Novel ini hanya lucu di awal, semakin ke ujung ada sedikit bawang. Semoga suka.
*******
Mulutmu harimau-mu. Pepatah itu sering kita dengar. Tapi sering kita lupa. Sehingga sangat gampang berucap tanpa memikirkan dampak dari ucapan kita sendiri.
Aurelia Syafitri. Gadis cantik berumur 25 tahun, pribadi yang periang, suka bercanda dan gemar melancarkan jurus bucin. Bagi orang itulah yang menyenangkan bagi Syafi. Tapi, tidak berlaku bagi calon suaminya. Ucapan calon suaminya saat menjelang hari pernikahan bagaikan air yang melunturkan semua warna pada hidup Syafi. Bukan cuma ucapan itu yang menyakitkan bagi Syafi. Tapi di tinggal saat menjelang akad nikah. Menjadi tamparan keras di wajahnya. Duka menjelang hari pernikahan itu membuat Syafi kehilangan jati dirinya.
Bagaimana nasib Syafi yang di tinggal saat menjelang pernikahan? Atau akan ada keajaiban yang bisa membuat Syafi kembali menjadi pribadi yang ceria dan menyenangkan? ‘’
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Tekad
Sisa waktu hanya seminggu, semua Syafi persiapkan untuk menyelesaikan segalanya, termasuk kepengurusan rumah pamannya yang akan dia tinggalkan. Memberikan harta yang tertinggal pada saudara Kamal. Syafi memikirkan pengobatan yang di jalani sepupunya kedepannya. Semua urusan pun sudah beres.
Seperti biasa, gadis itu seolah patung. Tidak bereaksi apapun, Dirga bingung harus membantu Syafi bangkit dari mana, mengajaknya bicara saja sulit. “Fiy ….” Panggilnya.
Syafi menoleh kearah Dirga.
“Besok kita akan pergi, kamu sudah pamit pada keluarga kamu?”
Hanya anggukkan kepala, Syafi, yang Dirga terima sebagai jawaban.
“Pada keluarga Pak Said?” tanya Dirga.
Kali ini Dirga mendapat jawaban yang berbeda, bukan anggukkan kepala dari Syafi, tapi gelengan kepala, tanda dia belum pamit pada keluarga besar Mayfa.
“Kita ke sana, pamitan pada keluarga Pak Said,” ucap Dirga.
Syafi segera melangkah menuju kamarnya, tidak lama dia keluar dengan setelan rapi. Dirga hanya bisa menghela napasnya, sangat sulit saat ini mendengar Syafi buka suara. Tidak berani protes, Dirga segera ke kamarnya mengambil handphone dan dompetnya. Saat keluar dari kamar terlihat dari arah teras sebuah mobil taksi online sudah menunggunya. Hal ini yang membuat Dirga tidak bisa apa-apa, walau wanita itu selalu diam, tapi dia mengerjakan apapun dalam diamnya.
Melihat Dirga sudah keluar, Syafi segera masuk kedalam mobil. Dirga segera mengunci pintu rumah, lalu mengikuti Syafi. Duduk bersebelahan dalam mobil, tapi seakan terpisah ribuan kilometer jarak diantara keduanya. Perjalanan yang membosankan ini akhirnya ber-akhir. Mobil taksi itu sudah berhenti di halaman rumah Pak Said. Keduanya segera keluar dari mobil.
Melihat siapa yang baru turun dari mobil, Rosalina tersenyum Bahagia. “Alhamdulillah … akhirnya pengantin baru datang berkunjung ….” Sambut Rosalina.
Dirga dan Syafi langsung menyalami Rosalina seraya memberi salam. Jawaban salam langsung Tuan rumah berikan. Rosalina langsung mengajak kedua tamunya masuk.
“Ayah ….” Rosalina sangat Bahagia.
“Syafi, Dirga ….” Sambut Pak Said. Hanya Dirga yang langsung menyalami laki-laki itu.
Keceriaan yang biasa Syafi tebar benar-benar hilang. Rosalina bingung harus apa, biasanya wanita yang kini tampak sendu ini yang membuatnya lepas bercanda, mendadak jadi diam.
“Mbak … panggilkan anak-anak, kasih tau kalau Syafi datang,” pinta Rosalina pada pelayannya.
Tidak berselang lama, kelima anak-anak Pak Said ikut berkumpul di ruang tamu. Hati Syafi semakin sesak, Mayfa tidak ada diantara mereka, Mayfa pergi ke kota lain, meniti karirnya. Kelima anak Pak Said, yang biasa ceria juga ikut diam, karena yang terbiasa memancing suasana heboh seperti kehabisan batrai. Dirga menyadari kecanggungan ini.
“Pak, kami kesini untuk pamit sama Bapak sekeluarga, besok kami akan meninggalkan tanah Kalimantan ini,” ucap Dirga.
Air mata Kembali membasahi pipi mulus wanita cantik yang berada di ruang tamu itu, mereka bergantian memeluk Syafi. Tapi wanita yang mereka peluk hanya memberikan senyuman kecil. Tidak ada pembicaraan lagi, Dirga dan Syafi pergi meninggalkan rumah Pak Said setelah berpamitan.
***
Satu per satu mereka yang mengantar Syafi dan Dirga ke bandara, memberikan pelukan terakhir mereka. Apa yang terjadi pada gadis itu, wajahnya sungguh datar, tidak tersenyum tapi juga tidak menangis, pandangannya kosong entah tertuju kemana. Hanya Dirga yang menanggapi setiap pesan yang di berikan keluarga yang mengantar mereka, termasuk mendengari pesan dan nasehat dari Pak Said.
Panggilan penerbangan membuat keduanya harus menyudahi acara perpisahan ini. Dirga dan Syafi langsung menuju pintu keberangkatan. Penerbangan pertama bagi Syafi, wajahnya Nampak pucat, karena ke khawatiran yang dia rasa.
“Pertama kali atau apa?” tanya Dirga.
“Iya, ini pertama kali saya naik pesawat.”
Dirga tersenyum, akhirnya pertanyaan dia di jawab dengan ucapan, bukan anggukkan dan gelengan kepala lagi.
“Bismillah saja.” Dirga mencoba memberi semangat pada Syafi.
Syafi menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Selamat tinggal Kalimantan .... Ucap batinnya.
…….
Pesawat yang Dirga dan Syafi tumpangi, mendarat dengan selamat di kota Dirga tinggal selama ini. Dirga mengulurkan telapak tangannya untuk Sayfi. Tapi wanita itu meraih yang lain untuk bangkit dari posisinya saat ini. Dirga tersenyum, mereka langsung turun dari pesawat.
Keramaian yang ada di Bandara juga tidak juga berhasil menarik perhatian Syafi, wanita itu masih larut dalam lamunannya, entah apa yang mereka pikirkan. Syafi hanya melirik sedikit kearah Dirga, mengikuti Langkah kaki laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
“Selamat siang, Tuan.” Sapaan itu mengalihkan perhatian Dirga, sedari tadi dia memandangi ke segala arah.
“Selamat siang Pak Ajah. Ayo sekarang kita langsung pulang ke rumah saja,” ucap Dirga.
“Rumah?” Orang yang di panggil Dirga Pak Ajah terlihat bingung. Selama ini Tuannya ini tinggal di Apartemen.
“Iya, rumah Pak. Semuanya sudah saya persiapkan.” Senyuman manis menghiasi wajah Dirga.
“Dia ….” Pak Ajah meng-isyarat pada Syafi.
“Dia bagian dari saya, maksud saya dia keluarga saya,” ucap Dirga. Dirga takut mengenalkan Syafi sebagai istrinya untuk saat ini, takut wanita itu belum siap.
Mereka semua langsung menuju mobil. Dirga dan Pak Ajah duduk di kursi depan, sedang Syafi duduk sendirian di bagian belakang. Perjalanan Panjang dari Bandara ber akhir, perlahan mobil yang mereka tumpangi memasuki sebuah halaman rumah yang bertingkat dua. Para penumpang mobil segera turun, Dirga membukakan pintu mobil, memberikan tangannya untuk Syafi raih, yang ada wanita itu meraih sisi mobil untuk menumpukan tangannya. Tidak ambil pusing, Dirga segera mengajak Sayfi memasuki rumahnya, sedang Pak Ajah di minta Dirga, untuk pergi, setelah selesai menurunkan barang-barang Dirga dan Syafi.
Rumah yang sederhana dengan design yang serba minimalis. Keduanya melangkahkan kaki memasuki rumah itu. Hingga sampai di sebuah pintu. Dirga langsung membuka pintu kamar tersebut.
“Ayo ikuti saya,” ajak Dirga.
Tanpa berkata apapun, Syafi patuh pada ajakan Dirga, memasuki kamar itu. Di dalam kamar itu, Dirga menunjukkan ruangan dan beberapa hal lain. Syafi hanya diam dan meganggukkan kepalanya. Tidak ada tanggapan sama sekali dari Syafi.
“Kalau butuh sesuatu, panggil saja aku. Aku ada di atas, kalau kau malas naik, telepon saja aku.” Lagi-lagi hanya anggukkan kepala Syafi yang Dirga terima. Dirga pasrah, dia menaruh koper Syafi di sudut ruangan kamar itu.
Setelah Dirga keluar dari kamar itu, Syafi duduk di kursi yang terletak dekat jendela yang ada di kamar itu. Memandang kosong kearah luar rumah. Semenjak kepergian pamannya, tidak ada semangat lagi dalam dirinya.
Sesampai di kamar atas, Dirga menghempas kasar tubuhnya keatas tempat tidur. Membuang kasar napasnya.
“Ya Tuhan … aku sangat bersyukur, aku meminta wanita seperti Syafi, Engkau memberiku Syafi.” Dirga mengusap kasar wajahnya. Bangkit dari posisinya. Melangkah menuju cermin yang ada di kamarnya. Memandangi pantulan dirinya yang ada pada cermin. Terbayang Kembali segala tingkah kocak Syafi saat pertama kali dia bertemu, hingga kekonyolan Syafi saat berada di rumah Mayfa. “Apakah keceriaan Syafi sangat mahal? Sehingga aku mendapatkan orang yang aku cinta, tapi tidak dengan keceriaannya.”
Dirga terus memandangi pantulan dirinya pada cermin itu. “Bagaimanapun caranya, aku akan berusaha mengembalikan keceriaan kamu Fiy, aku tersiksa melihatmu berubah sepert ini. Aku akan melakukan apa saja demi keceriaan kamu,” tekad Dirga.
***
Bersambung thayank ....
Selamat berjuang babang tampan akoh ....
Mohon maaf ya sisa-sisa kehancuran cinta jempol author belum di bersihkan, itu typo masih bertebaran di mana-mana. Insya Allah othor cicil karena kemaren nggak sempat up.