NovelToon NovelToon
Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Titisan Dewi Sri Yang Dibuang Ayahnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Kontras Takdir / Anak Genius / Mengubah Takdir / Identitas Tersembunyi / Mata Batin / Fantasi Wanita
Popularitas:16.6k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dibuang karena bukan anak laki-laki, Sulastri dicap aib keluarga, lemah, sakit-sakitan, tak diinginkan.

Tak seorang pun tahu, dalam nadinya berdenyut kuasa Dewi Sri, sang Dewi Kehidupan. Setiap air matanya melayukan keserakahan, setiap langkah kecilnya menghidupkan tanah yang mati.

Saat ayahnya memilih ambisi dan menyingkirkan darah dagingnya sendiri, roda takdir pun mulai berputar.

Karena siapa pun yang membuang berkah, tak akan luput dari kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bekerja Dua Arah

Suasana pasar kecamatan hari itu riuh rendah.

Aroma minyak panas dan gurihnya adonan ikan menguar dari lapak sederhana milik Kinar.

Dagangan barunya, Sate Baso Ikan Goreng dan Kerupuk Tulang, laris manis diserbu pembeli. Namun, bukan hanya rasa gurih itu yang menarik perhatian orang.

Banyak pembeli yang sengaja berlama-lama, mencuri pandang ke arah gadis kecil yang duduk tenang di samping gerobak.

Sulastri, atau yang akrab dipanggil Tari.

Mata mereka menyimpan pamrih.

Desas-desus tentang "Bocah Sakti" cucu Pak Kosasih sudah menyebar dari mulut ke mulut.

"Nduk, coba trawang, kira-kira nomor buntut yang keluar minggu ini berapa?" bisik seorang bapak bergigi kuning.

"Cah ayu, daganganku bakal laku keras nggak tahun ini?"

"Nduk Tari, tolong lihatin perut Budhe, ini isinya jagoan apa perawan lagi?"

Pertanyaan-pertanyaan itu datang bertubi-tubi.

Kinar dan Abah Kosasih yang sedang sibuk melayani pembeli tampak was-was.

Mereka takut Tari salah bicara. Ucapan Tari bukan sekadar omongan anak kecil, itu adalah doa yang mengandung energi. Jika Tari bilang "Bisa", maka terjadilah, tapi harga yang dibayar adalah kesehatan Tari sendiri yang akan merosot, persis seperti saat energinya dihisap habis-habisan untuk bisnis Bapaknya, Suryo Wibowo, dulu.

Namun, Tari hanya tersenyum simpul.

Wajahnya yang pucat namun manis itu menatap si penanya.

"Bisa saja kalau mau tahu, Pak, Bu. Tapi tarif pertanyaan kedua mahal," ucap Tari dengan suara cempreng khas anak lima tahun, tapi tatapannya setenang air telaga.

"Sembilan puluh sembilan ribu rupiah."

Angka itu sontak membuat orang-orang terperangah.

"Walah, Nduk! Meras orang itu namanya!" gerutu salah satu orang.

"Dasar matre!"

Cemoohan dan cibiran terdengar, tapi tak ada satu pun yang berani merogoh kocek sedalam itu.

Kinar dan Abah Kosasih menghela napas lega.

Tari sudah paham cara melindungi dirinya sendiri. Tidak ada uang, tidak ada ramalan. Energi Dewi Sri di tubuhnya aman.

Setelah dagangan tandas, Kinar mengelap keringat di dahinya.

"Bah, titip Tari sebentar ya. Kinar mau belanja bahan lagi ke pasar basah. Biar besok nggak keteteran."

Abah Kosasih mengangguk, matanya kembali menekuni buku tebal di pangkuannya: Modul Ujian Persamaan.

Tari sendiri sibuk dengan kegiatan favoritnya.

Ia mengeluarkan segenggam jagung pipilan kering dari saku bajunya.

Di belakang lapak, terikat seekor kuda hitam yang kakinya agak pincang. Itu Jantur, kuda bekas pacuan Suryo Wibowo yang sudah dibuang ke tukang jagal karena cedera, lalu dibeli oleh Kinar.

"Makan yang banyak ya, Jantur. Biar kuat," bisik Tari.

Jantur mendengus pelan, lidahnya menyapu butiran jagung di telapak tangan mungil Tari.

Ajaibnya, setiap kali tangan Tari mengelus surai Jantur yang kusam, ada kilatan cahaya hijau tipis yang merambat, tak kasat mata bagi orang biasa.

Luka di kaki Jantur yang biasanya membuat kuda itu meringis, kini terasa sejuk.

"Terima kasih, Tuan Putri Kecil... Tanganmu hangat..."

Tari terkekeh pelan.

Ia bisa mengerti suara Jantur.

"Nanti kalau Tari sudah kaya, Tari belikan kacang hijau ya, Jantur. Biar gagah lagi."

Jantur mengibaskan ekornya, sebuah tanda kebahagiaan yang jarang ia tunjukkan sejak kakinya patah.

Tak lama, Kinar kembali.

Di belakangnya mengekor seorang pemuda berkulit legam yang mendorong gerobak kayu penuh ember ikan.

Itu Kang Asep, juragan ikan muda di pasar.

"Mari, Bah, Teteh. Saya antar sampai rumah. Sekalian saya hapalkan jalan, biar besok-besok saya kirim langsung," kata Asep dengan logat Sunda yang kental.

Matanya berbinar cerdas meski penampilannya sederhana.

"Bah, Asep ini satu-satunya yang mau ngantar tanpa minta ongkos kirim," jelas Kinar.

Ia butuh banyak ikan tenggiri untuk adonan besok, dan membawa dua ember besar sendirian dari pasar ke desa jelas akan mematahkan pinggangnya.

"Nuhun atuh, Jang Asep. Maaf merepotkan," ujar Abah Kosasih ramah.

"Ah, tidak apa-apa, Bah. Saya mah hormat sama Abah. Dulu kan Abah yang ngajar saya baca tulis di SD Inpres, walaupun saya cuma kuat sampai kelas tiga," Asep tertawa renyah, memperlihatkan deretan giginya yang putih.

"Bapak saya selalu bilang, 'Sep, kamu boleh bau amis, tapi hormat sama guru itu wajib biar hidup berkah' gitu katanya Bah!"

Sepanjang perjalanan pulang melewati jalan berbatu desa, Asep tak henti-hentinya mengoceh.

Ia memuji Kinar yang cekatan berdagang, memuji Tari yang anteng, bahkan memuji Jantur yang menurutnya punya sorot mata cerdas.

Sesampainya di halaman rumah Abah Kosasih yang rimbun, Asep terbelalak.

Di sana sudah berkumpul belasan gadis remaja desa.

Mereka adalah tetangga yang dipekerjakan Kinar untuk membersihkan ikan.

"Waduh, Teh Kinar. Ini mah sudah kayak pabrik!" seru Asep takjub saat menurunkan ember ikan.

"Namanya juga usaha, Kang Asep. Rezeki harus dibagi biar nambah," sahut Kinar seraya menghitung lembaran rupiah untuk membayar Asep.

Setelah Asep pamit dengan wajah sumringah karena membayangkan orderan rutin yang akan ia dapat, kesibukan di rumah itu berlanjut.

Para gadis desa bekerja sambil bersenda gurau.

Jeroan ikan dikumpulkan di ember terpisah untuk direbus dan dijadikan pakan Si Blorok, anjing kampung penjaga kebun.

Tari menarik tali kekang Jantur, mengajaknya jalan-jalan sore ke lapangan rumput di pinggir desa.

Budhe Mira, istri Kang Jaka yang sedang hamil muda, ikut menemani.

"Tari, hati-hati ya, jangan dekat-dekat kali," pesan Budhe Mira sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit.

Di lapangan, anak-anak desa yang sedang main layangan langsung mengerubungi.

"Eh, ada Tari! Itu kuda yang katanya dari kota ya?" tanya Wati, teman main Tari.

Mata mereka berbinar kagum. Kuda adalah pemandangan langka di desa mereka yang isinya cuma kerbau bajak.

"Boleh pegang nggak, Tar?" tanya seorang anak laki-laki ingusan.

Tari mengangguk mantap.

"Boleh. Jantur ini baik. Tapi ada syaratnya."

"Apa syaratnya?"

"Harus puji Jantur dulu. Jantur suka dipuji."

"Jantur gagah banget!" seru Wati memulai, pipinya merona malu.

Tari tersenyum.

"Oke, Wati boleh elus pipinya."

"Jantur matanya bagus, kayak kelereng!"

"Jantur larinya pasti kencang kayak angin!"

"Jantur... eum... Jantur makannya banyak pasti kuat!"

Pujian-pujian polos meluncur dari mulut anak-anak desa.

Mereka berlomba mencari kata-kata manis agar diizinkan menyentuh kulit kuda yang hangat itu.

Jantur berdiri tegak, kepalanya diangkat tinggi-tinggi. Ekornya berkibas-kibas bangga. Energi positif dari ketulusan anak-anak itu, ditambah kehadiran Tari, membuat rasa nyeri di kakinya nyaris hilang total.

Gelak tawa memenuhi udara sore, berpadu dengan suara jangkrik yang mulai mengerik.

Menjelang maghrib, Kinar memanggil pulang.

Para gadis pekerja pun pamit satu per satu dengan wajah ceria, menggenggam upah harian mereka.

Bagi gadis desa yang biasanya hanya bantu-bantu di dapur, punya uang sendiri adalah kebanggaan luar biasa.

Malam harinya, setelah makan malam dengan lauk pindang dan sambal terasi, Kinar memeluk Tari di atas dipan bambu.

Lampu petromax mendesis pelan, menerangi kamar sederhana mereka.

"Nduk," bisik Kinar sambil membelai rambut putrinya.

"Tadi siang, Ibu lihat kamu bisik-bisik sama Bu Imah yang beli kerupuk. Kamu ngomong apa? Ibu khawatir kamu sakit lagi."

Tari menyandarkan kepalanya di dada Ibu.

Aroma minyak telon dan bawang goreng yang khas membuat Tari merasa aman.

"Bu Imah itu sedih, Bu. Dia butuh uang buat hajatan anaknya. Uangnya ada, tapi disembunyikan sama Bapak mertuanya yang sudah pikun. Bapaknya lupa naruh di mana."

Kinar tertegun.

"Terus kamu kasih tahu?"

"Iya. Uang itu memang hak mereka kok, Bu. Bukan uang haram. Jadi Tari bantu kasih petunjuk biar ketemu."

Kinar menghela napas, setengah lega setengah takjub.

"Badanmu nggak apa-apa? Nggak lemas?"

Tari menggeleng.

Justru sebaliknya. Saat Bu Imah menatapnya dengan penuh harap dan percaya, Tari merasakan aliran hangat merasuk ke dadanya.

Berbeda dengan saat di rumah Gedong keluarga Wibowo, di mana ia merasa diperas kering seperti tebu habis digiling. Di sini, rasa syukur dan keyakinan tulus orang-orang seperti pupuk bagi jiwanya.

"Tari kuat kok, Bu. Rasanya hangat," gumam Tari, matanya mulai berat.

Di ambang tidurnya, Tari merenung.

Ternyata kekuatannya bekerja dua arah. Keluarga Wibowo hanya ingin mengambil tanpa memberi rasa hormat, makanya Tari sakit.

Tapi orang-orang desa ini... mereka memberi 'rasa percaya'. Itu yang membuatnya kuat.

Mungkin besok-besok tarifnya jangan terlalu mahal ya? Kasihan... batin Tari sebelum akhirnya terlelap, mimpi indah tentang padang rumput hijau.

Sementara itu, di sebuah rumah berdinding bilik di ujung desa lain.

Bu Imah meletakkan semangkuk bubur di depan seorang kakek tua yang tatapannya kosong.

"Mbah, dimakan dulu ya," ujarnya lembut, meski hatinya gundah gulana.

Si Mbah hanya nyengir, air liurnya menetes.

Di ruang tengah, suasana makan malam terasa tegang.

Pak Halim, suami Bu Imah, membanting sendoknya ke piring seng.

Prang!

"Kamu ini gila apa gimana sih, Bu? Uang belanja malah dipakai buat tanya-tanya ke dukun cilik!" bentak Pak Halim.

Wajahnya merah padam di bawah sinar lampu templok.

Dua anak bujang mereka hanya diam menunduk, tak berani menatap Bapaknya yang sedang murka.

"Pak, dengerin dulu," Bu Imah mencoba membela diri, suaranya bergetar.

"Bocah itu bukan sembarang bocah. Dia cucunya Pak Kosasih. Dia bilang uang tabungan Si Mbah yang hilang itu masih ada di rumah ini. Kalau besok nggak ketemu, dia janji dikembalikan!"

"Halah! Mana ada penipu ngaku nipu!" potong Pak Halim kasar.

"Kamu itu sudah tua malah makin klenik! Bapakku itu sudah pikun, sudah gila! Mana mungkin dia ingat nyimpen duit di mana!"

"Masa kita nyerah gitu aja, Pak? Si Toto sama Yono mau nikah butuh modal! Siapa tahu rezeki..."

"Rezeki ndasmu!" Pak Halim berdiri, nafsu makannya hilang.

Ia menunjuk istrinya dengan telunjuk gemetar.

"Besok kamu bawa Bapak ke sana. Ambil balik uang itu. Kalau nggak balik, jangan harap aku mau ngomong sama kamu lagi. Bikin malu!"

Pak Halim melengos pergi ke teras, menyulut rokok klobot dengan tangan gemetar karena emosi.

Bu Imah menunduk, air matanya menetes ke piring nasi.

Ia menatap dua anak bujangnya yang juga tampak tak percaya padanya.

"Maaf ya, Bu... Bapak lagi pusing," gumam anak sulungnya Toto, pelan, tapi nada suaranya menyiratkan bahwa ia pun setuju ibunya telah bertindak bodoh.

Di sudut ruangan, Kakek tua itu tertawa cekikikan sendiri,

"Hehehe... burung perkutut... terbang..."

Bu Imah mengusap air matanya kasar.

Lihat saja besok, batinnya. Anak kecil itu matanya bening, nggak mungkin bohong.

1
Lala Kusumah
😭😭😭😭😭😭
Enah Siti
suami edan pngen ku baco tu suryo 😡😡😡😡😡😡😡
gina altira
untung Abahnya Tari itu pinter, cerdas dan bijaksana
gina altira
dibikin lumpuh aja si suryo ini
gina altira
Suryo pengecut
Ebhot Dinni
ayo semangat kinar
Allea
ka Author aku boleh titip nanya ga ma Tari tolong terawang anting2 dan gelang aku keselip apa ada yg ambil soalnya raib dari tempatnya 😁
Allea: paham ka
ke 1 9,900
ke 2 99.000
ke 3 999.000 kan y 🤭
total 2 replies
Kusii Yaati
kasian keluarga kinar, mantan suami tak tahu diri itu ngusik terus.nggak ada yang belain.kirimkan pahlawan yang bisa membantu dan melindungi kinar dan keluarganya Thor 😟
Sribundanya Gifran
lanjut
Aretha Shanum
bingung ko ga kelar2 tuh si suryo ma antek2, pdhal karna udah jalan y tpi ga sadar2, malsh makin jadi, jangan stak alurnya nanti bosen🙏
Pawon Ana
pada masa lampau banyak orang2 yang Waskita karena hati mereka bersih,sekarang mencari orang benar2 berhati bersih seperti mencari jarum ditumpukan jerami 😔
Sribundanya Gifran
lanjut thor
mom SRA
baru mampir..bagus bgt ini...
Lili Aksara
Bagus sekali cerita ini, suka banget deh, udah gitu sering update.
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
membaca ceritamu sambil flashback kenangan masa lampau, dulu dibelakang rumah bapak jug nanam buah juwet yng rasnya asem2 sepet tapi kadang juga ada rasa manisnya,ada juga buah salam.✌️🤭
Pawon Ana: wayang kakak bukan walang kekek🤭
ditempatku ada yng namanya suket teki,suketnya panjang cuma satu tangkai,sama anak2 biasanya dibentuk serupa wayang buat mainn🤭✌️
total 4 replies
🌸nofa🌸
Asli ketawa ngakak🤣🤣
Lili Aksara
Tari, ancurin aja lah tuh pak Halim, udah salah juga, tapi masih bilang tapi kan dia nggak tahu rumah kita.
Lala Kusumah
lanjuuuuuuuuut, tambah seruuuuu nih, semangat sehat ya 💪💪🙏🙏
el 10001
tapi novel nya keren semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!