Kenji Arashi terbangun di dunia One Piece setelah kematian yang tak masuk akal.
Tanpa sistem, tanpa takdir istimewa, ia justru mendapatkan Buah Iblis Web Web no Mi—kekuatan jaring laba-laba yang memberinya refleks, insting, dan mobilitas layaknya Spiderman.
Di lautan penuh monster, bajak laut, dan pemerintah dunia, Kenji memilih jalan berbahaya: bergabung sebagai kru resmi Topi Jerami, bertarung di garis depan, dan tumbuh bersama Luffy dari awal hingga akhir perjalanan.
Di antara jaring, Haki, dan takdir laut, satu hal pasti—
legenda baru saja di mulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Pertarungan Lilin
"LUFFY! ZORO! VIVI!" aku berteriak sambil terus menembakkan jaring, mencoba menarik mereka keluar dari cengkeraman lilin Mr. 3.
Tapi tidak berhasil. Lilinnya terlalu keras—bahkan jaring ku yang diperkuat tidak bisa merobek atau menariknya.
"Kenji! Jangan buang tenaga!" Zoro berteriak sambil mencoba memotong lilin dengan pedangnya. "Lilin ini sekeras baja! Kau harus fokus pada Mr. 3-nya! Kalau dia kalah, lilinnya pasti akan hilang!"
Zoro benar. Aku harus mengalahkan Mr. 3 secara langsung!
Aku menoleh ke arah Mr. 3 yang berdiri dengan sombong, tangan terlipat di depan dada sambil tersenyum meremehkan.
"Bocah laba-laba," kata Mr. 3 dengan nada mengejek. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Aku adalah Mr. 3—salah satu officer agent terkuat di Baroque Works!"
"Aku tidak peduli siapa kau," jawabku sambil mengambil posisi siaga. "Aku akan menghentikanmu dan menyelamatkan nakama ku!"
Mr. 3 tertawa. "Confidence yang menggemaskan. Tapi percuma. Candle Wall!"
Dinding lilin muncul di depanku, menghalangi jalanku ke Mr. 3!
Aku menembakkan jaring dan berayun ke atas, melewati dinding lilin. Tapi saat aku di udara—
"Candle Shoot!"
Lilin cair disemprotkan ke arahku dari tangan Mr. 3!
Spider Sense! Aku memutar tubuh di udara, menghindari semprotan lilin. Lilin itu mendarat di tanah dan langsung mengeras, menciptakan patung lilin yang tajam seperti tombak!
"Sial, dia bisa menyerang dari jarak jauh!" pikirku sambil mendarat di cabang pohon.
Mr. 3 tidak memberi ku waktu bernapas. "Candle Chain!"
Rantai-rantai lilin melesat ke arahku dari berbagai arah!
Spider Sense berdering berkali-kali! Aku melompat, berguling, berayun dengan jaring—menghindari semua rantai lilin. Tapi mereka terus datang, semakin banyak, semakin cepat!
Satu rantai hampir mengenai kakiku—aku menembakkan jaring untuk mengayunkan tubuhku menjauh. Tapi rantai lain datang dari arah berbeda, mengikat pergelangan tanganku!
"Gotcha!" Mr. 3 menarik rantai lilin, menyeretku ke arah tanah!
"Tidak akan!" aku menembakkan jaring ke arah berlawanan dengan tangan yang bebas, menciptakan tarikan yang berlawanan.
Tapi Mr. 3 lebih kuat. Aku terseret perlahan ke arahnya.
"Kenji!" Sanji berteriak dari bawah. Dia mencoba menyerang Mr. 3 tapi—
"Colors Trap: Betrayal Black!"
Miss Goldenweek yang tadinya diam tiba-tiba melukis sesuatu di tanah. Warna hitam menyebar di sekitar Sanji, dan tiba-tiba—
"Ugh!" Sanji jatuh berlutut, wajahnya pucat. "Apa... apa yang terjadi? Kenapa aku merasa... seperti pengkhianat?"
"Hypnosis paint," jelas Mr. 3 sambil tertawa. "Miss Goldenweek punya kemampuan untuk mengontrol emosi orang dengan warna lukisannya. Sekarang Sanji-kun merasa seperti dia telah mengkhianati teman-temannya. Dia tidak akan bisa bertarung!"
"SANJI!" aku berteriak.
Usopp mencoba menyerang dengan ketapelnya, tapi Miss Goldenweek melukis lagi. "Colors Trap: Leisurely Green!"
Warna hijau menyebar, dan tiba-tiba Usopp berhenti menyerang. Dia duduk santai dengan wajah tenang.
"Eh? Kenapa aku menyerang sih?" kata Usopp dengan santai. "Aku mau santai aja deh..."
"Hypnosis lagi!" gumamku frustasi.
Sekarang hanya aku dan Robin yang masih bebas!
Mr. 3 menarik rantai lilin lebih keras. "Sekarang, mati!"
Tapi sebelum aku terseret sepenuhnya, Robin tiba-tiba muncul di belakang Mr. 3.
"Seis Fleur!" tangannya menyilang.
Enam tangan muncul dari tubuh Mr. 3, mencoba mencengkeramnya!
"APA?!" Mr. 3 terkejut.
Tapi dia dengan cepat menyemprotkan lilin ke tubuhnya sendiri, menciptakan armor lilin yang melindunginya dari tangan Robin!
"Buah Iblis lain?!" Mr. 3 menatap Robin dengan mata menyipit. "Siapa kau?"
Robin tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis.
Mr. 3 melepaskan rantai yang mengikatku untuk fokus pada Robin. "Tidak peduli siapa kau, kau akan mati bersama yang lain! Candle Service Set: Special!"
Lilin melesat ke arah Robin dari semua arah!
"Robin!" teriakku sambil menembakkan jaring, menciptakan perisai jaring di depan Robin.
Lilin menghantam perisai—dan menembus! Tapi itu memberi Robin waktu cukup untuk menghindar!
"Terima kasih, Kenji-kun," kata Robin sambil mundur.
"Sama-sama," jawabku sambil bernapas tersengal. "Tapi kita butuh strategi. Kita tidak bisa menang kalau hanya menghindar!"
"Kau benar," Robin mengangguk. "Mr. 3 mengandalkan range attack. Kita harus dekat dan menyerangnya secara langsung. Tapi armor lilinnya terlalu kuat untuk ditembus dengan serangan biasa."
"Kalau begitu..." aku menatap api unggun besar yang masih menyala di tengah area. "Kita gunakan api!"
Robin mengikuti tatapanku dan tersenyum. "Clever boy."
"Miss Goldenweek!" Mr. 3 memanggil partnernya. "Handle yang perempuan! Aku akan mengurus bocah laba-laba!"
Miss Goldenweek mengangguk dan mulai melukis lagi, menargetkan Robin.
Tapi Robin lebih cepat. "Ocho Fleur!"
Delapan tangan muncul di sekitar Miss Goldenweek, mencengkeram kuas dan paletnya!
"Eh?!" Miss Goldenweek terkejut.
"Maaf, gadis kecil," kata Robin dengan tenang. "Tapi aku tidak bisa membiarkanmu mengganggu."
Tangan-tangan Robin dengan lembut tapi tegas mengambil semua peralatan lukis Miss Goldenweek, membuatnya tidak bisa menggunakan kekuatannya.
"MISS GOLDENWEEK!" Mr. 3 berteriak marah.
Aku menggunakan kesempatan itu. Aku menembakkan jaring ke cabang pohon di atas Mr. 3 dan mengayunkan tubuhku dengan kecepatan tinggi, mengitari Mr. 3 dalam lingkaran!
"Apa yang kau lakukan?!" Mr. 3 mencoba menyerangku dengan lilin tapi aku terlalu cepat!
Aku terus berayun, menembakkan jaring ke arah Mr. 3 dari berbagai sudut—tidak untuk menyerangnya, tapi untuk membuat jebakan!
Dalam hitungan detik, aku menciptakan jaringan jaring yang kompleks di sekitar Mr. 3—jaring yang saling terhubung, membentuk kubah!
"Spider Domain: Cage Version!" teriakku.
Mr. 3 menatap sekeliling dan menyadari dia terjebak di dalam kubah jaring. "Kau pikir jaring kecilmu bisa menahanku?! Candle Wall!"
Dia menciptakan dinding lilin untuk menghancurkan jaring—tapi saat lilinnya menyentuh jaring, aku menarik jaring itu, membuat lilinnya meleset!
"Jaring ku fleksibel!" teriakku. "Kau tidak bisa menghancurkannya dengan serangan langsung!"
Mr. 3 mengertakkan gigi. "Kalau begitu aku akan keluar dengan paksa! Candle Champion!"
Lilin mulai membentuk armor raksasa di sekitar tubuh Mr. 3—armor berbentuk seperti robot raksasa dengan tinju besar!
"Whoa!" aku terkejut melihat ukuran armor itu. "Dia bisa membuat armor sebesar itu?!"
Candle Champion mengangkat tinjunya dan memukul kubah jaring dengan kekuatan penuh!
WHAM!
Jaring ku robek—tapi tidak sepenuhnya! Struktur jaring yang berlapis-lapis menahan pukulan!
"Bertahan!" gumamku sambil memperkuat jaring dengan menembakkan lebih banyak layer.
Mr. 3 di dalam Candle Champion tertawa. "Percuma! Aku akan terus memukul sampai jaringmu hancur!"
Dia memukul lagi! Dan lagi! Dan lagi!
Jaring ku mulai robek di beberapa bagian. Aku tidak bisa menahan ini lebih lama!
"Robin!" teriakku. "Sekarang!"
Robin mengangguk. Dia menggunakan kekuatannya untuk membuat tangan-tangan muncul di dekat api unggun, mengambil kayu yang terbakar!
"Veinte Fleur!"
Dua puluh tangan muncul di sekitar Candle Champion, melempar kayu yang terbakar ke armor lilin Mr. 3!
"APA?! API?!" Mr. 3 panik.
Lilinnya mulai meleleh saat terkena api!
"TIDAK! CANDLE CHAMPION KU!" Mr. 3 berteriak sambil mencoba memadamkan api.
Tapi Robin tidak berhenti. Lebih banyak tangan muncul, melempar lebih banyak api!
Armor lilin raksasa itu mulai runtuh, meleleh, kehilangan bentuknya!
"SEKARANG, KENJI-KUN!" Robin berteriak.
Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan. Aku menembakkan jaring ke kaki Mr. 3 yang sekarang terbuka karena armornya meleleh, lalu menarik dengan kekuatan penuh!
Mr. 3 kehilangan keseimbangan dan jatuh!
Aku langsung berayun turun, kaki ku terangkat tinggi, bersiap untuk tendangan dari atas!
"Ini untuk nakama ku!" teriakku. "SPIDER AXE KICK!"
WHAM!
Kakiku menghantam kepala Mr. 3 dengan kekuatan penuh—ditambah momentum dari ayunan dan gravitasi!
Mr. 3 terlempar ke tanah, menciptakan kawah kecil!
"GUAHHHH!" dia berteriak kesakitan.
Aku mendarat di sampingnya, napas terengah-engah. "Hah... hah... selesai..."
Mr. 3 mencoba berdiri tapi tubuhnya gemetar. "Ku-kuso... bocah sialan..."
Dia akhirnya jatuh tidak sadarkan diri.
Saat Mr. 3 pingsan, semua lilin yang dia ciptakan mulai meleleh dan menghilang—termasuk lilin yang mengurung Luffy, Zoro, Vivi, dan Brogy!
"BEBAS!" Luffy berteriak senang sambil meregangkan tubuhnya.
"Akhirnya!" Zoro menggerakkan bahu yang kaku.
Vivi jatuh berlutut, lega. "Terima kasih... Kenji-san... Robin-san..."
Brogy tertawa keras. "GABABABABABA! Bocah kecil itu hebat! Dia mengalahkan musuh yang licik dengan strategi!"
Sanji dan Usopp juga kembali normal setelah efek hypnosis Miss Goldenweek hilang karena dia sudah ditangkap oleh Robin.
"Ugh... apa yang terjadi?" Sanji menggeleng-gelengkan kepala.
"Kita... kita menang?" tanya Usopp dengan bingung.
"Ya," jawabku sambil tersenyum lelah. "Kita menang."
Luffy berjalan ke arahku dan menepuk bahuku keras. "KENJI! KAU KEREN! Aku tidak melihat pertarungannya karena terkurung lilin tapi pasti keren!"
"Terima kasih, Luffy," jawabku sambil tersenyum.
Zoro mendekatiku. "Kerja bagus. Kau menggunakan otak, bukan hanya kekuatan. Itu penting untuk bertahan di Grand Line."
"Aku masih banyak belajar dari kalian semua," jawabku jujur.
Robin berjalan mendekat dengan Miss Goldenweek yang sudah terikat. "Kenji-kun, kau bertarung dengan baik. Koordinasi kita sempurna."
"Terima kasih sudah membantu, Robin," kataku. "Tanpamu, aku tidak bisa menang."
"Sama-sama," Robin tersenyum.
Tiba-tiba, suara dentuman terdengar dari arah lain di pulau.
BOOM! BOOM! BOOM!
"Dorry!" Brogy berteriak sambil melihat ke arah suara. "Itu suara pertarungan Dorry!"
"Ada musuh lain?!" tanya Zoro sambil meletakkan tangan di pedangnya.
"Mr. 5 dan Miss Valentine," kata Robin dengan serius. "Mereka juga ada di pulau ini. Sepertinya mereka menyerang Dorry."
"Sial!" gumamku. "Mr. 5 dengan kekuatan bomnya bisa melukai Dorry!"
"AYO!" Luffy langsung berlari ke arah suara pertarungan.
Kami semua mengikuti—Zoro, Sanji, Usopp, dan aku. Vivi tinggal bersama Brogy untuk menjaga Mr. 3 dan Miss Goldenweek yang sudah tidak sadarkan diri.
Saat kami sampai di lokasi, kami melihat pemandangan yang mengerikan.
Dorry—raksasa warrior yang kuat—jatuh berlutut dengan tubuh penuh luka. Di depannya, Mr. 5 berdiri dengan sombong, tangan siap melempar bom lagi.
"DORRY!" Brogy yang mengikuti dari belakang berteriak marah.
"Oh? Tamu lain?" Mr. 5 menatap kami dengan dingin. "Sempurna. Aku akan membunuh kalian semua sekaligus. Breeze Breath BOMB!"
Dia meniup napas yang bisa meledak ke arah kami!
Spider Sense berdering keras!
"MENGHINDAR!" teriakku.
Tapi ledakan terlalu luas—kami tidak sempat menghindar sepenuhnya!
BOOM!
Ledakan melempar kami semua ke berbagai arah!
"GUAH!" aku menghantam pohon dengan keras. Punggungku sakit.
"Kenji!" Luffy berteriak sambil berdiri. "Kau baik-baik saja?!"
"Aku... aku oke!" jawabku sambil berdiri dengan susah payah.
Mr. 5 tertawa. "Kalian pikir bisa mengalahkan Baroque Works? Kalian terlalu naif. Boss sudah memerintahkan untuk membunuh Princess Vivi dan semua yang melindunginya. Dan aku akan menjalankan perintah itu!"
Dia mengambil napas dalam, bersiap untuk ledakan yang lebih besar!
Tapi sebelum dia bisa menyerang—
"Gomu Gomu no... PISTOL!"
Luffy melesat dengan kecepatan tinggi, tinjunya memukul wajah Mr. 5 dengan keras!
WHAM!
Mr. 5 terpental ke belakang, menghantam bebatuan!
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MENYAKITI NAKAMA KU!" Luffy berteriak dengan marah—marah yang jarang terlihat di wajahnya.
"Luffy..." gumamku sambil tersenyum. Ini adalah kapten kami. Kapten yang akan melakukan apapun untuk melindungi nakama-nya.
Mr. 5 berdiri dengan wajah berdarah. "Kau... bocah Straw Hat... aku akan membunuhmu!"
Pertarungan besar dimulai.
Dan kami semua siap.