"Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung! Bisa-bisanya kau mengandung anak yang tak jelas siapa ayah biologisnya. Sejak saat ini kau bukan lagi bagian dari keluarga ini! Pergilah dari kehidupan kami!"
Liana Adelia, harus menelan kepahitan saat diusir oleh keluarganya sendiri. Ia tak menyangka kecerobohannya satu malam bisa mendatangkan petaka bagi dirinya sendiri. Tak ingin aibnya diketahui oleh masyarakat luas, pihak keluarga dengan tega langsung mengusirnya.
Bagaimana kehidupan Liana setelah terusir dari rumah? Mungkinkah dia masih bisa bertahan hidup dengan segala kekurangannya?
Yuk simak kisahnya hanya tersedia di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Pertemuan Pertama Dengan CEO
Suara langkah kaki terdengar begitu jelas menuju ke ruangannya. Semua orang yang ada di ruangan hanya saling bertatapan. Mereka yakin, itu adalah CEO perusahaan Pratama Grup.
"Selamat siang!"
Semua orang menoleh ke arah pintu yang terbuka. "Selamat siap pak," jawab mereka kompak.
"Di sini saya sengaja datang untuk memantau kinerja kalian. Jika mengalami kesulitan kalian bebas untuk bertanya mumpung saya ada di sini."
Dia pria yang memiliki postur tubuh serupa itu masuk dan berjalan pelan meneliti semua karyawan yang fokus ke layar laptopnya masing-masing. Liana nampak begitu tegang, ini pertama kalinya ia bertemu dengan pimpinan perusahaan secara langsung.
"Di sini ada pegawai baru. Boleh berdiri sebentar?"
Deg,, seketika tubuh Liana panas dingin. Ia berkali-kali mengambil nafas dan mengeluarkannya perlahan.
"Liana, berdirilah. Pegawai baru yang dimaksud itu kamu," bisik Saskia.
Liana mengangguk. "Iya, aku mengerti."
Liana langsung bangkit dari tempat duduknya dan menghadap pimpinannya. "Maaf Pak, saya orang baru yang dimaksud."
Dua pria itu menoleh secara bersamaan. Liana bingung, mana pimpinan yang sebenarnya.
Satu pria melangkahkan kakinya mendekat dan menatapnya tanpa berkedip. "Jadi anda karyawan baru di sini, nona?"
Liana mengangguk. "Iya benar Pak."
"Kalau boleh tahu sebelumnya anda bekerja di mana?" tanya Pria dengan stelan jas warna hitam yang diyakini sebagai pimpinan perusahaan.
"Em..., saya belum lama pulang dari luar negeri Pak, di sana saya kuliah sambil bekerja."
"Oh ya? Bagus itu. Tapi kalau boleh tahu kamu bekerja apa di luar negeri?"
"Saya bekerja serabutan pak."
"Em..., nanti setelah menyelesaikan pekerjaanmu datanglah ke ruangan saya. Saya tunggu!"
Liana mengangguk. Rasanya begitu aneh melihat tatapan CEO yang begitu dingin. Apakah pertemuan pertamanya akan berjalan dengan lancar? Pikirnya.
Liana kembali ke tempat duduknya dengan pikiran yang tak tenang. Ia menghela nafas panjang dengan mata terpejam. Apakah CEO akan bersikap baik padanya? Ia tak tahu kenapa pimpinannya itu memintanya untuk datang ke ruang kerjanya. Apa ia sudah melakukan kesalahan? Rasanya seminggu ini ia sudah melakukan pekerjaan dengan baik, bahkan tidak pernah melakukan kesalahan, tapi kenapa harus dipanggil? Degub jantungnya berdebar-debar tak karuan. Ia benar-benar membutuhkan pekerjaan, jika sampai bermasalah dan dikeluarkan, entah bagaimana jadinya. Ia memiliki tanggungjawab besar untuk membesarkan kedua anaknya seorang diri. Haruskah perjuangannya bakalan berakhir sia-sia?
"Ana! Ada apa? CEO tadi bilang apa?" tanya Saskia.
"Aku disuruh ke ruangannya. Aku takut Sas, apa aku sudah membuat kesalahan selama bekerja di sini? Kalau sampai dia memecatku bagaimana? Aku sangat bergantung dengan pekerjaan ini Sas, kalau sampai aku dipecat, bagaimana dengan nasib anak-anakku."
Saskia menyentil keningnya untuk menyadarkan dari prasangka yang buruk. Dia tertawa kecil melihat kegelisahan yang dialami oleh sahabatnya. "Kau itu benar-benar ya Ana! Dipanggil bukan berarti dipecat. Lagian memecat karyawan itu tak semudah itu. Mungkin CEO ingin bertanya banyak hal mengenai pengalamanmu selama bekerja di luar. Kurasa ini sangatlah wajar. Sudahlah, jangan terlalu panik, berdoa saja agar tidak ada masalah yang berkelanjutan. Lagian kamu di sini sudah bekerja dengan baik, mana bisa dia memecatmu begitu saja."
"Semoga saja begitu. Tapi apakah dulu kamu pernah diminta datang menemuinya pas masih baru menjadi karyawan di sini?" tanya Liana.
Saskia menggeleng. "Tidak sekalipun aku pernah dipanggil ke ruangannya. Aku sampai kepingin diajak ngobrol berduaan saja, tapi sayangnya itu cuma ada di dalam mimpi. Apalah aku yang hanya pegawai rendahan, mana mungkin CEO tertarik padaku."
***
Tepat pukul sebelas siang Liana datang ke ruangan CEO. Wajahnya nampak begitu pucat ketakutan. Ini pertama kalinya ia datang ke ruangan penting. Ia masih bertanya-tanya, apa maksud pimpinannya yang ngebet ingin bertemu dengannya.
Tok... Tok... Tok... "Permisi."
"Masuk!"
Dengan tubuhnya gemetaran Liana membuka pintu ruangan itu. Dia melihat pria dingin itu fokus ke layar laptopnya.
"Maaf Pak, tadi bapak meminta saya untuk datang ke sini. Sekiranya ada apa ya pak?"
Liana berdiri terhalang meja di depan CEO. Pria itu menoleh dengan membuka kaca mata kerjanya. "Duduklah nona."
Liana mengangguk. "Terimakasih Pak."
"Kamu tahu kenapa saya tadi memintamu untuk datang menemui saya di sini?"
Liana menggeleng. "Saya tidak tahu pak, tapi kalau boleh tahu apa alasan bapak meminta saya untuk datang menemui anda?"
Pria itu tersenyum tipis. "Santai aja nona, jangan terlalu tegang gitu. Ini bukan interogasi kepolisian, jadi anda tidak perlu terlalu serius."
Wajah Liana bersemu merah. Begitu malunya ia terlihat begitu nervous di depan pimpinannya. "Maaf pak, saya takut. Ini pengalaman pertama saya bertemu langsung dengan pimpinan."
"Oh...ya? Jadi sebelumnya anda tidak pernah bertemu dengan pimpinan?"
Liana menggeleng. "Tidak pernah pak."
"Ngomong-ngomong sebelumnya anda tinggal di mana? Dan bekerja sebagai apa?"
"Saya tinggal di Dubai pak, saya bekerja sebagai pelayan di restoran."
"Di Dubai? Tapi anda sebelumnya tinggal di daerah ini kan?"
Liana mengangguk. "Iya benar pak, sebelumnya saya tinggal di daerah ini. Enam tahun yang lalu saya mendapatkan bea siswa dan saya disarankan untuk pergi ke Dubai untuk menyelesaikan kuliah saya. Awalnya saya ragu, tapi dibantu oleh kak Dion, akhirnya saya terpaksa pergi."
Pria itu banyak mendapatkan informasi mengenai Liana, tentunya dari Dion, sahabat kecilnya.
"Sedekat apa kamu sama Dion?"
"Cukup dekat Pak, dia yang banyak membantu saya."
"Pacaran?"
"Ah..., tidak. Saya tidak pacaran sama dia. Dia hanya membantu saya. Bahkan dia sekarang sudah menikah. Apa anda mengenalnya?"
"Dia teman saya. Dia juga yang meminta saya untuk memberikan pekerjaan untukmu. Kamu bekerja di sini lewat jalur khusus, nggak ada interview, enak kan?"
Liana mengangguk dengan wajah tertunduk. "Maaf pak, saya hanya mengikuti perintah kak Dion. Tapi bapak apa merasa keberatan jika saya berada di perusahaan ini?"
"Semua tergantung dengan skillmu. Jika kamu bisa bekerja dengan baik maka saya nggak akan keberatan, tapi sebaliknya, jika kamu selalu melakukan kecerobohan dan merugikan perusahaan maka dengan terpaksa saya bakalan bertindak tegas."
Liana terdiam. Ia berjanji akan berusaha keras untuk bisa membuktikan bahwa dirinya mampu bekerja dengan baik.
"Saya punya penawaran buat kamu. Semoga kamu tak menolaknya."
Liana mengerutkan keningnya. "Penawaran? Kalau boleh tahu penawaran apa Pak?"
"Saya butuh asisten pribadi. Apakah kamu mau menjadi asisten pribadi saya? Kalau mau gajimu akan kutambah tiga kali lipat. Bagaimana?"
Bola mata Liana terbelalak. "Apa pak? Asisten pribadi? Tapi saya masih baru bekerja di sini. Apakah saya pantas untuk menjadi asisten pribadi anda pak? Lalu bagaimana tanggapan karyawan lain?"
"Kenapa kamu jadi memikirkan tentang mereka? Saya butuh kamu, tapi kamu malah memikirkan orang lain."
Liana menunduk. Ia benar-benar dibuat bimbang. Haruskah ia menerima penawaran itu?"Maaf pak..., kalau begitu saya akan pikir-pikir dulu."
"Hm..., silahkan." Pria bernama Reynan itu menatapnya dalam-dalam. Dia bahkan sangat jarang berkedip.
"Kalau sudah tidak lagi ada pertanyaan, izinkan saya kembali bekerja pak."
"Silahkan."
Liana beranjak dari tempat duduknya dan berbalik badan menuju pintu. Namun belum genap tiga langkah kembali Reynan memanggilnya. "Nona, apa sebelumnya kita pernah bertemu?"