakarta.
​Ini bukan sekadar tentang perjodohan, tapi tentang perjalanan mencari arah pulang di tempat yang Syra sebut sebagai "Neraka Suci."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian tiga ribu jamaah dan diplomasi sendok kayu

Hari yang menjadi momok bagi Syra Aliyah Farhana akhirnya tiba dengan dentuman bedug yang lebih keras dari biasanya. Halaman luas Pesantren Al-Fathan telah bertransformasi menjadi lautan manusia. Tenda-tenda raksasa berwarna hijau zamrud dan putih gading berdiri kokoh, menaungi ribuan jamaah yang datang dengan bus-bus besar dari berbagai pelosok daerah. Aroma kemenyan, parfum non-alkohol, dan uap dari gulai kambing yang dimasak di kuali-kuali seukuran ban truk memenuhi udara, menciptakan atmosfer yang sakral sekaligus menegangkan.

Syra berdiri di episentrum kekacauan dapur umum. Ia mengenakan celemek kain tebal di atas kaos lengan panjang hitamnya. Kepalanya dibungkus rapat dengan jilbab instan pemberian Umi yang berwarna cokelat tua—warna yang menurut Syra sangat tidak "anak motor", tapi ia tak punya pilihan. Di sekelilingnya, puluhan ibu-ibu pengajian dan santriwati senior sibuk bekerja layaknya koloni semut yang terorganisir.

"Mbak Syra, ini santan kentalnya sudah boleh masuk? Kuali nomor tiga sudah mendidih hebat!" tanya seorang ibu pengajian dengan nada sangsi, matanya melirik jaket denim Syra yang tersampir di kursi pojok dapur.

Syra menarik napas panjang, mencoba mengingat setiap detail instruksi Arkanza semalam. "Jangan dulu, Bu! Gus Arkan bilang, santan itu 'jiwa' masakan. Kalau masuk kepagian saat api masih liar, jiwanya pecah. Tunggu apinya tenang, baru kita masukkan pelan-pelan," jawab Syra dengan nada yang ia buat semirip mungkin dengan wibawa seorang kepala mekanik di bengkel.

Di sudut lain, Sabrina Dhikra Alya tampak seperti lukisan yang kontras. Ia berdiri di bagian penyajian, dikelilingi oleh piring-piring porselen yang ditata estetis. Mukena dan gamisnya tetap putih bersih meski berada di tengah asap dapur. Ia sesekali melirik ke arah Syra, memberikan senyum simpul yang lebih mirip seperti sebuah tantangan terbuka.

"Hati-hati, Mbak Syra," ucap Sabrina sambil berjalan mendekat, membawa nampan berisi puding sutra yang nampak sempurna. "Tiga ribu nyawa jamaah sedang mempertaruhkan perut mereka pada gulai Anda. Jika santannya pecah atau rasanya terlalu tajam, bukan hanya dapur ini yang malu, tapi nama besar Gus Arkanza juga akan ikut terseret. Seorang Gus tidak boleh memiliki istri yang bahkan tidak bisa membedakan bumbu dasar dan racun, bukan?"

Syra menggertakkan gigi hingga rahangnya mengeras. Ia memegang sendok kayu raksasa yang panjangnya hampir satu meter itu seperti sedang memegang senjata. "Tenang aja, Ning Sabrina. Gulai gue mungkin nggak se-'estetik' puding lo, tapi gue jamin rasanya bakal bikin orang-orang itu ingat kalau hidup butuh bumbu, bukan cuma tampilan yang manis tapi hambar."

Kekacauan mencapai puncaknya saat Omar Rizky Hafiz berlari masuk ke dapur dengan wajah yang basah oleh keringat. Kopiahnya sudah entah ke mana.

"Mbak Syra! Gawat! Gus Arkan dipanggil Abi ke panggung utama untuk menyambut para Kyai Sepuh! Tapi beliau tadi pesan, kuali nomor empat bumbunya belum pas. Gus Arkan nggak sempat cek lagi!" seru Omar dengan napas tersengal-sengal.

Syra segera berlari menuju kuali nomor empat. Ia mengambil sedikit kuah dengan sendok kecil, lalu mencicipinya. Hambar. Terlalu banyak air, kurang tendangan rempah. Syra teringat konspirasi tengah malamnya dengan Arkan. Pria itu pernah bilang bahwa masakan pesantren seringkali terlalu "aman".

"Omar! Ambilkan gue kayu manis, cengkeh, dan sedikit jintan yang sudah disangrai!" perintah Syra.

"Tapi Mbak, resep turun-temurun pesantren nggak pake jintan sebanyak itu!" protes seorang santriwati senior.

"Resep lama itu bagus, tapi sekarang kita bicara soal tiga ribu orang yang sudah menempuh perjalanan jauh! Mereka butuh sesuatu yang menghangatkan jiwa, bukan cuma sekadar kenyang!" Syra mulai memasukkan bumbu racikannya sendiri. Ia mengaduk kuali raksasa itu dengan seluruh tenaganya, otot lengannya menegang, peluh menetes di keningnya.

Tiba-tiba, PYAARR!

Sebuah nampan berisi gelas-gelas kaca jatuh dan pecah berkeping-keping tepat di samping kaki Syra. Semua orang di dapur terpekik kaget. Itu ulah salah satu pengikut Sabrina yang tampak gemetar setelah menerima kode mata dari sang Ning.

"Astaga, Mbak Syra! Hati-hati!" teriak Sabrina dengan suara yang sengaja dikeraskan sehingga seluruh ibu-ibu pengajian menoleh. "Jangan sampai bumbu 'eksperimen' Anda tercampur serpihan kaca! Itu bahaya sekali untuk para jamaah!"

Syra menatap pecahan kaca itu, lalu menatap Sabrina yang tampak puas. Syra menyadari ini adalah upaya sabotase mental. Namun, mereka lupa satu hal: Syra adalah gadis yang terbiasa hidup di antara oli dan pecahan kaca spion.

"Serpihan kaca ini sama kayak fitnah, Ning," ucap Syra sambil mengambil sapu dengan gerakan tenang. "Kalau dibiarin, emang bikin luka. Tapi kalau kita sapu bersih dan kita buang ke tempatnya, dia nggak akan bisa ngelukain siapa pun. Biar gue yang bersihin, Ning lanjutin aja tuh nata pudingnya, mumpung belum lumer kena panasnya api dapur gue."

Ibu-ibu di dapur tertegun melihat ketangguhan Syra. Mereka mulai melihat bahwa di balik gaya "barbar"-nya, Syra memiliki hati yang baja. Saat gulai itu akhirnya matang dan aroma harumnya merebak ke seluruh penjuru pesantren, Umi (Ibu Arkan) masuk ke dapur. Beliau mencicipi gulai dari kuali nomor empat.

Semua orang menahan napas. Umi terdiam sejenak, lalu tersenyum lebar. "Siapa yang meracik bumbu ini? Rasanya... seperti ada semangat baru di dalamnya. Sangat mantap."

Syra hanya menunduk, namun matanya menangkap sosok Arkanza yang berdiri di ambang pintu dapur. Pria itu mengenakan baju koko terbaiknya, menatap Syra dari kejauhan dengan tatapan bangga yang tak terlukiskan. Arkan memberikan jempol tipis, sebuah isyarat kecil yang bagi Syra jauh lebih berarti daripada piala balap mana pun.

Namun, di tengah kemenangan kecil itu, Syra tidak menyadari bahwa di balik tenda jamaah pria, Fariz Haidar sedang memantau dengan mata gelap, menunggu saat yang tepat untuk menghancurkan segalanya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Hartini Donk
dalemmmm banget terhura aku...👍👍👍💪
falea sezi
sweet amat sih gus
falea sezi
suka deh endingnya g ribet g bertele Tele kerennnn
falea sezi
ini dibuat sinet pendek bagus deh
falea sezi
jd mereka uda nikah
Hartini Donk
jossss
Hartini Donk
ini n kdi film po sinetron mini keren banget thorrrr...
Isti Mariella Ahmad: wah semoga aja ya
total 1 replies
Rahma Sari
keren loh ceritanya.
Rahma Sari
keren loh ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Terimakasih sayang, baca yang lain juga ya
total 1 replies
Hartini Donk
aku sukaaa...
Rahma Sari: aq juga suka (maaf y u yg sentuhan fisik bukan bermaksud membenarkan) tp ini novel.
total 1 replies
Muharlita Muharlita
Wahhh seru ceritanya
Isti Mariella Ahmad: Makasih sayang, baca cerita yang lain juga ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!