“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Skenario Pendekatan Ala Dorian Part. 1
“Denzel, kembali bekerja!” perintah Ragnar kemudian.
“Ivory, kau harus ikut denganku untuk pertemuan bisnis dengan salah satu klien di restaurant sekarang,” lanjutnya.
“Ouh, baiklah!” sahut Ivory merasa sedikit aneh, sebab Bos gilanya itu rupanya tidak melakukan apapun kali ini.
Ivory dengan patuh mengikuti setiap langkah Ragnar menuju sebuah mobil yang sudah menunggu mereka di depan pintu lobi perusahaan. Sementara, Dorian memilih berjalan dibelakang keduanya untuk memastikan situasi disekitar tidak ada yang salah.
...****************...
Namun, rupanya mereka tidak langsung menuju restaurant yang menjadi tempat pertemuan. Lampu sore menyelinap melalui celah tirai ketika mobil hitam itu berhenti mulus di depan sebuah salon eksklusif yang tersembunyi di balik deretan butik mahal. Ivory lantas menatap papan nama berwarna emas itu dengan dahi sedikit berkerut.
“Kita… sepertinya salah alamat?” tanyanya ragu.
“Mana ada pertemuan penting yang dilakukan di salon? Bukankah biasanya di restaurant mewah?”
Ragnar hanya tersenyum tipis. Senyum yang selalu membuatnya sulit menebak apa yang sedang ia pikirkan. “Tidak. Kita memang perlu ke tempat ini untuk mengubah penampilannya. Ini pertemuan formal dan… penampilanmu sekarang tidak cocok sama sekali.”
Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, ia turun lebih dulu, membukakan pintu untuknya, lalu menggenggam tangannya dengan mantap. Bukan sebagai tuntunan, melainkan seolah ia yakin tempat itu adalah bagian dari rencananya sejak awal. Ivory hanya bisa terdiam, membiarkan Ragnar berbuat sesuka hatinya dalam artian dalam batas yang sudah dia tentukan dalam hati.
Interior salon itu elegan dan tenang, dipenuhi aroma lembut bunga putih dan kayu mahal. Para staf yang melihat kedatangan mereka langsung berdiri lebih sigap, seakan sudah mengenali siapa pria itu. Ragnar berbicara singkat namun tegas kepada manajer salon, menyebutkan beberapa instruksi dengan nada datar, seperti sedang membahas laporan keuangan, bukan penampilan seseorang.
Ivory dipersilakan duduk di kursi besar berlapis kulit, jantungnya berdetak tak menentu. “Aku pikir kita akan langsung ke tempat pertemuan?” bisiknya, nyaris tak terdengar di antara suara gunting dan hair dryer.
Ragnar mendekat, mencondongkan tubuhnya sedikit. “Pertemuan itu penting,” katanya pelan, matanya menatap bayangannya di cermin yang sama dengannya, “karena itulah kau harus memperhatikan penampilanmu mulai sekarang. Sebab kedepannya aka nada banyak pertemuan penting yang harus kita hadiri bersama.”
Kalimat itu membuat Ivory terdiam. Ingin bertanya maksud dari perkataan Ragnar barusan, tetapi ia lebih memilih percaya akan kesimpulannya sendiri. Ya, sekarang Ia adalah sekretaris pribadi Ragnar dan sudah pasti dirinya akan selalu menemaninya setiap ada pertemuan penting dengan klien.
Berbeda dengan maksud yang dipikirkan Ragnar, bahwa terlepas dari kontrak kerja yang disepakati Ivory adalah reinkarnasi dari Ratunya. Wanita yang sangat ia cintai, baik di kehidupan masa lalu maupun saat ini.
“Dorian, siapkan semuanya untuk scenario yang sudah kita sepakati. Ingat, aku tidak ingin ada kegagalan sama sekali,” bisik Ragnar pada tangan kirinya itu.
“Siap, Yang Mulia! Semuanya sudah dipersiapkan dengan sangat baik. Saya yakin hasilnya pasti akan sangat memuaskan,” balasnya penuh percaya diri, layaknya seorang sutradara yang yakin bahwa karyanya akan sukses besar.
Waktu berjalan perlahan. Rambutnya ditata dengan teliti, make-up diaplikasikan tanpa berlebihan terkesan halus, elegan, menonjolkan kecantikan alaminya tanpa menghilangkannya. Gaun yang dipilihkan kemudian jatuh sempurna di tubuhnya, sederhana namun berkelas, seolah dibuat khusus untuknya.
Ketika semuanya selesai, Ivory berdiri dan menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Ia hampir tak mengenali wanita yang memandang balik terlihat anggun, percaya diri, dan memancarkan pesona yang tenang.
Tiba-tiba Ragnar sudah berdiri di belakangnya. Untuk sesaat, ia tidak berkata apa-apa. Tatapannya serius, nyaris terlambat menyembunyikan kekaguman yang muncul di matanya.
“Sekarang,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan mantap, “mereka juga akan melihat apa yang sejak awal sudah kulihat.”
Ragnar mengulurkan lengannya. Dan kali ini, ketika mereka melangkah keluar menuju mobil dan ke arah pertemuan penting itu, ia tidak lagi merasa seperti sekadar pendamping. Melainkan seorang wanita yang pantas berdiri di sisi pria itu, dalam dunia mana pun yang akan mereka hadapi bersama.
...****************...
Mereka akhirnya tiba di sebuah restaurant mewah yang menjadi tempat pertemuan dengan kliennya. Layaknya pasangan kekasih, Ragnar menempatkan tangan Ivory pada lengan tangannya. Kemudian, keduanya melangkah maju memasuki restaurant tersebut. Meski dalam bayangan Ragnar, dirinya seperti berjalan di atas altar pernikahannya dengan Ratunya untuk kedua kalinya.
...****************...
Lampu-lampu kristal di restoran mewah itu menggantung seperti bintang yang dijinakkan. Meja mereka berada di dekat jendela besar, menghadap kota yang berkilau. Tempat kesepakatan bernilai emas biasa lahir dengan senyum tipis.
Ivory duduk di antara Ragnar dan asistennya—Dorian. Gaun sederhana namun elegan membingkai sosoknya, kontras dengan aura dingin Ragnar yang mengenakan setelan hitam tanpa cela.
Menyadari keberadaannya mengganggu di sana, Dorian memilih mundur satu langkah di belakan keduanya. Ia tersenyum ramah, terlalu ramah, seolah malam ini hanyalah makan malam bisnis biasa tanpa ada scenario tersembunyi yang sudah mereka persiapkan.
“Klien kita akan segera tiba,” ujar Ragnar, suaranya rendah dan halus. Tatapannya sekilas jatuh padanya, lebih lama dari yang perlu, lalu kembali ke gelas anggur.
Ivory lantas mengangguk. Ada sesuatu yang ganjil sejak mereka memasuki restoran. Seakan Ivory bisa merasakan bahwa sesuatu sudah menantinya di sana. Sampai tiba-tiba Dorian melirik jam tangan dan berkata, “Tuan! Saya ijin ke toilet sebentar.”
Ragnar tak menjawab, tetapi ia menganggukkan kepala tanda persetujuan. Dorian segera bergegas pergi ke arah toilet yang menjadi tujuannya. Tak lama setelah Dorian menghilang di balik pintu, udara seakan tiba-tiba berubah. Musik gesek yang lembut terdengar sumbang di telinganya. Pelayan-pelayan bergerak terlalu cepat, terlalu teratur. Sang raja vampir mencondongkan tubuhnya sedikit, seolah melindungi tanpa menyentuh.
“Apakah kau baik-baik saja?” tanyanya, nada khawatir memastikan Ivory tetap aman. Ketika Ivory hendak menjawab ketika cahaya lampu meredup sepersekian detik.
Lalu…. Sesuatu yang terasa dingin menempel di belakang lehernya.
“Jangan bergerak.”
Suara itu rendah, terkontrol. Dorian telah kembali… namun kini berbeda. Matanya keras, tubuhnya tegang, dan di tangannya terhunus belati tipis berlapis perak. Para pengunjung lain tampak tak menyadari apa pun, seolah berada di balik tirai ilusi.
Tubuh Ivory menegang ketakutan, merasakan belati itu hampir mengiris kulit mulusnya. Detik itu juga, Ragnar segera bangkit bangkit seketika.
“Berani sekali kau ingin melukai Ratuku,” katanya dingin, mata merahnya menyala. Dalam satu gerakan cepat, ia meraih pergelangan tangan Dorian yang sedang mendalami perannya sebagai sang “pembunuh” dan memelintirnya. Belati jatuh berdering ke lantai.
“Cukup, Yang Mulia! Anda benar-benar bisa membunuhku kalau begini terus,” bisik Dorian.
Namun sebelum sandiwara itu bisa ditutup dengan pahlawanisme yang sempurna, bau amis menerobos udara. Bukan aroma darah vampire, bukan juga aroma darah manusia tetapi aroma….
Kaum werewolf.
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔