NovelToon NovelToon
Kehidupan Yang Tercuri

Kehidupan Yang Tercuri

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Misteri / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Mata Batin
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Di kota Lentera Hitam yang dingin, Arlan hidup sebagai kurir spesialis pencari barang hilang. Namun, sebuah distorsi visual di dapur rumahnya menghancurkan segalanya: ibunya yang sedang memasak memiliki tahi lalat di sisi wajah yang salah. Wanita itu tampak sempurna, kecuali satu hal—ia bernapas secara manual, sebuah gerakan dada kaku yang hanya dilakukan untuk meniru manusia.

Arlan menyadari dunianya sedang diinvasi secara halus oleh "Para Peniru", entitas yang mencuri identitas fisik namun gagal menduplikasi emosi. Setiap kali seseorang asli "terhapus", sebuah Koin Perak misterius tertinggal sebagai fragmen memori yang hilang. Misteri memuncak saat Arlan menemukan arsip rahasia: apartemennya seharusnya sudah hangus terbakar sejak 2012. Jika semua orang telah mati belasan tahun lalu, siapa sebenarnya yang selama ini hidup bersamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Perpustakaan Sunyi

Udara di depan gedung Perpustakaan Pusat terasa sebeku es yang membeku dalam ruang hampa. Arlan merapatkan mantelnya yang masih menyisakan kelembapan dari pelarian di tangki air taman kota. Di sampingnya, Mira berdiri mematung, kepalanya miring seolah sedang mencoba menangkap frekuensi yang tidak bisa didengar telinga biasa. Cahaya lampu jalan yang hijau-kebiruan memantul di pilar-pilar marmer gedung, memberikan kesan bahwa bangunan itu adalah makam raksasa bagi ingatan manusia.

"Kau merasakannya, Arlan?" bisik Mira. Suaranya terdengar sangat kecil, seolah-olah atmosfer di sekitar mereka sedang menghisap setiap getaran udara.

Arlan mengangguk perlahan. "Hampa Akustik. Ruangan ini tidak hanya sepi, Mira. Ruangan ini mati."

"Dante sudah menunggu di dalam. Dia bilang filter spektrum di sini paling kuat karena mereka ingin memastikan tidak ada mata manusia yang bisa membaca arsip asli tanpa rasa sakit," Mira melangkah menaiki tangga marmer yang licin.

Arlan menyentuh kacamata dengan lensa polarisasi yang diberikan Dante saat ia baru saja menyadari perubahan warna lampu kota. Lensa itu kini menjadi satu-satunya pelindung korneanya dari serangan cahaya merkuri yang tajam. Begitu mereka mendorong pintu jati raksasa perpustakaan, keheningan yang lebih pekat menyergap. Tidak ada derit pintu. Tidak ada suara langkah kaki. Hanya ada tekanan yang menyesakkan di gendang telinga.

"Arlan, lewat sini," sebuah suara muncul di alat komunikasinya, namun terasa seperti gema di dalam kepalanya sendiri.

"Dante? Posisi?" tanya Arlan sambil menyapu pandangannya ke rak-rak buku yang menjulang tinggi hingga ke langit-langit.

"Lantai tiga, bagian arsip sejarah pra-insiden. Cepatlah, sinkronisasi sistem akan dimulai dalam sepuluh menit. Setelah itu, seluruh gedung ini akan disiram frekuensi pembersih."

Arlan dan Mira bergerak cepat menaiki tangga melingkar. Di sepanjang dinding, Arlan melihat pemandangan yang membuat hatinya mencelos. Buku-buku yang berjajar di rak mulai menunjukkan anomali. Sampul-sampul kulit yang seharusnya berwarna cokelat hangat atau merah marun kini tampak kelabu pucat.

Lembaran yang Memutih

Saat mereka sampai di lantai tiga, Dante berdiri di antara dua rak raksasa dengan sebuah senter analog di tangannya. Wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun di bawah bayangan lampu yang salah spektrum ini.

"Kau terlambat dua menit, Arlan," tegur Dante tanpa menoleh. Tangannya sedang memegang sebuah buku tebal berjudul Lentera Hitam: Kronik Awal.

"Kami harus menghindari patroli yang menggunakan detektor panas di dekat air mancur tadi," jawab Arlan. Ia mendekat dan mencoba menyentuh salah satu buku di rak.

"Jangan sentuh dengan tangan telanjang!" bentak Dante pelan.

Arlan menarik tangannya kembali. "Kenapa?"

"Suhu tubuhmu. Panas organik manusia mempercepat reaksi kimia pada tinta yang sudah terinfeksi residu perak. Lihat itu," Dante menunjuk ke buku yang ia pegang.

Di bawah sorot cahaya senter, Arlan melihat huruf-huruf pada halaman buku itu mulai bergerak. Mereka tidak mengalir, melainkan memudar, seolah-olah tinta itu terbuat dari debu yang tertiup angin gaib. Dalam hitungan detik, paragraf tentang sejarah kebakaran besar tahun dua ribu dua belas menghilang, menyisakan kertas putih bersih yang mengilap seperti plastik.

"Mereka menghapus jejak kita, Arlan. Secara fisik," suara Mira terdengar gemetar. Ia tidak berani mendekat ke rak buku, seolah-olah buku-buku itu adalah mayat yang sedang membusuk.

"Ayahku... dia bilang ada sesuatu di sini. Sesuatu yang belum kehilangan tintanya," Arlan menatap Dante dengan tajam. "Dimana buku itu?"

Dante menghela napas, uap napasnya terlihat pekat di udara yang endotermik. "Masalahnya bukan di mana bukunya, tapi bagaimana cara kau membacanya sebelum ia memutih. Begitu buku itu ditarik dari rak, proses penghapusan akan mencapai puncaknya."

"Aku punya teknik Mnemonik yang kau ajarkan saat latihan di bunker tempo hari," Arlan melepaskan sarung tangan kurirnya. "Aku bisa merekam isinya dalam ingatanku jika aku punya waktu tiga puluh detik tiap halaman."

"Tiga puluh detik itu terlalu lama, Arlan. Kau hanya punya waktu sepuluh detik sebelum tinta itu menguap total menjadi gas perak yang beracun," Dante menyerahkan sebuah sarung tangan kain yang tampak basah. "Gunakan ini. Ini direndam dalam larutan residu memori dari koin perak yang kau temukan di saku satpam tempo hari. Ini akan memberimu waktu tambahan."

Perang Melawan Waktu

Arlan mengenakan sarung tangan basah itu. Dinginnya cairan itu seolah menusuk hingga ke tulang, namun ia tidak peduli. Ia melangkah menuju bagian paling pojok, tempat sebuah kotak besi tua tersimpan di balik kaca yang sudah retak.

"Mira, bantu aku mendeteksi gema," perintah Arlan.

Mira memejamkan mata. Tangannya bergerak di udara, seolah sedang meraba gelombang yang tak kasat mata. "Di sana... rak nomor empat, baris paling bawah. Ada suara... suara tangisan yang terjebak di dalam serat kertasnya."

Arlan berjongkok dan menarik sebuah buku catatan kecil bersampul hitam kusam. Begitu tangannya menyentuh sampul itu, getaran hebat menjalar ke seluruh tubuhnya. Koin perak di sakunya mulai memanas.

"Buka sekarang, Arlan! Sistem pembersih mulai bersiap!" teriak Dante sambil memantau layar perangkat genggamnya.

Arlan membuka halaman pertama. Matanya bergerak dengan kecepatan yang tidak wajar. Ia tidak membaca kata demi kata, melainkan memotret seluruh halaman ke dalam "Istana Memori" di benaknya.

Halaman 1: Denah struktur bawah tanah Balaikota. Halaman 2: Daftar nama-nama Archivist yang dikhianati saat kebakaran. "Lima detik!" Dante memperingatkan.

Arlan melihat tinta pada halaman kedua mulai berubah menjadi butiran perak yang beterbangan. Ia segera membalik ke halaman berikutnya.

"Halaman 3: Koordinat wadah penyimpanan utama... tunggu, ini adalah lokasi rumah lama kita, Mira!" Arlan berseru tertahan.

"Arlan, jangan berhenti! Fokus!" Mira memegang kepalanya sendiri, tampak kesakitan karena tekanan hampa akustik yang meningkat.

"Sepuluh detik lagi sebelum gas perak dilepaskan!" Dante mulai mundur menuju pintu keluar. "Arlan, lepaskan buku itu!"

Namun Arlan melihat sesuatu di halaman terakhir. Sebuah sketsa wajah. Wajah seorang pria yang sangat ia kenal, dengan tahi lalat di tempat yang benar, dan sebuah catatan kaki kecil di bawahnya: Salinan tidak akan pernah bisa menduplikasi duka yang asli.

"Arlan! Keluar sekarang!"

Arlan menyambar halaman terakhir itu tepat saat seluruh buku meledak menjadi debu perak yang menyilaukan. Ia menarik Mira dan berlari mengikuti Dante melewati lorong-lorong gelap perpustakaan, sementara di belakang mereka, suara desisan gas memenuhi ruangan, menghapus setiap kata yang pernah ditulis manusia di gedung itu.

Napas Arlan memburu, menciptakan kepulan uap putih yang kontras dengan udara kelabu di lobi perpustakaan. Mereka berhasil melewati pintu jati tepat sebelum kunci elektronik otomatis mengunci seluruh gedung. Di belakang mereka, kaca jendela perpustakaan tampak berkabut oleh gas perak yang mematikan, menyelimuti rak-rak buku yang kini hanya berisi tumpukan kertas kosong tanpa makna.

"Kau berhasil mendapatkannya?" tanya Dante. Ia bersandar pada pilar batu, wajahnya pucat pasi, dan ia terus memantau indikator frekuensi pada perangkatnya yang masih berderak statis.

Arlan mengangguk sambil menekan pelipisnya. Kepalanya terasa seperti dihantam palu godam; efek samping dari teknik Mnemonik yang memaksa otak menyimpan data visual mentah dalam jumlah masif. "Halaman terakhir... aku sempat melihatnya. Sketsa wajah ayahku dan koordinat yang mengarah kembali ke rumah."

"Rumahmu di Sektor Tujuh?" Mira mendekat, menyentuh lengan Arlan yang masih gemetar. "Tapi tempat itu sudah menjadi zona merah, Arlan. Para Peniru sudah mulai melakukan replikasi organik di sana secara massal."

"Itulah sebabnya mereka menyimpan kuncinya di sana," balas Arlan dengan nada dingin. "Mereka tidak menghapus rumahku hanya untuk menghilangkan kenanganku, tapi untuk menyembunyikan titik pusat di mana data itu pertama kali dikumpulkan."

Dante menegakkan tubuh, menatap Arlan dengan mata yang penuh keraguan namun terselip rasa hormat. "Jika koordinat itu benar, berarti apa yang kau temukan bukan sekadar catatan sejarah. Itu adalah protokol. Ayahmu tidak hanya mencatat mereka, dia sedang membangun sesuatu untuk melawan mereka."

Dilema di Tengah Sunyi

"Kita tidak bisa langsung ke sana sekarang," Dante memperingatkan saat melihat Arlan hendak melangkah menuju motor kurirnya. "Gas perak yang kau hirup tadi mulai bereaksi dengan paru-parumu. Kau butuh filter pembersih di bunker, atau kau akan mulai mengalami erosi seluler seperti para salinan yang gagal itu."

"Aku tidak punya waktu untuk bersembunyi di bunker, Dante!" Arlan berbalik, suaranya meninggi, memecah keheningan jalanan yang mati. "Setiap detik yang kita buang adalah satu lembar sejarah lagi yang mereka putihkan. Kau lihat sendiri di dalam tadi! Mereka sedang menghapus wajah kita!"

"Arlan, dengarkan aku!" Mira menyela, suaranya lembut namun memiliki otoritas yang membuat Arlan terdiam. "Dante benar. Jika kau mati sekarang, semua data yang kau simpan di kepalamu itu akan ikut memutih. Kau adalah perpustakaan terakhir yang kita miliki sekarang. Kau tidak boleh hancur karena kecerobohan."

Arlan menatap Mira, lalu menatap tangannya yang mulai menunjukkan bercak-bercak kelabu samar akibat paparan gas di dalam tadi. Rasa sakit yang tajam mulai menusuk dadanya setiap kali ia menarik napas.

"Berapa lama waktu yang aku punya?" tanya Arlan pelan.

"Dua jam sebelum pendarahan internal dimulai," jawab Dante sambil memeriksa jam tangannya yang masih berdetak secara mekanik. "Kita kembali ke zona netral. Aku akan menyiapkan larutan penetral dari sisa koin perak yang kita miliki."

"Gunakan koin yang kutemukan di saku satpam itu," Arlan merogoh sakunya dan menyerahkan logam dingin itu kepada Dante. "Aku tidak peduli seberapa berharga memorinya bagi faksi Archivist. Pakai itu untuk memastikan aku tetap bisa berjalan sampai ke rumahku."

Jeda Sebelum Badai

Mereka bergerak menembus gang-gang sempit untuk menghindari sorotan lampu hijau-kebiruan yang kini tampak lebih agresif menyapu permukaan aspal. Di tengah perjalanan, Mira berjalan di sisi Arlan, menjaga agar pemuda itu tidak kehilangan keseimbangan.

"Kau takut, Arlan?" tanya Mira tiba-tiba.

Arlan terdiam sejenak, mendengarkan detak jantungnya sendiri yang terdengar tidak sinkron di area hampa akustik ini. "Aku takut jika aku lupa bagaimana rupa ayahku yang asli sebelum aku sempat menemukannya."

"Kau tidak akan lupa," Mira menggenggam tangan Arlan. "Gema yang kau bawa dalam koin-koin itu terlalu kuat untuk dihapus oleh cahaya sesederhana itu. Mereka bisa menghapus tinta di kertas, tapi mereka tidak bisa menghapus bekas luka di jiwamu."

"Mira benar," Dante menimpali dari depan. "Mereka mencoba membuat dunia ini sempurna dan tanpa cela. Tapi manusia didefinisikan oleh cacatnya, oleh luka-lukanya. Selama kau masih merasakan sakit itu, kau masih manusia, Arlan."

Arlan menatap langit yang kini sepenuhnya kehilangan saturasi warna. Bintang-bintang tidak terlihat, hanya ada hamparan kelabu yang statis. Ia menyentuh kunci tua di lehernya, merasakan kehangatan samar yang masih tersisa di sana—satu-satunya benda yang tidak terpengaruh oleh suhu endotermik kota.

"Besok," gumam Arlan dengan tekad yang membeku. "Besok aku akan kembali ke dapur itu. Aku akan menghadapi entitas yang memakai wajah ibuku, dan aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milik keluargaku."

Dante tidak menjawab, namun Arlan bisa melihat tangan sang komandan mengepal erat di kemudi kendaraannya. Mereka tahu bahwa apa yang menanti di rumah lama bukan sekadar kenangan, melainkan horor domestik yang sedang mengelupas, bersiap menunjukkan wujud aslinya yang mengerikan.

"Simpan napasmu, Arlan," bisik Mira saat mereka mendekati pintu masuk bunker rahasia. "Perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai saat sejarah berhenti ditulis."

Arlan memejamkan mata, memvisualisasikan kembali halaman terakhir buku yang telah lenyap itu. Sketsa wajah ayahnya seolah menatapnya dari balik kegelapan pikirannya, memberikan satu pesan terakhir yang kini menjadi jangkar bagi kewarasannya: Jangan biarkan mereka menyalin duka ini.

1
prameswari azka salsabil
tetap berjuang arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
semangat arlan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
novel.misteri yang unik
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
wah gimaba nih. di mana yang aman
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan ungkap misterinya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
,wuih maduk ruang mayat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
ayo arlan semangat
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
misteri yang bagus
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
tetap semabgat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 3 replies
prameswari azka salsabil
gigi susunya dulu😄
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 5 replies
prameswari azka salsabil
kondisi yang sungguh misteriys
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 4 replies
prameswari azka salsabil
ayo tetap semangat arlan
Indriyati: mantap deh
total 3 replies
prameswari azka salsabil
cerianya bagus dan tanpa horor mistis
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
wah benar benar misteri yang kebtal
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 6 replies
prameswari azka salsabil
oh tokih seorang kurir ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 7 replies
Indriyati
novel ini memberikan nuansa misteri yang kuat sejak awal. ddan nuansa misterinya bukan mengarah ke horor sehingga cocok untuk pembaca yang tidak suka novel horor yang seram. cerita di.novel ini sungguh membuat saya penasaran mengenai apa yang terjadi sebemarnya. novel ink cukup menghibur dan tidak membosankan. semoga penulis tetap membuat karya yang bagus dan menarik. semangat ya
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya🙏
total 11 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!