"Lo tuh ngeselin!" bisik Giselle di telinga Libra.
"Udah tau." Selalu, jawaban Libra semakin membuat Giselle kesal. Gadis itu cemberut sepanjang pelajaran dimulai. Padahal hari masih pagi, tetapi dia sudah dibuat emosi oleh pemuda yang sayangnya adalah sahabatnya sendiri.
Libra tau Giselle sedang marah padanya. Namun, pemuda itu malah tersenyum geli sembari menopang dagunya menatap gadis yang sedang mengerucutkan bibirnya itu.
***
Sebuah kisah tentang dua remaja yang sedang berjuang untuk menemukan tujuan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kacang Kulit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 - Coklat Panas
Giselle menatap malas pada tumpukan buku-buku tebal yang berada di atas meja belajarnya. Siang ini ia mencoba untuk belajar sesuai apa yang diinginkan oleh ibunya. Gadis itu tidak mau kejadian seperti kemarin terulang kembali.
"Gak ngerti." Giselle merengek setelah membaca sebuah buku selama sepuluh menit. Ia benar-benar tidak bisa memahami satu pun materi yang ia baca. Di saat-saat seperti ini, Libra yang hanya bisa menolongnya. Giselle akan paham ketika sahabatnya itu yang menjelaskan materi. Libra selalu bisa memberikan penjelasan yang singkat dan mudah untuk dicerna oleh otak kecil Giselle.
"Apa video call aja kali ya? Harusnya Ibu bolehin aku ke rumah Liba," ujar Giselle dengan bibir mengerucut. Tangannya sibuk mengotak-atik ponselnya untuk menghubungi Libra. Padahal jika bisa, gadis itu hanya perlu melangkah beberapa meter untuk menuju rumah sahabatnya. Sayang sekali ia tidak seberani itu melanggar perintah ibunya.
"Halo, kenapa Pen?"
"Libaaaa." Rengekan Giselle membuat Libra tersenyum lembut di seberang sana. Terlihat pemuda itu tengah duduk santai di balkon kamarnya.
"Kenapa, hm?"
"Pusing," jawab Giselle dengan lesu.
"Pusing? Sakit?"
"Bukan. Ini pusing gara-gara baca buku." Giselle menyorot tumpukan buku dengan kamera belakangnya.
"Widih, tumben rajin?" ledek Libra. Pemuda itu merasa heran karena tiba-tiba Giselle mau membuka bukunya dengan suka rela. Tidak tahu saja Libra bahwa gadis itu terpaksa melakukannya.
"Biar pinter kayak Libra. Capek dibanding-bandingin," ujar Giselle sembari mengambil buku sejarah miliknya. Ponselnya sudah ia letakkan diatas meja dengan posisi berdiri bersandar pada botol minum di belakangnya.
Raut wajah Libra berubah mendengar jawaban Giselle. Meski raut gadis itu terlihat biasa saja, Libra bisa mendengar nada lelah dari suaranya.
"Gue seneng lo mulai mau belajar. Tapi kalau belajar juga harus niat dan ikhlas. Jangan karena terpaksa, oke? Gue tau lo bisa, Pen."
Giselle tersenyum manis, "Siap, kapten!"
Libra terkekeh gemas. Ingin sekali ia mengacak-acak rambut gadis itu.
"Udah, sana belajar."
"Minta tolong boleh?"
"Anything for you."
Senyuman Giselle mengembang. Bukankah Libra sangat baik? Ia merasa sangat beruntung bisa menjadi sahabat pemuda itu.
"Tolong bantu jelasin materi ini dong, Ba. Gak ngerti sama sekali maksudnya," pinta Giselle dengan puppy eyes.
"Bentar, gue ambil buku dulu."
Terdengar suara grasak-grusuk di seberang. Mungkin saja Libra tengah mencari buku miliknya. Setelah menunggu beberapa saat, wajah Libra kembali muncul di layar ponselnya. Dan sesi belajar bersama pun di mulai. Meski tidak bisa bertemu secara langsung, Giselle merasa sangat bersyukur masih bisa menatap wajah sahabatnya dari layar ponsel.
...***...
Abram menengok ke dalam kamar adiknya ketika ia hendak berjalan menuju lantai bawah. Pintu kamar Giselle terbuka lebar. Dari ambang pintu, Abram bisa melihat bahwa adiknya sedang duduk di meja belajar dengan buku-buku yang berserakan di meja. Terlihat Giselle sedang menatap ponselnya yang sepertinya memutar materi pembelajaran. Mungkin saja adiknya itu sedang melihat panduan belajar dari aplikasi YouTube.
Abram tidak ingin mengganggunya. Ia memilih untuk kembali melanjutkan langkahnya yang tertunda. Awalnya ia hanya berniat untuk membuat kopi, tetapi ketika teringat pada adiknya yang sedang belajar dengan keras, ia pun membuatkan secangkir coklat panas untuknya. Berharap coklat panas ini akan membuat Giselle semakin bersemangat dalam belajar.
Beberapa saat kemudian, Abram memasuki kamar Giselle dengan membawa secangkir coklat panas. Giselle yang sedang fokus melihat penjelasan di layar ponselnya tidak menyadari keberadaan Abram. Sampai akhirnya Abram meletakkan cangkir coklat panas itu di meja Giselle. Baru setelahnya gadis itu menoleh, tersenyum manis pada kakaknya yang berdiri menjulang di sebelahnya.
"Apa nih?"
"Coklat, kesukaan kamu. Buat nemenin belajar."
Senyum Giselle semakin lebar. Akhir-akhir ini kakaknya memang lebih perhatian padanya. Dinding tak kasat mata yang selama ini menghalangi kasih sayang di antara mereka sudah mulai runtuh. Sebenarnya mereka berdua tidak memiliki masalah apapun. Hanya saja, setiap ibunya membanding-bandingkan Giselle dengan kakaknya, timbul rasa kesal dalam hati gadis itu terhadap kakaknya. Ia tahu itu bukan salah Abram. Itulah sebabnya sekarang ia mulai bersikap lebih hangat pada kakaknya.
Giselle menyeruput coklat yang masih sangat panas itu dengan pelan. Kepalanya mulai pening melihat buku-buku yang berserakan di mejanya. Ia memutuskan untuk mengganti video yang awalnya menjelaskan tentang rumus-rumus matematika menjadi video kartun. Tidak peduli ia sudah menjadi gadis SMA, kegemarannya menonton kartun tidak juga berubah.
Abram masih berada di kamar adiknya. Ia memutuskan untuk duduk di kasur Giselle sembari matanya mengamati sekeliling. Sesaat kemudian, matanya berhenti pada bingkai foto yang menampilkan dua orang remaja yang sedang tersenyum lebar. Dua remaja itu mengenakan seragam sekolah putih biru, khas siswa SMP.
Abram tersenyum. Adiknya itu memang sangat dekat dengan Libra. Tumbuh bersama sedari kecil, bahkan Giselle terlihat lebih dekat dengan Libra dibanding dirinya yang notabenenya adalah kakak kandung. Menghela napas pelan, Abram merasa sedih karena tidak ada fotonya di kamar adiknya. Ia bahkan tidak ingat pernah berfoto bersama Giselle selain ketika mereka masih sangat kecil.
"Kakak iri sama Libra yang bisa deket banget sama kamu." batin Abram sembari tersenyum kecut.
...***...
20 Januari 2026