NovelToon NovelToon
Benih Pengikat Kaisar

Benih Pengikat Kaisar

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Balas Dendam / CEO / Cinta setelah menikah / One Night Stand / Percintaan Konglomerat
Popularitas:81.8k
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji170

Satu tahun menikah, tapi Sekar (Eka) tak pernah disentuh suaminya, Adit. Hingga suatu malam, sebuah pesan mengundangnya ke hotel—dan di sanalah hidupnya berubah. Ia terjebak dalam permainan kejam Adit, tetapi justru terjatuh ke pelukan pria lain—Kaisar Harjuno, CEO dingin yang mengira dirinya hanya wanita bayaran.

Saat kebenaran terungkap, Eka tak tinggal diam. Dendamnya membara, dan ia tahu satu cara untuk membalas, menikahi lelaki yang bahkan tak percaya pada pernikahan.

"Benihmu sudah tertanam di rahamiku. Jadi kamu hanya punya dua pilihan—terima atau hadapi akibatnya."

Antara kebencian dan ketertarikan, siapa yang akhirnya akan menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29

"Ka, kamu yakin ingin menggunakan Rina sebagai senjata untuk memecah belah keluarga Wirawan?" tanya Ita pelan, suaranya penuh keraguan begitu Rina meninggalkan kafe.

Ita masih bisa melihat jelas bagaimana ekspresi Rina berubah—dari kesombongan yang angkuh menjadi keputusasaan yang nyaris menyedihkan. Hidup memang seperti roda yang terus berputar. Tidak selamanya seseorang berada di atas.

Wanita di hadapannya tersenyum tipis, jemarinya mengusap gagang cangkir dengan tenang. "Kenapa? Apa aku terlihat begitu jahat, Ta?"

Ita menghela napas panjang, menatap sosok yang sudah lama ia kenal tetapi terasa semakin asing. "Aku cuma takut, Ka. Takut kalau kamu terlalu tenggelam dalam dendam sampai nggak sadar kalau ini bisa menghancurkan kamu juga."

Sekilas, ada kilatan di mata perempuan itu—entah kemarahan, kesedihan, atau sesuatu yang lebih rumit. "Kalau bukan aku yang bertindak, siapa lagi?" Suaranya terdengar lirih, tapi tegas. "Mereka yang dulu merendahkanku, yang membuatku kehilangan segalanya… sekarang saatnya mereka tahu rasanya."

Ita menggigit bibir, hatinya berdesir tak nyaman. Ia tahu Eka bukan orang yang mudah diubah keputusannya, tapi tetap saja… sesuatu dalam dirinya berkata bahwa ini bukan cara yang tepat.

"Tapi, Ka…"

Sebelum Ita bisa melanjutkan, Eka menatapnya dengan sorot mata yang membuat dadanya mencelos. "Jangan khawatir, Ta. Aku sudah terlanjur jatuh. Yang bisa kulakukan sekarang cuma memastikan aku nggak jatuh sendirian."

Seolah itu belum cukup, Eka melanjutkan dengan nada percaya diri, "Lagi pula, aku nggak sendirian. Di belakangku ada Kai… dan benih yang ada di dalam rahimku. Aku yakin semua akan berjalan sesuai keinginanku."

Ita terdiam. Nama itu—Kai. Seketika, ia teringat kejadian semalam. Setelah Eka pergi ke rumah Kai, Rendi datang menemuinya. Dari Rendi, Ita tahu bahwa Kai sudah mulai berubah… dan kemungkinan besar, lelaki itu sudah jatuh hati pada Eka.

"Ka, jangan bawa Kai dalam rencana balas dendammu," ucap Ita memperingatkan, suaranya terdengar lebih tegas kali ini. "Kamu tahu lelaki itu, kan? Kalau dia tahu semua ini, yang akan hancur itu kamu."

Eka menatapnya sekilas sebelum menghela napas pelan. "Aku sudah mempertimbangkan semuanya, Ta. Aku sudah sampai di titik ini. Setelah semuanya selesai, aku nggak akan mengikatnya lagi. Aku akan pergi sejauh mungkin."

Ita menggeleng pelan, hatinya semakin tak tenang. "Ka... kamu gila. Kamu tahu nggak, Pak Kai itu nggak pernah dekat dengan perempuan mana pun, cuma sama kamu. Dan sekarang kamu punya rencana seperti ini? Apa kamu pikir dia nggak akan trauma nantinya?"

Eka terdiam. Jujur saja, ada perasaan tidak tega dalam dirinya. Tapi di saat yang sama, ia tidak ingin menghambat Kai untuk mendapatkan wanita yang lebih baik darinya. Lagi pula, semua yang terjadi di antara mereka tidak berlandaskan apa pun, yang ada dirinya terlihat seperti wanita rendahkan di mata Kai.

Ia tersenyum tipis, lebih kepada dirinya sendiri. "Aku dan dia berasal dari dunia yang berbeda, Ta. Aku nggak mau dia mengalami musibah karena keberadaanku di sampingnya. Kalau nanti dia nggak mau menerima anak ini pun, aku akan merawatnya sendiri."

Ita menatap Eka lama, berharap bisa menemukan celah untuk menghentikan kegilaan ini. Tapi Eka tetap dengan ekspresi tenangnya, seolah ia sudah siap dengan segala konsekuensi yang menanti.

"Ka… kamu sadar nggak kalau kamu juga berhak bahagia? Bukan cuma mereka yang perlu dihukum, tapi kamu juga harus memberi kesempatan untuk dirimu sendiri. Jika aku tahu kamu berjuang keras untuk bisa hamil dan menikah dengan pak Kai lalu meninggalkannya aku tidak akan mendukungmu," ucap Ita lirih.

Eka mengangkat alis, menatap Ita dengan sorot mata yang sulit ditebak. "Jadi kamu sekarang menyesal, Ta? Tapi semua memang salahku biarkan karma yang membalasnya. Yang terpenting aku bisa membuat keluarga itu hancur seperti mereka menghancurkanku, kemenangan akan segera aku genggam dan aku tidak bisa mundur lagi."

Ita menggeleng pelan. "Bukan soal menyesal atau enggak, Ka. Tapi kalau caramu menyelesaikan semuanya justru malah menghancurkanmu, apa itu pantas disebut kemenangan?"

Eka tidak langsung menjawab. Tatapannya beralih ke luar jendela, ke lalu lintas kota yang sibuk. Matanya menerawang, seolah memikirkan sesuatu yang jauh.

"Aku nggak minta dimengerti, Ta. Aku cuma ingin menyelesaikan ini dengan caraku," akhirnya Eka berkata, suaranya lebih lembut. "Dan aku sudah siap menerima risikonya."

Ita mendesah berat. Ia ingin marah, ingin mengguncang Eka agar sadar bahwa jalan yang dipilihnya ini berbahaya. Tapi ia juga tahu Eka keras kepala. Sekali ia memutuskan sesuatu, tidak akan ada yang bisa mengubah pikirannya.

"Kalau Pak Kai tahu, Ka… kalau dia tahu apa yang sebenarnya kamu rencanakan, apa kamu pikir dia akan membiarkanmu pergi begitu saja?" tanya Ita pelan.

Sekilas, ada sesuatu yang melintas di wajah Eka—sesuatu yang mirip dengan keraguan. Tapi itu hanya sekejap sebelum senyum tipis kembali menghiasi bibirnya.

"Kai bukan orang yang mudah dibohongi, aku tahu itu. Tapi aku juga tahu, dia bukan tipe yang akan mempertahankan sesuatu yang tidak punya dasar kuat. Aku hanya bagian kecil dari hidupnya, dan aku yakin dia akan baik-baik saja setelah aku pergi."

Ita mengepalkan tangannya di bawah meja. "Dan kalau dia nggak baik-baik saja? Kalau ternyata kamu lebih berarti buat dia daripada yang kamu kira?"

Eka menutup matanya sejenak, sebelum akhirnya membuka kembali dengan ekspresi yang sudah lebih tegas. "Itu tidak mungkin, Ta. Sekarang dia bersikap baik karena ada darah dagingnya di rahimku, tapi jika dia tahu aku menggunakan ini semua untuk mengikatnya dan membalas dendam tentu dia akan meninggalkan aku begitu saja. Sebelum itu terjadi aku akan menyelesaikan semua segera mungkin lalu pergi sejauh mungkin."

Ita menggeleng pelan, hatinya terasa semakin berat. namun, disaat bersamaan, terdengar suara yang begitu familiar.

"Jadi aku dimanfaatkan?"

Suasana di kafe mendadak terasa mencekam. Ita menahan napas, sementara Eka perlahan menoleh ke arah sumber suara itu. Kai berdiri di ambang pintu, ekspresinya setenang biasa, tapi sorot matanya tajam—berbahaya.

Eka terdiam, jari-jarinya mengepal di atas meja. Ia tidak menduga Kai akan muncul di sini, terlebih lagi di saat ia baru saja memastikan bahwa dirinya siap meninggalkannya.

"Sejak kapan kamu di sana?" suara Eka terdengar datar, nyaris tanpa emosi, meskipun di dalam dirinya ada kekacauan yang sulit ia kendalikan.

Kai melangkah mendekat dengan tenang. Tatapannya tak beranjak dari Eka, seolah sedang menilai setiap detail yang tersirat di wajahnya.

"Cukup lama untuk memahami bahwa selama ini aku hanya bagian dari permainanmu," ucapnya datar. Tidak ada emosi berlebih dalam suaranya—hanya ketenangan yang mengiris lebih dalam daripada amarah yang meledak-ledak. "Aku nggak menyangka kamu merencanakan semuanya sebaik ini, Eka."

Ita melirik Eka dengan cemas. Tegangnya udara di sekitar mereka begitu pekat hingga sulit bernapas.

Eka menghela napas pelan sebelum akhirnya menatap Kai, mencoba membaca pikirannya—namun sia-sia. "Kai, dengar—"

"Tidak perlu." Kai memotong cepat, tanpa memberi ruang untuk pembelaan. "Aku cuma ingin tahu satu hal… Sejak awal, kamu sudah menargetkan aku?"

1
Ismi Kawai
hem, aku mesem2
Hayurapuji: gemes ya
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
Nur Adam
ljuut
Queen kayla
jgn" ..adiknya yg di jdkan pengganti nadin
Ismi Kawai: bisa jadi nih
total 1 replies
Ismi Kawai
tapi trrnyata adit sayang jg ya sama nadin. hmmm
Hayurapuji: sayang dia cinta pertama kan
total 1 replies
Ismi Kawai
emang drama queen ya keluarga adit itu.
Suparmin N
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Hikmal Cici
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Nur Adam
lnjut
putrie_07
hemm😏😏😏😏
putrie_07
Eka namany seperti mantan suamiku wkwkwkw
Muji Lestari
knp Kao bodoh yaa harusnya si Nadin di undang ke desa
Hayurapuji: nadin lagi berjuang kak
total 1 replies
elis farisna
Luar biasa
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Jeng Ining
hadeuh Eka.. kok ga nanyain sekalian stts pernikahan kalian kmren..masa iya kamu mesti nyamper ke rmhnya si Adit itu, rugi tenaga rugi waktu rugi ongkos atuh😖
Jeng Ining
jgn² pria ini jg baru lepas perjaka, kok kaga tau mana yg pertma kali ngelakuin mana yg udh biasa ngelakuin🙄🙄🙄
Hayurapuji: bisa jadi ini kak
total 1 replies
Ismi Kawai
makin seruuuuu
Nur Adam
lnjut
Ema Elyna
lema kepada org bodo yg xade ape ape nya tpi tegas kepada org yg berkuasa itu la eka sungu bodo skip
Su.izMila_s
bagus
Hayurapuji: terimakasih kakak
total 1 replies
Ismi Kawai
jdi kangen pas akad nikah. 🤭
Ismi Kawai: hahah, mksdnya nikah lagi??
Hayurapuji: gas kak, biar kayak artis jaman sekarang
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!