kehidupan seorang pria bernama vion reynald mendadak berubah,kehidupan pria pengangguran itu berubah sangat tajam semenjak kilatan petir menyambar itu.vion harus merelakan jiwanya yg dipindahkan ke dalam tubuh lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon risn_16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TUGAS SANG JENDERAL DARI PANGERAN
"Aku mempercayaimu. Bisakah kau mencari tahu siapa pandai besi yang menempa pedang ini? Cari tahu dari mana asal besi dan simbol serigala ini," pinta vion dengan nada yang sangat serius.
Von Gardo terlihat ragu sejenak. Tugas ini bisa berbahaya karena melibatkan penyelidikan di luar birokrasi resmi kerajaan, namun ia tak mungkin menolak perintah dari sang calon pewaris takhta.
"Baik, Yang Mulia. Hamba tidak akan mengecewakan Anda. Hamba akan mencari tahu hingga ke pelosok negeri jika perlu."
vion mengangguk puas, lalu menepuk pundak lapis baja Von Gardo beberapa kali—sebuah gestur akrab yang lagi-lagi membuat sang Jenderal terpana.
"Pergilah. Aku akan menunggu kabar baik darimu."
"Tentu, Yang Mulia. Hamba mohon pamit." Von Gardo memberi hormat dengan mengepalkan tangan di dada, lalu berbalik dan melangkah keluar dari kamar pribadi pangeran.
Namun, begitu pintu kayu besar itu terbuka, Von Gardo dikejutkan oleh rompongan pelayan yang sedang mengawal Lady Genevieve.
Wanita cantik itu berdiri di sana dengan gaun sutra birunya yang indah, didampingi beberapa dayang yang membawa baki perak berisi hidangan-hidangan mewah kesukaan Pangeran Alaric, mulai dari anggur terbaik hingga pai daging yang masih hangat.
Dengan sopan dan kaku, Von Gardo merendahkan kepalanya memberi hormat kepada sang lady.
Sementara itu, Genevieve tersenyum manis, mempersiapkan diri untuk menemui sang pangeran yang kini sudah berada tepat di hadapannya.
Vion yang tadinya sedang tegang memikirkan pembunuhan, tiba-tiba harus menghadapi "umpan" cantik dari ibunya.
"Maafkan hamba, Lady Genevieve. Pangeran Alaric sedang tidak ingin menerima tamu siapa pun saat ini," ucap Von Gardo dengan nada tegas setelah menegakkan tubuhnya kembali.
Kedua mata Genevieve membelalak, seolah tidak percaya dengan penolakan yang baru saja didengarnya. Wajahnya yang cantik memerah karena menahan malu sekaligus amarah.
"Jenderal Von Gardo, aku sangat tahu apa posisimu di istana ini! Tapi aku datang kemari atas permintaan langsung dari Ratu Isabelle. Siapa kau sebenarnya sehingga berani-beraninya menghadang langkahku di depan pintu ini?!" bentak Genevieve, suaranya melengking tinggi hingga membuat para pelayan di belakangnya menunduk ketakutan.
Von Gardo kembali membungkuk dengan tenang, namun sorot matanya tetap kokoh.
"Hamba tidak bermaksud lancang, Lady Genevieve. Namun, ini adalah perintah langsung dari Pangeran Alaric. Beliau ingin menyendiri dan beristirahat total untuk memulihkan tubuhnya yang baru saja melewati masa kritis. Hamba hanya menjalankan tugas untuk memastikan ketenangan beliau."
Mendengar keributan di depan pintunya, Vion yang berada di dalam kamar hanya bisa memijat keningnya. Duh, baru juga mau tenang sebentar, sudah ada drama sinetron di depan pintu, batinnya kesal.
Wajah cantik itu memerah padam karena penghinaan yang dirasanya tak tertahankan. Lady Genevieve menyentak gaun sutranya dengan kasar, menciptakan suara gemerisik yang tajam di koridor yang sunyi.
Sungguh, seumur hidupnya ia tidak pernah mencicipi pahitnya penolakan. Ia menatap Jenderal Von Gardo dengan tatapan benci yang menusuk, lalu berbalik pergi dengan langkah angkuh meninggalkan area sayap barat istana.
Melihat sosok Genevieve sudah menghilang di balik tikungan koridor, Von Gardo menatap dua ksatria bawahannya yang kini berdiri tegak menjaga pintu masuk kamar Pangeran Alaric.
"Siapa pun, jangan biarkan masuk. Bahkan jika itu bangsawan tinggi sekalipun, kecuali jika Pangeran Alaric sendiri yang memanggilnya. Saat ini kondisi mental beliau sangat sensitif," perintah Von Gardo dengan suara lirih namun penuh penekanan.
"Baik, Jenderal!" sahut kedua ksatria itu dengan patuh sembari menghentakkan tombak mereka ke lantai batu sebagai tanda kesiagaan.
Begitu melihat Von Gardo melangkah pergi menjauh dari koridor kamar pangeran, Meiden mencoba melangkah mendekat. Ia ingin membawakan air hangat untuk tuannya.
Namun, dengan gerakan secepat kilat, kedua pria yang berjaga di depan pintu itu menyilangkan pedang mereka, menghadang jalan Madeline tepat di depan dadanya. Logam tajam itu berkilat dingin di bawah cahaya obor dinding.
"Berhenti! Tidak ada yang boleh masuk ke dalam kamar Pangeran Alaric tanpa izin!" bentak salah satu ksatria penjaga dengan suara menggelegar.
Meiden menghela napas panjang, kedua tangannya mengepal erat di sisi gaun pelayannya. Matanya menatap tajam ke arah kedua penjaga berzirah itu.
"Aku Meiden! Kalian tahu siapa aku. Pangeran Alaric tidak akan keberatan jika aku yang masuk ke dalam. Aku harus menyiapkan tempat tidurnya!"
Meiden mencoba merangsek maju, namun salah satu ksatria itu menggunakan pangkal tombaknya untuk mendorong bahu meiden hingga ia terhuyung ke belakang.
"Pergilah! Kau tidak memiliki izin khusus. Perintah Jenderal sangat jelas: tidak ada pengecualian!"
Wajah meiden berubah masam, amarah mulai membakar dadanya. Ia tidak terbiasa diperlakukan kasar oleh penjaga tingkat rendah seperti mereka.
"Yang Mulia! Pangeran Alaric! Pangeran, ini aku, Meiden! Yang Mulia, tolong biarkan aku masuk!" teriaknya dengan kencang dari koridor, sengaja membuat kegaduhan agar suaranya menembus pintu kayu yang tebal.
"Diam! Jaga lisanmu, jangan berisik di depan kamar bangsawan!" bentak ksatria penjaga itu dengan wajah panik.
Ia segera menoleh ke kanan dan kiri, takut jika keributan ini menarik perhatian para bangsawan lain atau bahkan Ratu yang bisa membuat posisi mereka terancam.
Di dalam kamar, vion menutup sebuah buku tua bersampul kulit yang baru saja ia buka. Sebenarnya ia hanya iseng, bahkan tidak mengerti satu kata pun dari aksara kuno di dalamnya. Namun, keributan di luar benar-benar merusak fokusnya. Dengan langkah gusar, ia berjalan menuju pintu besar itu dan membukanya lebar-lebar.
"Ada apa ini? Kenapa berisik sekali?" tanya vion dengan suara rendah namun menekan, matanya menatap tajam kedua penjaga berzirah di depannya.
Kedua ksatria itu segera menegakkan tubuh dan memberi hormat dengan menghentakkan kepalan tangan ke dada besi mereka.
"Mohon maaf, Yang Mulia Pangeran. Pelayan ini terus memaksa masuk meski sudah kami larang," terang salah satu penjaga dengan nada tegas.
"Yang Mulia!" seru Meiden dengan wajah penuh harap, matanya berkaca-kaca seolah ia baru saja diperlakukan dengan sangat tidak adil.
vion menghela napas pendek. Ia menatap wanita di depannya. Harus ia akui, Meiden memang memiliki kecantikan klasik Eropa yang memukau—kulit putih bersih, mata yang jernih, dan rambut yang tertata rapi di balik tudung pelayannya. Namun, bagi vion, dia tetaplah orang asing.
Vion tidak tahu hubungan macam apa yang dijalani Pangeran Alaric yang asli dengan Meiden di masa lalu. Apakah mereka sekadar tuan dan pelayan, atau ada rahasia di balik pintu kamar ini? Yang jelas, jiwa vion yang berasal dari masa depan sama sekali tidak merasakan ketertarikan romantis pada siapa pun di negeri kuno yang penuh tipu muslihat ini.
"Biarkan dia masuk," ucap vion pendek kepada penjaga.
"Dan kalian, pastikan tidak ada orang lain yang berani mendekat sampai aku memberikan perintah lagi."
"Baik, Yang Mulia!"
Meiden segera melangkah masuk dengan cepat seolah-olah ia memenangkan sebuah kompetisi.