NovelToon NovelToon
Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Istri Hyper Untuk Gus Hilman

Status: tamat
Genre:Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Matahari sore di Desa Sukamaju sedang terik-teriknya, namun tidak sepanas suasana hati Gus Hilman. Pemuda berusia 22 tahun itu baru saja turun dari mobil, merapikan sarung instan dan kemeja kokonya yang wangi setrikaan. Ia baru tiga hari kembali dari Jakarta untuk mengelola pesantren kecil milik kakeknya di ujung desa.

"Gus Hilman!"

Suara cempreng itu memecah ketenangan. Hilman menghela napas panjang tanpa menoleh. Ia sudah tahu siapa pemilik suara itu. Keyla. Anak tunggal Pak Lurah yang menurut desas-desus warga adalah "ujian berjalan" bagi kaum pria di sana.

Keyla datang dengan motor matic-nya, berhenti tepat di depan Hilman hingga debu jalanan terbang mengenai sepatu kulit sang Gus. Gadis 17 tahun itu turun dengan gaya menantang. Ia mengenakan tank top merah ketat yang memperlihatkan bahu mulusnya, dipadu dengan celana jins pendek di atas lutut. Rambutnya yang dicat cokelat dibiarkan tergerai, basah oleh keringat yang membuatnya tampak semakin... mencolok.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17

Matahari pagi mulai mengintip dari balik celah gorden kamar, membawa cahaya hangat yang menyapu wajah kedua pengantin baru itu. Hilman terbangun lebih dulu. Ia menatap wajah Nayla yang masih terlelap di sampingnya dengan perasaan yang jauh berbeda dari kemarin pagi. Ada rasa sayang dan tanggung jawab besar yang kini bertahta di hatinya.

Saat azan Subuh berkumandang, Hilman membangunkan Nayla dengan kecupan lembut di kening. "Sayang, bangun... sudah Subuh. Kita harus mandi wajib," bisik Hilman dengan suara serak khas bangun tidur.

Nayla mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, begitu ia mencoba duduk, wajahnya langsung meringis kesakitan. "Aduh..." rintihnya sambil memegangi bagian bawah perutnya.

"Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Hilman panik, langsung sigap merangkul bahu istrinya.

Nayla menatap Hilman dengan wajah cemberut namun manja. "Perih, Gus... Gara-gara Gus Hilman semalam mainnya nggak pakai rem. Jalan aja kayaknya aku nggak sanggup."

Wajah Hilman seketika memerah mengingat kejadian semalam. Ia merasa bersalah sekaligus gemas. "Maafkan aku, Nay. Aku benar-benar khilaf semalam. Sini, aku bantu."

Hilman dengan penuh kasih sayang membantu Nayla berdiri. Benar saja, langkah kaki Nayla tampak sangat pelan dan sedikit gemetar. Setiap langkah yang diambilnya membuatnya harus berpegangan erat pada lengan kekar Hilman.

"Pelan-pelan ya..." Hilman menuntunnya menuju kamar mandi dengan sangat hati-hati, seolah Nayla adalah porselen yang bisa retak kapan saja.

Setelah selesai mandi wajib dan menunaikan shalat Subuh berjamaah di dalam kamar, mereka harus turun ke bawah untuk sarapan bersama keluarga. Nayla mengenakan daster panjang yang longgar, namun tetap saja gaya jalannya yang sangat pelan dan agak mengangkang tidak bisa disembunyikan.

Di meja makan, Arkan sudah duduk manis bersama Pak Lurah dan Bunda Sarah. Begitu melihat pasangan itu turun tangga dengan posisi Hilman yang terus memegangi pinggang Nayla, Arkan langsung menghentikan kunyahannya.

"Waduh, waduh... ada yang jalannya pelan banget nih pagi ini," goda Arkan dengan tawa tertahan. "Key, kamu habis lari maraton semalam atau gimana? Kok jalannya kayak pinguin gitu?"

Wajah Nayla langsung merah padam. Ia mencubit pelan pinggang Hilman karena merasa malu. Sedangkan Hilman hanya bisa berdehem keras, mencoba tetap tenang meski telinganya sudah sangat panas.

"Sudah, Arkan! Jangan digoda terus adiknya," tegur Bunda Sarah, meski beliau sendiri tersenyum penuh arti sambil meletakkan piring nasi. "Sini duduk, Nayla, Gus Hilman. Sarapan dulu supaya tenaganya pulih."

Nayla duduk dengan sangat perlahan di kursi kayu, sesekali meringis pelan saat bokongnya menyentuh kursi. Hilman dengan sigap mengambilkan nasi dan lauk untuk istrinya, menunjukkan sisi suami siaga di depan mertuanya.

"Gus," bisik Arkan sambil condong ke arah Hilman, "Kayaknya adik saya beneran 'dijinakkan' ya semalam? Berhasil juga ya Gus, imam vs hyper?"

Hilman hanya tersenyum tipis ke arah Arkan. "Doakan saja Mas, semoga saya bisa terus sabar membimbingnya.

Suasana di meja makan pagi itu terasa sangat hangat, meski bagi Nayla dan Hilman, hawa canggung masih terasa kental. Aroma nasi uduk dan sambal goreng buatan Bunda Sarah memenuhi ruangan, namun fokus semua orang sepertinya teralihkan oleh "pemandangan baru" di depan mereka.

Hilman, yang biasanya makan dengan sangat formal dan tenang, kini terlihat sangat perhatian. Ia mengambilkan piring untuk Nayla, mengisinya dengan nasi, telur balado, dan sedikit sayur.

"Makan yang banyak, Nay. Biar badannya nggak lemas," bisik Hilman lembut sambil meletakkan piring itu di depan istrinya.

Nayla, yang biasanya sangat cerewet dan hyper, pagi ini hanya bisa tersipu malu. Ia mencoba duduk senyaman mungkin di kursi kayu yang keras, namun rasa perih di bawah sana membuatnya terus bergerak gelisah.

"Kenapa, Nay? Kursinya nggak empuk ya?" goda Arkan lagi sambil menyeringai nakal. "Apa perlu Abang beliin bantal donat biar duduknya enak?"

"Abang! Berisik ih!" sahut Nayla sambil melempar sebutir kerupuk ke arah kakaknya.

Pak Lurah berdehem, mencoba menengahi. "Sudah, sudah. Arkan, jangan goda adikmu terus. Hilman, setelah sarapan ini, rencananya mau ke mana? Ada jadwal di pesantren?"

Hilman mengangguk takzim. "Inggih, Pak. Rencananya setelah ini Hilman mau sowan ke Abah Kiai di pesantren. Hilman juga berniat mengajak Nayla sekalian, supaya para santri tahu kalau... kalau kami sudah menikah."

Mendengar itu, Nayla langsung tersedak air minumnya. "Hah? Ke pesantren sekarang, Gus? Tapi jalanku aja masih kayak gini. Malu ih dilihatin santri-santri putra!"

Hilman tersenyum, lalu meraih tangan Nayla di atas meja dan menggenggamnya erat—sebuah tindakan berani di depan mertua yang membuat Pak Lurah tersenyum lega. "Nggak apa-apa. Kita jalannya pelan-pelan. Aku akan selalu ada di sampingmu, menggandengmu."

Bunda Sarah menimpali, "Benar itu, Nduk. Sekarang kamu sudah jadi istri seorang Gus. Kamu harus mulai belajar menempatkan diri sebagai Ibu Nyai muda. Pakai baju yang sopan ya, nanti Bunda pinjamkan gamis yang cantik."

Nayla melirik Hilman, lalu tersenyum manja. Sifat aslinya mulai kembali sedikit demi sedikit. "Ya udah, tapi nanti kalau aku capek atau nggak kuat jalan, Gus Hilman harus siap gendong aku di depan santri ya? Deal?"

Arkan langsung tertawa keras. "Wah, bisa heboh satu pesantren kalau Gus Hilman gendong pengantinnya yang jalannya kayak pinguin!"

Hilman hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya yang tidak ada habisnya, namun dalam hati ia merasa sangat bahagia. Di sela-sela suapan nasi uduknya, ia sesekali melirik Nayla yang sedang lahap makan, merasa bersyukur bahwa "donat" yang ia masuki semalam telah mengikat mereka dalam ikatan suci yang tak terpisahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!