NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cahaya Baru

Tiga minggu telah berlalu sejak malam di mana detak jantung Ria sempat menghilang. Rumah sakit telah menjadi rumah kedua bagi Arya. Ruang VIP yang luas itu kini dipenuhi dengan bunga mawar putih segar yang diganti setiap pagi—karena Arya ingat Ria menyukai warnanya—dan aroma antiseptik yang tajam kini bercampur dengan aroma parfum mawar kesukaan istrinya.

Ria masih di sana, terbaring kaku di atas ranjang dengan berbagai kabel yang masih setia memantau tanda-tanda vitalnya. Matanya terpejam rapat, bulu matanya yang lentik tidak pernah bergerak sedikit pun, seolah ia sedang terperangkap dalam mimpi yang sangat panjang dan damai.

Arya duduk di samping ranjang, menggenggam tangan Ria yang kini sudah tidak terlalu biru memar, namun terasa sangat kurus. Ia tidak lagi memegang ponsel atau dokumen kantor. Fokusnya hanya satu: wajah istrinya.

"Ria, hari ini hujan lagi," bisik Arya lembut. Ia mengusap jemari Ria dengan ibu jarinya. "Ingat tidak? Dulu aku selalu marah kalau kau membiarkan pintu samping terbuka saat hujan karena takut lantai kayunya rusak. Sekarang, aku sudah menyuruh orang mengganti seluruh lantai rumah kita dengan marmer yang paling kuat. Kau boleh membuka pintu itu selebar mungkin, kau boleh mendengarkan suara hujan sesukamu. Bangunlah, ya?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara ritmis mesin ventilator yang mendesis, seolah mengejek kesunyian Arya.

"Aku juga sudah menemui Ayahmu," suara Arya berubah sedikit berat, ada nada amarah yang ia tekan. "Aku sudah memutus semua kerja sama bisnis dengannya. Aku memastikan dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau menghinamu lagi. Aku akan menjadi bentengmu, Ria. Tidak akan ada lagi yang berani menyebutmu pembawa sial, atau pun anak haram, namamu hanya akan di kenal sebagai Nyonya Arya."

Arya terus berbicara, menceritakan segala hal—mulai dari daftar keinginan Ria yang belum sempat mereka selesaikan, hingga rencana-rencana masa depan yang dulu tak pernah terlintas di benaknya. Ia berjanji akan membawa Ria ke Swiss untuk melihat salju, atau sekadar duduk di taman rumah mereka tanpa ada gangguan pekerjaan.

Ia bahkan membacakan buku cerita favorit Ria dengan suara yang tenang, berharap gelombang suaranya bisa menembus dinding kegelapan yang mengurung kesadaran istrinya.

"Ria, dokter bilang operasimu yang kedua akan dilakukan minggu depan jika kondisimu stabil. Aku takut... tapi aku tahu kau kuat. Kau sudah kembali dari kegelapan malam itu, jadi kumohon, melangkah sedikit lagi ke arahku. Tidak, pasti itu akan membuatmu sakit. Melangkahlah ke tempat dimana kau nyaman. Asal kau tetap hidup, Ria. "

Malam semakin larut, dan Arya mulai merasa lelah yang luar biasa, namun ia menolak untuk tidur di sofa. Ia menyandarkan kepalanya di tepi ranjang, tepat di samping tangan Ria.

Penyesalan itu masih ada, mengendap di dasar hatinya. Setiap kali ia melihat bibir Ria yang pucat, ia teringat bagaimana bibir itu dulu sering gemetar menahan tangis saat ia bentak. Setiap kali ia melihat kelopak mata Ria yang tertutup, ia teringat bagaimana mata itu dulu selalu mencari pengakuan darinya yang tak pernah ia berikan.

"Apakah kau sengaja tidak mau bangun karena takut aku akan kembali menjadi monster?" bisik Arya lirih ke arah tangan Ria. Air matanya jatuh, hangat di atas kulit dingin istrinya. "Aku bersumpah demi nyawaku, Ria... jika kau bangun, kau tidak akan pernah melihat pria kejam itu lagi. Kau akan melihat pria yang akan menghabiskan sisa hidupnya hanya untuk menebus setiap tetes air mata yang kau jatuhkan."

Tepat saat Arya memejamkan mata untuk beristirahat sejenak, ia merasa—atau mungkin hanya imajinasinya—jemari kecil Ria memberikan gerakan halus, seolah-olah wanita itu mendengar setiap janji yang Arya bisikkan dalam keputusasaannya.

Matahari pagi menembus celah gorden ruang ICU, membentuk garis-garis cahaya yang menari di atas sprei putih. Arya, yang baru saja terlelap dengan kepala bersandar di tepi ranjang, terbangun karena sebuah sensasi yang asing. Ada gesekan lemah di telapak tangannya.

Ia tersentak, punggungnya tegak seketika. Matanya yang sembab menatap nanar ke arah tangan Ria yang berada dalam genggamannya.

"Ria?" bisiknya, suaranya tercekat di tenggorokan.

Jari telunjuk Ria bergerak lagi. Kali ini lebih jelas, sebuah gerakan kecil namun cukup untuk mengguncang dunia Arya. Jantung Arya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar. Ia berdiri, mencondongkan tubuhnya hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari wajah istrinya.

Di balik kelopak mata yang tipis dan pucat itu, Arya melihat gerakan bola mata yang gelisah. Ria sedang mencoba kembali. Ia sedang berjuang menembus kabut tebal yang selama berminggu-minggu menyekap kesadarannya.

"Ayo, Ria... kau bisa. Buka matamu. Aku di sini. Mas Arya di sini," Arya terus membisikkan kata-kata penyemangat, suaranya bergetar antara harapan dan ketakutan.

Perlahan, sangat perlahan, kelopak mata itu bergetar. Ria tampak mengerang kecil di balik masker oksigennya, sebuah suara lirih yang bagi Arya terdengar lebih indah daripada simfoni mana pun di dunia. Dan kemudian, garis tipis cahaya itu muncul. Ria membuka matanya.

Namun, tidak ada pelukan hangat atau tangisan haru yang meledak seketika. Mata Ria yang biasanya jernih kini tampak kosong, berkabut, dan dipenuhi oleh kebingungan yang mendalam. Ia menatap langit-langit ruangan, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah Arya.

Ria tidak mengenali pria di depannya. Atau mungkin, ia tidak ingin mengenali dunia tempatnya kembali.

"Ria... ini aku, suamimu," ucap Arya sambil mencoba tersenyum, meski air mata sudah mengalir deras di pipinya. Ia menekan tombol panggilan darurat untuk memanggil dokter.

Ria mencoba bicara, namun masker oksigen dan tenggorokannya yang kaku membuatnya hanya bisa mengeluarkan suara parau yang menyakitkan. Ia menatap tangan Arya yang menggenggamnya, lalu dengan sisa tenaga yang ia miliki, Ria menarik tangannya perlahan.

Penolakan itu—meski lemah—membuat Arya merasa seperti dihantam gada besi.

"Di... mana?" bisik Ria di balik masker, suaranya sangat tipis.

"Kau di rumah sakit, Ria. Kau sudah aman. Kau sudah melewati masa kritis," jawab Arya cepat, mencoba mendekat lagi.

Ria memejamkan matanya rapat-rapat, seolah cahaya matahari pagi itu terlalu menyakitkan, atau mungkin wajah Arya-lah yang memicu trauma di ingatannya. Air mata mengalir dari sudut mata Ria yang terpejam. Ia ingat semuanya. Ia ingat rasa dingin di bukit itu, ia ingat es krim yang manis, tapi ia juga ingat dua tahun penjara tanpa cinta yang ia jalani bersama pria ini.

"Per... gi..." bisik Ria lagi.

Arya membeku. Dunia yang baru saja ia bangun dengan harapan baru dan mengubur semua masa lalu, mendadak retak kembali. Dokter dan perawat masuk dengan tergesa-gesa, memeriksa tanda vital Ria yang mendadak naik karena agitasi.

Arya dipaksa mundur. Ia berdiri di pojok ruangan, melihat para medis sibuk di sekitar istrinya. Ia baru menyadari satu hal yang sangat pahit: membangkitkan tubuh Ria dari kematian adalah satu hal, namun membangkitkan kepercayaannya yang telah ia hancurkan selama dua tahun adalah perjuangan lain yang mungkin jauh lebih sulit.

Ria telah bangun, namun hatinya masih tertinggal di padang rumput yang sunyi bersama ibunya, enggan untuk kembali ke pelukan pria yang pernah menganggapnya hanya sebagai pajangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!