Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Sidang keluarga.
"Ayo, Carol. Ada yang hendak aku tunjukkan padamu." Zach melangkah ke ruang keluarga. Diikuti oleh Carol.
"Sebenarnya apa yang hendak Tante bicarakan pada Mamaku? Apa soal kejadian tadi sore?" beliak Zach panik. Saat mereka sudah di ruang keluarga.
"Iya. Entah kenapa Mama mendadak separanoid itu. Padahal sudah aku jelaskan. Tapi Mama tetap kekeuh mau kemari.
"Menurutmu apa yang akan dilakukan Tante?" Carol menggeleng lemah. dia sendiri masih bingung apa rencana orang tuanya.
"Hem, anak-anak sudah pergi. Kak Rachel mau ngomong apa sih. Sepertinya serius banget?" tatap Bu Reya sedikit curiga.
Bu Rachel menghela nafas berat. " Mungkin saya memang agak berlebihan dengan masalah ini. Tapi sebagai seorang Ibu, saya tidak bisa mengabaikannya." Bu Reya dan Pak Dody menyimak dengan serius.
"Karena itulah kami datang kemari. Lebih cepat masalah ini ditangani akan mencegah masalah lain."
"Mmm, maaf Kak Rachel. Saya kurang paham ke arah mana pembicaraan ini. Bisa Kakak bicara lebih spesifik. Biar jelas semuanya." Bu Reya menyela karena bingung.
"Kita tentu sangat bersyukur, karena anak-anak kita selamat dari kebakaran itu. Masih tidak masuk akal sebenarnya, kenapa keduanya bisa meloloskan diri sampai jauh ke dalam hutan. Semalaman mereka bersama. Berdua ketakutan."
"Segala kemungkinan bisa saja terjadi. Karena terguncang. Ketakutan dan lain sebagainya." Bu Rachel menarik nafas berat.
"Bentar Kak," sela Bu Reya. "Sepertinya saya mulai paham arah pembicaraan ini. Jadi Kakak menuduh Zach dan Carol telah melakukan sesuatu yang melanggar norma, selama mereka di hutan, begitu?" beliak Bu Reya.
"Syukurlah kalau Dik Reya, paham maksud saya."
"Oh my God! Bisa-bisanya Kakak berpikir ke arah sana."
"Awalnya saya juga masih ragu, Dik. Tapi saat tadi sore kami memergoki Zach dan Carol di kamarnya. Kecurigaan saya sangat beralasan."
"What! Zach masuk ke kamar Carol? Astaga! Anak itu memang selalu membuat pusing keluarga! Tapi, apa tuduhan Kakak tidak berlebihan. Apa sudah menanyakan mereka kebenarannya?" suara Bu Reya semakin meninggi. Geram dan marah mulai menguasai dirinya.
"Sabar Ma. Jangan bertindak gegabah. Kita tanya saja anaknya." ucap Pak Dody bijak.
"Baiklah! Apakah Zach mengakui perbuatannya?" Bu Reya memijit kening.
"Tidak. Keduanya memang membantah. Hanya saja hati kecil saya tidak percaya." tandas ucapan Bu Rachel.
"Oke. Saya akan panggil anak itu." Bu Reya bergegas masuk ke ruang keluarga. Tetapi tidak melihat Zach dan Carol disana.
Dengan kesal, Bu Reya menuju kamar anaknya di lantai dua. Dimana Zach dan Carol tengah membahas wabah yang mulai menyebar di kotanya.
Zach dan Carol tidak menyadari kedatangan Bu Reya. Posisi mereka yang duduk saling berdekatan. Malah membuat Bu Reya salah paham.
"Zach!, Mama menyuruhmu ngobrol di ruang keluarga. Bukan malah mengajak Carol masuk ke kamarmu. Kamu benar-benar membuat Mama dan Papa malu!" sergah Bu Reya.
"Mama jangan salah paham dulu. Kami hanya sedang membicarakan sesuatu Mam."
"Tapi tidak harus di dalam kamarmu 'kan?"
"Aku mau menunjukkan sesuatu kepada Carol, Ma. Zach menunjuk ke layar leptopnya yang sedang menyala.
Bu Reya membaca sekilas. Di layar leptop terpampang jelas beberapa foto tentang bakteri dan sejenisnya."
"Jadi kalian sedang membahas tugas sekolah ya? Apakah itu juga yang kalian lakukan di kamara Carol tadi sore?" tekan Bu Reya.
"Iya, Ma. Kami ada tugas sekolah. Meneliti kasus wabah." ucap Zach meyakinkan mamanya.
"Astaga! Seperrinya sudah terjadi salah paham. Sekarang kalian turun dulu. Kalian berdua harus disidang malam ini." Bu Reya tersenyum lega. Mama Carol memang terlalu cepat mengambil keputusan.
"Disidang, Ma? Maksudnya apa?" protes Zach.
"Kalian akan tau sendiri. Ayo keluar!" Zach dan Carol mengikuti dari belakang.
"Ayo duduk!" titah Bu Reya kepada Zach dan Carol. Sikap Bu Reya sedikit lebih santai dari tadi.
Seolah tidak ambil pusing dengan ke khawatiran orang tua masing-masing. Cuek saja Zach dan Carol duduk berdekatan.
Kedua mata Bu Rachel melotot ke arah Carol. Melihat tatapan mata ibunya yang seolah mau menelannya, Carol menjauh dari Zach.
"Anak-anak sudah disini. Sekarang kita tanya saja mereka berdua, Kak. Apa yang mereka lakukan sepanjang malam di hutan."
Zach menegang mendengar ucapan mamanya. Zach dan Carol saling pandang. "Jadi, masalah semalam di hutan itu pemicu kecurigaan pada mereka?" monolog hati Zach.
"Tante Rachel, Om juga Papa dan Mama. Please, percaya sama Zach dan Carol. Kalau kami tidak melakukan apa-apa selama di hutan. Kami hanya mencoba bertahan. Karena terguncang dan berada di tengah hutan."
"Coba jelaskan Zach, kenapa kalian bisa berada jauh dari lokasi sekolah kalian. Sedang Meghan dan dua lainnya hanya puluhan meter dari lokasi kebakaran?" ucap Bu Rachel dingin.
"Itu, itu sesuatu yang sulit untuk di jelaskan Tante. Tapi percayalah aku dan Carol masih ...." Zach tidak bisa melanjutkan ucapannya.
Perasaan aneh yang tiba-tiba merasuki hatinya saat itu. Dan berjuang mati-matian melawannya. Lalu, sikap Carol yang mampu mengendalikan emosinya. Semua itu tidak mungkin dijelaskannya. Tidak sekarang! Karena apa yang terjadi pada tubuhnya masih misteri.
"Kenapa diam, Zach? Ayo jawab pertanyaan Tante Rachel." sela Bu Reya.
Suasana tegang merayapi seisi ruang. Kedua pasangan suami istri itu menunggu jawaban Zach.
Melihat situasi berubah tegang.Tanpa sadar Carol mendekat ke arah Zach. Carol takut, karena tersudut, Zach tidak bisa mengontrol emosinya, sehingga
Zach berubah.
Benar saja Zach terlihat panik. Ditatapnya semua orang yang berada di dalam ruangan. Zach terlihat tidak bisa mengendalikan emosinya. Carol spontan mendekat dan bebisik lirih kepada Zach. Carol tidak ingin rahasia Zach terbongkar. Tentunya akan membuat orang tua mereka kaget.
"Zach, kamu harus bisa mengontrol emosimu." bisik Carol lirih. Disentuhnya lengan Zach lembut.***