Berkisah tentang seorang laki-laki yang begitu mencintai sosok kekasih masa kecilnya yang tak lain adalah Humairah Aarin Ashab Lemos dan laki-laki itu bernama Brayen Pahlevi Rahmat Lubis.
Keduanya sama-sama berasal dari keluarga Sultan!
"Aku lelah memperjuangkan hubungan kita. Selama ini hanya aku yang kegirangan saat kita menghabiskan waktu bersama. Sedangkan kamu? Kamu menganggap aku tak lebih dari parasit yang melekat padamu! Jadi mari akhiri semua ini." Brayen berucap lirih di iringi butiran kristal membasahi pipinya.
***
"Jika dulu Brayen yang mengejar ku. Maka sekarang aku yang akan mengejarnya. Akan aku pastikan Brayen kembali ke dalam pelukan ku! Meski itu membutuhkan waktu yang lama." Aarin berucap dengan semangat berapi-api.
STOP PLATGIAT ✋✋ INI MURNI KARYA AUTHOR
JANGAN LUPA TAP FAVORIT, LIKE KOMENTAR VOTE DAN BERI RATING 5 YAH KAKAK 😘😘 AGAR KARYA INI SEMAKIN BERSINAR 🤭🥰🤗🥳🥳
YANG SUKA KOMEDI BISA LANGSUNG STAY DI SINI🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kisss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mari akhiri semua ini!
Aku baru sadar kalau selama ini aku telah menyakiti nya secara halus. Sikap ku yang tak acuh membuat aku kehilangan sosok yang tulus menyayangi ku. Marah ku membuat nya pergi jauh dari hidup ku. Diam ku selama ini membuat jarak ku dengannya begitu jauh.
Humairah Aarin Ashab Lemos
***
Brayen menyeret Aarin membawa gadis cantik berambut pirang itu ke atap gedung. Rintihan yang keluar dari bibir Aarin tak membuat Brayen yang sedang di selimuti amarah merasa iba.
"Bray, sakit!" Aarin merintih kesakitan karena lengannya di cekal kuat oleh Brayen.
Saat tiba di atap gedung Brayen menghempaskan tangan Aarin kasar. Pria itu menatap tajam Aarin seolah ingin menelannya hidup-hidup. Gerahamnya mengeras, tangannya terkepal erat. Wajahnya memerah menahan amarah.
Bahkan nafasnya memburu, dada Brayen naik turun. Emosinya yang meluap-luap ingin segera di keluarkan.
"Kenapa kamu berdansa dengan Angkasa, huh?" Brayen membentak Aarin membuat gadis itu tersentak kaget.
Aarin terkejut melihat Brayen yang pertama kali membentak dirinya. Tak pernah sekalipun selama mereka berhubungan dari kecil sampai dewasa Brayen menaikkan nada bicaranya dengan Aarin.
"Dia mengajak ku, Bray!" jawab Aarin jujur.
"Apa kamu tidak bisa menolak nya, Ar?" tanya Brayen menekankan perkataan nya mencengkram kuat pundak Aarin.
"Tidak mungkin aku menolaknya, Bray! Kak Angkasa bisa malu karena semua orang menatap kami tadi. Aku tidak enak dengan nya!" Aarin berusaha menjelaskan membuat amarah Brayen semakin menjadi-jadi.
"Lalu bagaimana dengan ku, Ar? Kamu memikirkan perasaan nya lalu bagaimana dengan perasaan ku? Apa kamu tidak berpikir kalau aku akan cemburu melihat kamu berdansa dengannya?" Brayen berucap dengan nada tinggi. Pria tampan itu mengusap kasar wajahnya.
Aarin begitu kesal dengan sikap Brayen yang sudah kelewatan menurutnya.
"Tapi tidak seharusnya kamu memukul kak Angkasa tadi, Bray. Kamu terlalu cemburu dan posesif pada ku, Bray! Kadang aku lelah dengan sikap mu yang terlalu mengekang ku. Dari kecil sampai kita dewasa seperti sekarang kamu selalu membatasi pergaulan ku. Dengan siapa aku berteman mau itu laki-laki atau perempuan kamu akan membatasinya. Bahkan selama aku kecil sampai sekarang aku tidak punya teman laki-laki selain kamu, Bray! Aku lelah .." Aarin menjerit meluapkan perasaan nya yang berkecamuk sedari tadi.
Deggg
Perasaannya yang di pendam sedari dulu kini telah Ia luapkan pada Brayen. Terlihat tubuh Brayen menegang mendengar keluhan Aarin.
Perkataan Aarin bagaikan bom waktu bagi Brayen. Laki-laki yang baru saja berusia 18 tahun itu termangu mendengar keluhan Aarin. Tak lama kemudian Brayen tertawa hambar dengan air mata yang luruh membasahi pipinya.
Aarin terkejut melihat Brayen tertawa dengan mata yang berair. Untuk pertama kalinya setelah mereka dewasa baru kali ini Aarin melihat Brayen menangis.
"Baiklah bila itu yang kamu mau, Ar! Mulai sekarang aku tidak akan lagi membatasi pertemanan kamu. Terserah kamu mau bergaul dan berteman dengan siapapun. Aku tidak akan peduli lagi?! Kamu lelah karena aku yang posesif dan cemburuan menurut kamu 'kan! Sama dengan ku yang juga lelah mencintai kamu. Dari kita kecil sampai sekarang cuma aku yang terlihat begitu takut kehilangan kamu, cuma aku yang terlihat bahagia disaat kita menghabiskan waktu bersama. Jadi mulai sekarang! Mari hidup di jalan masing-masing tanpa harus memperdulikan satu sama lain. Kamu lelah? Maka aku jauh lebih lelah mempertahankan cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Sudah cukup! Aku menyerah. Silahkan lakukan apa yang selama ini tidak bisa kamu lakukan bersama ku. Pergilah kemanapun yang kamu mau?!" Brayen berucap lirih diiringi butiran kristal yang jatuh membasahi pipinya.
Bagaikan tersambar petir di siang bolong Aarin membeku mendengar ucapan Brayen. Nafasnya tercekat, dadanya terasa sesak mendengar perkataan Brayen. Aarin menggelengkan kepalanya cepat, gadis itu menggenggam erat tangan Brayen.
"Bukan begitu, Bray .. aku hanya .." Brayen menepis tangan Aarin kasar.
"Mari akhiri semua ini." Brayen berucap datar lalu pergi meninggalkan Aarin yang mematung di atas gedung sendirian.
Duaar
Kaki Aarin luruh begitu saja, gadis itu menangis sesenggukan sambil menekan dadanya yang terasa sesak. Sakit .. sungguh sakit yang dirasakannya saat mendengar kata-kata perpisahan dari kekasih masa kecilnya.
"Tidak .. bukan ini maksud ku, Bray!" Aarin bangkit berdiri lalu berlari menuruni anak tangga mengejar Brayen yang baru tiba di lorong sekolah.
"Bray .. denger dulu penjelasan ku!" Aarin mencekal tangan Brayen namun pria itu langsung menepisnya kasar.
"Apa yang harus di jelasin lagi, Ar? Apa kamu mau bilang kalau kamu juga menyesal menjalin hubungan dengan ku?" Brayen bertanya sinis membuat Aarin menjatuhkan butiran kristal membasahi pipinya. Gadis cantik berambut pirang itu menggelengkan kepalanya cepat.
Bukan itu maksud Aarin! Gadis itu ingin menjelaskan bahwa dirinya tak bermaksud menyakiti Brayen. Dan Aarin juga tak ingin putus dengan Brayen. Tiga belas tahun menjalin hubungan dan tiba-tiba kandas membuat Aarin tak rela.
"Enggak .. aku tidak pernah menyesal, Bray! Aku .. aku hanya!"
"Stop .. aku tidak mau lagi mendengar penjelasan apapun dari mu, Ar! Karena yang aku tangkap dari ucapan mu tadi kamu sudah lelah menjalani hubungan kita." Brayen lebih dulu menyela ucapan Aarin. Pria itu menatap nanar wajah Aarin yang basah. Tak hanya Aarin yang menangis tapi Brayen juga.
"Aku capek! Aku lelah, Ar. Selama ini hanya aku yang berjuang demi kebahagiaan kamu! Sedangkan kamu tidak pernah sedikitpun memikirkan perasaan aku. Bukan hanya kamu saja yang di dekati oleh banyak pria! Bukan hanya kamu saja yang ingin berteman pria selain aku!" Brayen menunjuk tepat di depan wajah Aarin, lalu pria itu menunjuk dadanya yang terasa sakit.
"Aku juga ingin, Ar! Aku juga ingin mempunyai teman wanita. Tidak sedikit dari mereka mendekati ku, Ar! Tapi apakah aku pernah mendekati mereka? Apa aku pernah memberi peluang untuk mereka mendekati ku! Tidak, Ar. Tidak sama sekali meski terkadang sempat terbersit aku ingin berkenalan dengan mereka. Tapi segera aku tepis karena aku memikirkan kamu! Ada hati yang harus aku jaga, ada wanita yang aku cintai yaitu kamu."
Brayen memukul dadanya yang terasa sesak. Selama ini pria itu tak pernah membiarkan perempuan manapun mendekati dirinya. Bahkan Brayen secara lugas menyatakan bahwa dirinya memiliki wanita yang Ia cintai dan akan Ia nikahi.
Aarin menangis sesenggukan mendengar ucapan Brayen. Dirinya sadar bahwa perkataan nya tadi sudah sangat menyakiti hati Brayen.
Aarin berusaha memeluk Brayen namun pria itu mendorong Aarin sedikit kasar.
"Aku tidak pernah memperdulikan perasaan mereka yang sedih, marah, malu atau kecewa karena aku menolak mereka secara terang-terangan. Karena selama ini yang aku pikirkan itu hanya kamu! Semua yang ada pada ku akan menjadi milik kamu seutuhnya nanti. Perhatian aku, cinta aku, tubuh aku, bahkan hati aku juga akan menjadi milik kamu! Sebaik mungkin aku menjaga diri ku hanya untuk kamu. Bahkan selama aku dewasa tangan dan tubuh ku tidak pernah bersentuhan dengan gadis manapun selain kamu!"
"Lalu kamu! Pernahkah kamu memikirkan perasaan aku? Padahal kamu sendiri tahu bagaimana sikap ku yang posesif dan cemburuan. Tapi kamu menerima tawaran dansa dari Angkasa hanya tak ingin membuat nya malu. Dari situ aku sadar bahwa perasaan orang lain lebih penting daripada perasaan ku! Terkadang aku berpikir kamu cinta pada ku atau hanya pura-pura cinta." Brayen tertawa getir menghapus kasar air matanya.
Sedangkan Aarin sedari tadi hanya bisa menangis tersedu-sedu mendengar ungkapan hati Brayen.
Bersambung.
Penyesalan selalu datang belakangan karena yang di awal itu pendaftaran namanya Aarin 🙈🙈🙈
Kali ini biarkan Aarin yang berjuang dulu ya kakak. Kasian Brayen yang lelah karena selama ini hanya berjuang sendiri.
***
Menulis cerita bukan hanya sekedar asal menulis. Harus ada energi positif dan nilai moral yang author sisipkan dalam cerita. Meski cerita author komedi receh.
Kenapa begitu? Karena tulisan akan semakin bernilai bila tulisan itu mampu merubah seseorang menjadi lebih baik. Tulisan itu akan menjadi lebih berharga bila mampu merubah pola pikir pembaca menjadi lebih positif. Harus ada kebaikan dalam suatu cerita. Karena menulis bukan hanya tentang POPULARITAS, DI KENAL ORANG, BANYAK UANG.
TAPI SEBERAPA BANYAK MANFAAT YANG BERADA DI DALAM NYA.
Jangan lupa like coment vote dan beri rating 5 yah kakak 🥰🥰
Berikan komentar terbaik kakak semua tentang kelanjutan hubungan Aarin atau sikap apa yang harus di ambil Brayen maupun Aarin ..
Salem Aneuk Nanggroe Aceh ❤️🙏