Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.
Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.
Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.
Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Percayalah
"Elyra, aku tidak menyentuhmu kan?" Kyun terkekeh memperpanas suasana.
"Tidak sama sekali." Jawab Elyra. Leon menyingkirkan tangan Kyun dari pundak Elyra dan merapikan rambut Elyra yang semula diacak-acak oleh Kyun.
"Dia milikku, bro!" Leon memeluk Elyra. Kyun tertawa dan mengangkat bahunya.
“Milikmu? Too bad, secara identitas dia masih single, kawan.” Kyun mengangkat bahunya dan melangkah menjauh.
"Kalau lapar mampir saja ya, Lyra." Kyun mengedipkan sebelah matanya genit. Leon mengepalkan tangannya.
"Ini keterlaluan!" Leon mengangkat tubuh Elyra dan membawanya masuk ke dalam kediamannya.
"Apa ini tidak apa-apa?" Seseorang tampaknya sejak awal sedang memperhatikan mereka, itu adalah Nuah dan Tamam. Memperhatikan Elyra dan Leon yang nampak lebih dekat.
"Bukan masalah besar, Leon memiliki banyak kesabaran sekarang." Tamam mencoba menenangkan sang istri. Nuah mengangguk, membiarkan semua kejadiannya begitu saja.
Sedangkan Leon yang membawa Elyra masuk ke dalam rumahnya, mendudukkan Elyra di sofa. Tatapannya tajam, posesif, dan sedikit membuat Elyra tidak nyaman.
"Aku mau pulang," Elyra tersenyum. Leon menggelengkan kepalanya.
"Kamu lapar? Belum sarapan? Apa setiap hari tanpa aku kamu makan dengannya, hem? Aku tidak suka Kyun, visualnya terlalu berlebihan menjadi perebut pacar orang dan itu membuatku terganggu!" Kesal Leon. Elyra mengangkat alisnya.
"Siapa perebut siapa?" Elyra bingung. Leon mengambil pena.
"Kamu itu milikku, sayang, apa kurang jelas?" Leon menulis namanya di tangan Elyra. Elyra terkekeh.
"Sejak kapan?" Tanya Elyra lagi. Leon mengecup tangan Elyra dan menatap matanya dengan lembut.
"Sejak awal," jawab Leon. Elyra terdiam, menundukkan pandangannya.
"Setelah bosan, kamu sendiri akan meninggalkanku, Leon. Aku hanya berharap yang terbaik untuk kita." Jawab Elyra. Leon menggelengkan kepalanya.
"Bagaimanapun caranya, kita akan bersama. Bosan? Itu tidak mungkin. Hidupku sudah terlalu membosankan selama ini, dan baru berwarna setelah kamu hadir, sayang." Leon meyakinkan. Elyra menggigit bibir bawahnya.
"Aku belum bisa masak, tapi untuk sarapan kita buat makanan sederhana saja ya?" Leon berjalan menuju dapur.
Leon mengambil roti tawar, dia mengambil ham dan beberapa bahan untuk membuat roti lapis. Elyra memperhatikan itu dan menggelengkan kepalanya. Mereka memang berbeda, mereka tak sejalan, dan semuanya serba berbeda.
"Leon, apa kamu tahu ada beberapa hal yang tidak bisa aku makan. Ya ampun," Elyra beranjak dari duduknya dan membuka kulkas di dapur Leon. Isinya bir kebanyakan, minuman bersoda, dan makanan yang tidak mungkin Elyra makan.
"Haa, dunia kita memang berbeda. Ayo cari makan di depan saja!" Ajak Elyra. Leon mengedipkan matanya, apakah ada yang salah dengan makanan yang dia buat? Jelas dia belum tahu apa kesalahannya sendiri.
Mereka akhirnya keluar dari rumah itu. Kyun nampak tengah menyiram taman kecil di depan rumahnya. Dia menertawakan Elyra dan Leon. Leon bahkan merasa diledek oleh senyuman Kyun itu.
"Enakan makan sama aku kan, dek?" Tawa Kyun. Elyra mengepalkan tangannya pada Kyun, bibirnya mengerucut kesal.
"Abangku ini bikin kesal sekali ya, rasanya belum lengkap sebelum buat orang lain kesal." Gertak Elyra. Kyun tertawa puas melihat ekspresi Elyra yang sudah nampak kesal sampai ubun-ubun.
"Katanya ikut Leon with full confidence, tapi bahkan she doesn’t know what food he usually eats. Ironisnya, sudah sampai di rumahnya, adik polosku ini cuma bisa menatap meja, karena ternyata nothing there she can actually eat hahaha..." Ledek Kyun. Elyra mengepalkan tangannya makin kesal.
"Mulut Anda pedas ya, Bang?" Elyra makin kesal. Kyun mengangkat bahunya.
"Aku baru tahu itu hari ini, dek, hahah..." Tawanya lagi. Elyra memalingkan wajahnya kesal.
"Pegang tanganku!" Ucap Elyra pada Leon. Kyun makin tertawa melihatnya.
"Mau mimpin anak PAUD nyebrang jalan ya? Hahaha..." Tawa Kyun lagi. Elyra menatap sejenak pada Kyun sebelum akhirnya memalingkan wajah dengan marah.
"Heh! Masbuloh!" Kesal Elyra lagi dan pergi dari sana. Sedangkan kini Leon mengerti. Hubungan Elyra dan Kyun bukan seperti yang dia bayangkan, mereka hanya teman baik. Sahabat yang memang tanpa perasaan lain.
Selama ini Leon selalu percaya bila seorang pria dan wanita bersahabat, rasanya itu mustahil bila tak ada rasa di antara keduanya. Entah dari pihak pria atau wanita pasti ada yang memendam rasa, hingga mereka dapat bertahan dan bersahabat. Tapi kini, Leon mengerti sahabat bisa terbentuk tanpa melihat gender.
"Dia itu pria paling menyebalkan yang pernah ada di dunia!" Kesal Elyra. Leon terkekeh dan mengikuti langkah Elyra saja.
"Kamu tidak mencintainya kan?" Tanya Leon. Elyra langsung mendelik, mencintai? Itu sungguh sulit ada dalam kamusnya.
"Tentu saja tidak, dia itu lebih seperti kakakku, tau. Meski menyebalkan dia memang baik, dia yang memberiku modal untuk membuat warnet, kafe, dan toko oleh-oleh. Tapi secara kepribadian, dia itu menyebalkan, terlalu realistis, dan dia seorang yang agamis meski tampilannya tak mencerminkan itu." Jelas Elyra. Leon tersenyum dan mengangguk.
"Sudah kenal Kyun lama ya?" Tanya lagi Leon. Elyra nampak mengingat.
"Sejak aku kabur dari rumah, dulu aku pernah jadi pengasuh Raisa saat baru keluar dari rumah dan Raisa itu sangat dekat dengan Kyun, jadi aku mengenalnya dari sana." Jawab Elyra lagi. Leon mengangguk paham.
"Apa tidak pernah menyimpan rasa padanya?" Elyra tertawa mendengar pertanyaan itu.
"Rasa kesal ya sering, tapi kalau rasa romansa rasanya tidak. Perasaan seperti itu baru kali ini aku rasakan dan belum pernah merasakan hal ini sebelumnya, jadi mungkin aku sendiri merasa bingung." Elyra menunduk dan berhenti dari langkahnya. Dia langsung menatap samping dan tampak Leon dan matahari pagi membuat Elyra merasa nyaman.
Perasaan sementara yang ingin dia rasakan selamanya, apa itu terlalu serakah? Namun Elyra sungguh ingin terus bersama pria itu.
Senyum terukir di bibir Leon dan mengusap kepala Elyra lembut. Tatapannya menyapu wajah Elyra dengan hati-hati. Dia mengusap pipi Elyra sejenak. Elyra membiarkan itu dan menenggelamkan pipinya di tangan Leon.
"Percayalah, aku akan berjuang. Sekarang sudah libur semester, bukan?" Leon bertanya dengan nada yang rendah dan bahkan suaranya terasa seperti hembusan angin yang nyaman terdengar di telinga Elyra.
"Ya," jawab Elyra. Leon menggenggam tangan Elyra dan mengecup telapak tangan Elyra yang masih terbalut perban.
"Baguslah, satu minggu ini aku terlalu sibuk. Tapi aku akan banyak bersantai ke depannya, jadi percayalah aku akan berjuang, sayang." Elyra mengangguk lagi. Leon memeluk Elyra dan menghela napas kasar. Dengan matahari yang baru terbit, suara burung yang bersiul, dan warna jingga kini tampak indah di langit pagi hari itu.
Suasana yang indah, perasaan yang menyatu dalam kehangatan. Ketidaksengajaan yang menyatukan mereka, menumbuhkan banyak hal dalam hati keduanya.
Muhammad Tamam El-Ghifari
Dia suami Nuah, dan nama panggilannya kadang juga disebut Mamat, kenapa Mamat? Tamam dibalik jadi Mamat. Dia juga memiliki dua adik bernama David Anggara El-Ghifari dan Yana Yatvan El-Ghifari atau dipanggil juga Dadang dan Yayat. Jadi mereka trio Mamat, Dadang dan Yayat. 🤣🤣 Itu panggilan kesayangan.
🤣