Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Pilihan di Persimpangan Jalan
Sabtu, Pukul 10.00 WIB. Teras Kontrakan.
Wanita elegan bernama Maya itu meletakkan brosur dan dokumen kontrak di meja kayu yang sedikit bergoyang. Di hadapannya, Fatih dan Zalina duduk membeku. Aroma martabak sisa semalam masih tertinggal di udara, sangat kontras dengan wangi parfum mahal yang dibawa sang sekretaris IAI.
"London, Mbak?" Zalina memecah keheningan, suaranya terdengar ragu.
"Benar, Ibu Zalina. University College London (UCL). Bapak Ketua IAI sangat terkesan dengan integritas Mas Fatih. Di tengah industri yang seringkali kompromis, Mas Fatih membuktikan bahwa arsitektur bukan cuma soal estetika, tapi soal moralitas. IAI ingin Mas Fatih menjadi salah satu aset masa depan bangsa," jelas Maya dengan nada meyakinkan.
Fatih menatap dokumen itu. Kuliah di UCL adalah mimpi bagi setiap mahasiswa arsitektur di seluruh dunia. Itu adalah tiket menuju liga global. Namun, matanya kemudian beralih ke perut Zalina yang mulai menonjol.
"Kapan saya harus berangkat?" tanya Fatih.
"Tiga bulan lagi. Tepat di awal semester baru," jawab Maya. "Semua biaya ditanggung. Biaya hidup untuk Bapak, Ibu, dan calon bayinya juga sudah masuk dalam hitungan beasiswa ini."
Zalina menunduk. Tiga bulan lagi. Itu artinya tepat di saat usia kehamilannya memasuki bulan kedelapan atau kesembilan. Masa-masa paling krusial untuk persalinan.
"Kami butuh waktu untuk berpikir, Mbak," ucap Fatih perlahan.
"Tentu. Kami tunggu kabarnya paling lambat akhir minggu ini." Maya pamit, meninggalkan keharuman parfum yang bertahan lama di gang sempit itu.
Pukul 14.00 WIB. Lokasi Proyek Griya Harapan.
Suasana di lokasi proyek hari ini sangat meriah. Bendera merah putih dan umbul-umbul berkibar. Bapak Gubernur benar-benar menepati janjinya. Sebuah tenda besar didirikan di atas tanah merah yang kini sudah mulai rata.
Fatih berdiri di sana, melihat Bapak Gubernur memegang sekop perak untuk meletakkan batu pertama secara simbolis. Di samping Gubernur, Pak Yusuf berdiri dengan wajah berseri-seri. Ayah mertuanya itu berkali-kali menyalami kolega-koleganya sambil menunjuk Fatih sebagai menantunya.
"Ini arsiteknya. Anak muda yang berani melawan mafia tanah," ucap Pak Yusuf dengan nada bangga yang tak bisa disembunyikan.
Fatih tersenyum, tapi pikirannya melayang ke London. Ia melihat Bang Baron yang sedang sibuk mengatur lalu lintas dengan seragam satpam barunya. Ia melihat warga lokal yang tersenyum penuh harap menantikan pembangunan pasar rakyat.
"Selamat, Fatih," Gubernur menghampiri Fatih setelah acara selesai. "Kamu sudah menginisiasi sesuatu yang besar di sini. Bagaimana tawaran dari IAI? Saya sudah dengar kabarnya."
Fatih sedikit terkejut. "Bapak sudah tahu?"
"Saya yang merekomendasikan namamu ke Ketua IAI," Gubernur menepuk bahu Fatih. "Indonesia butuh orang-orang terdidik yang punya hati seperti kamu. Pergilah ke London. Ambil ilmunya, lalu pulang dan bangun negeri ini lebih hebat lagi."
"Tapi Pak... proyek ini? Pasar rakyat ini baru mau mulai."
"Jangan khawatir. Kamu sudah meletakkan sistemnya. Kamu bisa mengawasi secara remote, atau tunjuk asisten yang kamu percaya. Pak Burhan dan Pak Yusuf pasti bisa membantu menjaga dari sisi manajerial," Gubernur tersenyum bijak. "Kesempatan ini tidak datang dua kali, anak muda."
Malam Harinya. Di Dalam Kontrakan.
Fatih duduk di lantai, mengamati Zalina yang sedang mengemas beberapa pakaian. Sejak pulang dari lokasi proyek, Zalina lebih banyak diam.
"Zal," panggil Fatih.
Zalina berhenti melipat baju. Ia duduk menghadap Fatih. "Mas mau ambil tawaran itu?"
Fatih menghela napas panjang. "Secara karir, ini kesempatan emas. Mas bisa belajar teknik sustainable housing langsung dari pakarnya di Inggris. Mas bisa bawa 'Langit Arsitektur' ke level internasional. Tapi..."
Fatih meraih tangan Zalina.
"Mas takut kamu capek. Kamu lagi hamil kembar. Perjalanan jauh, adaptasi di negara orang yang dingin, jauh dari Ibu, jauh dari Ayah. Mas nggak mau egois."
Zalina menatap mata Fatih. Ada binar haru di sana. "Mas, waktu kita nikah, aku bilang aku siap nanjak bareng Mas. London itu tanjakan yang tinggi banget, tapi aku yakin pemandangannya bakal luar biasa."
Zalina mengusap perutnya.
"Si kembar ini... mereka pasti bangga punya Ayah yang sekolah di London. Soal kesehatan, aku yakin di sana sistem medisnya juga bagus. Kita berjuang bareng-bareng di sana, Mas."
Fatih merasa matanya panas. "Kamu serius? Kamu nggak takut?"
"Takut sih ada. Tapi aku lebih takut kalau Mas ngelepas mimpi ini cuma karena aku, terus nanti Mas nyesel di masa tua. Aku mau jadi sayap Mas, bukan jadi jangkar yang nahan Mas."
Fatih memeluk Zalina erat. Di rumah petak itu, mereka kembali membuat kesepakatan besar. Mereka akan berangkat.
Satu Minggu Kemudian. Kedai Kopi "Tuang".
Perpisahan kecil diadakan. Pak Burhan, Bang Baron, Hadi, dan Nisa berkumpul. Fatih sudah menunjuk Hadi (teman kuliahnya yang jujur) untuk menjadi perwakilan teknis "Langit Arsitektur" di lapangan selama ia di London.
"Gila ya lu, Tih. Dari kontrakan petak langsung ke London. Jalur Langit lu bener-bener gak ada lawan," ucap Hadi sambil menyeka air mata (yang katanya cuma kelilipan debu proyek).
Bang Baron memberikan sebuah kenang-kenangan unik: sebuah syal rajut tebal warna oranye-hitam. "Nih, biar lu nggak kedinginan di sana. Kalau ada bule yang macem-macem, bilang gue. Nanti gue kirim santet lewat paket kilat!"
Semua orang tertawa. Suasana haru itu pecah menjadi keceriaan.
Namun, di tengah tawa itu, Nisa menarik Zalina ke sudut ruangan.
"Zal, lu udah cek kesehatan lagi ke Dokter Maya?" tanya Nisa berbisik.
Wajah Zalina sedikit berubah. "Udah kemarin. Kenapa?"
"Dokter bilang apa soal penerbangan jauh? Kondisi lo kan kembar."
Zalina terdiam sejenak. "Dokter bilang... ada risiko. Tekanan udara bisa memicu kontraksi dini. Tapi dokter kasih obat penguat. Aku belum bilang ke Fatih, aku nggak mau dia batalin keberangkatan cuma karena ini."
Nisa membelalakkan mata. "Zal! Ini nyawa lo dan nyawa anak lo! Lu gila?!"
"Ssst... pelan-pelan, Nis. Aku bakal hati-hati. Aku cuma mau Fatih sukses," bisik Zalina penuh permohonan.
Zalina tidak tahu bahwa Fatih berdiri tidak jauh di belakang mereka, mematung mendengar percakapan itu. Tas berisi dokumen keberangkatan yang dipegangnya hampir saja jatuh.
Fatih menyadari bahwa pengorbanan Zalina jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Istrinya mempertaruhkan nyawa demi impiannya.
Dilema baru muncul. Tetap berangkat dengan risiko kesehatan Zalina, atau membatalkan semuanya di menit-akhir demi keselamatan nyawa istri dan bayinya?
Bab 21 Preview:
Fatih melakukan konfrontasi lembut pada Zalina soal kesehatannya. Keputusan akhir dibuat: Fatih memutuskan sesuatu yang membuat semua orang terkejut, termasuk pihak IAI. Sementara itu, sebuah surat dari penjara datang untuk Fatih. Surat dari Erlangga yang meminta maaf dan memberikan sebuah informasi penting soal "harta rahasia" yang ia sembunyikan untuk Fatih.