NovelToon NovelToon
Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Saat Nada Tak Pernah Sejalan

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: bg.Hunk

Mereka menyebutnya persahabatan.
Padahal masing-masing sedang berjuang sendirian.
Gina hidup dalam sorotan dan tuntutan,
Rahmalia dalam ketenangan yang sering disalahartikan sebagai kelemahan,
Dio di balik candaan yang menutupi kepedulian,
dan Azmi datang membawa arah yang tak semua orang siap terima.
Di antara sekolah, musik, prestasi, dan nama besar keluarga,
perasaan mulai bergeser—perlahan, nyaris tak terasa.
Sampai akhirnya, tidak semua bisa tetap utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bg.Hunk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Pulang

Bel pulang sekolah menggema di seluruh gedung.

Suara itu selalu jadi penanda yang sama—akhir dari pelajaran, awal dari kebebasan kecil.

Murid-murid langsung bergerak. Ada yang tertawa, ada yang mengeluh lelah, ada pula yang hanya diam sambil merapikan tas.

Siva berdiri dan melangkah ke depan kelas.

“Sebagai ketua OSIS sekaligus ketua kelas,” ucap Siva sambil berdiri di depan kelas,

“Jangan lupa yang hari ini jadwal piket jangan langsung pulang. Pastikan kelas bersih dulu sebelum pergi.”

“Baik, Ketua,” jawab beberapa murid yang kebagian piket.

“Yuk, gas pulang,” ajak Siva pada tiga temannya.

Mereka berjalan menyusuri koridor sekolah bersama-sama. Siva menggenggam tangan Rahmalia dan Gina sambil terus berbicara.

“Aku punya proyek baru nih,” kata Siva antusias.

“Kayaknya bisa kita kerjain bertiga. Aku yakin lagu buatanku ini bisa langsung naik ke peringkat satu.”

“Kamu hebat banget, Siv,” kata Rahmalia kagum.

“Baru beberapa bulan sudah bisa bikin lagu lagi.”

“Iya,” sambung Gina.

“Yang semester kemarin aja bertahan di peringkat satu sampai beberapa minggu.”

Sambil berjalan dan mengobrol, Dio diam-diam memperhatikan Rahmalia dari samping.

“Tunggu bentar, Ca,” kata Dio tiba-tiba.

“Resleting tas kamu kebuka. Aku benerin.”

“Oh iya?” Rahmalia berhenti.

“Kalau gitu aku minta tolong.”

Mereka berempat berhenti sejenak.

Dio merapatkan resleting tas Rahmalia dengan cepat, lalu mundur satu langkah, seolah takut terlalu lama berdiri di dekatnya.

“Makasi, Yo,” ucap Rahmalia sambil tersenyum.

“Ma… sama,” balas Dio singkat, agak kikuk.

Gina melirik mereka berdua, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Emm… peka banget sama tas,” godanya.

Dio menggaruk tengkuknya.

“Aku takut nanti ada barang penting yang jatuh.”

“Alasan,” sahut Gina cepat sambil terkekeh.

“Udah ah,” potong Siva.

“Cabut. Pulang.”

Mereka pun kembali melangkah menuju gerbang sekolah, menyatu dengan arus siswa lain yang mulai meninggalkan halaman.

...----------------...

Sesampainya di depan gerbang, mereka akhirnya berpisah.

Rahmalia dan Siva dijemput sopir masing-masing, sementara Gina melangkah menuju mobil pribadinya.

Dio justru mengambil arah sebaliknya.

Baru beberapa langkah, suara klakson memecah suasana.

Tet. Tet.

“Dio, nggak lupa kan?” panggil Gina dari balik kaca mobil yang terbuka.

“Mau nganterin aku belanja.”

Dio berhenti, lalu menoleh malas.

“Iya, iya. Gue antar.”

“Kalau gitu cepet masuk,” kata Gina santai.

Dio membuka pintu dan duduk di kursi penumpang. Ia meraih sabuk pengaman sambil melirik ke arah Gina.

“Emang kita mau ke mana?” tanyanya.

Gina menyalakan mesin.

“Anterin aku beli tas Chanel,” jawabnya ringan.

“Katanya edisi terbatas. Baru ada lima di Indonesia.”

Dio langsung mengernyit.

“Perasaan tas lo udah banyak deh. Masih beli lagi?”

Gina tersenyum kecil, jelas menikmati reaksinya.

“Kalau aku dapet tas itu,” katanya sambil menoleh sekilas,

“aku traktir kamu. Bebas. Mau belanja apa aja.”

Dio terdiam.

Beberapa detik kemudian, ia menoleh dengan wajah yang lebih serius dari biasanya.

“Serius?” katanya, memastikan.

Gina meliriknya sekilas, sudut bibirnya terangkat tipis.

“Serius.”

Dio mengangguk pelan.

“Kalau gitu, gue pastiin lo dapet tas itu hari ini.”

Gina tersenyum tipis, lalu menginjak pedal gas dan mobil kembali melaju.

...----------------...

Di tengah perjalanan, ponsel Gina bergetar. Sekali. Dua kali.

Ia melirik layar sebentar, lalu menekan tombol matikan panggilan tanpa mengangkatnya.

Tak lama kemudian, layar itu kembali menyala.

Dio yang sejak tadi memperhatikan akhirnya angkat suara.

“Telepon dari siapa? Kok nggak diangkat?”

“Nggak kenal,” jawab Gina singkat.

“Paling penipuan. Diemin aja.”

Dio mengangkat alis.

“Orang sekaya lo juga bisa ditelepon penipu?”

Gina terkekeh kecil.

“Justru orang kaya yang sering. Mereka random nomor.”

Ia meletakkan ponsel di kursi samping.

Tatapannya kembali lurus ke depan, namun jemarinya mencengkeram setir sedikit lebih erat dari sebelumnya.

Dio memilih diam.

Ia tidak bertanya lagi, tapi dari raut wajah Gina terlihat jelas—ada kekesalan yang bercampur dengan sesuatu yang lebih berat. Sesuatu yang tidak ingin ia jelaskan.

Beberapa waktu kemudian, mobil akhirnya melambat dan berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan besar.

“Nah,” ujar Gina sambil melepas sabuk pengamannya,

“ini dia.”

Dio menoleh ke luar jendela.

“Wuih,” gumamnya.

“Gede banget tokonya.”

Gina tersenyum tipis.

“Tunggu sebentar, ya. Nanti ibu jemput kamu.”

“Ibu?” Dio menoleh, alisnya terangkat.

“Ibu siapa?”

Gina meliriknya sekilas, lalu tersenyum kecil.

“Iya. Bentar lagi tas itu bakal jadi anak aku.”

Dio mendengus pelan. “Logika orang kaya emang beda.”

“Let’s go,” kata Gina ringan sambil membuka pintu mobil.

“Kita belanja.”

Dio turun, menatap bangunan butik di depan mereka, lalu tersenyum miring.

“Ayo. Gue udah nggak sabar.”

Begitu mereka masuk, suasana butik terasa tenang dan eksklusif. Rak-rak kaca berkilau di bawah lampu hangat, dan hanya ada beberapa pegawai yang berjaga.

“Selamat datang, Nona,” sapa seorang pelayan wanita dengan senyum profesional.

“Ada yang bisa saya bantu?”

“Iya,” jawab Gina tenang.

“Aku mau tas edisi terbatas itu.”

Pelayan itu sedikit menunduk.

“Kebetulan sekali, Nona. Di toko kami masih tersedia dua.”

Belum sempat Gina menjawab—

“Tunggu.”

Sebuah suara dingin memotong percakapan.

Seorang wanita dengan pakaian mewah dan langkah percaya diri berjalan mendekat.

Tatapannya tajam, senyumnya tipis—lebih mirip tantangan.

“Aku beli semua,” katanya singkat.

Gina dan Dio menoleh bersamaan.

“Siapa itu?” bisik Dio pelan.

“Paradisya Purnama,” jawab Gina tanpa mengalihkan pandangan.

“Anak salah satu perusahaan Purnama. Musuh ayahku.”

Pelayan toko terlihat ragu.

“Maaf, Nona… yang satu sudah akan dibeli oleh Nona yang di sini.”

“Siapa bilang aku mau beli satu?” Gina menoleh tajam.

“Aku beli dua-duanya.”

“Hah?” Dio refleks menoleh.

“Dua?”

Pelayan toko makin canggung, pandangannya berpindah-pindah di antara mereka.

Paradisya tersenyum miring.

“Gina, mending kamu mundur aja. Tas ini nggak cocok dipakai kamu.”

Gina mengangkat dagu, suaranya tetap tenang.

“Perasaan gue cantik pakai apa aja cocok.”

Udara di butik terasa menegang.

Dio melirik sekeliling yang mendadak sunyi, lalu melangkah mendekat ke pelayan. Suaranya diturunkan, tapi tegas.

“Emm, Mbak,” katanya pelan.

“Tolong bungkus satu aja. Yang satu lagi buat dia.”

Pelayan itu terkejut.

“Tapi, Tuan… apa nggak apa-apa?”

Dio menoleh sekilas ke Gina, lalu kembali ke pelayan.

“Tenang,” katanya singkat.

“Aku yang tanggung jawab.”

Paradisya terkekeh kecil.

“Lucu, ya,” kata Paradisya sambil menyilangkan tangan.

“Keluarga kamu sudah kaya, Gina. Tapi masih aja mau pamer dan serakah beli tas edisi terbatas.”

Gina menghela napas pelan, lalu menatapnya lurus.

“Aku beli karena aku mau. Bukan karena pingin ngalahin siapa pun.”

“Alasan,” balas Paradisya dingin.

“Orang serakah selalu punya pembenaran.”

Gina tersenyum tipis.

“Serakah?”

Ia memiringkan kepala sedikit.

“Bukannya kamu yang pertama kali bilang mau beli semuanya?”

Paradisya terdiam sesaat. Tatapannya mengeras.

“Kamu berani ngomong gitu ke aku?”

Udara di butik terasa semakin menegang.

Di saat itu, Dio menepuk bahu Gina pelan.

“Heh,” bisiknya singkat.

“Pinjem kartu lo.”

Masih fokus beradu tatap dengan Paradisya, Gina tanpa sadar menyerahkan kartu ATM-nya.

“Nih, Mbak,” kata Dio santai ke pelayan.

“Langsung gesek aja.”

Pelayan itu mengangguk cepat. Beberapa detik kemudian, mesin berbunyi pelan.

Transaksi berhasil.

Dio langsung menarik lengan Gina.

“Ayo pulang.”

“Hah?” Gina menoleh kesal.

“Gimana sih? Urusan gue belum selesai sama dia.”

“Hoh,” Paradisya menyeringai.

“Mau kabur kamu, Gina?”

Dio melangkah maju satu langkah, berdiri tepat di depan Paradisya.

Ia mengangkat jarinya ke depan bibir wanita itu—bukan menyentuh, hanya isyarat.

“Ssst,” katanya tenang.

“Malu. Udah. Sana pergi.”

Gina menahan senyum.

“Berani-beraninya kamu kurang ajar ke aku,” dengus Paradisya.

Dio tidak menjawab. Ia langsung menarik tangan Gina dan berjalan keluar butik.

“Hei! Tunggu! Jangan kabur!” teriak Paradisya dari belakang.

Di area parkiran, Gina melepaskan genggaman Dio.

“Kenapa sih kamu?” protesnya.

“Urusan gue belum selesai sama dia.”

“Ah, kelamaan,” jawab Dio santai.

“Lagian udah gue beli. Ngapain dua? Satu aja cukup.”

“Hah?” Gina melotot.

“Sejak kapan? Kok bisa?”

“Tadi,” kata Dio.

“Pas lo sibuk debat, gue minjem kartu lo. Ya udah, gue gesek.”

Gina terdiam sebentar.

“Kok kamu tahu PIN kartu aku?”

Dio mengangkat bahu.

“Asal nebak. Tanggal ulang tahun lo. Eh, bener.”

Gina terkekeh kecil.

“Maaf. Aku pelupa. Padahal bank udah ngelarang.”

Dio melirik kantong belanja di tangannya.

“Karena gue berhasil dapetin tasnya, sesuai janji lo—sekarang giliran gue.”

“Mau apa?” tanya Gina.

Dio menunjuk ke seberang.

“Ayo ke toko itu.”

“Earphone?” Gina menoleh heran.

“Serius? Cuma ini?”

“Iya,” jawab Dio santai.

“Ini udah cukup.”

Gina mengangkat bahu.

“Kalau segini sih… biasa aja buat aku.”

Ia mengeluarkan Dompet.

“Beneran cuma ini?”

“Iya,” kata Dio cepat.

“Bayar aja. Gue mau pulang.”

Gina pun menyelesaikan pembayaran earphone itu. Setelah kantong belanja berpindah ke tangan Dio, mereka keluar dari toko bersama-sama.

Tanpa banyak bicara, keduanya kembali menuju area parkir. Gina membuka pintu mobil lebih dulu, lalu masuk ke kursi pengemudi. Dio menyusul di sampingnya.

Mesin mobil menyala, dan tak lama kemudian kendaraan itu melaju meninggalkan pusat perbelanjaan.

...----------------...

Beberapa menit berlalu dalam diam.

“Kita makan dulu, gimana?” tanya Gina tanpa menoleh.

“Nggak,” jawab Dio singkat.

“Gue pulang aja.”

“Aku traktir.”

“Gin,” Dio menghela napas,

“ini udah malam. Besok sekolah. Gue butuh tidur.”

Gina tidak langsung menjawab.

Ponselnya kembali bergetar.

Sekilas ia melirik layar—lalu mematikannya.

Tangannya mencengkeram setir sedikit lebih kuat.

Dio memperhatikan dari samping.

Ia tidak bertanya.

Mobil berhenti.

“Aku turun di sini aja,” kata Dio sambil membuka pintu.

“Gue pulang dulu. Makasih udah traktir.”

“Iya,” jawab Gina pelan.

“Makasih juga udah nemenin aku. Tasnya… akhirnya dapet.”

Dio terkekeh kecil.

“Apaan sih. Geli banget. Kayak pamitan orang pacaran.”

Ia menutup pintu dan berjalan pergi.

Gina menatap punggungnya beberapa detik.

Ia tersenyum kecil.

Lalu senyum itu memudar.

Mesin mobil menyala kembali. Gina menginjak gas dan melaju pergi, wajahnya kembali dingin seperti semula.

Namun sebelum mobil benar-benar menjauh—

ponselnya kembali bergetar.

Nama yang sama muncul di layar.

Kali ini, Gina tidak langsung mematikannya.

Ia menatap layar itu lama.

Lalu menarik napas pelan.

Dan untuk pertama kalinya malam itu,

ia tampak ragu—

apakah akan mengangkat panggilan itu…

atau tetap membiarkannya berbunyi.

1
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa gina ini anak pertama 🤔
kadang anak pertama itu memang didik lebih keras dari kecil, karena tanggung jawab anak pertama itu besar .
Agryena
aku mampir thor/Hey/
Agryena: Waktu aku baca, ceritanya bagus kak! meskipun aku baru baca sampai eps 6 sih hehe...mungkin nanti aku lanjutin bacanya! Semangat terus ya thor!
total 2 replies
Kaka's
ih malah ngatain.. 🤣🤣
Kaka's
🤣🤣🤣 yo gass
Kaka's
permen marshmallow ini yang kenyal yah??🤭
Serena Khanza
dio tipe cowok yang sering banget ditemui jaman real kek nya dimana-mana ada yg kek dio.. kadang suka gak bisa ditebak dia bercanda atau serius..
tapi kalo liat nya sih dio mank ada something deh sama rahmalia 🤭
wlw masih tipis tipis sih ku baca nya thor masih melirik lirik, tp dia act of service ya gercep bet🤣
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Rahmalia harus bisa beda kan antara rasa suka atau cuma sebatas kagum
Fra
Ik He's Siva son, i just can't prove it
Serena Khanza
dari keseluruhan bab ini kayak ada sesuatu ya rahmalia sama dio terus gina sama azmi..
ceritanya mank masa-masa anak sekolah dengan kehidupannya yang beraneka ragam, kalo menurutku yang ku baca dr bab awal sampe bab ini ceritanya tuh gak berat lebih ke ringan slice of life banget nget.. konflik nya masih di gina dan ayahnya sejauh ini ku baca..
karakter tokohnya menurutku bagus bagus cuma kek nya belom ada yang greget lagi ya masih sebagian belom ada konflik selain gina..
tapi jujur aku suka banget sama alur ceritanya thor kek inget jaman sekolah juga jadinya 🥰🥰
Serena Khanza: iya kak ku menunggu 🥰💪🏻💪🏻
semangat kak 💪🏻💪🏻💪🏻
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Azmi dan Rahmalia cocok deh thor 🤭🤭
Hunk: Udah yakin nih milih kapal mereka.🤣
total 1 replies
Kaka's
😑😑 pasalnya udah ampe 300 an.. pake ayat lagi.. rinci amat tuh anggota dewannya buat aturan. 🤣
Hunk: Terima kasih sudah membaca kak, semoga suka dengan cerita saya🤣
total 1 replies
Kaka's
udah telat masih aja lirik waketosnya 🤣🤣..
Fra
Ini bukan menyemengati ya pren, ancaman halus ini 😩😩
Fra
Orang tua semacam ini bener-bener bisa bikin anak stres berat dan tertekan. Padahal tempat yang diduduki anaknya sekarang bisa aja juga diinginkan orang lain yang belum bisa ngeraih itu semua. Keep Strong, Gina💪🏻 🥹
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
gina baru di tatap gitu aja sama Azmi langsung salting 🤣🤣
Hunk: Wkwk Gina emang gampang salting kalau udah ditatap Azmi langsung 😭
total 1 replies
Fra
Awal-awal aku pikir cuma cerita remaja biasa ih, ternyata ada intrik kaum elite. Aku suka kakak ini dan karyanya 😋
Fra
Dio x Gina juga manis ihh
Bingung mau dukung kapal mana 😩😩
Panda
masih slice of life khas anak sekolah

slow pace banget di sini dan belum ada ketegangan emosional atau psikologis yang kuat

cliff hanger cuma ada di GINA yang luka dan kemungkinan itu luka sesuatu yang sengaja diumpetin 🤔
Panda: kann gueeee baca yeeee hueheheheh

oke sep sama sama
total 4 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
sikap Dio ini bisa bikin cwek salah sangka dan akhir nya baper 🤭🤭
Hunk: Iya, Dio memang tipenya gitu—kadang tanpa sadar sikapnya bikin orang lain salah nangkep. Niatnya biasa aja, tapi kesannya jadi beda 😅
total 1 replies
Lukman Mubarok
real life makan di kelas di jam pelajaran🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!