Kata siapa lahir di keluarga tentara itu menyenangkan? Tidak sama sekali!
Aku, Anjali Geraldyn ingin sekali kabur dari rumah karena peraturan ketat yang ada di dalam rumah.
Bahkan aku harus menikah dengan seorang tentara yang usianya jauh dariku! Aku benar-benar membenci hal ini!
Apakah lambat laun Anjali akan mencintai suami tentaranya itu?
Cerita ini di buat hanya untuk penghibur semata, tidak ada niat untuk menyinggung orang, pangkat dan pekerjaan sama sekali✌🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khintannia Viny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ARUMI
“K-kalian, ada dua!?” ucap Arnold yang masih tidak menyadari apa yang terjadi saat itu.
Mendengar pertanyaan dari Arnold membuat Arumi menjadi kelabakan untuk menjawab, dia juga kesal dengan kembarannya yang tiba-tiba muncul di saat seperti ini.
“Aku bisa jelasin Arnold.” Ucap Arumi.
Arsena tidak mau kalah, dia langsung menarik kursi di sebelah Arnold dan langsung duduk di sana tanpa permisi.
“Gue aja yang jelasin Rumi, karena emang ini kesalahan gue.” Sahut Arsena.
Arumi benar-benar tidak bisa berkata-kata lagi, dia sudah merasa tidak punya muka kepada Arnold karena ketahuan basah menipunya, sedangkan saudara kembarnya ini malah dengan percaya dirinya memberitahu kebenarannya.
“Yah, memang sepertinya Sena lebih berkewajiban untuk meluruskan semuanya karena ini semua di mulai karena dirinya yang menolak perjodohan kalian.” Ucap Arumi memberi sedikit penjelasan kalau dia tidak sepenuhnya salah.
“Hahaha, ya ampun kakakku sayang kenapa kamu sepertinya terlihat kesal sekali? Baiklah aku akan menjelaskan semuanya kepada laki-laki ini.” Ucap Arsena dengan nada yang sangat menyebalkan.
Arnold terus memperhatikan kedua saudara itu, sebenarnya dari situ saja dia sudah tau mana yang benar-benar baik dan pura-pura baik, tapi dia harus mendengarkan penjelasan keduanya dengan seksama untuk menjelaskan situasi yang sedang terjadi saat ini.
“Jadi yang sebenarnya di jodohkan denganmu adalah aku, Arsena dan dia adalah kakak kembaranku Arumi.” Ucap Arsena memulai penjelasan.
Arnold menoleh ke arah Arumi untuk meminta persetujuan dan Arumi mengangguk menandakan kalau apa yang di katakan oleh Arsena memang benar.
“Awalnya aku ga mau ketemu kamu karena emang ga suka sama yang namanya jodoh-jodohan, akhirnya aku minta kakakku buat ketemu sama kamu dan lihat gimana kepribadian kamu.” jelas Arsena.
“Tapi sepertinya dia menyukaimu dan aku memutuskan untuk melepaskan kamu dengan dia.” Lanjut Arsena sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.
Arsena yang awalnya tersenyum lebar seketika diam saat melihat ketegangan di antara Arumi dan Arnold.
“Kenapa? Kalian kenapa diam saja? Jangan bilang, Rumi belum bilang kalau dia bukan Arsena?” tanya Arsena berpura-pura.
“Kak, kamu belum memberitahu tentang kebenaran ini padanya?” tanya Arsena tanpa rasa bersalah kepada Arumi.
Arumi hanya bisa menahan amarahnya dengan mengepalkan kedua tangannya di bawah meja, dia hanya bisa menghela napas panjang untuk meredakan emosinya.
Bagaimana bisa kembarannya itu pura-pura tidak tahu padahal baru saja mereka membicarakan hal ini di rumah.
Sedangkan Arnold hanya bisa mematung di tempatnya karena dia masih berusaha untuk mencerna apa yang di katakan Arsena.
“Wah, jadi kalian berdua menipuku?!” tanya Arnold yang merasa emosi.
“Kalian pikir aku suka dengan perjodohan ini? Tidak! Tapi aku tetap datang untuk menghargai orang yang ingin di jodohkan denganku dan menghormati orang tua kita yang sudah berusaha.” Lanjutnya.
“Tapi apa yang kalian lakukan padaku? Kalian mempermainkan aku yang sudah menghormati keputusan semua orang?”
Arnold langsung berdiri dari tempatnya dan menatap keduanya dengan penuh emosi, dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi, harga dirinya seolah sudah di injak-injak oleh seorang perempuan.
“Padahal aku sudah mulai tertarik denganmu, tapi baguslah aku tahu lebih cepat, terimakasih atas kebohongannya!” ketus Arnold sambil menatap Arumi dengan tajam lalu pergi begitu saja dari café itu.
Arumi sedih mendengar ucapan Arnold, dia tidak tahu kalau ternyata Arnold tertarik kepadanya. Seharusnya dia mengatakan lebih awal tentang dia dan Arsena.
Setelah punggung Arnold sudah tidak terlihat lagi, Arumi segera menatap ke arah Arsena dengan tatapan tajam.
“Jadi ini rencana kamu Arsena Wijaya?” tanya Arumi dengan santai namun terdengar kesal.
“Aku beneran ga tau Rumi kalo kamu ternyata belum kasih tau dia yang sebenarnya.” Ucap Arsena menyangkal.
“Aku tahu kamu tidak sebodoh itu untuk lupa dengan kata-kataku sebelum berangkat tadi.” Balas Arumi.
"Aku benar-benar lupa Rumi, aku akan menjelaskan semuanya kepada laki-laki itu, siapa namanya?" tanya Arsena.
Arumi menahan amarahnya, dia menghela napas panjang lalu berdiri dari tempat duduknya.
"Tidak perlu tahu namanya, kalau memang kamu seperti ini karena tertarik dengannya silahkan ambil kembali, aku tidak ingin berdebat karena masalah laki-laki!" ucap Arumi dengan tegas lalu segera berjalan keluar dari cafe.
Mendengar ucapan Arumi membuat Arsena mengerutkan keningnya, dia tidak menyangka ternyata Arumi tidak se suka itu kepada laki-laki yang mau di jodohkan dengannya.
"Kenapa ekspresinya biasa aja sih? Tapi baguslah aku akan menerima perjodohan ini!" seru Arsena dengan bersemangat.
Arumi masuk ke dalam mobilnya, tanpa bersuara dan aba-aba ternyata air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya.
Dengan perlahan wanita itu menghapus air matanya sambil beberapa kali menarik napas panjang.
"Mau sampai kapan? Mau sampai kapan Sena menginginkan apa yang aku inginkan?" gumam Arumi yang terus menangis.
Jujur saja, semua yang di miliki Arumi akan di ambil oleh Arsena, walaupun itu di beli oleh uang pribadi Arumi.
Namun sayangnya, mama Arumi dan Arsena lebih sering membela Arsena dengan alasan kalau Arsena adalah adik sedangkan Arumi adalah kakak yang harus mengalah pada adiknya.
Hal itu semakin terlihat setelah Arumi memilih untuk menjadi dokter anak, sedangkan Arsena menjadi dokter bedah sesuai dengan keinginan mamanya.
Karena hal itu, mama mereka semakin membeda-bedakan keduanya, Arsena selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dengan mudah, sedangkan Arumi harus berusaha sendiri.
Benda apa yang di beli Arumi jika Arsena menginginkannya maka mama mereka akan menyuruh Arumi untuk memberikannya, padahal benda itu di beli dengan uang yang di kumpulkan Arumi selama beberapa bulan.
Dia tidak tahu sampai kapan harus hidup dengan bayang-bayang kembarannya, kapan dia akan hidup dengan nyaman.
Setelah merenung beberapa menit akhirnya Arumi segera melajukan mobilnya tanpa tujuan, karena dia tidak mau pulang ke rumah.
Arumi tahu setelah ini pasti Arsena akan memberitahu mamanya tentang perjodohan dan ceritanya akan mendramatisir.
Arumi ingin menenangkan dirinya dan memutuskan untuk ke rumah sakit walaupun hari ini adalah hari liburnya.
Arumi memang begitu, dia akan merasa lebih tenang jika melihat anak-anak kecil di rumah sakit dan merawat mereka dengan penuh kesabaran.
"Dokter Arumi? Kenapa ke rumah sakit? Bukannya hari ini dokter libur?" tanya perawat yang melihat Arumi baru saja keluar dari mobilnya.
"Iya, aku bosan di rumah jadi mau melihat anak-anak di sini, bukankah hari ini ada pertunjukan boneka? Aku mau melihat pertunjukannya." balas Arumi.
"Sepuluh menit lagi akan di mulai pertunjukannya dok, dokter bisa langsung ke lobby." ucap perawat tersebut.
"Baiklah, terimakasih ya! Semangat bekerjanya!" seru Arumi memberi semangat.
Arumi memang sangat ramah pada siapa pun, dia bahkan di juluki dokter malaikat oleh para pasien dan orang tua pasien.
Semua rekan kerja juga sangat senang bekerja sama dengan Arumi yang sangat baik dan selalu memberi arahan jika rekannya salah bukan memarahinya.