Dipaksa menikah dengan pria yang terkenal dingin dan kejam untuk menggantikan Kakak tirinya yang pergi melarikan diri menjelang pernikahan, Gia tak bisa menolak.
Gia berdiri di samping Tuan Ardiansyah yang berkuasa, dengan seluruh tubuh gemetar dan air mata yang menggenang di pelupuk mata.
Dia takut kalau Tuan Ardiansyah tau yang ada di balik kain veil itu adalah dirinya, bukan Siska Kakaknya.
Tapi tangan hangat dengan jari yang besar justru menggenggam tangannya.
"Bernapaslah, ikuti kataku. Semua akan baik-baik saja!"
Bagaimana jadinya jika Tuan Ardiansyah yang terkenal kejam itu justru tak seperti yang orang katakan. Dia justru begitu hangat dan perhatian, apa Siska akan menyesal telah meninggalkan pernikahan waktu itu?
Apa Siska akan kembali dan merusak kebahagiaan yang baru saja Gia dapatkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang di balik cermin
Setelah kepergian Ares ke kantor yang meninggalkan debar di dada, Gia tidak punya banyak waktu untuk melamun. Mansion Ardiansyah adalah tempat di mana waktu diatur dengan presisi jam atom. Hanya sepuluh menit setelah mobil Ares menghilang dari gerbang utama, seorang kepala pelayan sudah berdiri di depan Gia dengan tablet digital di tangannya, mengingatkan bahwa penjahit pribadi keluarga Ardiansyah, seorang desainer ternama yang hanya bekerja untuk kalangan elite, sudah menunggu di ruang fitting lantai dua.
Gia melangkah menaiki tangga marmer dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, ia merasa sangat dimanjakan, di sisi lain ia merasa seperti boneka yang sedang didandani. Namun, setiap kali ia teringat bisikan Ares di teras tadi, bibirnya tanpa sadar menyunggingkan senyum.
"Konsekuensi nanti malam" gumamnya dalam hati, membuat wajahnya kembali memanas.
Ruang fitting itu luas, dikelilingi oleh cermin dari lantai hingga langit-langit. Di tengah ruangan, berdiri Madam Clarissa, seorang wanita paruh baya dengan selera mode yang sangat tajam dan mata yang seolah bisa mengukur inci tubuh seseorang hanya dengan sekali lirik. Di belakangnya, dua asisten sibuk memegang gulungan kain sutra, linen, dan kasmir dengan warna-warna pastel yang lembut.
"Selamat pagi, Nyonya Ardiansyah" Sapa Madam Clarissa dengan aksen yang sangat anggun.
"Tuan Ares telah memberikan instruksi yang sangat spesifik untuk koleksi kuliah Anda. Beliau menginginkan sesuatu yang muda, segar, namun tetap memancarkan kelas seorang Ardiansyah"
Gia berdiri di atas platform bundar, membiarkan para asisten mulai mengukur lingkar pinggang, bahu, dan lengannya. Saat pita ukur melingkari tubuhnya, mata Gia tertuju pada pantulan dirinya di cermin besar. Ia melihat sosok wanita yang sangat berbeda dari Gia yang beberapa bulan lalu hanya mengenakan baju lungsuran Siska.
"Nyonya memiliki proporsi tubuh yang luar biasa" Puji Madam Clarissa sambil mencatat angka-angka di bukunya.
"Tuan Ares secara khusus meminta kami membuatkan beberapa blazer kasual dengan potongan modern. Beliau bilang, Nyonya akan sering menghabiskan waktu di studio seni, jadi bahan yang digunakan haruslah yang tidak mudah kotor namun tetap terlihat mewah"
Mendengar nama Ares disebut berulang kali dalam setiap detail pakaiannya, hati Gia menghangat. Ia membayangkan Ares, di tengah kesibukannya memimpin perusahaan raksasa, masih sempat memikirkan jenis bahan baju apa yang nyaman untuknya melukis di kampus.
"Tolong coba mock-up pertama ini, Nyonya" Pinta asisten sambil membawakan sebuah kemeja putih berbahan sutra ringan dan celana kulot berwarna taupe.
Gia masuk ke ruang ganti dan mengenakannya. Saat ia keluar, Madam Clarissa tampak puas. Namun, pikiran Gia melayang jauh. Ia melihat jemarinya yang kini mengenakan cincin pernikahan bermata berlian, lalu teringat bagaimana jemari itu bersentuhan dengan tangan Ares di meja makan tadi. Ia teringat tatapan Ares yang tajam namun penuh keinginan saat ia sengaja menggoda suaminya dengan wadah selai.
"Apakah Mas Ares benar-benar terganggu di kantor sekarang?" Pikir Gia. Ia membayangkan Ares duduk di kursi CEO-nya, mencoba membaca laporan keuangan, namun malah terbayang wajah Gia yang sedang tersenyum jahil. Pemikiran itu membuat Gia terkekeh kecil, menarik perhatian Madame Clarissa.
"Ada yang lucu, Nyonya?" tanya Madam Clarissa ramah.
"Eh, tidak Madam. Saya hanya... saya hanya merasa sangat beruntung" Jawab Gia cepat, mencoba menutupi rasa malunya.
Proses pengukuran berlanjut ke tahap pemilihan kain. Madame Clarissa membentangkan kain kasmir berwarna abu-abu muda di bahu Gia. "Tuan Ares juga meminta kami membuatkan mantel panjang untuk musim hujan. Beliau khawatir Nyonya akan kedinginan saat berjalan dari gedung parkir ke ruang kelas"
Gia menyentuh kain itu. Sangat lembut. Ia membayangkan dirinya berjalan di koridor universitas nanti, membawa tas kulit pemberian Ares, mengenakan pakaian indah ini, dan menyandang nama Ardiansyah. Untuk pertama kalinya, rasa takut akan masa lalu sebagai anak haram mulai terkikis oleh rasa percaya diri yang ditanamkan Ares.
Namun, di tengah kesibukan itu, bayangan Sarah dan Siska sempat melintas. Gia tahu bahwa kemewahan ini adalah sesuatu yang sangat diinginkan Siska. Ia tahu bahwa setiap inci kain yang melekat di tubuhnya saat ini adalah pemicu kemarahan bagi kakak tirinya. Tapi, Gia berjanji pada dirinya sendiri di depan cermin itu: ia tidak akan lagi menunduk. Jika Ares memberinya sayap untuk terbang, maka ia akan terbang setinggi mungkin.
"Nyonya, bagaimana kalau untuk gaun malam di acara internal nanti, kita gunakan warna merah marun? Tuan Ares pernah menyebutkan bahwa warna itu sangat cocok dengan warna kulit Nyonya" Madam Clarissa menyarankan sambil menunjukkan contoh kain.
Gia mengangguk setuju. "Saya percaya pada pilihan Mas Ares, Madam. Dia selalu tahu apa yang terbaik untuk saya"
Setelah hampir dua jam proses pengukuran dan pemilihan desain selesai, Madam Clarissa dan timnya berpamitan. Gia tetap berada di ruangan itu sejenak, menatap tumpukan sketsa baju yang akan menjadi identitas barunya sebagai mahasiswi.
Ia mengambil ponselnya, ragu-ragu sejenak, lalu memberanikan diri mengirim pesan singkat kepada Ares.
“Mas, penjahitnya baru saja pulang. Baju-bajunya sangat cantik. Terima kasih sudah memikirkan setiap detailnya sampai ke bahan untuk Gia melukis. Semangat rapatnya, Mas. Jangan sampai terdistraksi ya”
Gia menekan tombol kirim dengan jantung berdebar. Ia tidak tahu apakah Ares akan membalas di tengah rapat penting, tapi ia ingin Ares tahu bahwa ia memikirkannya. Ia tersenyum menatap layar ponselnya, merasa bahwa hidupnya kini bukan lagi sekadar pelarian dari kemalangan, melainkan sebuah perjalanan indah yang ia lalui bersama pria yang diam-diam telah mencuri seluruh hatinya.
Gia berjalan keluar dari ruang fitting dengan langkah yang lebih mantap. Ia bukan lagi Gia yang rapuh. Ia adalah Gia Ardiansyah, dan ia siap menghadapi konsekuensi apa pun yang dijanjikan suaminya nanti malam dengan hati yang terbuka lebar.
sabar satria, dah maklumin aja orang lagi bucin mah suka begitu
Tuh semua jadi tahu kalau Gia istri Ares Ardiansyah, gak ada yg berani nganggu tuh di kampus