Apa jadinya jika air ketuban pecah di malam kencan pertamamu?
Panik dan syok, itulah yang dirasakan Maggie saat menjalani kencan pertamanya dengan Kael, seorang miliarder tampan dan karismatik.
Kencan romantis itu mendadak berubah kacau ketika air ketubannya pecah di tengah acara makan malam.
Alih-alih ikut panik, Kael justru sigap mengangkat Maggie dan membawanya ke limusin mewahnya untuk segera menuju rumah sakit.
Namun, apa yang terjadi selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ayo Berangkat, Maggie!
Kael menatap semua jendela di sisi jalan. Dia tidak tahu apartemen Maggie yang mana. Dia bahkan belum pernah ke sana, karena dulu Maggie hanya menemuinya di jalan, saat kencan pertama mereka.
Lalu Kael melihat ada gerakan. Maggie menyembul ke luar jendela dan melambaikan tangan.
"Itu benaraan kamuuuu?" teriak Maggie, lupa pada HPnya. Dia memutus panggilan dan merentangkan tangan.
“Hey!” jawab Kael.
“Ya ampun, naik, gih! Aku di 208. Ikuti jalan lurus terus belok kiri, naik dua tangga,” kata Maggie.
Kael mengikuti petunjuk itu. Kompleks apartemennya sangat mirip dengan tempat tinggalnya semasa kuliah, bata krem dengan lapisan cokelat yang sudah pudar. Tangga besi dan beton mengarah ke pintu-pintu bernomor emas.
Dia mengetuk pintu dan pintu itu terbuka. Persis seperti di foto beberapa jam lalu. Rambut pirang panjang Maggie jatuh di punggungnya.
Dia sempurna.
“Kamu benaran tinggal di sini?” kata Kael, terdengar agak terengah.
“Gila, kan?”
Maggie mundur ke dalam apartemen, memberi jalan.
Sofa bermotif bunga mendominasi ruang tamu, sandarannya dipenuhi kain putih. Ayunan bayi berada di sudut ruangan, berayun pelan ke depan dan ke belakang. Biann ada di sana, tertidur.
“Kita harus pelan-pelan,” kata Kael.
“Kita ke kamar lain!” ajak Maggie.
Kael mengikutinya menyusuri jalan sempit menuju sebuah kamar. Kamar itu berantakan, seprai kusut. Sebuah ranjang bayi kecil ada di ujungnya. Lemari dipenuhi perlengkapan bayi berwarna-warni. Kardus berisi popok menumpuk di sudut.
“Aku enggak akan minta maaf soal kamar ini yang berantakan,” kata Maggie. “Karena aku udah cukup hebat bisa tetap mandi dan makan.”
Maggie duduk di tepi ranjang.
Kael bersandar di kusen pintu. “Jangan remehin diri sendiri. Aku bahkan enggak yakin bisa menjaga anak kecil gitu, apalagi membawanya ke tempat kerja.”
Maggie tersenyum, matanya tertuju pada Kael.
“Jadi, kukira kamu ada di Jogjakarta,” kata Maggie. “Aku enggak ngerti kenapa kamu malah ada di sini.”
“Aku punya tawaran buat kamu.”
“Oke.” Maggie memiringkan kepala, ekspresinya waspada. “Tawaran apa?”
“Datanglah ke pernikahan itu.”
Matanya membesar. “Gimana? Semua orang udah berangkat. Aku enggak mungkin dapat penerbangan. Dan ada Biann. Pesawatnya pasti banyak orang.”
“Aku bawa pesawat sendiri. Cuma kita.”
Kael ingin mengulurkan tangan, menggenggam tangan Maggie atau melakukan gestur kecil apa pun, tapi dia tidak tahu posisi mereka. Lagipula, mereka baru satu kali berkencan. Dia bahkan belum pernah menciumnya.
“Cuma ada pilot dan dua kru. Pramugarinya ibu tiga anak. Kita bakal dibantu.”
Maggie mengusap seprai, meratakan lipatan-lipatannya. “Ini kedengeran mendadak.”
“Kamu bakal sama keluargamu di sana.”
“Aku enggak bisa bawa Biann ke pesta pernikahan itu. Dia bisa berisik. Dia masih kecil.”
Kael sudah memperkirakan itu.
“Joann dan Monica bawa babbysitter dari penitipan anak mereka. Aku udah bilang sama mereka. Perempuan itu bakal bantu jaga Sierra dan Biann selama pesta. Dia dan anak-anak akan diasuh sepanjang upacara dan resepsi.”
“Kamu udah memikirkan semuanya?” Saat mengucapkannya, Maggie menatap motif bunga di seprai.
Jadi ini penolakan?
Kael tidak akan memaksa.
“Aku cuma pingin coba ngajak kamu.” Ketika akhirnya Maggie mengangkat pandangan, dia berkata, “Jadi aku terbang ke sini untuk bertanya langsung.”
Kael tidak pernah menganggap Maggie pemalu, tapi cara pandangannya kembali ke lantai, membuatnya berpikir, mungkin dia bisa saja salah menilai. Mungkin peran barunya sebagai ibu membuatnya lebih berhati-hati.
“Maaf udah ganggu waktu kamu,” kata Kael. “Aku akan pergi.”
Dia melangkah mundur dari ambang pintu, tapi Maggie mengangkat tangan.
“Enggak, tunggu. Ada banyak hal yang harus aku pikirin dulu.”
Masih ada harapan. “Ada apa?”
“Aku enggak terlalu khawatir soal bayinya." Maggie memiringkan kepala, “Apa yang sebenarnya kamu lakukan di sini? Kamu milyarder, punya jet pribadi, bisa kemana aja kapan aja. Sedangkan aku ... Cuma Single mom. Apa untungnya buat kamu?”
Kael mempersempit jarak di antara mereka. Ranjang itu membuat tubuh mereka condong satu sama lain. Bukan begini cara yang dia bayangkan untuk ciuman pertama.
Biasanya Kael akan membuat gadisnya berkesan. Balkon tenang di restoran kelas atas. Jalan santai di tengah salju. Gairah di kursi empuk limusin.
Namun saat bibirnya bertemu bibir Maggie, di tengah pakaian kotor, kardus popok, dan baju berserakan, rasanya tidak kalah sempurna.
Bibir Maggie hangat dan terbuka. Rasanya seperti cokelat dan aromanya seperti sampo bercampur bedak bayi. Tangannya menyusup ke balik rambut Maggie hingga ke tengkuk. Maggie condong ke arahnya dengan desahan kecil di tenggorokan.
Bibir Maggie terbuka dan ciuman itu jadi lebih dalam dan lengket. Dia menarik Maggie mendekat, tubuh mereka saling menekan.
Ini tidak masuk akal.
Kael nyaris tidak mengenalnya.
Saat mereka berpisah, rambut Maggie kusut, bibirnya merah muda, matanya berkilau.
“Oke,” kata Maggie. “Aku bakal ikut sama kamu.”
Dia menggenggam tangan Maggie. “Bagus. Kita berkemas.”
...𓂃✍︎...
...Semua orang menanggung beban hidupnya masing-masing, dan kita enggak punya hak untuk membandingkan beban siapa yang lebih berat....
...────୨ৎ────...
tapi aku gk naik limosin aku naik mobil trios mobil keluarga yg sederhana .