Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anugerah Terindah
Pagi di Bali masih terasa begitu indah setelah kejadian mengusir Clara tadi.
Aku dan Mas Brayen akhirnya bisa sarapan dengan tenang di teras vila yang menghadap langsung ke pantai. Angin laut berhembus pelan. Mas Brayen yang dengan bangganya memasak sendiri untukku pagi ini. Katanya, dia ingin aku merasakan masakan suami.
Di depanku sudah tersaji nasi goreng seafood, telur mata sapi, dan jus jeruk yang Mas Brayen buat dengan penuh cinta. Walaupun bentuk telurnya agak gosong, tapi aku sangat terharu.
"Mas Brayen hebat ya bisa masak," pujiku sambil tersenyum manis.
Mas Brayen tersenyum bangga, duduk di depanku. "Coba dulu, My Diamond. Mas belajar dari YouTube semalam pas kamu tidur."
Aku mengangguk. Aku mengambil satu suap nasi goreng itu dengan sendok. Aku masukkan ke dalam mulutku.
Satu suapan.
Baru satu suapan itu masuk, tiba-tiba perutku bergejolak hebat. Mual yang luar biasa naik dari perutku sampai ke tenggorokan. Aroma seafood yang tadinya wangi, tiba-tiba menjadi sangat memuakkan bagiku.
"Ugh..."
Aku langsung menutup mulutku. Wajahku pucat.
"Sayang? Kamu kenapa?" Mas Brayen langsung panik.
Aku tidak bisa menjawab. Aku langsung berlari ke wastafel di dekat teras dan muntah. Tubuhku lemas seketika.
"Sayang!"
Mas Brayen langsung berlari menghampiriku, mengusap punggungku panik. Dia mengambilkan air putih dengan tangan gemetar.
Aku memuntahkan semua isi perutku. Badanku langsung lemas, keringat dingin mengucur di dahiku. Aku bersandar lemas di pelukan Mas Brayen.
"Isyana! Kamu kenapa? Makanannya tidak enak ya? Maaf, Mas masak tidak enak," Mas Brayen menyalahkan dirinya sendiri, wajahnya pucat pasi melihatku lemas.
Aku menggeleng lemah sambil memegang perutku.
"Bukan... bukan karena masakan Mas... enak... tapi..." Aku terdiam. Otakku tiba-tiba berputar.
Sudah berapa lama aku tidak haid?
Satu minggu. Ya Allah, sudah satu minggu lebih aku telat haid. Seharusnya jadwal haidku minggu lalu, tapi karena kesibukan mengurus gaun emerald dan acara di Jakarta dan Bali, aku sama sekali lupa!
Jantungku berdegup kencang. Mungkinkah?
"Mas... aku... aku telat seminggu..." bisikku pelan, menatap Mas Brayen dengan mata berkaca-kaca.
Mas Brayen yang awalnya panik karena masakannya, langsung membeku. Matanya membulat. Dia menatapku, lalu menatap perutku yang masih rata.
Tanpa banyak bicara lagi, Mas Brayen langsung menggendongku. Bridal style lagi!
"Ke dokter! Kita ke dokter sekarang!" katanya dengan suara tegas tapi panik. Dia bahkan tidak sempat mengganti sandal rumahnya. Dia langsung membawa aku yang masih lemas ke mobil pribadi yang sudah menunggu di depan vila.
Sepanjang perjalanan ke Rumah Sakit Bali International yang ada di Kuta, Mas Brayen terus menggenggam tanganku erat. Tangannya yang biasanya kokoh dan tidak pernah gemetar, kini gemetar hebat. Dia terus mengecup keningku.
"Jangan kenapa-kenapa ya, Sayang. Mas takut," bisiknya.
Aku hanya tersenyum lemah. "Aku gak apa-apa, Mas..."
Sesampainya di rumah sakit, Mas Brayen langsung menerobos masuk ke UGD. Semua perawat dan dokter langsung mengenalinya sebagai pemilik resort.
"DOKTER! ISTRI SAYA MUNTAH DAN LEMAS! CEK ISTRI SAYA SEKARANG!" teriak Mas Brayen, tidak ada lagi sosok CEO dingin, yang ada hanya seorang suami yang sangat panik akan istrinya.
Aku langsung dibawa ke ruang pemeriksaan. Dokter kandungan wanita yang sudah senior, Dokter Ayu, memeriksaku dengan lembut. Mas Brayen tidak mau keluar dari ruangan, dia tetap menggenggam tanganku di samping ranjang.
USG. Dokter mengoleskan gel dingin di perutku. Layar USG dinyalakan.
Aku dan Mas Brayen menatap layar itu dengan jantung berdebar.
Dan di layar hitam putih itu, terlihat dua titik kecil, dua kantung kecil yang berkedip-kedip.
Dokter Ayu tersenyum lebar.
"Selamat ya, Pak, Bu," kata Dokter Ayu sambil menatap Mas Brayen. "Selamat, Pak, Anda akan menjadi seorang ayah..."
Seketika dunia seakan berhenti berputar.
Mas Brayen membeku. Air mata yang sejak tadi dia tahan, langsung menetes. Satu tetes, dua tetes, jatuh ke pipinya.
"Betul kah, Dok? Ini... ini aku... aku berhasil membuahi rahim Isyana?" suara Mas Brayen bergetar hebat, dia tidak percaya. Pria setegar Brayen Alkantara, menangis. Air matanya mengalir deras.
Dokter Ayu mengangguk sambil tertawa haru melihat reaksi Mas Brayen.
"Iya, Pak. Betul. Dan kemungkinan bayi nya kembar, Pak. Karena di rahim Ibu Isyana ada dua embrio yang berkembang sangat sehat dan kuat. Lihat ini, ada dua. Sekali lagi selamat ya, Pak, Bu. Luar biasa."
KEMBAR!
Aku langsung menutup mulutku, air mataku tumpah deras. Aku menangis. Tangis bahagia yang tidak bisa aku tahan lagi.
Bayi kembar. Di dalam rahimku ada dua nyawa. Anakku dan anak Mas Brayen.
"Iya, terima kasih, Dokter... terima kasih banyak..." Mas Brayen masih terisak, dia sampai harus mengusap air matanya dengan punggung tangannya. Dia pria yang tidak pernah menangis di depan siapa pun, kini menangis seperti anak kecil di depan dokter karena terlalu bahagia.
Dokter Ayu melanjutkan dengan wajah serius tapi lembut.
"Satu lagi ya, Pak. Ibu Isyana dilarang bekerja berat dan banyak pikiran. Buat dirinya happy terus ya, Pak. Karena hamil muda kembar seperti ini sangat rawan, Pak. Sangat sensitif. Jadi harus banyak istirahat, makan yang bergizi, dan jangan stres."
Mas Brayen langsung mengangguk cepat, mengangguk-angguk seperti murid yang patuh.
"Baik, Dokter... baik... saya akan jaga... saya tidak akan biarkan Isyana kerja lagi... saya yang akan jaga semuanya..."
Setelah dokter keluar, hanya tinggal aku dan Mas Brayen di ruangan itu.
Dengan mata yang masih berkaca-kaca dan berlinang air mata, Mas Brayen berjalan pelan menghampiriku di ranjang. Dia berlutut di samping ranjangku. Tinggi badannya yang menjulang kini sejajar denganku.
Dia meraih tanganku dengan lembut, mencium punggung tanganku lama, berkali-kali, dengan air mata yang masih menetes membasahi tanganku.
"Terima kasih, Sayang..." suaranya serak karena menangis. "Terima kasih ya... kamu sudah memberikan Mas anugerah terindah yang tidak bisa dibeli dengan semua resort dan semua uang Mas di dunia... bayi kembar... telah hadir di rahimmu, Sayang... Mas jadi ayah... Mas akan jadi ayah..."
Aku yang melihat Mas Brayen menangis bahagia seperti itu, hatiku hancur karena terlalu haru. Aku juga menangis, tersenyum di tengah air mataku.
Aku mengusap air mata Mas Brayen dengan tanganku.
"Sama-sama, Mas..." bisikku dengan suara bergetar menahan tangis bahagia. "Sama-sama... jaga terus kami ya, Sayang... jaga aku dan anak-anak kita..."
Mas Brayen langsung memelukku erat, sangat erat, tapi hati-hati di bagian perutku. Dia meletakkan tangannya yang besar di atas perutku yang masih rata, mengelusnya lembut.
"Tentu, Sayang... tentu... Mas akan jaga kalian dengan nyawa Mas sendiri. Kalian bertiga adalah Berlian tak ternilai Mas sekarang... My Diamonds..."
Di ruangan dokter itu, di bawah cahaya lampu rumah sakit, kami berpelukan dan menangis bersama. Tangis paling bahagia dalam hidup kami.
Hari itu, Isyana bukan hanya menjadi istri yang diratukan. Tapi menjadi ibu dari anak-anak Brayen Alkantara.
---BERSAMBUNG---