NovelToon NovelToon
Transmigrasi Si Gadis Polos

Transmigrasi Si Gadis Polos

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Reinkarnasi / Cintapertama
Popularitas:30.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lyly little

Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.

Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.

Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34 **Berakhirnya Hidup Bianka**

Di sebuah ruangan yang remang-remang dan pengap, seorang wanita tampak tergeletak tak berdaya di atas lantai beton yang dingin. Ia tidak sedang tidur, melainkan baru saja tersadar dari pingsannya. Perlahan, wanita itu mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya lampu yang temaram. Setelah kesadarannya pulih sepenuhnya, ia mulai menelisik setiap sudut ruangan asing tersebut.

​"Di mana ini?" gumamnya bingung. Kepalanya terasa berat, namun ia mencoba memutar memori terakhirnya. "Ahhh sial, gue diculik!" umpatnya kesal saat teringat seseorang membekapnya dengan bius saat ia hendak memasuki mobil untuk pulang sekolah tadi.

​"Tapi siapa yang berani nyulik gue?" Ia bergumam gusar. Matanya membelalak ngeri melihat sekeliling. Ruangan itu berbau anyir darah yang menyengat, dengan berbagai koleksi senjata tajam yang tertata rapi di dinding—mulai dari pisau kecil hingga belati panjang. Ini bukan sekadar ruangan penculikan biasa. "Mafia kah?" Wajahnya mendadak pucat pasi, tubuhnya menegang hebat membayangkan kemungkinan terburuk.

​Tap

​Tap

​Tap

​Suara langkah kaki yang berat dan teratur terdengar mendekat. Wanita itu semakin was-was, namun saat pintu terbuka dan menampakkan sosok pria yang sangat ia kenali, wajahnya seketika berbinar penuh harap.

​"Lanka? Kamu ke sini mau selamatin aku, kan? Aku tahu sebenarnya kamu peduli sama aku, tapi kamu cuma pura-pura cuek agar wanita-wanita yang ngejar kamu nggak nyakitin aku, kan?" ucap wanita itu dengan nada yang sangat percaya diri.

​Pria itu adalah Lanka. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan penyiksaan tersebut dengan aura yang mencekam. Lanka menatap datar ke arah wanita yang masih sempat-sempatnya bersikap "pede" di situasi seperti ini. Tanpa suara, Lanka mendekat lalu berjongkok di hadapannya sambil memainkan sebuah pisau kecil yang berkilat tajam.

​Sang wanita sama sekali tidak merasa terancam. Dalam pikirannya, Lanka akan menggunakan pisau itu untuk memotong ikatannya. "Aku tahu kamu selalu mengawasiku dari jauh, maka dari itu sekarang kamu di sini karena tahu aku sedang diculik. Terimakasih ya sudah menjagaku dari kejauhan," ucapnya dengan senyum mengembang lebar. Benar-benar tingkat kepercayaan diri yang luar biasa.

​Lanka tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat dingin dan mengerikan. "Gue memang ngawasin lo, biar lo bisa habis di tangan gue aja, jangan di tangan orang lain," ucap Lanka dengan seringaian yang membuat bulu kuduk berdiri.

​Alis wanita itu terangkat sebelah, ia tampak bingung dengan kalimat Lanka yang tidak sesuai ekspektasinya. "Maksudnya?"

​"Gue mau lo mati di tangan gue, Bianka."

​Deg!

​Wanita bernama Bianka itu membeku. Jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar kalimat mengerikan itu keluar dari mulut pria yang selama ini ia puja-puja.

​"A-pa salah a-aku, Lan?" tanya Bianka tergagap. Nyalinya menciut melihat kilatan haus darah di mata Lanka.

​Lanka tersenyum miring, senyum yang tak sampai ke mata. "Tangan ini... tangan ini yang sudah berani menyentuh gadis ku," ucap Lanka rendah. Detik berikutnya, ia menggoreskan pisau kecil itu ke lengan kiri Bianka.

​Srett!

​"Aakhh!" Bianka memekik kesakitan. Darah segar merembes keluar dari luka goresan yang cukup dalam itu. Rasanya sangat perih dan panas. "Kamu lukain aku hanya karena gadis polos sialan itu?!" Bianka berteriak marah, egonya terluka lebih dalam dibanding lengannya.

​"Jangan menyebut kata 'sialan' untuk gadis gue, bitch!" geram Lanka. Cengkeramannya pada pisau semakin kuat.

​Bianka justru tersenyum miring dengan sisa keberaniannya. "Dia memang sialan karena berhasil merebut perhatianmu sampai kamu rela ngelukain aku kayak gini. Tapi it's okay... Oh ya, aku heran kenapa kamu semarah itu cuma karena aku menyentuh gadis polos itu. Biasanya kan aku nyakitin wanita-wanita yang deketin kamu, kamu biasa aja dan nggak pernah bertindak sejauh ini. Apa jangan-jangan... wanita polos itu sudah menyerahkan tubuhnya padamu sehingga ka—"

​"JAGA BICARAMU, BITCH!" Lanka meledak. Ia mencengkeram kuat dagu Bianka hingga wanita itu meringis. Mata Lanka memerah padam menahan amarah yang meluap karena kesucian Ila disinggung secara kasar oleh wanita di depannya ini.

"Gue memang biarin lo bully wanita-wanita lain selama ini karena gue merasa risih dengan mereka. Gue merasa terbantu menyelesaikan masalah wanita-wanita pengganggu itu berkat lo, makanya gue nggak apa-apain lo. Tapi sekarang, lo sudah berani menyentuh Ila. Dia orang yang gue sayang... lo ngerti?!"

Suara Lanka terdengar sangat rendah dan dingin, namun di dalamnya terdapat ledakan amarah yang luar biasa. Tanpa belas kasihan, Lanka kembali menggerakkan jemarinya yang menggenggam pisau kecil itu. Ia menggoreskan ujung tajamnya ke lengan kanan Bianka dengan gerakan perlahan namun dalam.

Srett!

Srett!

"Aakkhh! B-berhenti, Lan..." rintih Bianka dengan suara gemetar. Rasa perih yang menjalar di kulitnya membuat kesadarannya hampir hilang. Namun Lanka seolah menulikan telinga. Ia tidak mempedulikan permohonan itu sedikit pun. Ia terus mengulangi goresan-goresan kecil di berbagai bagian tubuh Bianka, menciptakan pola-pola merah yang mengerikan.

Srett!

Srett!

"Sstt... b-berhenti Lan, o-oke aku janji... aku janji nggak akan sakitin Ila lagi. T-tapi aku mohon berhenti, hiks..." Bianka menangis tersedu-sedu. Air matanya bercampur dengan peluh dan rasa takut yang teramat sangat. Di dalam ruangan gelap itu, ia baru menyadari bahwa sosok yang ia puja selama ini bukanlah pria sekolah biasa, melainkan malaikat maut bagi siapapun yang berani mengusik miliknya.

Srett!

Srett!

"Jangan harap, bitch..." desis Lanka tepat di telinga Bianka. Ia kembali melukai kaki Bianka dengan goresan-goresan baru. Setelah merasa cukup memberikan tanda di tubuh indah Bianka yang kini bersimbah darah, Lanka menyimpan kembali pisau kecilnya. Ia berdiri dengan tegak, lalu merogoh pinggangnya untuk mengeluarkan sebuah pistol hitam yang dingin.

Bianka yang sudah terkulai lemas hanya bisa diam membeku. Tubuhnya bergetar hebat menahan trauma dan rasa sakit yang tak tertahankan. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa Lanka bisa bersikap sekejam dan sesadis ini—seperti seorang mafia tulen atau psikopat yang tak memiliki hati nurani.

"Apa kata-kata terakhir lo?" tanya Lanka dingin sembari mengarahkan moncong pistolnya tepat ke arah jantung Bianka.

"P-psikopat..." ucap Bianka dengan suara yang nyaris tak terdengar, menatap Lanka dengan sisa-sisa kesadarannya.

Lanka menyunggingkan senyum miring yang mengerikan. "Terima kasih pujiannya."

DOR!

DOR!

DOR!

Tiga tembakan beruntun dilepaskan oleh Lanka tanpa keraguan sedikit pun. Peluru-peluru itu bersarang tepat di tubuh Bianka, membuatnya tewas seketika di tempat tersebut.

"Ini balasan karena lo sudah berani menyentuh gadisku. Kalau sampai lo menyakiti dia lebih dari itu, gue pastikan cara mati lo nggak akan secepat ini dan bakal jauh lebih menyakitkan," ucap Lanka datar sembari menatap mayat yang kini tak bernyawa di hadapannya.

Lanka berbalik, melangkah dengan tenang keluar dari ruangan tersebut. Saat sampai di depan pintu ruangan penyiksaan, ia berhenti sejenak dan menatap beberapa orang pria berjas hitam yang berjaga di sana.

"Buat dia seolah mengalami kecelakaan maut. Bakar dia bersama mobilnya agar tidak ada yang curiga," perintah Lanka dengan nada otoritas tinggi kepada anak buah ayahnya.

"Baik, Tuan Muda," sahut mereka serempak sembari menunduk hormat.

Setelah memberikan perintah terakhir itu, Lanka melangkah pergi meninggalkan markas dengan wajah datar, seolah baru saja menyelesaikan tugas ringan yang tak berarti.

...****************...

Malam harinya di kediaman mewah keluarga Weylin.

Setelah ritual makan malam yang hangat selesai, seperti biasanya, keluarga besar itu berkumpul di ruang keluarga yang luas. Televisi berukuran besar menyala, menampilkan tayangan berita nasional sebagai latar suara obrolan santai mereka sebelum berangkat tidur.

(BERITA TERKINI: TELAH TERJADI KECELAKAAN MAUT. SEBUAH MOBIL MEWAH YANG DIKENDARAI OLEH PUTRI SEORANG MENTERI TERJUN BEBAS KE JURANG DAN MELEDAK HEBAT. KEJADIAN NAAS TERSEBUT DIPERKIRAKAN TERJADI PADA SORE HARI TADI.)

Suara pembawa berita itu seketika menarik perhatian semua orang yang ada di ruangan tersebut. Rekaman amatir yang memperlihatkan kobaran api melalap bangkai mobil di dasar jurang memenuhi layar kaca.

"Kasihan sekali, anak menteri pula korbannya," ucap Zeline pelan, ada nada prihatin di suaranya saat melihat betapa hancurnya kondisi mobil tersebut.

Bryan menyipitkan mata, menelisik layar televisi dengan seksama saat kamera menyorot evakuasi jenazah. "Tapi kok aneh? Kenapa cuma bagian badannya saja yang terbakar hebat sampai hangus? Wajahnya justru masih terlihat cukup jelas dan utuh," gumam Bryan heran. Secara logika, ledakan mobil seharusnya menghanguskan seluruh tubuh tanpa sisa.

"Itu Kak Bianka!" seru Ila tiba-tiba. Telunjuk mungilnya mengarah tepat ke layar TV saat kamera menyorot wajah korban. Ya, jenazah di dalam mobil itu adalah Bianka, gadis yang nyawanya baru saja dicabut oleh Lanka hanya karena berani mengusik ketenangan Ila.

Alzian dan Elzion hanya terdiam membisu di sudut sofa. Mereka saling lirik dengan senyum miring yang nyaris tak terlihat. Sebagai orang yang mengenal Lanka dengan baik, mereka tahu persis siapa arsitek di balik "kecelakaan" rapi ini. 'Psikopat,' batin Dou B serempak, mengagumi sekaligus ngeri dengan cara Lanka melenyapkan pengganggu.

Bryan menunduk, menatap putri bungsunya yang tengah duduk nyaman di pangkuannya. "Kamu kenal, Sayang?" tanya Bryan lembut.

"Hu'um! Dia satu sekolah sama Ila, tapi nggak sekelas," jawab Ila dengan nada riang dan wajah yang tetap ceria, seolah tidak sadar bahwa orang di TV itu sudah meninggal.

Zeline mengerutkan kening, merasa ada yang janggal. "Nggak sekelas tapi kamu terlihat kenal akrab gitu?" tanya Zeline bingung.

Ila menggeleng lucu, membuat rambutnya bergoyang. "Ila nggak kenal akrab, tapi tadi tiba-tiba Kakak itu ajak Ila bermain di sekolah," jelas Ila dengan wajah polosnya yang sangat imut.

"Bermain apa, Sayang?" tanya Bryan, mulai merasakan firasat tidak enak.

Ila mengedikkan bahunya dengan gerakan yang menggemaskan. "Nggak jadi main, cuma dia ngajarin Ila berkata-kata baru, seperti yang sering Bang Liam bilang," seru Ila bersemangat.

Zeline dan Bryan serentak menaikkan alis mereka tinggi-tinggi. Perasaan mereka semakin tidak karuan. "Berkata-kata apa?" tanya Zeline hati-hati.

"Bangsattt!" ucap Ila dengan nada yang sangat polos dan lantang. Ia bahkan tersenyum manis setelahnya, tampak sangat bangga karena berhasil mempelajari kosa kata baru yang menurutnya "keren".

"Heh?!" Bryan dan Zeline tersentak kaget, mata mereka membulat sempurna mendengar umpatan kasar keluar dari bibir mungil putri mereka yang suci itu.

......................

1
Yuni Anto
next 🥰🥰 Thor lanjut lagi 😍😍💪💪🤔
Yuni Anto
/Sob/baru bad awal dah/Sob/bikin nyesek/Sob//Whimper//Whimper//Whimper/
Nazia wafa abqura
kak ap udah gk up lgi ya
Nazia wafa abqura
kak kok gk up2 lho
Nazia wafa abqura
kak kpn up ny
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
Ida Kurniasari: liat aja cerita aslinya judulnya transmigrasi Ara kak
total 1 replies
Ida Kurniasari
sampai sini ceritanya sama Persis kayak cerita transmigrasi Ara cuma beda nama tokoh aja,mohon maaf thorr🙏
Ida Kurniasari
mohon maaf thor kok ceritanya sama kayak cerita transmigrasi Ara ya?🙏
Ida Kurniasari
mohon maaf nih thor kok ceritanya mirip banget sama cerita transmigrasi Ara ya??🙏
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak mn up ny
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up selanjutnya..
Nazia wafa abqura
kak mn up ny. tak tunggu lho
aria
lanjut
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny.. 😍
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up selanjutny
aria
lanjut
Mima D. S
lucu dan menarik
Mima D. S
thor buat cerita tentang anak sekolahan lagi dongg tp karakter wanita nya seperti yg ada di cerita ini, yg memiliki sifat manja dan poloss trus dia anak perempuan satu-satunya juga. Karena cerita yg ini lucu aku suka🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!